Alesya dan Varo menanti selama 5 tahun untuk mendapat kan seorang anak, setelah mereka mendapat kabar bahagia Varo menjaga Alesya dengan sangat baik karna janin Alesya yang lemah dan harus di jaga dengan baik.
Namun keluarga Varo yang tidak berperasaan menindas Alesya selama Varo bekerja, dan Alesya tidak bisa mengatakan tentang perlakuan keluarga nya pada Varo karna Alesya tidak memiliki bukti.
Suatu hari saat Varo berangkat bekerja kakak lelaki Varo yang kesal dengan Alesya melecehkan Alesya hingga Alesya keguguran. Namun lagi lagi Alesya hanya bisa bungkam karna tidak memiliki bukti tentang apa yang terjadi pada nya. Suatu hari Alesya menyadari iya hamil kembali, namun Alesya bingung itu anak ipar atau suami nya, setau Alesya saat periksa ke dokter dulu sangat kecil kemungkinan suami nya bisa memberi anak. Alesya yakin anak itu adalah anak iparnya tanpa memeriksa dahulu. Apa yang akan terjadi selanjut nya? ayo ikuti cerita Aloisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dirniana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan lagi.
Pagi hari setelah selesai makan, sesuai dengan apa yang ibu katakan pada mas Deon tentang mbak Rani yang tidak juga menikah. Tetapi ibu menceritakan nya ketika mbak Rani sudah pergi ke laundry.
"Deon... saat kamu di penjara, ada musibah yang menimpa Rani, Rani di jual kekasih nya yang sering main ke rumah, Rani di jual pada seorang pria tua kaya. Saat pria itu berhasil mengambil apa yang tak seharus nya dia miliki serta memuaskan nafsunya, iya mengembalikan Rani pada Devon, Devon membuang Rani ke jalanan sepi tanpa sehelai benang pun di tubuh nya. Rani berjalan tertatih tatih menelusuri jalanan berharap mendapat pertolongan. Saat mencari pertolongan segerombolan geng motor datang dari belakang. Rani kira iya akan mendapat bantuan, tapi sayang nya dugaan Rani salah, rombongan geng motor itu malah menggilir Rani di perkebunan kosong, untung saja sepasang suami istri menemukan Rani saat mereka hendak pergi ke kebun dan membawa nya ke puskesmas terdekat. Jika tidak ibu tidak tau apa Rani masih ada sampai sekarang atau tidak. Setelah kejadian itu Rani sempat stres berbicara, dan menangis sendiri tanpa alasan, bahkan ibu harus mengikatnya karna terkadang iya mengamuk tanpa alasan" ucap mertua mu mulai menangis mengingat saat itu.
Mas Deon emosi mendengar cerita ibu nya, mas Deon bersumpah akan balas dendam pada orang yang telah menyakiti mbak Rani.
"Deon pasti bisa menemukan orang orang itu bu" ucap Mas Deon yakin.
Saat itu setelah sarapan dan menjemur Aloisa aku melipat pakaian Aloisa yang akan ku susun di lemari. Tapi saat aku menoleh pada Aloisa. Aku melihat Aloisa yang seperti susah bernafas. Saat itu mas Varo sedang keluar karna ada rapat bersama karyawan nya. Awal nya aku mengira Aloisa sesak nafas karna hidungnya tersumbat, saat aku periksa hidung nya bersih, sesak nafas Aloisa semakin menjadi jadi membuat ku panik. Aku melihat bibir nya membiru.
"Ibu... ibu...." teriak ku panik berlari menggendong Aloisa.
"Ada apa Alesya?" tanya mertua ku dan mas Deon yang sedang duduk kaget.
"Aloisa bu, dia sesak nafas bibir nya membiru bu, padahal dia tadi baik baik saja" ucap ku menangis histeris.
Mas Deon langsung mengajak ku membawa Aloisa ke rumah sakit terdekat, setelah sampai di rumah sakit terdekat, dokter mengatakan bahwa Aloisa harus di bawa ke rumah sakit besar karna alat alat mereka tidak mencukupi. Aku dan ibu bersama Aloisa naik ambulance, sedangkan mas Deon mengikuti dari belakang sambil berusaha menelfon mas Varo.
Sesampai nya di rumah sakit, Aloisa di bawa ke ruang NICU oleh dokter dan perawat. Aku dan ibu juga mas Deon menunggu dengan cemas di luar. Tak lama mas Varo datang dengan keringat di wajah nya.
"Ada apa? ada apa dengan Aloisa?" tanya mas Varo pada ku. Aku menceritakan semua nya pada mas Varo.
Setelah beberapa lama menunggu akhir nya dokter keluar dan menjelaskan apa yang terjadi pada Aloisa.
Rasanya dunia ku hancur sehancurnya, Aloisa terkena penyakit jantung bawaan, kenapa bukan aku saja, kenapa harus Aloisa, bahkan umur nya belum genap 6 bulan, cobaan apa lagi ini tuhan, aku tidak ingin lagi kehilangan.
Dokter mengizinkan kami menemui Aloisa saat nanti iya di pindahkan ke ruang rawat.
Rasanya hatiku benar benar hancur melihat keadaan Aloisa, tubuh nya di penuhi slang kecil, slang infus, dan juga ada yang di masukkan melalui hidung nya.
Aku mengutuk diri ku sendiri.
"Mas Varo maaf. maaf aku laki, maaf aku bodoh, maaf mas, maaf kan aku, maaf karna ku Aloisa menderita mas, maaf karna kesalahan ku Aloisa menanggung semua nya" ucap ku pada mas Varo.
"Hei... jangan seperti ini, kasihan Aloisa, jangan salahkan diri mu, ini sudah takdir sya, kita berdoa saja yang terbaik untuk Aloisa, kita berikan yang terbaik untuk Aloisa ya" ucap mas Varo.
"Seandainya saat mengandung Aloisa aku tidak egois dan memikirkan diri ku sendiri, Aloisa pasti baik baik saja mas, Aloisa pasti sehat sehat saja" ucap ku.
Ibu memeluk dan menenang kan ku.
"Jangan salahkan diri mu nak, ini sudah takdir, tidak ada siapa yang bisa di salahkan, jika kamu seperti ini kasihan Aloisa. Aloisa memang belum bisa berbicara tapi Aloisa pasti bisa mengerti dengan perasaan ibu nya, karna hubungan batin kalian" ucap mertua ku menenangkan ku.
Mbak Rani masuk ke dalam ruangan, melihat Aloisa yang terbaring lemah dengan banyak nya slang yang ada di tubuh Aloisa membuat mbak Rani menangis.
"Apa yang terjadi pada Aloisa, bukannya tadi pagi Aloisa baik baik saja?" tanya mbak Rani.
"Aloisa terkena PJB mbak, dokter sudah menjelaskan semuanya pada kami, jika telat sedikit saja mungkin sekarang Aloisa sudah tidak ada" ucap mas Varo.
Aku menatap bayi kecil ku dengan tatapan penuh kasih, dalam hati aku memohon agar Aloisa bertahan tidak meninggalkan ku.
"Aloisa... berjanjilah akan kuat, Aloisa sayang ibu kan nak? Aloisa akan selalu ada untuk ibu ya sayang" ucap ku pada putri kecil ku.
"Sabar Alesya, sabar... jangan seperti ini, kasihan Aloisa, Aloisa pasti juga sedih dengan kondisi mu seperti ini" ucap mertuaku.
"Alesya, ibu benar, Aloisa bisa merasakan apa yang kamu rasakan, sekarang kamu hanya butuh menyemangati Aloisa, selalu ada di sisi nya, kita serahkan pada tuhan saja" ucap mas Varo.
"Aloisa, kamu yang kuat ya nak, jika Aloisa sakit siap yang akan menjadi penyemangat bibi? siapa lagi yang akan bibi belikan mainan?" ucap mbak Rani pada Aloisa.
"Tuhan... biarkan aku, biarkan aku saja yang sakit, pindahkan sakit itu padaku, aku tak tega melihat ponakan ku seperti ini" ucap mas Deon.
Tiba tiba saja aku teringat dengan perkataan buruk ku dulu pada Aloisa tentang aku yang mengatakan mengapa bukan Alani saja yang hidup kenapa Aloisa? karna saat itu aku masih meragukan Aloisa adalah anak mas Deon.
"Tuhan, aku mohon jangan kabulkan ucapan ku, jangan biarkan kata kata itu menembus langit" gumam ku dalam hati.
Dari pagi hingga malam tidak ada yang bisa makan karna melihat kondisi Aloisa, segitu sayang nya mereka semua pada Aloisa hingga mereka tidak merasa lapar telah melewati jam makan siang dan malam.
Aloisa tak kunjung menangis dari pagi, jangan kan menangis, membuka mata nya saja tidak. Aku takut tuhan mengabulkan ucapan ku.
Aku benar benar bodoh tidak berfikir sebelum bicara dahulu, kenapa aku tidak dewasa dengan pikiran ku, aku merutuk dan mengutuk diri ku sendiri, aku benar benar tak sanggup kehilangan Aloisa, tapi aku juga tak sanggup jika melihat nya begini.