"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mengira itu Kamu
Setelah halaqah selesai, aku keluar dari asrama. Sore itu aku hendak membeli kopi dan sedikit camilan di minimarket yang letaknya tidak jauh dari pondok.
Suasana pondok cukup ramai.
Beberapa santri terlihat sedang menjalankan tugas piket. Ada yang menyapu halaman, ada yang mengepel teras, dan beberapa lainnya mendorong gerobak sampah menuju tempat pembuangan. Sesekali terdengar suara sapu yang bergesekan dengan lantai, bercampur dengan suara tawa kecil para santri yang bercanda sambil bekerja.
Di sisi lain halaman, beberapa santri laki-laki sedang bermain bola. Sepertinya mereka sudah menyelesaikan piket sehingga bisa menggunakan waktu luangnya untuk bermain.
Ada pula beberapa santri yang duduk bergerombol di bawah pohon. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi dari kejauhan aku bisa melihat mereka tertawa lepas.
Namun, di antara keramaian itu, mataku justru tertuju pada seorang santri yang duduk sendirian di teras sambil membaca buku.
Aku tersenyum kecil.
Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkanku pada masa ketika aku masih menjadi santri.
Dulu, aku juga sering mencari tempat yang sepi untuk menghafal Al-Qur'an. Bukan karena aku tidak suka bersama teman-teman, tetapi entah mengapa aku lebih mudah berkonsentrasi ketika tidak banyak suara di sekitarku.
Tempat favoritku waktu itu adalah bagian belakang pondok.
Tempatnya cukup jauh dari keramaian. Di sana hanya ada pepohonan, rerumputan, dan suara angin yang sesekali melewati sela-sela daun.
Biasanya aku membawa mushaf, lalu duduk bersandar di bawah pohon.
Membaca satu ayat berkali-kali.
Mengulanginya.
Menghafalnya.
Kemudian menyetorkannya sendiri dalam hati.
Saat itu, aku tidak pernah menyangka bahwa tempat sepi yang sering kudatangi untuk menghafal ternyata pernah menjadi tempat pertemuanku dengan seseorang.
Aisyah.
Aisyah yang waktu itu masih duduk di kelas empat SD. Usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun, sedangkan aku sudah lebih besar darinya. Usia kami terpaut sekitar empat tahun.
Namun lucunya, aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengingat pertemuan itu.
Aku baru ingat bahwa kami pernah bertemu di belakang pondok setelah Aisyah menceritakannya ketika kami makan pagi beberapa hari yang lalu.
Awalnya aku bahkan tidak yakin.
“Benarkah kita pernah bertemu waktu itu?” tanyaku saat ia bercerita.
Aisyah mengangguk.
“Iya. Kamu dulu sering menghafal di belakang pondok.”
Aku mencoba mengingat-ingat.
Perlahan, seperti membuka kembali lembaran lama yang sudah lama tersimpan, muncul bayangan samar tentang seorang anak perempuan kecil yang pernah datang ke tempatku menghafal.
Tapi hanya sebatas itu.
Tidak ada percakapan yang benar-benar kuingat. Tidak ada detail yang bisa kuceritakan kembali. Bahkan wajahnya saat itu pun sudah tidak mampu kuingat dengan jelas.
Yang kuingat hanyalah satu hal.
Kami pernah bertemu.
Dan ternyata, pertemuan yang bahkan hampir hilang dari ingatanku itu justru masih tersimpan dalam ingatan Aisyah.
Aku terkekeh pelan.
Ternyata waktu memang berjalan begitu cepat.
Dulu, aku adalah seorang santri yang sering duduk sendirian di belakang pondok dengan mushaf di tangan.
Sementara di suatu sore yang sudah bertahun-tahun berlalu, seorang anak perempuan kelas empat SD datang ke tempat itu dan tanpa kusadari menjadi bagian dari sebuah cerita yang baru kembali kuingat setelah ia sendiri menceritakannya.
Aku kembali menatap santri yang sedang membaca buku di teras.
Entah mengapa, sore ini terasa seperti membawa masa lalu kembali ke hadapanku.
Hanya saja, kali ini aku menyadari sesuatu.
Tidak semua kenangan yang kita miliki benar-benar kita simpan sendiri.
Kadang, ada orang lain yang justru mengingat bagian dari hidup kita yang telah kita lupakan.
Kulihat Ustadz Syaiful keluar dari masjid. Sepertinya beliau baru saja selesai mengisi pengajian bapak-bapak di sekitar pondok.
Aku yang memang hendak menuju minimarket mengurungkan langkah. Kuniatkan untuk menghampiri beliau terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum,” sapaku sambil menyalami tangan beliau.
“Wa’alaikumussalam.”
Beliau tersenyum sebentar, lalu langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Bagaimana, Nak? Perkembangannya sama Aisyah?”
Aku sedikit terkejut. Beliau benar-benar langsung to the point.
“Lancar, Ustadz. Insyaallah,” jawabku, berusaha terdengar santai.
Beliau mengangguk, lalu menunjuk kursi yang berada di dekat masjid.
“Sini, duduk dulu.”
Aku mengikuti beliau dan duduk di kursi tersebut.
Entah kenapa, tiba-tiba muncul perasaan tidak enak.
Dari cara beliau mengajakku duduk dan nada bicaranya, sepertinya pembicaraan ini bukan sekadar obrolan biasa.
Ustadz Syaiful menarik napas pelan.
“Nak, sebelum ini kan kamu sering menolak tawaran Ustadz.”
Aku hanya diam.
“Aku tahu, kamu masih berat untuk menikah karena kakakmu belum menikah.”
Aku menunduk.
Beliau memang tahu alasanku selama ini.
Aku tidak pernah merasa nyaman jika harus mendahului kakak. Bagaimanapun, aku ingin menghormati beliau dan tidak ingin membuat keadaan menjadi rumit.
“Tapi untuk kali ini,” lanjut beliau, “Ustadz sangat berharap kamu bersedia.”
Aku mengangkat wajah.
“Meskipun Ustadz tidak bisa menjadikanmu menantu sendiri. Anak Ustadz semuanya laki-laki.”
Beliau tersenyum kecil.
“Tapi setidaknya kita bisa menjadi kerabat. Meskipun sebenarnya Ustadz sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Kalau ada ikatan keluarga, bukankah akan lebih baik?”
Aku tersenyum tipis, tetapi tidak mampu menjawab.
Ada rasa hangat mendengar perkataan beliau.
Selama ini Ustadz Syaiful memang sudah memperlakukanku seperti keluarga sendiri. Karena itu, justru semakin sulit bagiku untuk mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hati.
Beliau memperhatikanku beberapa saat.
“Apakah ada masalah lain, Nak?”
Aku kembali terdiam.
Bagaimana mungkin aku menjelaskannya?
Masalahnya bukan tentang kakakku.
Bukan pula karena aku tidak ingin menikah.
Masalahnya adalah seseorang.
Seseorang yang belakangan ini justru semakin memenuhi pikiranku.
Aisyah.
Aku menundukkan kepala. Jemariku saling bertaut, mencoba menenangkan diri.
“Sepertinya memang ada masalah,” ujar beliau akhirnya.
Aku mengangkat wajah.
Beliau tersenyum tipis, seolah sudah bisa membaca kegelisahanku.
“Dari tadi Ustadz bertanya, kamu malah diam. Kalau memang ada yang mengganjal, ceritakan saja. Jangan dipendam sendiri.”
Aku menarik napas panjang.
Beberapa detik aku masih ragu.
Namun, rasanya aku sudah tidak bisa terus menghindar.
“Ustadz...” suaraku pelan.
“Iya?”
“Aku sebenarnya ingin menceritakan sesuatu.”
Beliau mengangguk, memberi isyarat agar aku melanjutkan.
“Waktu aku daurah kemarin, aku bertemu seorang perempuan bernama Aisyah.”
Kening beliau sedikit berkerut.
“Aisyah?”
Aku mengangguk.
“Iya. Awalnya aku mengira dia keponakan Ustadz.”
“Kenapa?”
“Karena namanya sama persis. Waktu itu aku pikir Aisyah yang Ustadz maksud adalah dia. Ternyata aku salah.”
Aku menarik napas.
“Dia bukan keponakan Ustadz.”
Ustadz Syaiful masih diam, mendengarkan.
“Dan entah bagaimana...” Aku berhenti sebentar, mencari keberanian untuk mengucapkan kalimat berikutnya. “Aku terlanjur mencintainya.”
Senyum di wajah beliau perlahan menghilang.
Beliau menatapku cukup lama, seolah memastikan bahwa beliau tidak salah dengar.
“Jadi, Aisyah yang kamu maksud bukan keponakan Ustadz?”
“Bukan.”
“Namanya saja yang sama?”
“Iya.”
Beliau mengangguk pelan.
Aku kembali menundukkan pandangan.
“Itulah yang membuat semuanya rumit, Ustadz. Aku salah mengira sejak awal. Tapi setelah mengenalnya, perasaanku justru tumbuh begitu saja.”
“Lalu, apa rencanamu?”
Aku kembali terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak mudah.
“Aku akan tetap melanjutkan proses dengan keponakan Ustadz.”
Beliau memperhatikanku.
“Aku akan berusaha mencintainya.”
Aku terdiam sejenak.
“Tidak...” Aku menghela napas. “Aku berjanji akan mencintainya.”
Kalimat itu terdengar seperti sebuah janji yang juga sedang kuucapkan kepada diriku sendiri.
Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi beri aku waktu, Ustadz.”
“Apakah keponakan Ustadz tahu?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Aku menarik napas, lalu menatap beliau.
“Aku akan memberitahunya,” kataku mantap.
Ustadz Syaiful mengangguk perlahan.
“Baiklah. Semoga semuanya berjalan dengan baik.”
Beliau tersenyum kepadaku.
“Apapun keputusanmu dan Aisyah nanti, Ustadz akan menerimanya. Karena kalian sama-sama orang yang Ustadz sayangi.”
Aku mengangguk.
Ada sedikit kelegaan di dalam hati, meskipun aku tahu setelah percakapan ini masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan.
Terutama satu hal.
Aku harus mengatakan semuanya kepada Aisyah.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏