Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ukiran Baru di Pohon Beringin

Keesokan harinya, seperti yang telah direncanakan sebelum pembagian rapor, keempat sahabat itu berkumpul di bawah pohon beringin, membawa pisau lipat kecil milik Adit untuk menambahkan ukiran baru menandai kenaikan kelas mereka.

"Jadi, gimana kabar dari Ayahmu kemarin?" tanya Adit begitu mereka duduk melingkar seperti biasa, penasaran dengan kelanjutan cerita yang sempat Naya bagikan semalam lewat pesan singkat.

Naya menghela napas, lalu menceritakan secara lebih lengkap pertemuannya dengan Tante Ratih, termasuk perasaan campur aduk yang masih ia rasakan hingga saat ini. Raka, Adit, dan Salsabila mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan tanggapan yang mendukung tanpa terkesan menghakimi situasi rumit yang dihadapi sahabat mereka.

"Menurutku," kata Salsabila setelah Naya selesai bercerita, "yang penting kamu kasih waktu buat diri sendiri buat terbiasa. Nggak perlu maksain diri buat langsung nerima atau langsung nolak."

"Setuju," tambah Raka. "Lagian, kamu udah buktiin banyak hal berat sepanjang tahun ini. Ini juga pasti bisa kamu lewatin, pelan-pelan."

Naya tersenyum mendengar dukungan tulus dari ketiga sahabatnya, merasa sedikit lebih ringan meski persoalan itu belum sepenuhnya terselesaikan dalam hatinya.

"Udah, udah, jangan serius-serius amat," sela Adit, mencairkan suasana seperti biasa. "Kita di sini kan mau ngukir tanggal kenaikan kelas, bukan buat rapat keluarga."

Tawa kecil pecah di antara mereka, dan Adit segera mengeluarkan pisau lipatnya, mulai mengukir tanggal hari itu di bawah ukiran "Janji Sahabat" yang sudah ada, tepat di samping ukiran tanggal sebelumnya yang mereka buat saat Adit kembali dari Wonorejo.

"Nih, resmi. Tahun kedua kita di SMP dimulai dari sini," kata Adit bangga, menunjukkan hasil ukirannya yang meski agak berantakan, tetap menyimpan makna besar bagi mereka semua.

Salsabila menatap kumpulan ukiran itu dengan kagum. "Aku beneran ngerasa beruntung banget bisa jadi bagian dari semua ini."

"Kamu udah jadi bagian dari kita dari lama, kok," jawab Naya tulus, tersenyum kepada Salsabila yang kini telah menjadi sahabat dekat baginya, terlepas dari kerumitan perasaan yang masih tersimpan di hatinya sendiri.

Sore itu, sambil menikmati waktu santai di bawah pohon beringin, percakapan mereka beralih ke rencana liburan panjang kenaikan kelas yang akan segera dimulai.

"Tahun lalu kita ke Curug Sendang, kan? Gimana kalau tahun ini kita coba tempat baru?" usul Naya bersemangat, berusaha mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran soal ayahnya.

"Aku denger ada agrowisata kebun stroberi di daerah pegunungan, nggak terlalu jauh dari sini," sahut Salsabila, mengingat cerita dari salah satu tetangganya. "Katanya seru, bisa metik stroberi sendiri."

"Wah, boleh tuh!" seru Adit antusias. "Lebih aman juga kayaknya daripada acara nyasar-nyasar kayak tahun lalu."

Raka tertawa mengenang kejadian angkot mogok dan bertemu kura-kura yang mengagetkan mereka semua setahun lalu. "Asal jangan sampai ketemu kura-kura lagi aja."

Canda tawa mengalir ringan di antara mereka, membicarakan detail rencana liburan yang akan mereka lakukan bersama, sebuah kebiasaan yang telah menjadi tradisi tersendiri bagi keempat sahabat itu setiap kali memasuki masa liburan panjang kenaikan kelas.

Namun di tengah keceriaan itu, ponsel Naya berbunyi lagi—kali ini pesan dari ayahnya, mengabarkan bahwa Tante Ratih ingin mengundang Naya dan ibunya untuk makan malam bersama minggu depan, sebagai langkah lanjutan perkenalan yang lebih formal.

Naya menatap pesan itu lama, kembali merasakan gejolak perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami, sebelum akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke saku tanpa membalas pesan itu terlebih dahulu, memilih menikmati sisa waktu bersama sahabat-sahabatnya tanpa dibayangi kekhawatiran itu untuk sementara waktu.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!