FOLLOW INSTAGRAM : @aangeliccc_._
[TAHAP REVISI]
Anderson pikir bahwa dunianya telah sirna lantaran ditinggalkan oleh sang istri untuk selamanya. Kepedihan sungguh memeluk pria itu. Ia harus menelan fakta pahit bahwasanya sang istri pergi bersama calon anaknya. Terpukul? teramat sangat.
Namun tiba-tiba takdir mengirimkan seorang gadis cantik yang mirip dengan istrinya, mengirim deja vu pada Anderson setiap ia bertemu dengan gadis cantik itu.
[Ayah & Anak, persahabatan, keluarga, musuh dalam selimut]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angeliccc_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. MEMAKSA CINTA
Anderson memarkirkan mobilnya di depan rumah Enora. Gadis itu melihat Anderson dan tersenyum kecil.
"Makasih ya Om sudah antar aku pulang" ucap Enora sambil berdiri melihat Anderson di dalam mobil.
Anderson tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya pamit" ucap Anderson dan Enora menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan.
Mobil Anderson melaju pergi namun gadis itu masih tetap berdiri disana.
“Kok perasaan gue aneh kalo sama Om Pohon? Kenapa yah?” ujarnya bingung sambil mengusap dagunya dan berpikir.
“Apa jangan-jangan gue suka sama Om Pohon? Gila kali gue suka sama om-om! ” ujarnya sambil memukul sendiri kepalanya.
Enora pun masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Anderson selama dia mengemudi pikirannya masih berpikir soal gadis itu sambil mengingat perkataannya.
‘Aku gampang terkejut orangnya dan kadang kalau aku merasa takut banget dan terkejut secara bersamaan, aku bakal lemas atau gak pingsan’
Perkataan itu yang membuatnya sedikit kaget dan bingung karena dia juga memiliki kebiasaan yang sama, jika dia terkejut dan terlalu takut secara bersamaan membuat tubuhnya seakan lemas dan bahkan pingsan karena itulah dia memiliki kebiasaan yang mudah terkejut.
“Saya harus diam-diam mencari tahu tentang Enora..” gumam Anderson serius.
Kini mobilnya terus melaju melewati jalan tol. Dia berbohong mengatakan kepada gadis itu untuk pergi ke rumah Roland karena memang dia hanya ingin mengantar Enora saja dan tidak mungkin dia mengganggu sahabatnya itu karena dia yakin pasti sekarang Roland sedang menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya.
-
Roland sedang duduk bersama Callie sambil bermain kartu. Mereka bercerita tentang hari yang mereka jalani akhir-akhir ini sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama.
“Bagaimana dengan sekolah kamu?” Tanya Roland sambil menaruh sebuah kartu di atas tumbukan kartu lainnya.
“Baik-baik aja kok, seperti biasa berjalan lancar dan aman. Terus bagaimana dengan ayah? Ayahkan baru aja pulang tadi siang setelah dua hari lembur karena pekerjaan harusnya ayah istirahat saja untuk besok bekerja lagi..” ujar Callie.
“Tidak, ayah mau main sama Callie aja.” Ucap Roland.
Callie hanya menganggukan kepalanya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Ayah, Callie mau tanya” ujar Callie sambil menaruh kartunya.
“Mau Tanya apa anakku?” Tanya Roland.
Callie menatap Roland sebentar sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakana.
“Ayah gak mau nikah lagi?” Tanya Callie.
Roland membeku mendengar perkataan anak perempuannya itu. Dia tidak menyangka bahwa Callie akan menanyakan pertanyaan ini padanya. Roland melihat ke arah Callie, rupanya gadis itu jug sedang menatapnya seakan sedang menunggu jawaban darinya.
“Hm.. Ayah tidak kepikiran untuk menikah lagi kan ayah punya Callie..” ujar Roland sambil tersenyum hangat pada anak perempuannya.
Callie membalas senyuman ayahnya dan menganggukkan kepala.
“Ayah masih cinta ibu?” tanya Callie lagi.
Pertanyaan kali ini sedikit membuat pria itu terkejut.
“Ayah hanya mencintai Callie.” ucap Roland sungguh-sungguh.
“Kalau nanti ayah punya wanita yang ayah suka, Callie gak papa kok kalau ayah ingin menikah lagi. Selama tujuh tahun setelah pisah dengan ibu kan ayah yang urus Callie seorang diri tanpa bantuan siapapun dan juga sibuk bekerja.” ucap Callie sambil menaruh kartunya di atas meja.
“Callie tahu kok ayah juga butuh seseorang untuk dengar ayah karena ayah gak bisa mengatakan semua apa yang ayah rasa untuk Callie, jadi kalau nanti ayah mau.. Callie setuju! Karena kalo ayah senang, Callie juga senang.. lagian bonusnya kan Callie dapat ibu baru..” lanjutnya dengan senyum manis.
Perasaan Roland tiba-tiba berubah dia meletakan kartu yang dia pegang asal di atas meja dan langsung berdiri untuk mendekati anaknya dan memeluknya erat dan Callie sedikit terkejut dengan tindakan ayahnya. Air mata Roland menetes di baju Callie dan dia terisak pelan.
Mendengar isakan pria itu Callie mulai panik dan khawatir padanya.
“A-ayah.. ayah kenapa? Kata-kata Callie ada yang salah? Atau kata-kata Callie nyakitin ayah? Ya ampun Callie minta maaf yah..” ucap Callie dengan mata berkaca-kaca dan ingin menangis.
Dia tidak pernah melihat ayahnya menangis selama hidupnya, ini pertama kalinya dia melihatnya. Bahkan saat sidang perceraian orang tuanya ayahnya hanya diam dan tersenyum kecil berbeda dengan ibunya yang memasang wajah datar. Callie meletakan kepalanya di bahu Roland dan mulai terisak disana.
“Ayah minta maaf karena tidak bisa menahan ibumu..” gumam Roland terisak.
“Maafkan ayah Callie, seharusnya sejak awal ayah tidak memaksakan ibumu untuk mencintai ayah.. Ayah terlalu egois.. ini semua salah ayah.. ayah benar-benar minta maaf, Callie..” lanjutnya.
Roland benar-benar terisak sambil memeluk Callie lebih erat begitu juga dengan Callie yang terisak didalam pelukan ayahnya.
Clarissa Wulandari adalah ibu Callie yang sudah bercerai dengan Roland sejak Callie berusia sembilan tahun. Sejak awal Roland jatuh cinta pandangan pertama pada wanita itu namun tidak dengan Clarissa, wanita itu bahkan tidak sedikitpun melirik Roland. Namun pria itu terus memaksa untuk mendapatkan Clarissa. Dia melakukan segala cara agar bisa memiliki wanita itu padahal waktu itu Clarissa sudah memiliki pasangan. Karena dia tahu bahwa dia tidak punya peluang untuk mendapatkan wanita itu, Roland meminta ayahnya untuk menjodohkannya dengan Clarissa karena kebetulan ayahnya bekerja di satu perusahaan yang sama dengan ayahnya. Jabatan ayah Clarissa sebagai karyawan biasa sedangkan jabatan Ayah Roland lebih tinggi dari ayah wanita itu.
Perjodohan mereka berjalan dengan lancar bahkan sampai di jenjang pernikahan mereka. Roland sangat bahagia di kala itu namun berbeda dengan Clarissa. Wanita itu merasakan sakit hati yang luar biasa karena harus berpisah dengan pria yang dia cintai dan menikah dengan Roland. Namun di acara perjodohan hingga pernikahan dia tetap professional. Dia menyembunyikan sakit hatinya rapat-rapat untuk menjalankan acara itu hingga selesai.
Satu bulan setelah acara pernikahan mereka pasangan Clarissa pergi ke luar negeri dan menikah dengan wanita lain disana. Tentu pria itu sangat kecewa pada Clarissa. Mendengar hal itu Clarissa semakin membenci Roland dan bahkan melihatnya saja membuat wanita itu muak. Namun Roland berusaha mati-matian menjadi suami yang baik pada Clarissa untuk mengambil hati wanita itu.
Sekitar kurang lebih satu tahun Roland berusaha untuk menunjukan cintanya akhirnya Clarissa bisa melihat cinta pria itu dan mulai membuka hati pada Roland. Selama itulah pernikahan mereka berjalan dengan baik, Roland yang mencintai Clarissa dan Clarissa yang berusaha untuk mencintai Roland. Hingga mereka memiliki seorang anak yang cantik yaitu Callie.
Sayangnya pernikahan mereka hanya bertahan hingga Callie berusia sembilan tahun karena kekasih Clarissa yang kalah itu pergi ke luar negeri kini kembali lagi. Cinta Clarissa pada Roland yang baru saja bertunas kini mati karena cinta lamanya telah kembali. Dari situlah Roland paham dan sadar bahwa cintanya tidak bisa dipaksakan.
Roland ingat dengan jelas bagaimana dia menangis dan berlutut di depan Clarissa di dalam kamar agar tidak membawa Callie darinya.
“Aku mohon, biarkan Callie hidup denganku.. biarkan aku yang merawatnya.. aku mohon padamu Clari..” ucap Roland memohon dan menangis pedih didepan Clarissa sambil berlutut.
“Jika kamu pergi membawa Callie.. bagaimana aku hidup? BAGAIMANA AKU BISA HIDUP TANPA KALIAN?!” teriak Roland dengan hancur didepan Clarissa.
Clarissa turun dari tepi ranjang dan berlutut di depan Roland. Wanita itu juga menangis dalam diam. Dia menangkup wajah Roland agar mereka saling menatap satu sama lain.
“Tolong rawat putri kita dengan baik.. berikan semua cintamu padanya.. aku sungguh minta maaf karena tidak bisa bersama kalian hingga akhir..” ujar Clarissa terisak.
Roland menarik tubuh Clarissa dan mereka berpelukan dalam tangisan mereka.
semangat terus yaa