Hana kembali menggantikan perjodohan sang kakak, akibat dirinya dinodai jodoh sang kakak. Agar sang kakak tidak disakiti, maka ia rela di hina dan di tuduh perebut.
Akankah Hana tahan akan pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keanehan
"Kau malu, melihatku jijik seperti itu?" lirih Alfi melewati tubuh Hana yang berdiri tak jauh.
"Kamu sangat menjijikan Alfi. Kau akan menyesal, wanita tidak pantas kau lakukan seperti tadi. Dan aku adalah istrimu, jangan! harusnya kau jangan lakukan itu di depanku." jelas Hana.
"Apa yang akan kau lakukan? jika tubuhmu tidak berbintik. Jika seksi seperti mereka, aku akan bersujud simpuh. Tidak akan bermain wanita seperti tadi. Asal kau bisa melayaniku puas, bagaimana. Kau sanggup?" cetus Alfi.
Hana hanya menggeleng, ia hanya memutar otak. Bagaimana bisa merubah membuat Alfi jadi pria normal, ia bukan perhatiaan pada Alfi. Tapi sebagai wanita, ia lelah di buly akan fisik. Juga takut jika Alfi terkena penyakit kelamin. Satu satunya, Hana benar benar ingin sekali cepat proses merubah penampilannya, agar Alfi sadar. Setelah itu, ia bisa pergi melanjutkan seperti biasa kebiasaannya.
Hana merasa tak berdaya, ia masih terisak dan menatap cermin kecil dari dalam tasnya. Sehingga ia menatap wajah yang memang benar, akan membuat pria menjijikan melihatnya.
Tak lama Alfi datang, ia segera tersenyum miring menatap Hana yang menyumputkan kesedihannya.
"Kenapa, kau menangis melihatku tadi?"
"Tidak! untuk apa. Alfi kenapa kau tidak menolak? Kau bisa mengatakan pada orang tuamu kalau kau tidak mencintaiku! Jika kau menikah dan terang terangan seperti tadi, itu sangat .." Hana bertanya namun di potong.
"Aku tidak ada niat seperti itu! Tapi harusnya kau sadar, kebiasanku seperti ini. Bukankah kau juga di untungkan?"
'Di untungkan?' Hingga Hana menyerang lagi yang membuat Alfi menatapnya dan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Hanya itu yang dilakukan Alfi tanpa bicara apapun, lalu membuang wajahnya ke arah jendela.
"Mamaku!"
Lirih Alfi mengambil Penfolds Ampoule dan ingin kembali keluar. Hal itu membuat Hana bingung, botol apa itu yang di keluarkan dari dalam koper emas miliknya.
Alfi lalu menatap Hana, saat dia bertemu denganmu, mamaku sepertinya sangat menyukaimu, aku bisa membedakan dari cara dia bicara dan cara dia berharap dengan kata katanya. Kalau bukan karena memandang dirinya, aku tidak akan mau menikah denganmu! Apa kau tidak sadar, bagaimana bentuk wajah dan fisikmu.
"Mamamu?" Hana mengulang pernyataan Alfi dan pria itu pun mengangguk. Jelas tidak ada kebohongan di wajah Alfi. Dia bicara apa adanya tentang perasaannya.
"Satu satunya yang tidak mau aku sakiti adalah mamaku! Dia sepertinya ingin sekali aku menikah denganmu! Karena itu aku penuhi keinginannya! tapi jangan harap kita bisa bersama seperti kesalahanku menyentuhmu! Jadi kita cukup dengan rutinitas masing masing, dan kita berlaku baik ketika mereka datang!" jelas Alfi dan kembali keluar untuk bersenang senang.
Sementara masih dalam awak pesawat, Hana tak bergerak di tempat. Bahkan ia menahan rasa ingin ketoilet karena tak ingin melewati ruangan dimana Alfi dengan pramugari tadi. Hana masih ingat setelah mereka dari butik. Satu hari mereka membuat perjanjian bersama Alfi untuk menikah dan menyetujui perjodohan orang tua mereka.
FLASHBACK.
"Sudah begini saja, kita buat perjanjian bagaimana?" Alfi sudah malas ditanya tanya lagi oleh Hana sehingga dia menatap serius pada Hana dan mencoba membicarakan tentang hubungan mereka sekarang.
"Tapi kau mengizinkanku untuk kuliah kan?"
Alfi mengangguk, "Ya, selama kau tidak membuat ulah dan biar aku yang mencari tempat kuliahnya!"
"Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu!" Hana sudah tersenyum senang, karena ia masih terlalu polos atau sedikit bodoh.
"Aku setuju kau mencarikan aku tempat kuliah!"
"Baguslah."
"Tapi sekarang kita mau ke mana?"
"Kenapa kau belum bertanya juga? Apa pertanyaan yang kau simpan itu?"
Sudah beberapa detik berlalu tapi Hana belum mengutarakan apa yang ingin dikatakannya, sehingga Alfi terpaksa bicara lagi.
"Ehm ... sabarlah sedikit, Alfi! Aku juga kan harus berpikir dulu pertanyaan apa yang ingin aku tanyakan padamu. Karena banyak sekali pertanyaan di kepalaku dan aku hanya boleh memilih satu!"
"Dasar bodoh! Sepertinya kau lahir dengan otak hanya setengah ya?"
Kata kata yang membuat Hana melotot menatap Alfi.
"Kenapa sih kau sembarangan saja bicara! Tidak bisakah kau tidak menghina sedikit saja?"
"Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak mau memberikan pertanyaan, aku akan meninggalkanmu tidur. Resepsi esok pasti akan melelahkan!" ocehnya.
Alfi mulai mengancam dan, "satu!"
"Eh iya iya! Aku bertanya sekarang! Apa kau sudah memiliki kekasih? Dan apakah suatu saat nanti kau akan menikah dengan kekasihmu? Andaikan saat itu terjadi, apa kita akan bercerai?"
Kata-kata Hana yang membuat Alfi diam sejenak, pikirannya berlarian memikirkan kata kekasih. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri, tapi ucapan Hana itu sungguh mengganjal di hatinya.
"Jadi benar yang aku tanyakan? Kau sudah punya kekasih bukan?"
"Jelek! Aku pertegas padamu ya!" ucap Alfi, sebelum dia masuk ke pernyataan intinya,
"Kalaupun aku punya kekasih dan aku mencintai seorang wanita, bukan berarti aku akan menceraikanmu! dan bukan juga aku bertahan karena cinta denganmu. Sadar diri lah!!"
Gleuk!
"Eeeh, apa maksudmu? Kau mau memaduku?" tanya Hana tapi di tinggal begitu saja. Alfi tak menjawab pertanyaan Hana.
Hana semakin sesak, meski fisiknya terlihat tak enak. Ia akhirnya membaca pesan yang belum sempat ia baca, tapi masih dalam mode pesawat sebelum awak pesawat terbang. Hana mencari sebuah facial di situs. Bahkan bertanya pada Kanya, kakaknya yang seorang selebgram. Apakah ada herbal diet, atau sejenis facial agar jerawat kecil yang membludak di wajahnya itu tersingkirkan. Tapi apa daya, perlengkapan yang Hana tanyakan di tolak mentah mentah oleh sang kakak.
Bagi Kanya, Hana tidak perlu mencoba coba yang akan merusak dirinya kelak. Hingga Hana menghela nafas, lalu ia teringat mbak Nazi.
"Sedang apa kau?" ketus Alfi, yang baru saja membawa sebotol minuman mahal.
Hana terkejut, lalu menjatuhkan ponselnya. Sementara Alfi mengambil ponsel Hana dan melihat tulisan apa yang ada di layar ponsel Hana. Dengan cibiran membuat hati Hana kembali sakit.
"Hah! Diet, facial apapun. Bahkan kau sedot lemak sekalipun tidak akan merubah dirimu jadi bidadari. Sekali banyak kutil dan bintik jelek, akan tetap seperti itu. Kau ingin merubah tampilanmu untuk siapa? Untukku?!"
"Jangan mimpii .. !!" cetus Alfi membuat mata Hana memerah.
Lagi lagi pria yang telah menjadi suaminya, membuat dirinya terpukul dan kembali menghinanya. Namun tak lama Hana yang akan beranjak ke toilet. Ia segera melewati Alfi yang masih mencibir, tapi menjatuhkan sebuah koper dan isinya keluar. Hal itu pun membuat Hana terkejut akan sebuah foto yang mungkin Alfi juga ikut kaget, berusaha agar Hana tak melihatnya.
"Bintik bintik! Jangan sentuh itu!" teriak Alfi, membuat Hana curiga.
TBC.