Menikah dengan pria bertangan satu?! Its big NO! Kana tidak akan mau melakukannya. Sebagai putri satu-satunya Aris Daniswara yang merupakan salah satu orang terkaya di Kota J, Kana merasa dirinya pantas mendapatkan yang lebih baik. Minimal harus kaya, tampan, dan tidak cacat fisik.
Meskipun sepuluh tahun lalu Kana pernah bersumpah hanya akan menikah dengan Ray, tapi waktu itu Ray masih punya dua tangan dan sangat tampan. Sekarang keadaannya berbeda, Ray bukanlah pria impian Kana lagi.
Tidak mau menikah dengan Ray yang dianggapnya tidak layak, Kana memutuskan kabur dengan Denish, salah satu pengagumnya.
Namun, usahanya sia-sia, sebab pada akhirnya ia tetap berakhir di pelaminan bersama Ray.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
“Tidak boleh!” Jawaban Kana tegas saat Ray meminta izin untuk pergi ke kantor.
“Tapi, ada rapat pagi, Hanii. Aku harus hadir. Ada penandatanganan perjanjian kerjasama denga klien,” Ray beralasan.
Namun, Kana tidak mau tahu. Ia tidak mengizinkan Ray pergi ke kantor karena kondisi Ray menurutnya masih tidak memungkinkan pergi.
“Diwakilkan Nala kan bisa? Kamu masih sakit, nanti kalau ada apa-apa gimana? Kalau tambah gawat gimana?” Kana mengomel.
“Cuma sebentar kok, hanya datang untuk tanda tangan perjanjian kerjasama, terus makan siang bersama.” Ray mencoba memberi pengertian.
Namun, Kana hanya khawatir mengenai kesehatan Ray sehingga ia tidak bisa begitu saja mengizinkan. Apalagi jika perjanjian kerjasama ini melibatkan nama Agnes, mungkin akan memicu stress pada Ray lagi. Kejutan kemarin sudah cukup membuat Kana khawatir, ia tidak ingin mengalaminya lagi.
“Hanii,” bujuk Ray.
“Sama siapa? Agnes?” tanya Kana.
“Iya, tapi bukan cuma Agnes ada banyak orang lain juga. Makan siang ini cukup formal dan jadi simbolis kerjasama. Jadi, aku sebagai CEO harus datang,” Ray menjelaskan. “OtoClick bekerjasama dengan Joanna untuk merekrut beberapa penyanyi dan actor di bawah naungan Joanna untuk jadi BA. Jadi, nanti yang datang juga penyanyi dan actor yang ikut teken kontrak. Makanya, aku juga perlu datang dan menjamu mereka.”
Kana menghela napas. Ia memang tidak banyak mengerti mengenai dunia bisnis, tapi menjamu rekan bisnis sebelum atau setelah penandatanganan kontrak memang hal wajar. Ayahnya pun sering melakukan itu, bahkan mengadakan jamuan di rumah. Kana mau tidak mau juga ikut terlibat.
Kana meraba kening Ray, tidak demam seperti sebelumnya. Tampilan Ray juga tidak terlihat seperti sedang sakit. Bahkan Ray ikut duduk di meja makan untuk sarapan dengan Kana. Namun, ia tidak yakin suaminya itu benar-benar fit. Jadi, ia melangkah meninggalkan Ray yang masih mencoba membujuknya.
Ray memberikan beberapa alasan sementara Kana mengambil segelas air hangat dan meletakkannya di depan Ray. Lalu membuka bungkusan obat dan mengulurkannya pada Ray. Tadi suaminya itu menolak minum obat, sekarang Kana akan memaksanya.
“Kau boleh pergi setelah minum obat,” ujar Kana. Ray langsung menurut dan meminum tiga kapsul yang Kana berikan. Setelah Ray menelan obat, Kana kembali berkata, “dan aku akan ikut denganmu.”
“Tidak ada penolakan, aku senang kau temani, Hanii,” ujar Ray. “Dandan yang cantik, Hanii. Kau akan ikut makan siang bersamaku.”
“Nggak dandan pun aku cantik,” sahut Kana.
“Iya, Hanii. Kau yang tercantik,” Ray mengiakan.
Kana tak bisa menahan senyumnya. “Aku siap-siap dulu.”
Satu jam kemudian, Kana dan Ray sudah sampai di Kantor OtoClick. Untung saja, mereka berangkat setelah jam masuk kantor berlalu sehingga tidak harus menghadapi kemacetan di jalan.
Setelah sampai di kantor, Ray langsung disibukkan dengan pekerjaan. Meskipun Kana ingin melarang, tapi akhirnya membiarkan saja. Lagi pula, setelah makan siang mereka akan pulang sehingga menurut Kana, Ray tidak akan begitu kelelahan karena bekerja. Besok, Kana akan meminta Ray bekerja dari rumah saja sehingga suaminya itu bisa istirahat.
Sambil menunggu, Kana mencoba membaca isi kontrak yang akan ditandatangani Ray satu jam lagi. Baru membaca beberapa lembar, Kana sudah pusing. Hanya sebagian kecil yang dapat ia mengerti. Kana merasa benar-benar bodoh terkait urusan bisnis. Meskipun dulu pernah beberapa bulan belajar bisnis dari mamanya, tapi sepertinya tidak ada ilmu bisnis yang masuk ke dalam otak Kana.
“Sepertinya, keahlianku memang cuma hura-hura dan foya-foya saja,” gumam Kana.
“Mau kuajari?”
Kana menengadah dan menemukan Nala berdiri tidak jauh darinya.
“Setidaknya, belajar sedikitlah biar bisa bantu kakakku saat kerja di rumah,” Nala menambahkan, “lagian, kau juga lulusan jurusan ekonomi, kan? Gampanglah kalau mau belajar, asal ada kemauan.”
“Kalau nggak ada kemauan?” sahut Kana.
“Berarti kau malas, ya kan Bang Ray?”
Ray mengangkat matanya dari dokumen yang tengah dibaca. “Istriku tidak malas,” ujar Ray, lalu kembali menekuni pekerjaannya.
Nala mendengus dan Kana tertawa senang karena dibela Ray.
“Beneran deh, kau harus belajar bisnis, Kakak Ipar, biar nggak kalah sama Agnes.”
Entah kenapa mendengar nama itu lagi-lagi disebut membuat Kana sebal. Padahal bertemu pun belum pernah, tapi perempuan bernama Agnes itu sudah membuat banyak masalah untuk Kana. Terutama jadi sumber pertengkaran Ray dan Papa Abimanyu sehingga Ray sakit.
“Emangnya, harus jadi seperti Agnes dulu baru bisa jadi istri kakakmu? Kalau iya, aku nggak mau,” sahut Kana seraya berdiri dan meninggalkan ruangan. Ia sempat mendengar panggilan Ray, tapi tidak menghiraukannya. Kemudian terdengar langkah di belakang Kana, lalu sosok Nala muncul di depannya.
“Aku minta maaf,” ucap Nala.
“Aku tidak marah padamu,” sahut Kana dan meneruskan langkahnya ke ruang santai yang memang dibuat khusus untuk karyawan jika perlu beristirahat sejenak dari pekerjaan, atau ingin mengganti suasana.
“Kalau tidak marah kenapa pergi? Bang Ray cemas kau pergi begitu saja,” ujar Nala.
“Jadi, kau minta maaf karena disuruh Ray,” sahut Kana seraya menempati sofa paling pojok yang menghadap langsung ke jendela.
“Tidak, aku memang salah membandingkanmu dengan Agnes. Sekali lagi, aku minta maaf,” ucap Nala.
“Tidak masalah, kok. Aku tidak marah masalah itu,” kata Kana.
“Lalu?” Nala menduduki kursi di sebelah Kana. “Apa yang membuatmu marah?”
“Agnes,” jawab Kana, “Begitu nama itu disebut aku jadi kesal. Nama itu yang menyebabkan Ray dan Papa Abimanyu bertengkar, lalu membuat Ray colaps.”
“Bang Ray kenapa?” Nala terdengar khawatir.
“Kemarin Ray pingsan di bathtub.” Kejadian sehari sebelumnya masih terngiang di kepala Kana. Bahkan ia masih ingat jelas bagaimana kondisi Ray saat menemukannya. “Aku benar-benar takut melihat kondisinya waktu itu,” ujar Kana pelan. “Apa Ray sering mengalaminya?”
“Setelah kecelakaan, Bang Ray memang sering pingsan tiba-tiba. Dia depresi karena kondisi tangannya dan trauma karena kecelakaan itu. Namun, belakangan ini sudah jarang, bahkan selama enam bulan terakhir tidak pernah lagi,” Nala menjelaskan.
“Kata Dokter Mirwan, Ray terlalu banyak bekerja, stress, juga tertekan,” ujar Kana. “Hari ini aku melarangnya bekerja, tapi dia keras kepala. Katanya, harus hadir di penandatangan kontrak dengan si Agnes itu.”
“Padahal belum ketemu, tapi sudah sekesal itu pada Agnes. Memangnya Papa bertengkar dengan Bang Ray karena Agnes?” tanya Nala.
“Aku juga tidak terlalu mengerti,” jelas Kana, “sepertinya, Papa Abimanyu kesal karena Ray tidak menemani Agnes makan siang. Selain itu, juga ada nama Pak Oklan disebut.”
Nala mengangguk-angguk, Kana menduga Nala pasti bisa menebak alasan pertengkaran Ray dengan Papa Abimanyu. “Kau tidak bertanya ke Bang Ray soal Agnes?”
“Gimana bisa tanya, dia colaps duluan,” sahut Kana, “jadi sekarang aku akan bertanya padamu, siapa Agnes dan apa hubungannya dengan Ray?”
*
*
*
Terima kasih untuk kamu yang sudah mampir baca, kasih like dan komen juga ya. 🙏