Najma gadis belia sebatang kara, bertemu dengan seorang Dokter tampan idola gadis di rumah sakit, bagaimana kehidupan mereka? Apakah sanggup Najma menghadapi kenyataan bahwa suaminya diinginkan banyak wanita lain...
.. Ini hanya fiksi, happy reading dear 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I love U Babe
"Mas kenapa harus aku yang menyukaimu? Sedangkan aku gak pernah tahu bagaimana Mas sebenarnya," ucap Najma dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo kita pulang, kita bicarakan di rumah," ucap Ardi seraya berdiri mengambil gelas vanila latte nya dan tangan satunya menggandeng tangan Najma. Najma pun patuh, tak banyak pertanyaan, dia juga mengambil gelasnya dan mengikuti Ardi menuju mobil.
Di dalam mobil, mereka tak banyak bicara, Ardi sibuk berpikir bagaimana menghadapi Najma agar dia tidak merajuk.
Najma sedikit melirik ke arah Ardi, suaminya itu benar-benar mempesona, kemeja lengan panjang yang digulung sesiku membuat otot di tangannya yang kekar terlihat. Dan di jari manisnya melingkar cincin pernikahan mereka, itu membuatnya gemetar, apa dia begitu bodoh tidak menyadari cinta Ardi untuknya, kemudian dia membuang pandangan keluar jendela.
Sesampainya di rumah orang tua Ardi, bertepatan dengan adzan dhuhur.
"Sudah adzan, aku ke masjid dulu, kamu tunggu aku di kamar, ya," pinta Ardi.
"Baik," sahut Najma.
Ardi segera bergegas menuju masjid dekat rumahnya untuk sholat berjamaah.
"Assalamualaikum," sapa Najma kepada bu Marni yang ada di dapur.
"Waalaikumusalam, udah pulang Mba, Mas Ardi mana?" tanya bu Marni.
"Di masjid Bu, masih sholat," sahut Najma.
"Mba Najma mau makan siang? Ini sudah mateng kok, ini saya lagi siapkan buat bapak sama ibu di konveksian, mau diambil mas Arif," ucap Bu Marni.
"Mas Arif?" Najma belum mengenal nama itu di rumah ini.
"Sopir keluarga ini, masih keponakan pak Rahman, gimana mau saya siapkan sekalian?"
"Ntar aja Bu, nunggu mas Ardi, saya langsung ke kamar aja, tadi pesannya begitu," ucap Najma kemudian segera naik ke kamar Ardi.
"Hmmh pengantin baru gak memang gak kenal waktu, masa siang-siang juga begitu, hihihi," gumam bu Marni sendiri.
Di dalam kamarnya, Najma membuka jilbabnya yang berlengan panjang itu, sehingga tinggal gamis tanpa lengan yang membungkus tubuhnya, dia juga melepas ikatan rambutnya, agar bisa bernafas juga, kemudian menyisirnya dengan rapi. Kemudian duduk di sofa menunggu Ardi, berdebar, itulah yang dirasakannya, ia takut melakukan suatu kesalahan pada Ardi, ia merutuki dirinya sendiri mengapa bersikap kekanakan tadi di rumah sakit, tapi bagaimana dia menyembunyikan rasa itu, cemburu, dia sedang cemburu.
"Assalamualaikum," sapa Ardi ketika membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Waalaikumusalam," sahut Najma.
"Ini, makan siang kita, kita makan di kamar saja siang ini, mama papa juga lagi ga ada," ucap Ardi sambil menaruh nampan berisi sepiring nasi dengan sayur asem, pepes tahu dan sambal udang.
"Kok cuma satu," ucap Najma.
"Iya, kita makan sepiring berdua," sahut Ardi.
"Ah, iya," ucap Najma. Dan mereka makan bersama, sambil berbincang.
"Kamu masih belum sadar?" tanya Ardi.
"Sadar tentang apa?" tanya Najma.
"Perasaanku padamu," sahut Ardi.
"Ha?" Najma belum mengerti maksud Ardi.
"Kamu tidak merasakan apapun?" desak Ardi.
"Tentu, aku merasakannya, semuanya, bagaimana Mas memperlakukan aku, di sana juga ada cinta," ucap Najma.
"Nah itu kamu tahu," Ardi membelai rambut Najma.
"Tapi aku masih takut salah, sebab Mas juga terlihat se senang itu bersama Tiara, dan juga Mas tidak pernah mengatakannya," lirih Najma.
"Kenapa Tiara lagi sih," kata Ardi.
"Aku melihatnya Mas, dia begitu senang bertemu denganmu, dan juga tiba-tiba berubah sedih mendengar kita menikah, suaranya bergetar ketika berkenalan denganku, seperti orang mau menangis, dia menyukaimu Mas, aku tahu itu," ucapnya.
"Hufhh.." Ardi membuang nafas berat.
"Babe, kalau memang dia menyukaiku, itu urusan dia, bukan urusanku, karena ga ada yang seperti itu dengannya," Ucapnya.
"Dan kalau kamu masih belum percaya, kamu dengar baik-baik cerita aku," lanjut Ardi. Najma mendengarkannya dengan seksama.
"Kamu ingat waktu pertama kita di pesantren, aku tahu namamu Najma, dan aku berpikir bagaimana jika aku bumi berjodoh dengan orang bernama Najma yang artinya bintang,"
"Bukannya Ardi itu gunung artinya?" tanya Najma.
"Iya, menurut bahasa jawa memang gunung artinya, tapi papa memberikan nama ardi dari bahasa Arab yang artinya bumi, ardun..bumi, biar aku tetap rendah hati, walau kenyataannya manusia juga hidup dari bumi," sahut Ardi.
"Ah..." Najma baru menyadari.
"Lalu mama meminta aku mengantar puding untukmu waktu itu, dan tahu kamu gadis yang bernama Najma waktu itu, aku semakin ingin memilikimu, aku sudah jatuh cinta padamu, namun aku sampaikan niatku pada papa mama untuk melamar mu, aku terus menghindar bertemu denganmu, aku menahan diri begitu keras, karena aku tidak ingin rasa cinta ini tumbuh dalam ikatan yang tidak semestinya, aku ingin menunjukkan rasa cinta ini setelah kita menikah," tutur Ardi. Membuat Najma meleleh rasanya.
"Hmm, kenapa Mas ga pernah bilang?" tanya Najma, wajahnya terlihat berbeda sekarang, lebih berseri, daripada tadi waktu merajuk.
"Kamu mau Mas bilang, oke, mulai sekarang tiap hari, tiap ada kesempatan, Mas akan bilang," ucap Ardi.
Kemudian Ardi memegang kedua pundak Najma, dan mendekat ke telinga Najma lalu membisikkan sesuatu.
"I love you, I love you Babe, I love you so much," bisik Ardi. Yang membuat Najma merinding, merasakan sesuatu yang luar biasa hingga sesuatu keluar dari mulutnya.
"Ah..." ucapnya. Ardi tersenyum dan segera berdiri mengambil piring mereka yang telah kosong entah kapan itu.
"Kalau tamumu itu belum pergi, entah apa yang aku akan lakukan Babe," ucapnya kemudian pergi ke dapur mengembalikan piring itu.
Najma bernafas lega, melihat Ardi pergi. Dia kemudian ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Ardi masuk kamar lagi dan duduk di sofa, Najma keluar kamar mandi setelah berganti pakaian dengan baju tidur selutut berwarna ungu bergambar pooh.
"Oh manisnya, ma syaa Allah," ucap Ardi melihat Najma.
"Apa Mas?" tanya Najma.
"Gak, itu pooh nya manis," sahut Ardi.
"Oh, Mas mau ganti baju? Biar aku ambilkan," ucap Najma.
"Itu aja, kaos warna biru elektrik, sama celana pendek terserah kamu yang mana aja," pinta Ardi.
Najma segera mengambilkan baju Ardi di lemari, dan memberikannya pada Ardi. Ganti Ardi yang berganti di kamar mandi, tentu saja karena Najma akan berteriak jika ia berganti baju di depannya.
Ardi keluar kamar mandi, dan ternyata Najma sudah di kasur memeluk guling.
"Hey, belum satu jam makan jangan tidur, nanti perutmu gendut lho," ucap Ardi menarik tangan Najma.
"Ngantuk Mas," ucap Najma yang menurut dan duduk.
"Jadi kalau aku gendut kamu gak mau lagi gitu," gumam Najma.
Benar-benar ya orang haid sensinya minta ampun, pikir Ardi.
"Bukan gitu Babe, perut gendut itu mudah kena penyakit, yuk temani aku belajar," ucap Ardi sambil menggandeng Najma menuju sofa.
Ardi membuka laptop dan menyetel video operasi bedah syaraf kasus-kasus yang sering muncul. Sedangkan Najma sudah terlelap di pundak Ardi. Ardi tersenyum melihat Najma, digeser duduknya agak menjauh dan menaruh kepala Najma ke pangkuannya, kemudian kedua kakinya ia naikkan ke atas meja, dan dia sandarkan punggungnya ke sandaran sofa, lalu ikut terlelap juga.
meweeekkkkkkk
nyimak ya thor
drpd ntar kentut....khan repot
wkwkwk
Semoga. gajadi salah paham ya Najwa kan ga tau juga kalau yg diruangan Ardi ada orang lain
Jangan buat ulah ya Sabrina
ayooo dong kak semangat jarang" up date kok cuma 1 bab ga terasa. loh bacanya kalau cuma segitu. doang 😕
Meski bakal tambah sibuk, tetap harus perhatian ama keluarga ya..