Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Tidak Peka!
Pagi hari Senin terasa berbeda bagi kelima anak kelas X itu. Mereka sengaja berangkat jauh lebih pagi dari biasanya. Setibanya di depan gerbang sekolah, Rio, Zahra, Danu, Putri, dan Reno saling bertukar pandang. Tanpa perlu bersuara, tatapan mata mereka menyiratkan satu misi yang sama. Dengan langkah cepat dan setengah mengendap-endap, kelimanya bergegas menuju markas mereka: ruang Ekstra Musik.
"Menurut kalian, misi kencan kemarin berhasil nggak, sih?" tanya Zahra memecah keheningan di sepanjang koridor.
"Lah! Kan udah jelas kemarin Kak Diva sampai salting brutal begitu! Harusnya berhasil dong, tembus sampai ke pelaminan bila perlu!" seru Rio dengan semangat berapi-api.
Zahra mengerutkan keningnya, masih ragu. "Iya sih... tapi kok gue ngerasa ada yang aneh, ya?"
"Ngerasa aneh gimana maksud lu, Ra?" tanya Danu yang berjalan di sebelahnya.
"Ya... gimana, ya. Tingkah Kak Rizki yang ngelus kepala itu... rasanya terlalu natural. Gue curiga itu cuma kebiasaan lama dia aja, bukan karena dia baper," analisis Zahra tajam.
"Bisa jadi sih. Tapi kan siapa tahu kali ini beneran berhasil? Namanya juga usaha," timpal Putri, berusaha tetap berada di kubu Rio yang optimis.
Reno yang sedari tadi diam akhirnya menghela napas panjang. "Udahlah. Daripada debat hal yang nggak jelas ujungnya, mending kita interogasi orangnya langsung."
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan pintu ruang ekstra. Rio memutar kenop pintu perlahan dan melongok ke dalam.
"Hmm... kok sepi, ya?" gumam Zahra sambil menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang.
"Cari aja ke dalam, siapa tahu dia lagi ngumpet ketiduran," ajak Rio.
"Eh, ayo cek ke ruang diskusi rahasia! Siapa tahu dia ada di situ," usul Putri dengan mata berbinar.
"Ide bagus, Put!" seru Rio.
Mereka berlima pun bergegas menuju panel rahasia, memencet tombol pembuka, dan melongok ke dalam ruang diskusi.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Yah... zonk," keluh Danu kecewa.
Namun, baru saja keluhan itu meluncur dari mulut Danu, terdengar suara langkah kaki berat dari arah belakang mereka.
"Oi, kalian. Tumben pagi-pagi udah pada kumpul. Nyariin siapa?"
Kelima murid itu serempak berbalik.
"Nah, ini dia buronan kita!" seru Rio kegirangan melihat Kak Rizki yang baru datang dengan wajah bantalnya, menenteng sapu lantai.
"Buronan? Ada apa kalian nyariin Kakak pagi-pagi begini?" tanya Kak Rizki bingung, memiringkan kepalanya dengan polos.
Rio dan Zahra langsung maju mengambil posisi interogasi. "Gimana hasil kencan Kakak kemarin?! Ayo ngaku!" tuntut Rio tak sabar.
Kak Rizki menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Hmm... berjalan bagus, sih. Lanjay aja. Apalagi pas pertengahan film ada suara petir gede banget. Aku refleks peluk dan elus-elus kepalanya."
"WAAAH! Gila, gila! Bagus banget tuh, Kak! Kemajuan pesat!" sorak Rio dan Danu sambil ber-high-five ria.
Namun, Zahra yang intuisinya tajam langsung menangkap satu kata kunci yang janggal. "Tunggu, tunggu. Bentar. Refleks, Kak?"
"Iya, refleks," jawab Kak Rizki santai tanpa dosa. "Waktu ada suara petir itu, Kakak tiba-tiba teringat kejadian di panti asuhan. Kalau lagi hujan deras dan ada petir, anak-anak panti kan sering nangis ketakutan. Biasanya Kakak nenangin mereka dengan cara dielus-elus kepalanya. Nah, kebetulan kemarin teringat lagi, ya udah Kakak lakuin aja ke Diva."
Hening mematikan turun menyelimuti ruang ekstra selama tiga detik penuh.
"ASTAGA, KAK RIZKI!" jerit Zahra kesal sampai ingin menjambak rambutnya sendiri.
Namun, sebelum kekacauan berlanjut, sebuah suara gemuruh mengagetkan mereka semua.
BRUK! BRAK!
Tumpukan kardus kosong di sudut gelap ruangan—yang sedari tadi tak mereka sadari keberadaannya—tiba-tiba berhamburan ke udara bak diterjang angin puyuh. Dari balik benteng kardus yang runtuh itu, muncullah sesosok gadis dengan rambut sedikit acak-acakan dan aura gelap yang sangat pekat.
Kak Diva. Gadis itu ternyata sudah berada di sana sejak pagi, bersembunyi.
Wajah Kak Diva merah padam, perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan amarah yang siap meledak. Ia menatap lurus ke arah Kak Rizki dengan tatapan horor, bibirnya bergetar menahan luapan emosi.
"Jadi... selama ini..." suara Kak Diva bergetar, "...aku... cuma dianggap anak-anak panti?!"
Melihat Kak Diva yang tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan kardus dengan wajah memerah menahan marah, Kak Rizki malah memiringkan kepalanya dengan tatapan kosong tak berdosa.
"Lah? Ada kamu, Div? Sejak kapan kamu sembunyi di situ? Kamu lagi main petak umpet sama siapa pagi-pagi begini?" tanya Kak Rizki polos, benar-benar tidak bisa membaca situasi.
Urat kesabaran di dahi Kak Diva nyaris putus mendengarnya. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Tau ah!! Kesel! Aku pergi aja!" pekik Kak Diva dengan suara bergetar. Gadis itu langsung membalikkan badan, berlari kencang keluar dari ruang ekstra dan membanting pintu kayu itu hingga berbunyi BRAK! yang sangat nyaring.
Meninggalkan Kak Rizki yang masih kebingungan dan kelima adik kelasnya yang kini mematung tak percaya.
Zahra menepuk jidatnya keras-keras hingga menimbulkan suara tamparan. "Aduh... Kak Rizki gimana sih?! Ceweknya lari sambil nangis begitu bukannya dikejar, malah melongo bingung di situ!" omel Zahra dengan nada gemas tingkat tinggi.
Kak Rizki menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Loh, emangnya kenapa, sih? Bukannya dia bersembunyi di kardus itu cuma buat ngasih kejutan ke kita, ya? Namanya juga prank..."
Rio membelalakkan matanya lebar-lebar. Kesabarannya sudah habis. Ia melangkah maju, mencengkeram kedua pundak mentornya itu, dan berteriak persis di depan wajah Kak Rizki.
"BUKAN PRANK, KAK! DIA ITU BENERAN SUKA SAMA KAKAK!!"
Hening sejenak. Otak Kak Rizki seolah sedang memproses kata-kata Rio layaknya komputer lama yang sedang loading memuat data berat. Matanya mengerjap dua kali.
"Suka...?" gumam Kak Rizki pelan. Matanya perlahan melebar seiring dengan kesadarannya yang akhirnya kembali ke bumi. "Tunggu dulu... Apakah yang kalian maksud itu... suka dalam artian pacaran?!"
Reno yang sedari tadi bersandar di dinding akhirnya membuang napas kasar. "IYA!!! Ya ampun, baru peka lu sekarang, Kak? Bikin kita semua kesal dan darah tinggi aja dari tadi," rutuk Reno sambil memijat pelipisnya.
Mendengar konfirmasi itu, wajah Kak Rizki seketika memucat. Ia baru sadar betapa fatal kesalahpahamannya tadi. "Waduh... mati aku. Terus, Kakak harus gimana sekarang? Dia pasti telanjur sakit hati banget disamain sama anak panti."
Mereka berlima langsung memasang pose berpikir keras, mencoba menyelamatkan nasib mentor mereka yang malang ini.
"Hmm... gimana kalau Kakak kasih buket bunga aja buat minta maaf?" usul Danu memecah kebuntuan.
Mata Zahra langsung berbinar mendengarnya. "Wah, ide bagus tuh, Nu! Setuju! Iya, Kak, buket bunga aja. Nggak ada cewek yang nggak luluh kalau dikasih bunga dengan tulus," dukung Zahra meyakinkan.
Kak Rizki menelan ludah, menatap pintu ruang ekstra yang baru saja dibanting Kak Diva. "Hmm... gitu, ya? Kalau memang itu bisa memperbaiki keadaan... oke! Kakak akan beli buket bunga setelah pulang sekolah nanti!" tekadnya sambil mengepalkan tangan ke udara.
Teng-tong-teng-tong!
Begitu suara bel pulang sekolah bergema di seluruh penjuru lorong, Kak Rizki tidak membuang waktu sedetik pun. Berbekal sebuah buket bunga mawar merah muda pastel—hasil berlari secepat kilat ke toko bunga di seberang gerbang sekolah pada jam istirahat tadi—ia melesat menerobos keramaian siswa menuju kelas XI.
Di ambang pintu kelas yang sudah mulai sepi, Kak Rizki mengatur napasnya yang terengah-engah. Di dalam sana, tampak Kak Diva sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas ransel. Wajah gadis itu masih ditekuk masam, aura gelap di sekitarnya belum sepenuhnya memudar.
"Diva!" panggil Kak Rizki dengan suara sedikit lantang.
Kak Diva menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, ia langsung mendengus kesal dan membuang muka. "Ngapain kamu ke sini? Mau ngurus anak panti lagi?" ketusnya tajam.
Kak Rizki tersenyum canggung, melangkah mendekat, lalu menyodorkan buket bunga mawar itu tepat ke hadapan Kak Diva.
"Aku minta maaf, Div," ucap Kak Rizki tulus, menatap langsung ke mata gadis itu. "Aku bener-bener nggak peka dan bodoh banget soal ginian. Anak-anak udah ngejelasin semuanya ke aku. Tolong jangan marah lagi, ya? Ini... buat kamu."
Mata Kak Diva sedikit melebar melihat buket bunga cantik itu. Wajahnya yang tadinya ditekuk kini perlahan merona merah hingga ke telinga. Jantungnya kembali berdebar kencang, namun ego tsundere-nya tidak membiarkannya menyerah begitu saja.
Dengan gerakan sedikit kaku, ia menyambar buket bunga itu dari tangan Kak Rizki, lalu menyembunyikan senyum senangnya di balik kelopak bunga.
"Kamu pikir semudah itu dimaafin?!" omel Kak Diva, meski nadanya sudah jauh lebih lembut. Ia menatap Kak Rizki dengan tatapan mengancam yang tidak terlihat menakutkan sama sekali. "Kali ini aku maafin! Tapi awas ya, ini peringatan terakhir. Kalau kamu berani bertingkah nggak peka lagi dan nganggap aku kayak anak kecil... aku beneran nggak mau ngomong sama kamu selamanya! Ngerti?!"
Kak Rizki menghela napas lega, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Siap, Bos! Ngerti!"
Sementara itu, di ujung koridor, lima pasang mata yang sedari tadi mengintip dari balik tembok bersorak tertahan.
"Huft... akhirnya drama ini selesai juga. Aman," bisik Danu sambil mengusap dadanya lega.
"Untung aja ide bunga dari gue berhasil," Zahra tersenyum bangga.
Di tengah kelegaan itu, Reno yang sedang bersandar sambil memainkan ponselnya tiba-tiba angkat bicara. "Eh, ngomong-ngomong, kalian denger gosip dari anak-anak OSIS tadi siang nggak?"
"Gosip apaan?" tanya Rio penasaran.
"Katanya, beberapa hari lagi bakal ada satu murid pindahan baru yang masuk ke angkatan kita. Dengar-dengar sih, dia jago banget main alat musik. Pak Kepala Sekolah sendiri yang lagi ngurusin berkasnya," jelas Reno dengan suara pelan.
Putri memiringkan kepalanya. "Wah... kalau dia jago musik, apa mungkin dia bakal gabung ke klub ekstra kita?"
Angin sore berhembus pelan melewati lorong sekolah, membawa bisik-bisik rumor itu terbang menyusuri ruang ekstra. Mereka belum menyadari bahwa kedatangan karakter baru ini akan melengkapi kepingan puzzle mereka, sekaligus menjadi jembatan menuju badai yang sesungguhnya.
[Bersambung]
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...