Sebuah pernikahan bahagia karena perjodohan ternyata tidak bertahan lama.
Dania terpukul. Suami yang terlihat perhatian dan lembut ternyata adalah seorang psikopat yang selingkuh tanpa rasa bersalah.
Di sisi lain, seorang bos dengan kelompoknya yang terlihat menyeramkan, sedang menaruh perhatian membuat Dania tidak berkutik.
Dokter cantik ini pasrah saat dirinya dikelilingi oleh laki-laki yang membuat hidupnya tidak tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Eps. 27
Sesuap nasi ia masukkan ke mulutnya dengan enggan. Sesekali Dania menghela lelah melihat Bobby yang tersenyum begitu lebar menikmati masakannya.
Hal itu mengingatkannya di masa dulu saat mereka sedang menjadi 'keluarga yang bahagia'.
Tidak bisa dipungkiri, hidup bertahun-tahun dengan laki-laki yang selalu memanjakannya tidak bisa membuat rasa itu hilang begitu saja. Namun, semua sudah hampir habis terkikis oleh pengkhianatan dan kekecewaan.
Dania menatap begitu lekat pada mantan suami dan anaknya yang bercanda begitu dekat setelah menghabiskan makanan mereka.
Tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan. Dokter itu hanya kasihan melihat anaknya yang harus terpisah dengan papanya, dan lihatlah betapa senangnya dia saat kembali bercengkrama dengan papanya.
Tapi itu tidak masalah, semua untuk kebahagiaan bersama. Dania tidak masalah jika Dariel bertemu dengan Bobby atau orang tua mantan suaminya itu. Ia hanya tidak suka jika Dariel harus bertemu Maya.
"Dariel mau menginap bersama Papa?" tanya Bobby dengan senyum lembutnya.
"Bener boleh, Pa? Apa Papa nggak sibuk?"
Bobby menggeleng pelan dengan senyum kecil yang masih terlihat di bibirnya. "Saat Dariel libur sekolah, Papa juga libur bekerja. Jadi Dariel bisa menginap," jawabnya meyakinkan.
"Memangnya Dariel akan tidur dimana?" tanya Dania menyela.
"Tentu saja dirumah ku, Sayang."
Laki-laki itu memang tidak tahu malu. Dania memutar bola matanya malas lalu kembali menjawab, "Tidak bisa. Jika Dariel tinggal bersama kakek dan neneknya, baru aku izinkan."
Bagaimanapun caranya, Dania tidak akan membiarkan Dariel tinggal seatap dengan Maya. Jal*ng itu terlihat licik. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Dariel.
Dania menatap mantan suaminya itu dingin dengan hati yang jengan. Aneh, biasanya laki-laki itu akan membantah penolakan Dania tapi tidak kali ini.
Bobby malah tersenyum manis. "Baiklah, Dariel akan tidur di rumah nenek dan kakek bersama Papa."
"Horeei," sorak anak manis itu terlihat begitu bahagia.
"Tapi sayang sekali Dariel, kita menginapnya hanya berdua," ucap Bobby pura-pura sedih.
"Ah, Mama mau ikut menginap?" tanya Dariel dengan mata berbinar.
Laki-laki licik itu benar-benar sedang mencari masalah. Dengan hati yang jengkel Dania susah payah tersenyum lembut pada anaknya, tapi senyuman itu berubah menjadi dingin begitu menatap Bobby.
"Maaf Dariel, akhir pekan Mama bekerja," tolaknya halus.
Dairel tampak murung dengan bibir mengerucut. Anak tembam itu terlihat kecewa.
"Jangan bersedih. Kita akan bersenang-senang di sana," hibur Bobby.
"Baik, Pa," sahut Dariel kembali tersenyum meski tidak secerah sebelumnya.
Dania menatap jam dinding sekilas, hampir dua jam Bobby disana tapi laki-laki itu seolah enggan untuk pergi.
"Hei, bukankah seharusnya kau pulang? Seorang Direktur pastinya sangat sibuk untuk singgah di apartemen kecil ini," tegur Dania mencoba mengusirnya halus.
"Oh tidak, sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama. Bolehkah aku menginap?" tanyanya tak tahu malu.
"Benarkah? Papa mau menginap sekarang? Boleh ya, Ma?" tanya Dariel menatap mata ibunya penuh harap.
"Maaf sayang, Papa tidak boleh menginap," ucap Dania tegas.
"Kenapa, Ma?"
"Nanti Mama jelaskan, sekarang Papa harus pulang karena Papa sangat sibuk," final Dania tidak ingin dibantah. Ia menatap Bobby kesal berharap laki-laki itu sadar posisinya dan segera pergi dari apartemen ini.
"Hahaha, baik-baik. Aku pergi. Tapi aku ingin ke kamar mandi dulu, dimana kamar mandinya?" tanya Bobby yang sudah berdiri dari duduknya.
"Di ujung belok kanan," ucap Dania enggan melihat mantan suaminya itu.
Bobby yang tersenyum kecil dengan wajah yang terlihat puas menggoda Dania, kini beranjak menuju kamar mandi.
Tidak lama, laki-laki itu sudah kembali dan berpamitan pada anak dan mantan istrinya.
"Kalau begitu aku pamit dulu," ucap Bobby dengan senyum lembutnya menatap Dania. Kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Dariel.
"Papa pulang ya sayang."
Dariel mengangguk antusias dengan senyum lebarnya. "Papa pulangnya hati-hati, kapan-kapan main lagi ya," serunya senang.
"Tentu," balas Bobby. Tangannya mengelus pucuk kepala Dariel lembut.
"Dania–"
"Selamat malam."
BLAM.
"Ayo masuk, waktunya baca cerita terus tidur," suruh Dania.
"Baik, Ma."
Dania menatap anaknya yang berjalan setengah berlari ke arah wastafel untuk gosok gigi dan mencuci mukanya. Hatinya terasa ngilu.
Apa yang akan ia katakan pada Dariel pasti akan mengecewakan anak itu. Tapi tidak ada pilihan.
Dariel sudah merebahkan tubuhnya di ranjang dengan Dania yang membacakan buku cerita untuknya.
Setelahnya, Dania mengarang cerita sendiri tentang keluarga kelinci yang harus berpisah karena ketidak cocokan tapi mereka masih bisa bertemu untuk bermain.
Dania merasa bersalah melihat anaknya yang terlihat murung dengan sedikit menunduk, setelah mendengar cerita itu.
"Jadi … apa Mama dan Papa juga seperti keluarga kelinci?"
Dengan berat hati Dania mengangguk. "Dariel masih bisa bermain sama Papa, nenek, kakek, dan menginap disana. Tapi Mama tidak bisa, maafkan Mama," sesal Dania. Ia mengelus punggung tangan Dariel.
"Mama juga masih bisa bermain bersama Dariel dan Papa seperti biasanya, tapi tidak untuk Papa menginap."
Anak mungil itu terdiam menatap Dania sedih membuat Dania semakin merasa bersalah. Meskipun tampaknya anak itu tidak begitu mengerti situasi saat ini. Dia masih anak yang berusia 4 tahun lebih.
Dania berjanji akan menjelaskan lagi saat Dariel bertambah usia.
"Dariel?" panggilnya lagi karena anak itu masih diam.
"Dariel hanya sedih karena tidak bisa tinggal bertiga lagi sama Papa. Tapi Dariel lebih sedih kalau lihat Mama menangis dan sering pergi tinggalkan Dariel."
DEG
Dania ingat, saat itu ia tidak betah dirumah hanya karena frustasi. Ia merasa bersalah. Sedangkan di tengah kesibukannya yang bekerja di klinik dan rumah sakit, dokter cantik ini masih bisa pulang dan sering menemani anaknya bermain.
Tangan Dania bergerak dan memeluk tubuh mungil balita itu. "Maafkan Mama. Meskipun Mama sibuk, Mama akan lakukan yang terbaik agar bisa bermain dengan Dariel, oke?"
Dania merasakan anggukan Dariel dalam pelukannya, kemudian tangan mungil itu membalas pelukan Dania.
Dania menatap sendu pada Dariel yang sudah tertidur dengan pulas. Akhirnya ia bisa memberitahu anaknya meskipun hatinya begitu sakit.
Mama mungkin bukan Mama yang baik. Bukan Mama yang sabar atau dewasa seperti ibu-ibu yang lain.
Tapi Mama selalu melakukan yang terbaik agar Dariel bahagia apapun kondisi nya.
Maaf jika Mama egois di usia mu yang masih sangat kecil.
Air mata tidak terasa menetes di pipi Dania. Ia berdoa agar anaknya tetap tumbuh menjadi anak yang bahagia meskipun tanpa sosok ayah di sisinya.
Meski hatinya cukup sakit karena harus melihat dan berinteraksi lagi dengan Bobby, ia bisa dimaklumi itu. Ia sudah merelakan suaminya pergi, tapi rasa sakit itu akan tetap ada untuk memberi batas.
Ibu cantik ini tidak dendam pada suaminya, tapi ia cukup muak jika Bobby kembali mencoba mendekat. Dania hanya ingin hidup bahagia di lembaran barunya yang tidak mudah.