Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Demi Penerus

Istri Pengganti Demi Penerus

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: anak org

semoga suka ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 27

"Di mana, di mana benda itu"

"Tidak-tidak....tidak, benda itu tidak boleh hilang, tidak" gumam Darman

Aryan yang sudah khawatir melihat kondisi terpuruk ayahnya saat ini langsung menghampirinya dan menarik lengan Darman kuat.

"sudah, sudah ayah cukup. Aku tidak tahu apa yang ayah cari saat ini tapi lihat juga kondisi ayah. Tangan ayah berdarah"

Napas Darman memburu.

"ayah lihat ibu. dari tadi ibu menangis gara-gara khawatir dengan keadaan ayah sekarang"

Darman menolehkan kepalanya menatap wajah sembab Lea yang menangis tersedu-sedu ke arahnya

Lea menghampiri sang suami lalu langsung memeluknya erat.

"mas. Hiks hiks...aku mohon jangan seperti itu lagi mas...hiks hiks aku....aku takut"

Darman hanya bisa diam

Lea mendongakkan kepalanya, menatap wajah datar suaminya "mas kita obatin dulu ya lukanya. Nanti aku janji bakal ikut cari benda apa yang mas cari itu ya"

Melihat keterdiaman Darman, Lea mengelus pipi suaminya itu sembari tersenyum sendu

"ayok mas" Lea menarik tangan Darman menuju ruang tamu

Darman pun hanya bisa pasrah mengikuti ke mana Lea akan membawanya

Suasana ruang tamu sungguh mencekam. Sunyi dan senyap, seperti tak berpenghuni.

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani bicara

hanya suara detakan jam dinding yang terus berdetak terlalu keras. Menampar sunyi yang menggantung di ruangan itu.

Lea terus mengobati luka Darman, bahkan sesekali meniup-niup luka itu.

Tapi berbeda dengan Darman. Ia hanya menatap kosong lurus ke ke depan. Tidak ada rintihan kesakitan, seolah luka di tangannya ini bukanlah apa-apa baginya.

Sedangkan Aryan juga tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Wajah datarnya seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tapi hatinya terus bertanya-tanya tentang benda apa yang ayahnya cari itu.

Lain Halnya dengan Yeri, yang duduk di samping Aryan. Ia sedari tadi terus menundukkan kepalanya. Tangannya bertaut di atas pahanya, mencengkeram kuat roknya yang hanya sebatas lutut itu.

Baru saja Lea selesai mengobati luka di tangan Darman. Darman langsung berdiri dari duduknya dan hendak pergi, sebelum sebuah tangan menghentikan langkahnya.

"tunggu mas. Kamu mau ke mana?" tanya Lea

Darman menghela napas panjang "aku harus kembali mencari benda itu Lea"

"tapi mas, tangan kamu terluka. Tidak mungkin kamu mencarinya di tumpukan pecahan itu dengan tangan seperti ini"

Darman terdiam "aku tahu Lea, tapi benda itu sangat berharga untukku. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja di sana"

"aku harus mencarinya. Aku tidak ingin benda itu ikut pecah, Lea. benda itu adalah separuh nyawaku. Kalo sampai benda itu ikut pecah di sana. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri"

"baiklah kalo begitu aku ikut cari ya mas" Lea mengelus pipi suaminya itu dengan lembut

Darman menatap wajah cantik istrinya

"aku akan ikut cari benda yang kau sebutkan itu, mas. Aku tidak ingin melihat suami yang aku cintai ini merasa sedih kalo sampai benda yang mas sebutkan tadi pecah" ucap Lea lirih.

Darman tersenyum mendengar ucapan tulus istrinya itu"terima kasih sayang"

"ya udah, ayok kita cari"

"Tunggu ayah"

Darman dan Lea menoleh saat mendengar suara Aryan

"ada apa, Aryan?" tanya Darman

Aryan menatap ayahnya serius "aku masih bingung, ayah. Bagaimana bisa barang yang dibawa Aluna dari ruangan Ayah, yang sudah kita taruh di kardus tebal itu, bisa pecah begini?"

"tidak mungkin kan kalo Aluna sempat terjatuh tadi di atas tangga? Kalo memang Aluna terjatuh tadi, kenapa malah Yeri yang keningnya memar seperti ini" ucap Aryan menatap ke arah Yeri yang memang keningnya agak sedikit memar.

"Dan kenapa aku lihat tadi Aluna malah baik-baik saja"

Darman langsung menatap ke arah Yeri yang masih menundukkan kepalanya itu, sembari memegang ujung bajunya dengan erat.

"oh iya, ibu juga baru ingat. Tadi Yeri sempat terjatuh juga dari atas tangga, berbarengan dengan pecahan barang-barang antik itu"

"Apa salah satu barangnya tidak sengaja mengenai keningmu, sayang?" tanya Lea khawatir

"Apa! Kau terjatuh dari atas tangga?!" Aryan langsung memegang bahu Yeri dan memeriksa tubuh Yeri. Takut-takut ada luka di sana tanpa mereka sadari

"kamu tidak apa-apa kan, sayang? Apa ada yang sakit? Katakan padaku sayang"

Yeri menggelengkan kepalanya pelan "Tidak mas. hanya keningku saja yang sedikit memar. Tapi mas tidak perlu khawatir aku baik-baik saja kok" ucap Yeri lembut

"tapi bagaimana bisa kau seperti ini, Yeri?" tanya Darman, menatap lekat ke arah Yeri.

Yeri menatap wajah mertuanya itu. entah kenapa, tatapan itu seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya.

padahal Darman tidak tahu apapun mengenai kejadian ini.

aduh bagaimana ini? tidak mungkin kan kalo aku mengatakan yang sebenarnya. bahwa akulah yang membuat barang-barang itu pecah seperti ini. Batin Yeri cemas.

"sayang kenapa kau malah berkeringat seperti ini? AC-nya masih hidup, tidak mati sayang" Aryan mengelap keringat Yeri dengan sapu tangan yang ada di sakunya

Yeri masih enggan untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.

"Yeri, ayah tanya. Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Darman lagi.

"hmm, ayah....aku harap ayah Jangan marah ya. Sebenarnya barang-barang itu pecah karena......Aluna yang tidak sengaja menabrakku, ayah" ucap Yeri lirih

"Apa? Aluna menabrakmu?"

"I-iya, ayah. Tadi sebelum ke atas, aku sempat izin dulu sama ibu. Buat istirahat di kamar"

"iya, mas. Yeri sempat minta izin dulu tadi sama aku" ucap Lea menganggukkan kepalanya karena memang Yeri sempat minta izin padanya sebelum pergi ke kamar

"tapi bagaimana bisa Aluna menabrakmu, sayang?" tanya Aryan

"jadi gini, mas. Pas aku mau naik tangga, aku nggak sengaja melihat Aluna yang lagi bawa kardus gitu. katanya dia sempat kesusahan karena dia bilang kardusnya itu berat mas"

"dia juga minta tolong sama aku. Karena aku pikir memang dia lagi kesulitan, tapi ternyata aku salah. Dia malah mendorongku dengan kardus besar itu mas"

"Dan, karena itu juga kening aku jadi memar gini mas" tunjuk Yeri ke arah keningnya yang memar.

Aryan yang mendengar penjelasan Yeri mengepalkan kedua tangannya, erat. bahkan wajahnya mengeras, memperlihatkan setiap urat-urat di keningnya yang sangat terlihat jelas

Yeri yang melihat reaksi suaminya seperti itu tersenyum tipis, lalu beralih menatap ke arah sang mertua yang malah tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.

"Ayah, ibu, mas. Aku harap kalian jangan marah ya sama Aluna. Dia itu tidak sengaja-"

"tidak sengaja apanya! dia itu pasti sengaja melakukan hal seperti ini. Sejak Yeri pulang dari luar negeri, Aluna memang sudah sangat tidak menyukai kehadiranmu Yeri"

"aku yakin dia itu sengaja melakukan hal ini!" geram Aryan

"tapi, mas dia-"

"cukup! Yeri. jangan pernah membelanya sama sekali. Aku memang dari dulu sudah tahu kalo anak itu memang tidak pernah dididik oleh orang tuanya"

"yang dikatakan Aryan benar, Yeri. Ibu juga sudah sangat Yakin kalo perilaku anak itu benar-benar sangat buruk" omel Lea sembari bersedekap dada

"aku akan menemuinya" ucap Aryan yang hendak berjalan menuju kamar Aluna

oh iya, biasanya Aluna akan tidur di kamar Aryan. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kamar yang sebelumnya ditempati Aryan dulu sudah menjadi milik Aluna karena Yeri yang memintanya.

"tidak perlu, mas. Aku sudah ada di sini" ucap Aluna yang berjalan dari tangga sembari membawa sebuah kotak yang isinya entah apa itu

"Aluna, kau dari mana saja, hah! Apa kau tahu apa yang-" ucapan Aryan langsung terhenti saat melihat Aluna yang langsung melewati dirinya begitu saja.

"Ayah, aku tahu seharusnya sejak tadi aku mengatakan yang sebenarnya pada ayah. Dan aku minta maaf ayah, karena lama memberitahu ayah tadi.

Mereka yang ada di sana langsung menatap Aluna dengan wajah bertanya-tanya. Untuk apa Aluna meminta maaf pada ayah? Seharusnya dia minta maaf bukan pada Darman, tapi pada Yeri karena sudah mendorongnya dari atas tangga tadi.

"untuk apa, Aluna?" tanya Darman

"sebelumnya aku minta maaf pada Ayah karena sudah menghancurkan semua barang-barang berharga ayah"

"Dan juga aku minta maaf padamu, yeri. Karena aku sebenarnya waktu itu tidak sengaja menabrakmu. seharusnya kau tahu, bukan, kalo aku waktu itu membawa kardus berat. tapi kau bukannya menyingkir, tapi malah mendekatkan dirimu padaku"

mereka yang mendengar ucapan Aluna langsung menatap ke arah Yeri

apa-apaan wanita itu batin Yeri

"tapi aku berterima kasih juga padamu Yeri. Karena untungnya bukan aku yang terluka. Kau memang benar-benar seorang pahlawan" ucap Aluna tersenyum manis ke arahnya

"oh iya, ayah. bukankah benda ini yang ayah cari-cari sebenarnya?" Aluna membuka kotak yang ada di tangannya.

betapa terkejutnya Darman setelah Aluna membuka kotak yang dia bawa tadi. di dalamnya ialah sebuah liontin kristal Safira biru yang sedari tadi Darman cari-cari

bukan hanya Darman, tapi mereka yang masih ada di sana juga ikut terkejut melihat liontin kristal Safira biru itu.

liontin Kristal Safira biru

Maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen ya❤️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!