Tugas Sang takdir adalah mencarikan cinta sejati untuk tiga pria penerus keluarga Gohan yang terkenal akan petualangan cinta mereka yang tiada habisnya,senang berganti wanita setiap saat dan sangat menghindari pernikahan.
Mereka tak lain adalah Sean,Steven dan Lucca.Perjalanan cinta Mereka bertiga akan diwarnai pertentangan,ambisi dan hasrat.Dalam hal ini sang takdir akan memastikan mereka semua berakhir dengan bahagia.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Emma sangat mencintai profesinya sebagai seorang chef tapi ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya demi merawat ibunya yang terkena pneumonia.Sekarang setelah ibunya sudah sembuh,saatnya ia mencari pekerjaan baru.
Sean adalah pria angkuh yang sangat mencintai kebebasannya dan saat ini ia sangat membutuhkan seorang koki lebih dari apapun!
Karena alasan itu,Sang takdir akan mempertemukan mereka berdua.Walau awalnya menghadapi banyak kendala,Tapi akhirnya sang takdir berhasil membuat mereka berdua mengakui perasaan mereka dan menikah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ms huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART-28 (Meraihmu dan tak akan melepasnya walau sampai kapanpun?
Sean memutuskan mendatangi kamar Emma untuk memberitahu jam keberangkatan mereka besok.
Seakan ini membenarkan tindakannya dengan mendatangi wanita itu,Sean mengabaikan pertentangan suara hatinya.
Tanpa berpikir panjang ia langsung menuju kamar Emma dan begitu sampai di depan pintu,ia terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk pelan pintu kamar Emma sambil berbisik pelan memanggil nama wanita itu.Lalu ia menunggu...
Tak ada sahutan dari dalam,wanita itu mungkin sudah tertidur. Ya...Tentu saja.Memangnya apa yang bisa kau harapkan saat kau berdiri di depan pintu kamar Emma pada jam segini? Apa kau berharap wanita itu akan langsung membukakan pintu untukmu lalu menghamburkan diri ke pelukanmu? Ejek suara hatinya.
Akhirnya Sean kembali ke kamarnya dan berbaring dengan mata nyalang,perasaan bersalah perlahan-lahan mulai merayapinya.
Apa kau sudah puas sekarang? ketika wanita yang kau sayangi tersakiti maka berkali lipat kesengsaraan yang akan kau rasakan.
Lihat dirimu,Sean.Apa yang kau dapatkan setelah kau melukai Emma dengan sangat dalam.Apa kau menikmatinya? Wanita itu mungkin akan terlihat tegar tapi di dalam hatinya pasti hancur.Itukah yang kau inginkan?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Emma bangun dengan suasana hati yang buruk,merasa terasing,tidak betah dan ingin secepatnya kembali ke aktivitasnya yang biasa,kembali ke apartemennya yang sederhana tapi hangat,kembali ke teman-temannya.
Padahal ia di sini hanya beberapa hari.Secara keseluruhan Emma merindukan kehidupannya yang dulu,jauh sebelum mengenal Sean.
Emma mengemasi semua bawaannya ke dalam tas sebelum pergi menyegarkan diri dan mendapati dirinya lebih bersemangat setelah mandi dan berganti pakaian.Emma lalu menyeret tasnya dan turun ke bawah.
Sean menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara langkah kaki wanita itu.Entah mengapa ia merasa gugup dan jantungnya berdebar kencang. Aku..gugup ? Semua perkataan Lucca waktu itu menerjang masuk memenuhi pikirannya.
Apakah dari awal Lucca sudah tahu ataukah selama ini ia yang buta ? Atau terlalu angkuh untuk mengakuinya.Tapi bukankah dulu ia juga sudah pernah membuka diri tapi wanita itu menolaknya?
Kupikir ini akan menjadi setimpal ketika aku juga menolaknya,memperlihatkan jika aku juga bisa mengabaikannya.Kini perasaan bersalah itu membuat dadanya sesak.
Ataukah perlu diingatkan bahwa kau sudah menghancurkan dirinya sebanyak dua kali ? Berkencan dengan wanita lain di depan hidungnya disaat aroma tubuhnya masih menempel segar dalam ingatanmu.
Apakah menurutmu itu adil? Apa yang telah dia lakukan hingga dia layak kau perlakukan seperti ini? Karena dia telah mengancam kestabilan hidupku.
Jika menurutmu dia memang layak mendapatkannya maka biarlah semua ini berjalan seperti yang kau inginkan.Biarkan wanita itu berlalu dari hidupmu,Sean,biarkan dia melanjutkan hidupnya.
Sialan! Sean mengumpat dalam hati.Kini ia malah terlihat bodoh karena berdiri sendirian di ruang tamunya dan sibuk berdebat dengan suara hatinya sendiri sedangkan wanita yang memenuhi setiap mimpinya itu terlihat menuruni anak tangga dengan ekspresi murung.
Emma sampai pada anak tangga terakhir dan langsung menyadari keberadaan Sean yang sedang mengamatinya.Sean otomatis berjalan ke arah wanita itu.
"Pagi Emma,aku berharap kau tidur nyenyak semalam.Bisa buatkan aku kopi? Terima kasih." Sean menyadari suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
Tak ada kecerian di mata wanita itu.Emma menjawab singkat sambil berjalan ke arah dapur dan mulai menyibukkan diri menyiapkan kopi dan mengintip ke dalam kulkas apa saja yang bisa dijadiin sarapan.
Tentu saja tak ada banyak pilihan,hanya ada telur.Emma bertanya apakah Sean mau dibuatkan sarapan telur orak-arik atau telur ceplok dan disambut anggukkan langsung dari pria itu.
Sean memandangi gerak-gerik Emma,semua hal tentang wanita itu terasa menenangkan,terasa nyaman.
Seperti saat ini,Sean duduk sambil menunggui Emma menyiapkan kopi dan sarapan seadanya.Aku merasa bisa melakukan ini seumur hidupku,duduk menunggu dan memperhatikan kesibukan wanita itu di dapurnya.Membayangkan wanita itu akan menoleh dan tersenyum penuh cinta ke arahku.
Ia lelah terus mengingkari kata hatinya,lelah terus menjauh,lelah akan keangkuhannya sendiri.Semua ini pasti akan membunuhnya,perlahan tapi pasti.
Aroma wangi telur orak-arik memenuhi ruang dapur.Perut Sean langsung bergemuruh minta perhatian.Begitu Emma meletakkan piring berisi telur yang mengepul di hadapannya,Sean langsung menyuapkan sesendok penuh ke mulutnya lalu menyusul suapan berikutnya,pria itu menghabiskan sarapannya dengan kecepatan menakjubkan.Emma bahkan belum sempat duduk untuk menikmati sarapannya sendiri.
Pria itu memamerkan senyum puas.Emma menyodorkan sarapannya yang belum tersentuh ke arah Sean,memperbolehkan Sean menghabiskan jatahnya.
"Tidak,Emma.Kau juga harus sarapan,ini hanya pengganjal perut sementara.Nanti kita akan makan lagi waktu perjalanan pulang." Nada Sean tak dapat dibantah, bukankah pria itu memang tak pernah bisa dibantah?
Dengan sikap menurut yang berlebihan Emma menarik kembali piringnya dan duduk dengan tenang menghabiskan telurnya.
Emma tak peduli walau ia tahu Sean memandanginya tanpa berkedip,mungkin pria itu sedang menyusun rencana untuk mengurungnya lalu bersenang-senang dengan menyiksanya selama berhari-hari.
Menghukumnya atas kejahatan yang telah ia perbuat karena dengan beraninya menumpahkan kopi ke gaun cinderella pujaan hati Sean.
"Setelah kau siap,letakkan saja di bak cuci biar aku yang membersihkan ini semua." Emma tidak memandang ke arah Sean.Pria itu bahkan menawarkan bantuan dengan cara memerintah. Apakah tak ada istilah "meminta" dalam kamus bahasa pria itu? Atau memang aku yang terlalu berlebihan dalam menilai karakternya?
"Apa kata dunia jika seorang pekerja membiarkan atasannya mencuci piring.Itu bukan bagianmu,Sean.Itu bagianku,terima kasih." Emma membalas tatapan pria itu,cukup lama berdiam diri hanya saling menatap lalu Emma yang memutuskan kontak mata dengan beranjak berdiri dan mengumpulkan perlengkapan sarapan mereka dan membawanya ke bak cuci.
Pria itu mengikutinya dari belakang.Emma bisa merasakan setiap inci Tubuhnya menjadi hidup, merespon dengan memalukan.
Kedekatan pria itu membuat sekujur tubuhnya bergetar penuh harap.Ingin sekali Emma berteriak ke arah Sean dan menyuruh pria itu menjauh.Tapi tentu saja tidak,ia harus menunjukkan jika dirinya kebal terhadap pengaruh pria itu.
"Apa kau yakin ingin melakukannya?" Sean memandanginya tanpa mengucapkan apapun sambil mengambil alih busa pembersih dari tangan Emma.
Oke, jika pria itu bersikeras ,Emma akan membiarkannya.Lalu Emma berderap meninggalkan dapur,ia sengaja melakukannya.Menjauhi pria itu adalah tindakan paling tepat.
Ia melangkah ke teras menikmati suasana hening dan cuaca sejuk yang menerpa tubuhnya.Sayup-sayup ia mendengar kicauan burung di pepohonan.
Emma memenuhi paru-parunya dengan udara bersih yang sudah sangat jarang dijumpai di kota besar seperti sekarang ini.Aroma dedaunan dan tanah lembab terasa menenangkan bagaikan terapi mujarab yang mengobati kegalauan hatinya.
Emma yakin suatu hari nanti ia akan merindukan tempat ini.Ia memeluk dirinya sendiri untuk menghilangkan perasaan sepi yang menyelubunginya.
Kehadiran Sean mengejutkan Emma dari lamunannya ,pria itu berdiri diam di samping Emma,memandang jauh ke depan seolah saat ini pikirannya melalang jauh meninggalkan raganya.
Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri,tenggelam dalam pikiran masing-masing.Kebisuan merebak diantara mereka.
"Emma,aku meminta maaf untuk semua hal yang telah kulakukan.Aku memang brengsek.Sengaja melukaimu,menjauhimu.Maukah kau memaafkan ku,Emma?" Sean mengucapkan dengan susah payah,terlihat jelas jika pria itu tak terbiasa meminta maaf dalam hidupnya.
Sean menoleh ke arah Emma yang hanya diam saja dan menunggu wanita itu menjawabnya.
"Tak ada yang harus dimaafkan,Sean.Kau tak bersalah,tak ada yang bersalah dalam hal ini.Kita memang berdiri di jalur yang berbeda.Dari sejak awal aku tahu posisiku,aku menyadarinya tapi aku tidak mencegahnya padahal seharusnya ini tak perlu terjadi.Sebetulnya kau pria yang sangat baik,kau hanya memiliki sifat keras dalam hidupmu karena dunia tempatmu berpijak mengharuskan kau untuk menjadi seperti itu.Kepergian papamu yang begitu cepat mengharuskanmu menjadi tonggak keluarga menggantikan semua tugasnya.Semua itu membentukmu menjadi pria keras.Tapi keluargamu bangga padamu.Hasil pencapaianmu yang gemilang membuat hidup mereka terjamin.Mereka bahagia karena memilikimu dalam hidup mereka.Kau pria paling hebat yang pernah kukenal,Sean.Aku yakin kelak kau akan mendapatkan wanita yang layak,wanita hebat yang akan selalu mendampingmu,menyempurnakan hidupmu hingga tak ada seorang wanita pun yang bisa menggantikan posisinya dan akan membuatmu tak akan sanggup berpaling darinya."
Setelah mengatakan semua itu,Emma langsung berbalik masuk ke dalam.Sean tak mengikutinya kali ini,ia masih termangu mencerna semua yang dikatakan Emma.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perjalanan pulang mereka diwarnai keheningan.Sean kehilangan bahan pembicaraan dan Emma juga tak berusaha memulai obrolan.
Ia melirik Emma dan mendapati wanita itu memelorotkan tubuhnya di jok mobil dan lebih memilih memenjamkan mata daripada melibatkan diri dengannya.
Wajah Emma disandarkan ke pintu mobil.Kelakuan Sean telah menguras habis keceriaan hidup wanita itu. Aku menyayanginya Tuhan .. Jangan biarkan sinar di matanya meredup saat menatapku...
Sean melajukan mobilnya dengan hati lebih mantap setelah ia mengetahui dengan pasti langkah yang akan ia ambil selanjutnya.
Ia telah memutuskan akan membuat hubungan ini berhasil.Memang benar ia pria dengan sifat keras tapi Emma telah melunakkan hatinya.Kehadiran wanita itu telah mengubahnya.Sejak pertama kali ia melihat wanita itu melewati pintu kantornya dengan wajah gugup dan dagu yang terangkat menunjukkan sifat keras kepala,wanita itu sudah mengubah hidupnya.
Membuat Sean seketika panik dan mendirikan dinding setinggi mungkin untuk melindungi dirinya dari pengaruh wanita itu.Emma berhasil mengoyak selapis demi selapis pertahanan dirinya yang mulai goyah.
Ia benci merasa tak berdaya,benci karena mencemburui tiap pria yang tersenyum dan mendekati Emma,benci karena harus terus mengekang dirinya yang senantiasa tak sanggup menjauhi Emma.
Kelakuan paling pengecut,melemparkan kekesalan pada wanita itu atas ketakutan yang tak sanggup ia akui bahkan pada diri sendiri.Tanpa sadar Sean menghela nafas panjang.
Kita akan memulainya dari awal,Emma...Percaya padaku kali ini kita pasti akan berhasil.
Lanjutkan sobat..walau membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari perkiraan..setidaknya kau memiliki waktu sepanjang hidupmu untuk menunjukkan cintamu padanya... Sang takdir tersenyum senang,ia yakin tak lama lagi lonceng pernikahan akan dibunyikan...
Sean menghentikan mobilnya di tempat parkiran apartemen wanita itu dan membangunkan wanita itu dengan bisikan mesra yang menggelitik tengkuk Emma.
Ia mengerang dan menyuarakan protes dengan nada kantuk lalu tiba-tiba matanya terbelalak. Astaga kapan ia tertidur ? Sepertinya ia mempunyai kebiasaan buruk dengan tertidur di jok mobil Sean.
Pria itu memandanginya dengan lembut, perilaku yang sangat janggal jika itu dilakukan oleh seorang Sean.
"Maaf,aku kurang tidur semalam.Jangan khawatir,aku tak mengiler saat tidur dan aku juga tak mengorok.Te-terima kasih untuk tumpangannya,Sean dan tolong jangan menatapku seperti itu." Entah kenapa Emma merasa gugup Sean menatapnya dengan .. ,Emma tak bisa mendefinisikan dengan tepat.
Apa pria itu keracunan telur yang dia makan saat sarapan tadi? Tingkahnya sungguh aneh.
Sean tersenyum geli mendengar celoteh Emma. Mengiler ? ..Mengorok ? Apakah wanita itu menyadari jika dia sangat menggemaskan? Emma turun diikuti Sean yang membawakan tasnya dan menepis tangan Emma yang bermaksud meraih tasnya sendiri,Emma tak menyangka Sean mengikutinya ke atas.
Ia membiarkan pria itu yang menekan tombol angka lift dan mendiamkan pria itu tanpa menoleh sedikitpun.Senjata paling ampuh adalah mengabaikan pria itu,putusnya dalam hati.
Emma sampai di depan pintu kamar apartemennya,meraih kunci dan memutar anak kunci.Tapi pria itu masih belum beranjak pergi.Atau dia sedang menunggu aku mengusirnya ?
Emma membuka pintunya lebar-lebar dan mengucapkan terima kasih sambil meraih tasnya dari tangan Sean dengan sedikit sentakan.
Kesabarannya mulai habis,pria itu mengundang dirinya sendiri dengan ikut melangkah masuk ke dalam padahal Emma tidak mengundangnya sama sekali.
Wanita itu memandanginya dengan sikap tak sabar,terlihat jelas ingin segera menendang Sean keluar dari tempatnya berdiri sekarang.Sean memperkecil jarak diantara mereka.Memandangi wanita itu lekat-lekat.Tangannya terulur meraih wanita itu,mengelus pipinya yang halus dengan penuh kerinduan,samar-samar masih terlihat bekas tamparan Aurel di pipi Emma.
Sialan... Ia sangat ingin memeluk Wanita itu,mengatakan pada wanita itu betapa cintanya begitu besar hanya untuk Emma seorang.Tapi ia tentu tak bisa melakukannya sekarang. Belum saatnya... Emma terpaku dan untuk sesaat Sean yakin mendengar desahan lirih wanita itu tapi secepat datangnya,secepat itu pula momen itu menghilang.Digantikan dengan tatapan yang sulit dibaca.Emma melangkah mundur sambil memaksakan senyumnya ke arah Sean.
"Selamat tinggal,Sean." Emma memberikan senyum sopan yang membuat hati Sean mencelos.Bukan seperti ini yang aku harapkan,kenapa hidup selalu mempermainkannya.
Wanita itu kembali menutup dirinya disaat aku mulai membuka diriku.Sean menjatuhkan tangannya,untuk kali ini ia tak akan menyerah.
Seperti kata Lucca,aku harus menempatkan kebahagianku pada posisi yang tepat,posisi yang tepat itu adalah di sini,bersama wanita ini .. atau tak ada hal apapun di dunia ini yang akan menolongmu.
Ya...hanya Emma yang bisa menolongnya dan ia tak akan membiarkan wanita itu berlalu dari hidupnya.Tak ada seorang pria pun di dunia ini yang bisa mencintainya sebesar cintaku.
Misinya sekarang adalah menyakinkan wanita itu jika ia adalah satu-satunya pria dalam hidup wanita itu. Tidak ada pria lain..tidak boleh ada pria lain ..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
be the best... 💖
oh iya aku mampir
tetap semangat berkarya.
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -
semangat terus dalam berkarya..
ceritanya bagus...
semakin semangat berkarya Author