Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27_Pemberontakan (bagian 3)
[1 Bulan Setelahnya]
*Sraaak... Byurrr...*
Suasana malam di kota itu benar-benar mati. Hening yang tidak wajar.
Lampu-lampu minyak dan perapian di setiap rumah menyala temaram, cahayanya bergetar tertiup angin yang menyusup dari celah jendela. Hujan mengguyur dengan sangat deras, menghantam genteng-genteng seperti ribuan paku yang jatuh. Angin kencang meraung, meniup atap-atap rumah warga hingga berderak keras.
*Wuuuusshhh...*
*DUARRR!*
Kilatan petir menyambar dengan sangat keras di langit, menyinari seluruh kota sesaat menjadi putih pucat sebelum kembali ditelan gelap.
Di tengah kota, berdiri sebuah rumah besar yang paling mencolok. Tamannya luas, dengan air mancur di tengahnya yang airnya sudah meluap karena hujan. Jalan setapaknya sangat mulus, dan patung-patung marmer yang dingin berjejer di samping pintu utama.
Di salah satu ruangan dengan kaca besar yang berembun, terdapat sebuah ruang kerja yang dipenuhi tumpukan buku tebal dan sebuah brankas besi yang berat di dekat meja kerjanya.
Seorang pria berbadan gemuk, mengenakan jas beludru mahal dan memakai cincin yang terbuat dari emas di hampir seluruh jarinya, sedang duduk dengan angkuh di kursinya.
*kling*
Dia mengambil segelas wine merah dan meminumnya dengan suara seruputan keras.
"Ahhh... wine ini begitu nikmat. Tier! Cepat kemari!" serunya sambil meletakkan gelasnya dengan kasar.
*Tak!*
Seorang pemuda masuk dengan langkah terburu-buru.
*Tap... tap... tap...*
Dia terlihat gemetar hebat dan berkeringat dingin, napasnya memburu. Lalu dia berjalan mendekat dengan kepala tertunduk.
"Apakah Anda memanggil saya, Tuan Wieston?" tanyanya lirih.
Pria gemuk itu mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
*Tuk... tuk... tuk...*
Lalu dia mendorong sebuah kertas kusut ke arah pemuda itu dengan kasar.
*Srett!*
"Tenang saja, Tier. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu," katanya dengan senyum palsu. Dia menundukkan kertas itu tepat di hadapan pemuda itu, lalu wajahnya seketika memerah padam karena marah.
"KENAPA?! HAL INI BISA TERJADI!!" Dia menggebrak kertas itu dengan kepalan tangannya sampai meja di bawahnya retak.
*BRAKKK!*
Tier tersentak kencang, keringatnya semakin deras mengucur.
"Maafkan saya, maafkan saya, Tuan Joseph! Saya juga tidak tahu kenapa, tapi ada yang mengalahkan pasukan ksatria suci kita dan merampok persediaan wine kita yang sedang dikirim!" jawabnya terbata-bata.
Tiba-tiba
*Krieeet...*
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Seorang pria berjubah dan bertudung putih dengan simbol salib berwarna emas di dadanya masuk. Langkah jubahnya menyeret lantai.
*Sruk... sruk...*
"Tenang saja, wahai orang-orang beriman," ucapnya dengan suara lembut namun membuat bulu kuduk berdiri. Dia berjalan ke hadapan pria gemuk itu dan membuka tudungnya perlahan.
Pria gemuk dan pemuda itu langsung membungkukkan sedikit kepalanya.
"Ahh... Pastor Kyne, senang bertemu dengan Anda," kata Tuan Wieston dengan tawa gugup.
Pastor itu berjalan pelan ke arah Tier, sepatunya tidak bersuara. Dia menepuk bahu Tier dengan lembut. Terlalu lembut.
"Tenang saja, anak muda. Bagi siapa pun yang mengancam kekaisaran dan ajaran Dewi Luciel..." Senyumnya hilang seketika. Wajahnya mengeras. Dia tiba-tiba saja meremas bahu Tier dengan keras, kukunya menusuk.
*Kraak!*
"...orang-orang tidak beriman seperti itu akan segera diadili."
Tier hanya bisa memejamkan matanya erat-erat sambil menggigit bibirnya menahan jeritan.
_Sakit! Jadi ini yang disebut dengan keadilan suci!_ batinnya.
Pastor itu melepas cengkeramannya dengan hentakan dan berjalan keluar sambil menggosok tangannya ke kalung berbentuk salib dengan permata warna merah di tengahnya.
"Gereja akan membantu untuk menangkap orang itu, tapi sebagai gantinya, serahkan urusan pengadilan itu kepada kami," katanya tanpa menoleh. Dia membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Kalian mengerti? Ini adalah perintah dari uskup."
*Sruk...*
Dia berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan senyum puas di wajahnya.
Begitu pintu tertutup
*Blam!*
pemuda dan pria gemuk itu langsung mengelap keringatnya dengan kasar, napas mereka terengah-engah.
*Hah... hah...*
Pria gemuk itu langsung mengangkat wajahnya dan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, dahinya mengerut dalam.
"Cihh... Padahal mereka hanya bergantung kepada alat berbentuk salib itu, tapi mereka benar-benar meremehkan setiap penguasa yang ada, bahkan Tuan Duke sendiri!" geramnya.
Tier perlahan mengangkat wajahnya yang masih pucat.
"Anu... Tuan Wieston, sebenarnya apa yang Anda maksud?" tanyanya pelan.
Pria gemuk itu langsung menatap ke arah Tier dengan dahi yang masih mengerut.
"Hahh! Kau benar-benar tidak tahu!" bentaknya. Dia berjongkok, membuka brankas itu.
*Klek... klek... krekkk...*
Dia mengeluarkan sebuah dokumen tebal dan meletakkannya di meja dengan kasar.
*Buk!*
"Lihatlah ini, pihak-pihak gereja selalu membuat laporan kepada setiap pemimpin untuk terus menyetor setidaknya 20 anak-anak ataupun orang dewasa dari ras lain kepada mereka."
Dia pun mulai menggeledah setiap kertas dokumen itu dengan kasar
*kresek... kresek...*
dan mengambil salah satunya. Dia mengangkatnya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Tier.
"Lihatlah! Ini yang kumaksud! Alat yang digunakan gereja untuk mencuci otak orang lain! Membuat benda semengerikan itu, aku benar-benar tidak percaya!" Tangannya gemetar, sebuah kertas terlepas dan jatuh melayang ke lantai.
*Tap.*
Tier berjalan pelan dan membungkuk untuk mengambil kertas itu. Matanya menyapu tulisan di sana, lalu matanya membelalak lebar.
"Kertas ini..." Dia mengangkat kertas itu dengan tangan bergetar. "Tuan Wieston, apa maksudnya ini?"
Pria gemuk itu menatap kertas itu, dan setelah membacanya, dia langsung membuang mukanya, rahangnya mengeras.
"Itu... adalah..." Dia membuang napasnya berat.
*Hhh...*
Dia menatap ke Tier, sambil melambaikan telapak tangannya.
"Ke sini... biar kuberitahu."
Tier mendekat kepada pria gemuk itu dengan jantung berdebar
*Deg... deg...*
kemudian pria gemuk itu berbisik dengan suara yang sangat pelan.
"Sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan hal ini kepada orang lain, tapi karena kau sudah banyak membantuku untuk memalsukan dokumen keuangan dengan sangat baik, maka akan kuberitahu... Kertas ini berisi dokumen kekaisaran dan gereja yang mencoba membuat alat yang bisa memindahkan jiwa seseorang ke tubuh lain yang tidak memiliki jiwa di dalamnya."
Tier langsung tersentak dan berjalan mundur selangkah, matanya membelalak ngeri.
*Srett!*
"Apakah maksud dari pengiriman orang-orang ke gereja itu... untuk itu?"
Pria gemuk itu mengangguk pelan.
"Mereka digunakan sebagai objek penelitian, dan seluruh dokumen ini adalah bukti tentang eksperimen tersebut. Aku ingin kau menjaga kertas-kertas dokumen ini, kau mengerti!"
Tier langsung mengangguk cepat.
"Baiklah, Anda bisa tenang, Tuan. Saya akan menjaga kertas-kertas ini bahkan jika nyawa saya taruhannya," jawabnya tegas. Dia mengangkat kepalanya.
"Kalau begitu, mohon permisi..." Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan itu sambil memeluk erat dokumen itu di dadanya.
*Tap... tap... tap...*
Saat berada di lorong yang sepi dan hanya diterangi lentera yang bergoyang
*kletek... kletek...*
Tier menghela napasnya panjang.
"Huhh... Hampir saja," bisiknya pelan. Dia menatap ke arah semua dokumen itu. "Pelanggan itu benar-benar hebat, aku tidak pernah menyangka bahwa diriku bisa menyelinap masuk ke dalam rumah Baron yang dijaga hampir 100 orang ksatria dengan mudah."
Dia berjalan di lorong itu, lalu berhenti di sebuah ruangan. Saat dia membuka sebuah pintu
*klek*
di dalam sudah ada Stella yang menunggu sambil duduk di tepi meja kerjanya, kakinya diayun-ayunkan, ekornya bergerak pelan.
"Akhirnya kau datang juga..." katanya pelan.
Tier bahunya menurun, dia memejamkan matanya dan menurunkan kepalanya dengan kesal.
"Nona... tolong jangan masuk ke ruangan ini seenaknya, bagaimana jika ada yang melihatmu?" bisiknya panik. Dia menutup pintunya dengan cepat
*klik!*
dan berjalan ke arah Stella.
Dia menaruh tumpukan kertas itu di atas meja dengan bunyi berat.
*Buk!*
"Ini... aku sudah menyelesaikan pekerjaanku."
Stella berdiri dengan gesit dan mengeluarkan kameranya, sebuah alat aneh yang berderak pelan
*ceklek... ngiiing...*
lalu dia mulai memotret dengan cepat.
*Cekrek! Cekrek! Cekrek!*
"Dengan ini sepertinya rencana yang kami buat bisa... berjalan," gumamnya. Tiba-tiba wajahnya mulai pucat dan berkeringat, tangannya dan kakinya mulai bergetar hebat, lalu napasnya juga mulai terengah-engah.
*Hah... hah...*
"Sepertinya alat ini memang terlalu banyak memakai mana... Sepulang nanti, aku akan meminta agar alat ini disesuaikan..."
Lalu dari kamera itu
*Srrtt...*
muncul puluhan gambar yang masih hangat. Stella mengambil foto-foto dan kertas-kertas dokumen itu dan menaruhnya ke tas kulit yang dia bawa.
"Baiklah, sekarang tugasmu hanyalah memperingatkan penduduk kota untuk keluar dari kota ini."
Stella membuka jendela ruangan itu dengan sekali dorong
*Bruk!*
angin hujan langsung menerpa wajahnya.
*Wussshhh! Byurrr!*
Dia melompat keluar dengan lincah, sembari mengendap-endap melewati para ksatria yang sedang berjaga.
Tier yang melihat itu langsung menutup jendela ruangan itu dengan cepat.
*Tak!*
Dalam hatinya dia bergumam, _Aku benar-benar mempertanyakan siapa pelanggan itu sebenarnya. Dia memiliki banyak rekan yang sangat hebat, dan juga pemikiran yang di luar nalar. Dia benar-benar memperhitungkan setiap pergerakan dan dampak yang akan terjadi, sekecil apa pun._
---
Pria gemuk itu kini sendirian, sedang menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong. Hujan masih deras menghantam kaca.
*Tak... tak... tak...*
"Setelah perjuangan panjang, dimulai dari ditinggal oleh istri dan kedua putriku, karena jabatanku yang hanya menjadi sekretaris baron, lalu aku juga sampai harus berjuang dengan cara menjilat para atasan dan berhutang ke sana-kemari demi bisa menyenangkan hati mereka, akhirnya aku bisa berada di posisi seperti ini, dan tidak akan kubiarkan siapa pun merebutnya," gumamnya dengan senyum lebar yang miring.
*DUARRR!*
Petir bergemuruh sangat keras, membuat kaca jendela bergetar.
*Tring...*
Hujan mulai mengguyur lebih deras dan angin bertiup lebih kencang.
*Wuuusshhh!*
Saat dia berbalik, tiba-tiba saja dia tersentak. Matanya membelalak lebar, tangannya langsung mencengkeram lehernya sendiri dengan kuat.
*Uhuk!*
"Ukh... a-apa yang terjadi? Tubuhku... tubuhku benar-benar sangat sakit!" rintihnya, suaranya serak tertahan, wajahnya membiru.
Dia mulai berjalan dengan gemetar, memegang tepian mejanya untuk bertahan
*srekk...*
Pandangannya buram, dia melihat ke arah gelas yang berisi wine yang dia minum tadi.
"Mungkinkah?" Dia mengerutkan dahinya. "Sial! Tier!!" teriaknya parau.
Lalu kakinya lemas, dia terjatuh dan tergeletak di lantai dengan mata masih terbuka, tubuhnya kejang-kejang pelan.
*Buk! Krek...*
---
Tier tersenyum sinis dan duduk di kursinya di ruangan lain, menyilangkan kaki dengan santai.
"Sungguh, benar-benar sangat mengerikan," bisiknya pelan.
Lalu dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Langkahnya ringan.
*Tap... tap...*
"Sepertinya efek racun itu akan segera muncul, aku harus segera membuang bukti yang ada."
Dia membuka saluran pembuangan yang ada di kamar mandi itu
*krek...*
dan mengambil botol racun yang sangat kecil dari sakunya.
"Sekarang... aku bisa kabur bersama keluargaku. Selamat tinggal, kesengsaraan," katanya dengan senyum lebar.
Dia menjatuhkan botol itu ke saluran pembuangan.
*Ting...*
Botol yang sangat kecil itu jatuh, dan menggelinding di dalam saluran pembuangan yang licin itu
*krling... krling... krling...*
lalu setelah menggelinding dengan cukup lama akhirnya botol itu terlempar ke dalam saluran pembuangan besar kota dan hanyut terbawa arus air yang sangat kencang dan keruh.
*Byurrr...*
Tier pun mengambil sebuah tudung dan mantel tebal di laci mejanya, dan memakainya dengan cepat.
*Srett!*
"Sepertinya sudah saatnya aku pergi dari tempat ini."
Dia membuka jendelanya
*Krieeet...*
dan melihat seluruh ksatria yang sudah tidak ada di tempat karena pengaruh cuaca buruk.
_Semua yang dikatakannya benar-benar tepat._
Dia langsung melompat dari jendela dan mendarat dengan pelan di semak-semak yang basah.
*Brussshh...*
Kemudian dia berjalan ke arah tembok tinggi dengan mengendap-endap, tubuhnya merunduk. Setelah sampai di salah satu tembok, dia mendorong sebuah batu yang sudah ditandai dengan kapur.
Dan seketika...
*Brukkk... Brukkk... Grolll...*
Batu-batu yang ada di tembok itu jatuh dan membuat lubang yang cukup besar.
"Aku suka pelanggan itu, dia menepati janjinya," bisiknya sambil terkekeh pelan. Dia berlari di jalan yang tergenang air, bayangannya menghilang ditelan hujan.
*Cipak... cipak... cipak...*
---
Stella datang ke sebuah toko kosong yang gelap di tengah kota, pintunya berderit saat dibuka
*Krieeet...*
Dia membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam dengan napas terengah-engah, rambutnya basah kuyup menetes.
*Tes... tes...*
"Sora! Aku kembali!" serunya pelan.
Aku berdiri di hadapannya di dalam kegelapan, dengan mengenakan mantel hitam panjang dan tudung yang menutupi setengah wajahku. Hujan menetes dari ujung mantelku
*tik... tik...*
Lalu aku tersenyum tipis.
"Kerja bagus, sekarang kita bisa lanjut ke tahap selanjutnya," kataku tenang. Aku menjulurkan tanganku, telapak terbuka.
"Nah... sekarang berikan tas itu kepadaku."
Stella menggenggam tas itu dengan erat, jemarinya memutih, kukunya menancap. Dahi dan alisnya mengerut, telinganya yang basah berdiri tegak waspada, ekornya mengembang.
"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan kepadamu?" Stella menatapku dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya siapa kau ini?"
Aku hanya tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata, dan perlahan membuka tudungku.
*Sruk...*
"Ternyata benar dugaanku, seharusnya aku tidak meremehkan insting dari manusia binatang," bisikku pelan.
Di sekitar mataku terdapat urat-urat hitam dan sebelah bola mataku berubah menjadi berwarna merah
"Karena kau sudah mengetahuinya, sepertinya aku harus membunuhmu untuk menutup mulutmu," kataku dengan suara datar, namun mataku menyipit berbahaya, rahangku mengeras.
Stella menatap ke arahku tanpa gentar, meski bahunya sedikit bergetar. Dia mengambil belatinya dari paha dengan gerakan cepat
*Sring!*
dan mulai melakukan gerakan siaga, lututnya sedikit ditekuk, napasnya memburu.
"Aku tidak akan takut oleh ancamanmu!" serunya.
Lalu Stella memejamkan matanya rapat-rapat, ekornya yang basah melemas ke bawah, telinganya juga turun menutupi wajahnya seolah menahan tangis, bahunya naik-turun.
Aku memiringkan kepalaku pelan dan mengerutkan bibirku
"Kenapa kau tidak takut kepadaku?" tanyaku.
Stella membuka matanya perlahan, air mata bercampur air hujan mengalir di pipinya, tapi sorotnya membara, giginya menggertak.
"Karena aku harus menyelamatkan seseorang yang berharga bagiku!" teriaknya dengan seluruh tenaga.
Tiba-tiba saja
*Kraak... krek... ssssshhh...*
Lantai dan dinding yang di belakang Stella mulai membeku secara perlahan. Es putih menyebar dengan cepat, merambat seperti akar, udara di toko kosong itu seketika menjadi menusuk tulang.