Amira adalah seorang anak konglomerat, tapi dia terpaksa menyamar menjadi gadis kampung biasa dan menikah dengan Mahardika untuk mengungkap misteri kematian neneknya yang pernah menjadi pembantu di rumah orang tua Mahardika.
Mampukah Ameera mengungkap semua kejahatan tanpa sedikit pun bukti dan saksi yang menunjukkan sebab kematian neneknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maunah mom's zuzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Rindu
"Maaf, Bu Sintia, ini semua tak benar. Ini fitnah dari Ameera. Dia yang membuat laporan!" ungkap Darma tak terima dengan tuduhan yang disangkakan padanya.
Sintia terlihat tertawa geli melihat Darma yang ketakutan. "Fitnah kamu bilang? Periksa baik-baik, laporan itu bukan hanya bulan ini, tapi dari pertama kamu kerja. Jadi, jangan bilang kamu difitnah oleh Ameera!" teriak Sintia menggema di dalam ruangan itu.
"Pak Polisi, silakan bawa mereka!" titah Ameera pada para polisi. Mereka pun gegas memborgol para tersangka yang sudah mereka ringkus.
Setelah mereka semua dibawa oleh Polisi, Ameera membisiki Sintia, "Suruh seluruh karyawan berkumpul, aku akan mengangkat manager baru," bisik Ameera pada Sintia yang dijawab anggukan oleh Sintia.
"Baik, Ameera. Saya akan laksanakan segera!" jawab Sintia dengan penuh rasa hormat. Setelah itu, Sintia meminta semua orang berkumpul di lapangan, tempat biasa dilakukan apel pagi dan senam.
"Ameera, siapa yang akan Anda angkat sebagai manager?" tanya Sintia dengan berbisik karena Ameera masih menginginkan identitasnya dirahasiakan.
"Bu Asmawati, OG yang berdiri di sana!" tunjuk Ameera pada seorang OG yang selama ini selalu ramah dan tak pernah cari muka. Mendengar jawaban Ameera, Sintia terlihat tercengang. Di pikirannya, bagaimana bisa seorang OG akan diangkat menjadi manager.
"Dia S2 management, tapi dia terpaksa menerima job sebagai OG, karena pungli yang dilakukan Darma. Dia tak mampu membayar nominal yang diminta Darma dan kawan-kawannya saat melamar di sini," jawab Ameera seolah dia tahu bahwa Sintia penasaran dengan alasannya mengangkat seorang OG menjadi manager.
"Satu lagi, tolong pecat nama-nama ini, mereka terlibat pungli. Kalau perlu, laporkan mereka juga ke polisi. Bacakan juga ini, ini peraturan baru dariku. Kalau ada yang berani melakukan pungli lagi, mereka akan ditindak tegas," tutur Ameera dengan suara lembut karena dia tak mau ada yang mendengar ucapannya.
"Baik, Ameera."
Setelah selesai menerima mandat dari Ameera, Sintia segera maju ke depan dan memegang microphone yang disediakan.
"Baiklah, teman-teman, hari ini saya sudah memenjarakan para penghianat yang ada di perusahaan ini. Mereka melakukan pungli dan juga korupsi, menipu pemimpin pusat perusahaan ini selama berbulan-bulan. Bagi nama yang saya sebut, silakan maju! mulai hari ini, kami memecat kalian yang berani melakukan pungli dan bagi yang cuma sombong dan menindas karyawan kecil, kalian akan saya beri pilihan, silakan mengundurkan diri, atau silakan lamar kembali ke sini sebagai OG," tegas Sintia di tengah para karyawan.
Para karyawan itu terlihat berbisik-bisik, terutama yang namanya sudah dipecat. "Maaf, Bu. Kenapa cuma kami yang dipecat? kenapa Ameera gak dipecat, padahal dia telah melakukan hal yang merugikan perusahaan," teriak salah satu dari mereka tak terima dengan pemecatan terhadap mereka.
"Memangnya apa yang dilakukan Ameera? Dia ke pesta itu diajak oleh Darma, dia di sana dijebak oleh seseorang. Kalau kalian ingin bukti, silakan lihat video ini!"
Sintia gegas menyuruh orang agar memutar video yang diberikan Viona dan menghubungkannya ke layar proyektor agar bisa dilihat oleh seluruh karyawan.
"Itu adalah bukti bahwa Ameera tidak bersalah, dan soal korupsi, dia juga tidak terlibat. Asal kalian tahu, Ameera ini adalah orang kantor pusat, jadi dia sama sekali tak terlibat dengan korupsi yang mereka lakukan,"
Semua orang yang tadinya riuh, kini telah terdiam menyesali kebodohan mereka. "Baiklah, untuk selanjutnya, kami akan mengangkat salah seorang di antara kalian menjadi manager di sini, setelannya kalian harus mentaati peraturan perusahaan yang sudah ditentukan oleh Princess Ameera. Jangan pernah melanggar peraturan di sini lagi, karena mulai dari sekarang, kami akan mengutus seseorang dari kantor pusat untuk menjadi mata-mata, dan kalian tidak akan tahu siapa dia," lanjut Sintia.
"Untuk pengumuman siapa yang akan menjadi manager di sini, saya serahkan pada Ameera. Silakan, Ameera!" Sintia memberika microphone pada Ameera yang kini sudah berada di dekatnya.
"Baiklah teman-teman, yang akan menjadi manager di sini adalah; Ibu Asmawati, M.M, silakan Ibu Asma maju ke depan!" ujar Ameera sambil menunjuk ke arah wanita berseragam OG.
Semua karyawan di situ terlihat tercengang mendengar pengumuman yang disampaikan Ameera, bagaimana mungkin seorang OG akan diangkat menjadi manager.
"Maaf, Ameera, apa maksud kamu, Jangan-jangan kamu salah baca, mungkin bukan saya," sahut Asmawati di saat dia mendengar dirinya diangkat menjadi manager.
"Asmawati benar, mungkin kamu salah baca, mana mungkin kantor pusat mengangkat seorang OG menjadi manager?" tanya salah seorang karyawan yang tak terima dengan pengangkatan Asmawati.
Ameera menggeleng dan langsung mendekar ke arah Asmawati, "Saya tahu kalian heran kenapa harus Asma? karena hanya dia yang pantas menjadi manager di sini. Bu Asmawati adalah s2 management, dan dia pernah menjadi wakil manager. Dia terpaksa menjadi OG karena di sini dipungut biaya yang cukup tinggi oleh Darma dan kawan-kawannya."
"Selamat, Bu. Saya harap Ibu akan menjalankan tugas dengan baik," ucap Sintia sambil menyalaminya dan tersenyum manis. Bu Asmawati terlihat masih syok karena mendapat kabar gembira itu. "Ya Allah, saya gak nyangka Ya Robb!" Asmawati menghadap kiblat dan melaksanakan sujud syukur untuk mengungkapkan rasa syukur tak terhingga pada Robbnya dan juga dia tak lupa berterima kasih pada Sintia dan Ameera.
"Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada Princess Fathmah, atas kebaikannya," ungkap Bu Asmawati dengan penuh haru.
Setelah acara pengangkatan manager, dan penerapan peraturan baru dari Ameera, Sintia dan Ameera pun pergi meninggalkan perusahaannya. "Ameera, bagaimana dengan perempuan ini?" tanya Sintia ketika berada di dalam mobil. Dia menunjukkan foto yang berada di ponselnya.
Ameera tertawa melihat foto Viona yang ada di ponsel Sintia. "Dia, biarkan saja dulu. Biar kita dapat ikan besarnya dulu, dia ini kan hanya ikan teri, jadi in sha Allah gak akan membahayakan kita. Ya mungkin cuma perlu kita kasih sedikit pelajaran saja," sahut Ameera sambil terkekeh.
Ameera baru sampai di kamarnya ketika ponselnya berdering. Setelah dia lihat, ternyata itu adalah Dika. "Ada apa laki-laki ini menelefonku?" gumamnya sambil menggeser layar ponsel.
"Ameera, syukurlah kamu mau menjawab telefonku. Aku ingin bertemu, bisa kan?" pinta Dika dalam sambungan telefon. Ameera mengela napas memikirkan apa dia pantas menemui laki-laki itu atau tidak.
"Baiklah, temui aku di cafe," jawab Ameera santài.
Sekilas, terukir senyum manis di bibir pink gadis berhidung mancung itu. Entah kenapa, ada percikan rindu yang semakin menyala di relung sanubarinya. Bukan hanya Ameera yang merasakan, tapi juga Mahardika. Dia terlihat tersenyum sendiri sembari membaca balasan dari Ameera.