Indonesia
NovelToon NovelToon
GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Zombie
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.

Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.

Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?

Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.

"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"

Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.

Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"

Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Jebakan?

Satu tahun telah berlalu, dunia di luar sana makin kacau. Manusia sudah mulai kehilangan akal sehat untuk memperebutkan makanan.

Mereka tidak lagi punya perasaan, demi makanan banyak yang kehilangan nyawa karena saling membunuh.

Sedangkan di perkebunan milik keluarga Ruby, para penyintas hidup dengan damai berkat aturan yang ditetapkan oleh Tuan Edward.

Makanan yang didapatkan tentu hasil dari jerih payah mereka sendiri. Mereka semua bekerja bertani, untuk mendapatkan poin yang bisa ditukar makanan pokok.

Sedangkan anak-anak bermain, berlatih bela diri dan belajar bersama. Ruby tidak mengizinkan anak-anak itu melihat dunia luar yang sekarang. Entah kenapa dia sangat yakin, jika semua itu pasti berakhir.

Dan anak-anak itulah yang akan menjadi penurus peradaban manusia. Tapi bukan berarti, mental mereka tidak diuji.

Ruby memperlihatkan video, bagaimana orang-orang di luar sana bertahan hidup dan saling membunuh. Dan sebelum mereka bergabung, mereka juga sudah merasakannya sendiri sebelum mental mereka hancur.

Penyintas yang ikut bergabung awalnya tidak percaya jika ada pangkalan yang masih bisa makan enak. Tapi tidak ada pilihan lain, mereka akhirnya setuju untuk ikut.

Diantara orang-orang itu, ada yang pernah ikut gabung di pangkalan yang dibangun Pemerintah, tapi lambat laun stok makanan mulai menipis, dan mereka hanya bisa makan sehari sekali.

Mereka nekat pergi untuk mencari makan sendiri, tapi di luar sana seperti ada banyak bahaya di mana-mana.

Sekarang, jumlah penyintas yang ada di perkebunan kurang lebih 500 orang. Dan itupun masih bisa muat 500 orang lagi.

...----------------...

Saat ini, Ruby baru memiliki tim yang beranggotakan 5 orang. Jack, Mohan, Glen dan Kety.

Kety seorang penyintas yang bergabung dengan Ruby di gelombang kedua. Dia sangat ahli dalam bela diri dan menembak, Kety mendaftar di kepolisian tapi tidak lulus karena tingginya kurang dari persyaratan.

Mereka berlima saat ini sedang melawan banyak zombie yang tidak pernah ada habisnya. Entah dari mana para zombie-zombie itu berasal.

"Sial. Kenapa mereka makin banyak?" gerutu Glen yang mulai kehabisan tenaga.

Ruby juga merasakan ada yang aneh, tapi saat dia mendongak ke atas, dia melihat seseorang pria berdiri di atas gedung, seolah-olah sedang menonton pertunjukan.

Grrr-Khhh....

Grrr-Khhh....

"Ck. Ini jebakan. Kita harus pergi dari sini!" ucap Ruby yang tidak menghentikan ayunan pedangnya.

Clas... Jleb.... krek.... krak....

"Jebakan apa?" tanya Jack yang berdiri dibelakangnya.

"Seseorang membakar daging di atas gedung! Aromanya itu mengundang para zombie. Tapi mereka sengaja, entah apa maksudnya!"

"Mereka mengincar kita?" tanya Kety seraya menebak.

Grrr-Khhh....

Jleb...

"Hmm.. Kalau begitu, mari kita buat mereka kena batunya sendiri!" kata Mohan dengan senyum misterius.

"Lakukan!" pinta Ruby. Dia hanya meladeni, siapa suruh cari gara-gara dengan mereka.

"Hehe baik. Kalian tetap lanjut, agar mereka nggak sadar aku pergi!" kata Mohan membasmi Zombi sambil berjalan mundur ke arah gedung, dimana orang itu berada.

"Hmm tenang saja!" Ruby melompat di atas kap mobil untuk melihat jumlah zombie. Ternyata, zombie itu masih terus berdatangan.

Grrr-Khhh....

Grrr-Khhh....

Ruby melompat turun, memanfaatkan momentum untuk menghujamkan pedangnya lurus kebawah.

Braakkk......

Hantaman itu begitu keras hingga memecahkan batok kepala zombie di bawahnya, menembus hingga ke leher.

Ruby menendang dada makhluk itu untuk menarik keluar bilahnya, siap menyambut para zombie yang mengantarkan nyawanya.

Slaasssh....

Ketiga temannya juga masih terus membunuh para zombie. Jack dan Glen menggunakan Tombak besi, sedangkan Kety sebuah balok kayu, seperti tongkat bisbol.

Jika bertemu gerombolan zombie, tidak disarankan untuk mengunakan belati. Lebih baik menggunakan senjata yang panjang agar bisa membunuh beberapa sekaligus.

"Cepat naik di atas kap mobil bis!" pinta Ruby yang juga sudah mulai kehabisan tenaga.

"Haahh.. Aku juga sudah lelah!" sahut Glen dan berlari ke arah mobil bis saat Jack menahan para zombie.

"Oh. Mohan juga sudah mulai keluar!" sela Kety yang sudah ngos-ngosan.

"Dari hitungan ketiga, kira berlari bersama!" kata Ruby.

Mereka semua berlari dan memanjat kap mobil bis. Untung saja zombie-zombie itu tidak bisa berlari dan memanjat.

Mereka berlima langsung rebahan, dan melihat asap di atas gedung makin bertambah.

"Mohan apa yang kamu bakar di dalam gedung?" tanya Ruby.

"Daging! di dalam gedung itu, zombie-zombienya sudah mati semua. Mungkin mereka yang membunuhnya!"

"Lalu. Berapa banyak daging yang kamu bakar?"

"Tunggu! Maksudnya dendeng daging sapi?" tanya Ruby dengan sedikit panik. Itukan perbekalan mereka.

"Heheh cuman dua potong, aku bagi beberapa bagian. Aromanya lebih wangi karena sudah ada bumbunya.!"

"Oh. Aku kira kamu menghabiskan perbekalanmu!" kata Ruby. Setiap orang membawa perbekalan nya masing-masing.

"Hmm.. Ini demi membalas mereka. Lihatkan, para zombie-zombie itu sudah mulai masuk gedung. Aku menaruhnya di setiap tangga.!"

"Waah.. Kerja bagus.!" kata Ruby dengan santai. Dia tidak jahat, dia hanya membalas.

"Kalu begitu, mari kita nonton pertunjukan!" ucap Kety yang masih berbaring.

Zombie-zombie di bawah mulai berkurang, mereka memasuki gedung saat mencium aroma daging yang makin wangi.

Mohan melambaikan tangan saat melihat beberapa orang di atas gedung melihat ke bawah.

"Hahaha.. Syukuriiin.... Emang enak, itulah yang kami rasakan!"

"Mereka kayaknya bukan sengaja!" ucap Jack. "Mungkin mereka benar-benar mau makan daging!"

"Hmm biarkan saja! Sudah tau aromanya mengundang para zombie. Tapi mereka malah membakarnya di tengah kota!" kata Mohan dengan kesal.

"Ya. Kita saja nggak berani bawa makanan mentah!" ucap Ruby.

"Benar. Mereka juga cuman nonton saat kita di kerumuni zombie. Bukannya membantu karena merasa bersalah, tapi mereka malah enak-enakkan makan.!" kata Kety.

"Astaga, aku jadi lapar mencium aromanya!" celetuk Glen.

"Sama! Kalau begitu kita pergi dari sini! Sebentar lagi, pasti banyak para petugas yang datang!" ujar Ruby dengan yakin.

"Mereka pasti datang, apalagi orang-orang di atas sana sudah mulai menembak!" timpal Kety sambil beranjak.

Mereka turun dari mobil, dan berjalan menjauh. Mereka sampai tidak bertemu dengan zombie, karena zombie-zombie itu sudah memenuhi gedung.

Saat mereka sudah tidak terlihat, beberapa mobil dari pihak militer datang dengan senjata dan atribut yang lengkap.

Mereka mengumpat saat melihat asap dan mencium aroma yang begitu wangi. Aroma yang bikin lapar dan mengundang bahaya.

"Dasar bodoh!"

"Mereka cari mati..!"

"Astaga. Gedung itu penuh dengan zombie. Kita nggak mampu melawan mereka semua dalam waktu singkat.!"

"Ya. Amunisi juga nggak bakalan cukup!"

"Jadi kita biarkan saja mereka?"

"Komandan! Bagaimana ini?"

"Cari cara lain!" balas sang komandan sambil mendongak ke atas. "Manjat dari luar.!"

"Tapi bagaimana kalau mereka nggak punya tali?"

.

.

.

.

1
Dandelion
ohhh Tuhan...di gantung lagi sama ka othor nya...
Dandelion
next ka
Dandelion
berasa kurang banyak bacanya...😁
next ka...
Dandelion
seru2 semoga orang2 yg di tolong oleh tim ruby di bawa keperkebunan milik ruby...
next ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
lanjut kq
Dandelion
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
lanjut ka
Dandelion
next ka
Dandelion
hmmmm...nggak berasa bacanya...berasa kurang trs 😁
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
makin seru dan menegangkan ceritanya
next ka
Dandelion
lanjut ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
seru...seru...seru...
next ka
Dandelion
bener2 menegangkan ceritanya 😁
next ka..
Dandelion
knp novel ka othor yg ini bikin menegangkan...serasa ikut terbawa suasana mengerikan 😁
lebih seram dr cerita horror...next ka...
Fii: makasih kk🙏 jangan lupa ajak teman2nya mampir kk 😊
total 1 replies
Dandelion
ceritanya bikin dag dig dug ...serasa ikut jd spt ruby..😁
next ka
Dandelion
wahhh jd ikut deg2an 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!