Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Perebutan di Rumah Lelang
Keesokan paginya, jalan utama Kota Seribu Harta sudah dipenuhi para kultivator.
Lin Yuan berjalan mengikuti garis keemasan yang hanya dapat dilihat melalui Mata Takdir.
Ujung garis itu mengarah pada bangunan megah di pusat kota.
Rumah Lelang Seribu Harta.
Dua patung singa batu berdiri di depan pintunya, sementara puluhan penjaga mengawasi para pengunjung.
Lin Yuan baru mendekati pintu ketika pandangannya berhenti pada salah seorang penjaga.
Alam Fondasi Roh Lapisan Keenam.
Bahkan penjaga biasa di tempat ini memiliki kultivasi satu lapisan lebih tinggi darinya.
Namun tidak seorang pun menghalangi Lin Yuan setelah ia membayar biaya masuk.
Bagian dalam rumah lelang jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Ratusan kursi menghadap panggung batu giok.
Beberapa ruangan pribadi berada di lantai kedua, jelas disediakan bagi klan besar dan tamu penting.
Lin Yuan memilih tempat di bagian tengah.
Ia tidak datang untuk menunjukkan status.
Tujuannya hanya satu.
Peluang Takdir yang dapat membantunya menyempurnakan tubuh.
Tidak lama kemudian, seorang wanita berjubah merah berjalan menuju panggung.
"Selamat datang di pelelangan bulanan Rumah Lelang Seribu Harta."
Suasana segera tenang.
"Barang pertama—Pedang Angin Hijau."
Seorang pelayan membawa pedang panjang ke atas panggung.
"Artefak Fana kualitas tinggi. Harga awal lima puluh batu spiritual."
Penawaran langsung bermunculan.
"Enam puluh!"
"Tujuh puluh!"
"Delapan puluh lima!"
Lin Yuan hanya mengamati.
Pedang tersebut memang jauh lebih baik daripada pedang besi miliknya.
Namun bukan itu yang dibutuhkannya sekarang.
Barang kedua adalah Pil Pengumpul Qi.
Barang ketiga merupakan kulit Binatang Roh.
Kemudian muncul sebuah gulungan teknik.
"Teknik Roh kualitas rendah—Tinju Gelombang Ganda."
Beberapa kultivator langsung menunjukkan ketertarikan.
Lin Yuan juga memperhatikannya.
Ini pertama kalinya ia melihat sebuah Teknik Roh diperdagangkan secara terbuka.
Harga akhirnya mencapai dua ratus tujuh puluh batu spiritual.
Lin Yuan mengembuskan napas pelan.
Dunia kultivasi memang membutuhkan sumber daya.
Tanpa kekayaan, bahkan menemukan teknik yang baik belum tentu berarti bisa memilikinya.
Beberapa barang kembali dilelang.
Mata Takdir Lin Yuan tetap tenang.
Sampai—
WUUUNG!
Garis keemasan tiba-tiba bergetar.
Lin Yuan langsung mengangkat kepala.
Dua pelayan membawa sebuah kotak kayu besar menuju panggung.
Wanita berjubah merah membukanya.
Di dalamnya terdapat akar tanaman berwarna merah tua dengan permukaan menyerupai urat darah.
"Barang berikutnya."
"Akar Baja Merah berusia seratus dua puluh tahun."
Lin Yuan langsung merasakan tubuhnya bereaksi.
Energi Esensi Besi Darah yang diserap tadi malam seolah bergerak sendiri.
Sistem segera memberikan informasi.
【Akar Baja Merah terdeteksi.】
【Dapat dipadukan dengan Esensi Besi Darah untuk meningkatkan efektivitas penyempurnaan tubuh.】
【Peluang mencapai Tubuh Besi meningkat.】
Tatapan Lin Yuan berubah.
Ini dia.
Wanita di panggung melanjutkan.
"Akar Baja Merah dapat digunakan dalam pil maupun penyempurnaan tubuh."
"Harga awal—seratus batu spiritual."
"Seratus dua puluh!"
"Seratus lima puluh!"
"Seratus tujuh puluh!"
Harga meningkat cepat.
Lin Yuan menghitung sumber dayanya.
Setelah menjual beberapa bahan yang diperolehnya selama perjalanan serta hadiah dari Tetua Han, ia masih memiliki cukup batu spiritual.
"Dua ratus."
Suara Lin Yuan membuat beberapa orang menoleh.
Penawaran sempat berhenti.
Namun dari ruangan pribadi lantai kedua terdengar suara yang dikenalnya.
"Dua ratus lima puluh."
Lin Yuan mengangkat kepala.
Tirai ruangan perlahan terbuka.
Han Lie duduk di dalam dengan santai.
Tatapan keduanya bertemu.
Han Lie tersenyum.
"Lin Yuan."
Beberapa orang langsung berbisik.
"Tuan Muda Han ikut menawar?"
"Siapa pemuda itu?"
Lin Yuan tidak memedulikan mereka.
"Tiga ratus."
Han Lie langsung menjawab.
"Empat ratus."
Harga melonjak begitu cepat hingga beberapa pembeli sebelumnya langsung menyerah.
Lin Yuan mengernyit.
Bukan karena takut bersaing.
Ia hanya tidak berniat menghabiskan seluruh sumber dayanya karena terpancing harga.
Mata Takdir tiba-tiba bereaksi lagi.
Sebuah garis emas muncul pada Akar Baja Merah.
Namun anehnya...
garis tersebut bukan satu-satunya.
Lin Yuan mengikuti garis lain menuju meja barang yang belum dilelang di belakang panggung.
Di sana terdapat sebuah kotak kecil kusam.
【Peluang Takdir terdeteksi.】
Lin Yuan terdiam.
Kemudian sudut bibirnya terangkat.
"Empat ratus satu."
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Han Lie mengangkat alis.
"Empat ratus lima puluh."
"Empat ratus lima puluh satu."
Beberapa orang hampir tertawa.
Han Lie akhirnya duduk tegak.
Ia memahami maksud Lin Yuan.
Pemuda itu sengaja menaikkan harga seminimal mungkin.
"Lima ratus."
Lin Yuan menatap Akar Baja Merah.
Kemudian...
ia bersandar santai.
"Silakan."
Han Lie membeku.
Beberapa kultivator juga tercengang.
Wanita di panggung segera mengetukkan palu.
"Lima ratus batu spiritual!"
"Akar Baja Merah menjadi milik Tuan Muda Han!"
Han Lie tidak terlihat senang.
Sebaliknya, ia menatap Lin Yuan tajam.
Lin Yuan tersenyum tipis.
Ia memang membutuhkan Akar Baja Merah.
Tetapi Mata Takdir baru saja menunjukkan sesuatu yang mungkin lebih berharga.
Pelelangan berlanjut.
Dua barang kemudian, kotak kusam tadi akhirnya dibawa ke atas panggung.
Wanita berjubah merah membukanya.
Di dalamnya hanya terdapat tiga potong tulang berwarna abu-abu.
"Barang berikutnya berasal dari bangkai Binatang Roh yang ditemukan di Tambang Darah Besi."
"Jenisnya belum berhasil diidentifikasi."
"Karena hampir tidak memiliki energi spiritual, harga awal hanya dua puluh batu spiritual."
Tidak seorang pun langsung menawar.
Han Lie bahkan kehilangan minat.
Namun Mata Takdir Lin Yuan bersinar semakin terang.
【Energi penyempurnaan tubuh tingkat tinggi terdeteksi.】
Lin Yuan menatap ketiga tulang tersebut.
Kali ini ia tidak terburu-buru.
Setelah beberapa napas berlalu, ia mengangkat tangan.
"Dua puluh satu."
Beberapa orang menoleh sebentar lalu mengabaikannya.
Wanita di panggung mulai menghitung.
"Dua puluh satu, pertama."
"Dua puluh satu, kedua."
Lin Yuan tetap tenang.
Namun tepat sebelum palu diketukkan—
"Lima puluh."
Suara Han Lie kembali terdengar.
Lin Yuan mengangkat kepala.
Han Lie tersenyum dari lantai kedua.
"Kau membuatku membayar lima ratus untuk Akar Baja Merah."
Ia menunjuk kotak berisi tulang.
"Kalau kau menginginkan benda itu..."
"...aku juga ingin melihat seberapa banyak kau bersedia membayar."
Han Lie menatap Lin Yuan dari ruangan pribadi di lantai kedua.
Senyumnya terlihat santai.
Namun maksudnya jelas.
Ia sengaja menaikkan harga.
Lin Yuan kembali memandang tiga potong tulang abu-abu di atas panggung.
【Energi penyempurnaan tubuh tingkat tinggi terdeteksi.】
Sistem hanya memberikan informasi tersebut.
Tidak ada nama Binatang Roh.
Tidak ada penjelasan mengenai cara penggunaannya.
"Lima puluh satu."
Han Lie langsung mengangkat harga.
"Seratus."
Beberapa kultivator mulai tertarik memperhatikan.
Lin Yuan terdiam.
Han Lie berada di Fondasi Roh Lapisan Kedelapan, berasal dari Klan Han, dan jelas memiliki sumber daya jauh lebih besar.
Bersaing menggunakan batu spiritual adalah pilihan bodoh.
Namun menyerah juga bukan pilihan.
Lin Yuan menatap tulang itu lebih saksama.
Mata Takdir aktif.
WUUUNG!
Garis keemasan pada ketiga tulang ternyata berbeda.
Dua hanya memancarkan cahaya tipis.
Sementara tulang terkecil memiliki cahaya jauh lebih kuat.
Lin Yuan langsung memahami sesuatu.
Ia mengangkat tangan.
"Seratus satu."
Han Lie tertawa.
"Dua ratus."
"Dua ratus satu."
"Tiga ratus."
Suasana rumah lelang semakin ramai.
Han Lie menatap Lin Yuan.
"Kenapa? Tidak berani melanjutkan?"
Lin Yuan tersenyum.
"Tentu."
Ia mengangkat tangan.
"Empat ratus."
Han Lie menyipitkan mata.
"Lima ratus."
Lin Yuan berhenti.
Han Lie menunggu.
Namun Lin Yuan justru bersandar.
"Silakan."
Senyum Han Lie membeku.
Lagi?
Wanita di panggung juga terdiam sesaat sebelum mengangkat palu.
"Lima ratus batu spiritual, pertama!"
Han Lie menatap Lin Yuan tajam.
"Lima ratus, kedua!"
Lin Yuan tetap tenang.
"Lima ratus—"
"Tunggu."
Lin Yuan mengangkat tangan.
Wanita itu berhenti.
"Ada masalah?"
Lin Yuan menunjuk kotak.
"Aku tidak menginginkan seluruhnya."
Semua orang mengernyit.
"Aku hanya ingin membeli tulang terkecil."
Han Lie langsung melihat ketiga tulang.
Ekspresinya berubah.
Lin Yuan melanjutkan.
"Rumah lelang sendiri tidak mengetahui jenis Binatang Roh itu. Ketiga tulang juga tidak memiliki fungsi yang teridentifikasi."
"Kalau Tuan Muda Han menginginkan dua tulang besar, aku tidak akan bersaing."
Beberapa orang mulai berbisik.
Wanita berjubah merah mempertimbangkannya.
Barang tersebut memang tidak memiliki banyak peminat.
Han Lie tiba-tiba berkata,
"Aku membeli semuanya."
Lin Yuan menoleh.
"Lima ratus batu spiritual."
Han Lie tersenyum.
"Kau tidak akan mendapatkan satu pun."
Lin Yuan terdiam beberapa saat.
Lalu berdiri.
"Kalau begitu selamat."
Ia benar-benar berjalan menuju pintu.
Han Lie mengerutkan kening.
Tidak ada keraguan pada langkah Lin Yuan.
Pemuda itu sungguh akan pergi.
"Berhenti."
Lin Yuan berhenti.
Han Lie menatapnya.
"Apa sebenarnya tulang kecil itu?"
Lin Yuan tersenyum tipis.
"Kau sudah membelinya lima ratus batu spiritual."
"Kenapa masih bertanya kepadaku?"
Wajah Han Lie mengeras.
Beberapa tawa kecil terdengar.
Lin Yuan kembali berjalan.
Namun sebelum mencapai pintu, wanita di panggung berseru,
"Tunggu!"
Lin Yuan menoleh.
Seorang pelayan berbisik di telinga wanita tersebut.
Ia kemudian berkata,
"Pemilik barang memberikan syarat tambahan."
"Jika ada yang mampu menjelaskan asal tulang tersebut, orang itu berhak membeli satu bagian secara terpisah."
Han Lie langsung berdiri.
Lin Yuan juga kembali menatap kotak.
Menjelaskan asalnya?
Sistem sendiri belum mengenali Binatang Roh tersebut.
Lin Yuan mendekati panggung.
"Boleh aku memeriksanya?"
Wanita itu mengangguk.
Lin Yuan mengambil tulang terkecil.
Permukaannya dingin.
Namun ketika ia mengalirkan sedikit Qi—
DUM!
Esensi Besi Darah dalam tubuhnya bereaksi.
Garis merah samar muncul di dalam tulang.
Lin Yuan menyipitkan mata.
Tambang Darah Besi...
Energi penyempurnaan tubuh...
Dan tulang yang menyerap karakteristik bijih selama hidup.
Ia tidak mengetahui spesiesnya.
Tetapi mungkin itu bukan hal yang diminta.
"Binatang Roh ini hidup lama di lingkungan yang mengandung Esensi Besi Darah."
Ruangan menjadi sunyi.
Lin Yuan melanjutkan.
"Tulangnya mengalami perubahan karena menyerap energi mineral selama bertahun-tahun."
"Karena itu energi spiritualnya hampir tidak terlihat dari luar."
Wanita berjubah merah terkejut.
Pelayan di sampingnya segera membawa informasi tersebut ke belakang.
Tidak lama kemudian ia kembali.
"Jawaban diterima."
Han Lie berdiri.
"Apa?"
Wanita itu mengangguk kepada Lin Yuan.
"Pemilik barang bersedia menjual tulang kecil tersebut kepadamu seharga seratus batu spiritual."
Lin Yuan langsung membayar.
Han Lie menatapnya dengan wajah gelap.
Kali ini ia benar-benar kalah.
Bukan dalam kekuatan.
Bukan dalam kekayaan.
Melainkan penilaian.
Lin Yuan menyimpan tulang itu.
Ketika berjalan melewati Han Lie, ia berhenti sebentar.
"Memiliki banyak batu spiritual memang bagus."
Tatapannya turun pada Akar Baja Merah dan dua tulang yang harus dibayar Han Lie.
"Tapi mengetahui apa yang sebenarnya kita beli jauh lebih penting."
Lin Yuan pergi.
Han Lie tidak mengejar.
Namun tatapannya jelas berubah.
Persaingan mereka belum selesai.
Malam harinya, Lin Yuan duduk bersila di kamar penginapan.
Esensi Besi Darah diletakkan di sebelah kiri.
Tulang abu-abu berada di sebelah kanan.
Ia mengikis permukaan tulang menggunakan pedang.
KRAK!
Lapisan abu-abunya terkelupas.
Cahaya merah gelap muncul dari dalam.
Sistem langsung bereaksi.
【Material penyempurnaan tubuh teridentifikasi.】
【Tulang Besi Binatang Roh.】
【Kecocokan dengan kondisi pengguna: tinggi.】
Lin Yuan menarik napas.
"Mulai."
Ia menggenggam kedua material.
BOOM!
Energi merah memasuki tubuhnya.
Rasa sakit yang jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya langsung meledak.
KRAK!
Tulang-tulangnya seakan dihantam palu dari dalam.
Keringat mengalir deras.
Namun Lin Yuan tidak menghentikan proses.
Energi Esensi Besi Darah memperkuat otot.
Sementara energi dari Tulang Besi meresap menuju tulang dan meridian.
【Penyempurnaan Tubuh berlangsung.】
Waktu berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Darah tipis mulai keluar dari pori-porinya.
Namun tubuh Lin Yuan justru semakin kuat.
DUM!
Sebuah penghalang akhirnya muncul.
Lin Yuan menggertakkan gigi dan mengarahkan seluruh energi menuju batas tersebut.
BOOM!
Penghalang bergetar keras.
Namun tidak pecah.
【Tubuh Fana telah mencapai batas.】
【Terobosan menuju Tubuh Besi belum berhasil.】
Lin Yuan membuka mata.
Tidak kecewa.
Sebaliknya, ia mengepalkan tangan.
Kekuatan fisiknya sudah meningkat drastis.
Ia hanya membutuhkan satu dorongan terakhir.
Tiba-tiba—
【Peluang penyempurnaan terdeteksi.】
Lin Yuan mengangkat kepala.
【Lokasi: Tambang Darah Besi.】
【Peluang berkaitan langsung dengan terobosan menuju Tubuh Besi.】
Mata Lin Yuan menyala.
Tambang yang sama tempat tulang itu ditemukan.
Namun informasi berikutnya segera muncul.
【Peringatan.】
【Beberapa kultivator telah bergerak menuju lokasi.】
【Kultivator terkuat yang terdeteksi: Alam Fondasi Roh Lapisan Kesembilan.】
Lin Yuan berdiri.
Kultivasinya baru Fondasi Roh Lapisan Kelima.
Tubuhnya masih Tubuh Fana, meskipun sudah mencapai batas.
Lawan terkuat berada empat lapisan di atasnya.
Lin Yuan justru mengambil pedangnya.
Jika ingin menjadi lebih kuat, sumber daya tidak akan datang mengetuk pintunya.
Ia harus merebutnya.
......................
Bersambung...