Indonesia
NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:68k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bumil yang Meresahkan

“Loh, kenapa mukanya ketekuk gitu, Bang?” Tanya Yuna saat melihat kedatangan Aldo--bersama Indra.

Tama melirik sekilas. “Dighibahin kayaknya dari istri sendiri.”

Aldo mengusap kasar wajahnya. “Bukan, Dad, tapi mereka lagi cerita masa lalu, ternyata pernah satu gebetan,” ungkapnya yang membuat semua orang tertawa, termasuk sang anak sendiri, Arka.

Aldo menunjuk Arka. “Loh? Kenapa ikutan ketawa?”

Arka, masih di sela-sela tawanya. “Muka Ayah yang lucu, kayak pantat ayam, kerut-kerut gitu.” Ingin rasanya Aldo mengumpat, kalau tidak ingat anak sendiri.

Suara ketawa semakin besar, saat Tiwi dan Clarissa bergabung.

“Kenapa nih? Lucu banget kayaknya, kita ketinggalan, ya?” Tanya Tiwi, duduk di tikar bersama Arka dan Jihan.

“Kata Arka, muka ayahnya seperti pantat ayam, berkerruuuttt,” ujar Yuna memberitahu.

Tiwi menutup mulutnya menahan tawa setelah melihat muka Aldo yang memang seperti itu.

“Ketawa aja, nggak usah ditahan-tahan,” sinis Aldo pada Tiwi.

“Hm, Lia, rekomendasiin sekarang tempat honeymoon yang bagus,” celetuk Vina.

Lia berdehem. “Di Asia tenggara ada banyak kok itu, Langkawi tuh bagus banget.”

Indra reflek menggeleng. “Jangan Langkawi deh, Ma, aku udah tiga kali ke sana.”

Tiwi ikut mengangguk. “Aku juga udah pernah.”

“Eropa, mau?” Celetuk Khansa.

“Negara mana dulu nih, Pa?” Tanya Indra.

“Papa sama Mama kemarin ke Finlandia, Swiss, Belanda, Inggris juga.” Ujar Khansa tanpa mengalihkan pandangannya dari bidak catur.

“Jangan Eropa deh, jauh.” Gumam Indra.

“Dalam negeri aja yaelah, banyak kok yang bagus. Sumba misalnya, ada Raja Ampat, Labuan Bajo tuh bagus juga.” Celetuk Aldo.

Indra tersenyum, cukup berguna juga abangnya itu.

“Emang kamu nggak sibuk? Aku aja ini sibuk, loh,” ujar Tiwi.

Senyum Indra luntur. “Ya bukan sekarang juga perginya, aku juga sibuk banget ini.”

“Kalau ngurusin kerjaan mulu, kapan dong baby project itu jadi?” Gerutu Vina.

Semua terdiam, Indra dan Tiwi lirik-lirikan.

Tama menghela napas. “Semua butuh waktu, dan semua butuh proses. Dimanapun tempatnya, kalau berusaha, niat dan berkeinginan kuat memiliki pasti diberi jalan, di rumah pun bisa kalau keduanya niat dan melakukan. Meskipun ada waktu, kalau keduanya tidak ada pergerakan, sama aja. Meskipun juga mengadakan honeymoon romantisan.”

Indra dan Tiwi mendadak kelu, cukup menohok. Sebuah sindiran dengan cara halus, yang efeknya tetap sama.

Tama terkekeh mendapati semuanya diam. “Ini Daddy cuman bicara semata, jangan dimasukkan dalam pikiran, apalagi diteruskan ke perasaan. Bisa bahaya.”

Lama tidak mendapat sahutan, dan pergerakan bidak catur dari lawan. Tama memperhatikan sekitar. “Loh? Kok pada diam semua?”

Khansa yang pertama sadar. “Ah, ayo lanjutkan. Giliran saya sekarang ya?”

Tama berdehem, mengabaikan Khansa. Lebih fokus pada Indra dan Tiwi. “Daddy salah ngomong, ya?” Lagi-lagi, tidak ada sahutan.

Yuna berdehem setelah beberapa menit. “Nggak kok, Dad.” Yuna menatap Indra dan Tiwi. “Ra, Wi, itu Daddy cuma nasehatin. Mulai sekarang niatnya dimantapin lagi, usahanya jangan setengah-setengah. Kakak juga gitu kok dulu, enam bulanan usia nikah baru dikasih sama Allah, kakak baru hamil waktu itu. Dulu juga kakak hampir down, keluarga besar nanyain terus setiap ada pertemuan, udah hamil belum?, padahal nih ya kalau dipikir-pikir, kita menikah belum cukup setahun, masih wajar belum hamil, bahkan di luar sana ada yang sampai tiga tahunan baru hamil. Kalian ini baru tiga bulan loh, dibawa santai aja, ikutin alurnya, tapi jangan lupa berusaha dan do'anya dibanyakin.” Yuna mengakhirinya dengan senyum lebar.

“Wi, Allah itu udah menscenario jalan setiap hambanya. Aku nggak beda jauh dari Yuna. Sebelum Arka lahir, aku udah pernah hamil sebelumnya, tapi lagi-lagi kita kembali ke Allah, usia kandungan aku yang sepuluh minggu nggak bisa diselamatin, aku pendarahan hebat waktu itu, padahal sebelumnya aku sehat, nggak ada ngelakuin kegiatan yang membahayakan kandungan aku, sedih banget, hampir down, tapi syukurnya banyak yang dukung. Empat bulan kemudian, Arka tumbuh dalam rahim aku. Kalian hanya perlu berusaha semaksimal mungkin, sisanya serahin ke Allah. Aku doain juga semoga cepat-cepat diberi debay.” Timpal Clarissa. Semua orang ikut mengaminkan.

Tetapi berbeda dalam hati kedua pasangan yang menjadi topik pembicaraan. Entah kenapa, curahan dari kedua kakak perempuan mereka tidak terlalu berguna sekali. Ada bagian-bagian yang belum mereka rasakan, tahap-tahap yang mereka belum sampai kesana.

Indra dan Tiwi masing-masing berniat, usaha yang selama ini belum pernah ada. Dan, diam-diam mengaminkan, berharap penuh ada kehadiran bayi-bayi lucu di antara mereka.

Jihan berdiri menghampiri sang ayah--Rifaldi. “Ayah?”

“Iya, kenapa sayang?” Tanya Rifaldi lembut.

“Pengin teh juga,” rengeknya dengan wajah menggemaskan.

Orang dewasa tersenyum, diam-diam bersyukur, karena lagi-lagi Tuhan kembali menghangatkan hati mereka lewat Jihan.

“Ayaahh,” rengekan kembali terdengar. Bukan dari Jihan ataupun Arka. Tetapi dari Yuna.

Semua yang sudah tahu kebiasaan ibu hamil itu hanya membatin. Ngidam ini pasti.

Rifaldi tersenyum. “Butuh sesuatu?”

Yuna mengangguk lucu. “Aku mau ngidam.”

Yang lain tertawa, ngidam kok bilang-bilang?

Rifaldi mengangguk pasrah, semoga saja bukan hal yang aneh. “Okay, kamu mau apa?”

“Janji ya turuti permintaan aku?” Yuna mengangkat jari kelingkingnya.

Tanpa ragu, Rifaldi menautkan kelingking mereka. “I promise.”

Senyum lebar Yuna membuncah. “Everything?”

“Everything, babe.”

“Aku pengen liat kamu cium.” Pinta Yuna.

Aldo menyeletuk. “Hih, ngidam yang unfaedah.”

Baru saja Rifaldi ingin mendaratkan bibirnya di wajah sang istri, dorongan pelan di wajahnya dari Yuna membuatnya mundur.

“Loh, kenapa?” Rifaldi bingung.

Yuna menggeleng. “Bukan begitu. Aku maunya kamu cium Tiwi.”

“HAH?!” Indra reflek berdiri, yang lain melongo.

Rifaldi rasa-rasanya seperti orang tercekek. “K-kamu serius ngidam begituan?”

“Iya, ini maunya baby kita. Kamu udah janji bakal turutin semua kemauan aku, jadi sana cium Tiwi depan aku,” Yuna antusias.

Indra mengangkat telunjuk, menunjuk sarkas ke arah Yuna. “Jangan main-main.”

Arka membentuk tangannya seperti ular, lalu melakukan gerakan mematok-matok. “Jangan main-main. Jangan main-main. Seperti di tiktok.”

“Pfftt..” Aldo menahan tawa melihat tingkah sang anak.

“Apasih, Ndra? Ini ngidam loh, ponakan kamu juga, sepele kok aku maunya,” Yuna mengusap perut buncitnya, memasuki mode manja.

“Dari mananya sepele, Mbak Yuna, ini tuh pasal dicium-mencium istri gue dan suami lo itu haram hukumnya.” Sengit Indra.

Yuna berdiri. “Tiwi, aku mau nanya ke kamu aja deh. Kamu keberatan kalau aku ngidam liat kamu dicium Mas Rifal?”

Tiwi diam, ia melirik sang suami yang memicing padanya seolah mengatakan tidak boleh. Tapi melirik lagi si bumil yang sudah mupeng dan mata yang berkaca-kaca jadi kasihan. Lagi, ia kembali melirik Rifaldi yang ekpresinya tidak terbaca, muka nurut-nurut, tapi kesannya jadi serba salah.

“Aku sih—”

Indra memotong, matanya semakin menyipit dan menunjuk sang istri. “Heh!!”

“Nggak usah kamu ikut campur, Ndra, ini tuh urusan aku, Mas Rifal, dan Tiwi.” Pelotot Yuna.

Indra balas melotot. “Ya nggak bisa dong, urusan begini gue harus turun tangan. Bang Aldo juga bakalan begini ya, kalau lo nyuruh Bang Rifal untuk nyium Kak Clarissa.”

Suasana semakin runyam. Aldo berdiri dan angkat bicara. “Hei, sodara Indra yang terhormat, jangan sembarang bilang, kata-kata anda sudah masuk ke pikiran saya, sudah ada bayang-bayang akan hal itu.”

Indra tertawa meledek. “Itu, mana ada yang mau sih istrinya dicium orang lain.”

Terdengar helaan napas dari Rifaldi. “Yang lain ya, sayang?” Ia mengusap lembut lengan istrinya.

Yuna merengek, membuat Indra jengah. “Aku pokoknya mau itu, sayang.”

“SKAK MAT!!” Teriakan berasal dari Tama karena berhasil membuat raja dari lawannya mati.

Sontak Vina menyemburkan air tehnya karena terkejut. “ADHITAMA, KAMU MAU BIKIN ORANG JANTUNGAN, HAH?!!” Bentaknya.

Tama nyengir. “Itu spontanitas namanya, muncul sendiri, terlalu bahagia karena menang.”

Indra tidak peduli kehebohan yang mendadak ini, ia berjalan menuju Tiwi, menuntunnya untuk berdiri.

Indra berujar pelan. “Kita ke kamar aja lah, di sini bikin gerah hati gerah bodi.”

Tiwi terkekeh pelan. “Ya udah, ayok!”

Yuna yang menyadari itu, kembali mengintrupsi. “Eh, jangan kabur ih. Ini ngidamnya belum terpenuhi.”

Indra berdecih. “Bodo amat!”

“Kita duluan ke kamar, pengen buat cucu ini,” kelakar Indra yang lagi-lagi mendapat cubitan dari Tiwi.

***

Makin gaje aja part-partnya aku rasa...

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!