Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 27
"Buronan? Siapa yang menjadi buronan?"
Elias dan Noah seketika menoleh ke belakang, melihat seorang perempuan tinggi tegap berdiri di belakang mereka dengan tatapan percaya diri.
Elias mengernyit ketika melihatnya datang. Perempuan itu mengulas senyum tipis dan mengucapkan salam hangat kepada Elias.
"Kau ini? Tunggu dulu, aku sepertinya mengingatmu," kata Noah mencoba mengingat sosok perempuan itu.
"Antoinette Carter," kata Anne memperkenalkan dirinya sendiri. Ia tersenyum ke arah Elias, Noah dan beberapa orang yang ada di meja itu. "Panggil saja Anne."
Berbeda dengan Elias yang langsung membuang muka, Noah justru menyambut Anne dan bahkan mengundangnya untuk duduk bersama mereka.
"Aku ingat sekarang, kau adalah agen itu, yang datang ke kantor kami untuk mencari Elias. Benar, kan?" Noah terlihat antusias.
Anne mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Elias. "Maaf untuk kunjunganku itu, Elias. Bolehkah aku memanggilmu begitu?"
Elias tak menjawab, hanya mengedikkan bahu. Tangannya meraih buku menu dan berpura-pura mencari makanan yang ingin dipesannya.
"By the way, kau sedang apa di sini? Dan bagaimana bisa kau menghampiri meja kami? Maksudku, kau kan tidak mengenal kami?" tanya Noah banyak.
"Ah, sebenarnya aku sedang menjalankan tugas, tetapi ketika aku masuk untuk mencari makan siang, aku tak sengaja melihat Elias di sini. Jadi, di sinilah aku berada."
Noah tersenyum penuh arti, Ia sempat menyenggol Elias untuk memberitahunya bahwa ada perempuan cantik yang sengaja ingin menemuinya.
Tetapi, Elias bergeming, Ia berpura-pura tidak tahu. Alih-alih menyapa Anne, Ia justru memanggil seorang pramusaji dan meminta timnya untuk menyebutkan makanan mereka.
"Abaikan kulkas itu, Anne." Noah berkelakar membuat Anne tertawa pelan. "Apa kau sibuk? Bagaimana jika kau ikut makan bersama dengan kami?" tawar Noah.
Anne terlihat melirik arlojinya, kemudian menggeleng pelan. "Aku sangat ingin bergabung, tapi sepertinya tidak bisa. Aku hanya ada sedikit keperluan di sini," alibinya.
Noah mendesah, "Ah, sangat disayangkan."
Sebelum pesanan mereka datang, Anne sudah berpamitan lebih dulu. Ia harus pergi untuk ke suatu tempat guna menjalankan tugasnya. Ia tidak semata-mata menghampiri mereka, tetapi untuk memastikan suatu hal.
"Aku sepertinya terlalu banyak berpikir," gumam Anne sebelum melenggang pergi dari sana. Ia sempat melirik ke arah Elias sebelum benar-benar melangkah pergi dari sana.
"Hei, Anne. Kau sudah selesai dengan urusanmu?" tegur Christian yang baru saja kembali setelah memesan dua cup minuman dingin untuk mereka.
Anne mengangguk singkat, "Sudah."
"Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo masuk ke mobil," katanya sambil berjalan ke mobil dinas mereka yang terparkir di depan.
"Tunggu dulu, Christ. Aku harus menghubungi seseorang," kata Anne meraih ponselnya dan mencari-cari nomor seseorang. "Kau duluan saja, aku akan menyusul nanti."
"Oke, jangan terlalu lama, ya?"
Anne hanya mengangguk sementara Christian berjalan pelan ke arah mobil sambil sesekali melirik ke arah Anne.
Sementara itu, di dalam restoran itu, pramusaji datang dengan membawa nampan minuman. Pria itu meletakkan gelas-gelas kaca berisi minuman ke atas meja satu persatu dan menatanya dengan baik.
Noah mengucapkan terima kasih pada pramusaji itu dengan sopan. Begitu pula dengan Elias, mereka mulai makan dengan tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama lantaran ponsel Elias yang berdering. Ia merogoh saku dan melihat nama yang tertera di layar pipih itu.
"Kenapa dia menghubungiku?" bisik Elias, menyalakan mode senyap dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Maaf, sepertinya aku harus ke kamar mandi." Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Elias langsung melenggang pergi dari sana.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️