Warnamu akan selalu menghiasi senja cerahku, walaupun kehadiranmu hanya sekejap waktu tetapi akan selalu hadir di waktu yang sama setiap hari berganti. Jingga di langit senjaku, tak akan bosan memberikan keindahan panorama menakjubkan mata.
Tetapi kisah Jingga dan Langit tak selalu-nya menyatu untuk memberikan keindahan panorama menakjubkan, karena Langit dan Jingga kadang bagaikan seteru abadi di dalam maupun di luar sekolah.
Tetapi bila takdir merestui, tentu mereka akan menyatu untuk menyuguhkan keindahan layaknya cerah di langit senja.
Berkisah tentang Langit dan Jingga yang mengalami pasang surut dalam menjalani hubungan pertemanan juga asmara yang tak semulus apa yang diharapkan. Akankah Langit dan Jingga akhirnya berdamai dan bersatu seperti indahnya jingga di langit sore yang cerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anie_laks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 (Kejujuran David)
Pagi ini Jingga pergi ke sekolah di antar oleh ibunya, karena kebetulan motor yang biasa ia gunakan ke sekolah di bawa oleh anak buah ayahnya mempersiapkan pembukaan bengkel mereka.
Jingga tidak lupa menyalami dan mencium tangan ibunya sebelum berlalu masuk ke halaman sekolahnya.
"Belajar yang rajin ya nak, hindari masalah yang tidak perlu." pesan Widya kepada anak gadisnya itu.
"Baik bunda. Bunda juga hati-hati pulangnya, jangan telat jemputnya bun, setengah empat harus sudah di sini." kata Jingga berpesan kepada ibunya sambil memamerkan deretan giginya.
"Baik tuan putri, in syaa Allah bunda tidak telat, lihat situasi nanti, kalau bunda gak bisa jemput kamu bisa naik ojek online." pesan balik Widya.
"Baik bun, tapi kasih tahunya jangan mendadak." kata Jingga lagi
"Iyaa, ya ampun nak, kaya bunda baru sekali ini saja antar jemput kamu sekolah." kata Widya berlagak setengah kesal terhadap Jingga.
"He...he...he... Kan kadang bunda memang suka sedikit lupa." sahut Jingga menanggapi ibunya yang kesal.
"Iya, iya... Bunda tahu, ya sudah bunda pulang dulu. Assalamu'alaikum." pamit Widya.
"Wa'alaikum salam!" sahut Jingga. Dan setelah ibunya tidak terlihat dari pandangan matanya, ia pun segera berlalu melewati gerbang utama sekolahnya.
Tak lama terdengar bel tanda upacara bendera akan segera di mulai, para murid pun segera berhamburan menuju lapangan belakang sekolah yang biasa di gunakan untuk upacara bendera.
Setiap kelas berbaris tiga berbanjar ke belakang, dan saat itu ia baru berbaris bersebelahan dengan Jihan, dan saat ia asyik ngobrol bareng Jihan terdengar suara-suara protes dari anak-anak di belakangnya.
"Hey! Kamu tuh baris di belakang Lang!"
"Kamu itu tinggi banget kok barisnya di tengah sih Lang?!"
Dan ada lagi suara-suara lain yang Jingga dengar, dan saat ia celingak celinguk mencari kenapa teman-temannya berkata seperti itu, ia mendapati Langit yang berdiri berbaris di samping kirinya.
Tiba-tiba Clara yang tadinya sudah anteng berbaris di depan, kini berpindah ke belakang hendak berdiri di dekat Langit, Jingga yang tadinya hendak berpindah tempat, tak jadi kemana-mana karena Langit menahan tangannya agar tetap di sampingnya, akhirnya Clara pun kembali ke barisan semula dengan hati dongkol dan karena upacara telah siap di mulai.
Empat puluh menit berlalu, kini anak-anak telah berada di kelesnya masing-masing. Dan kali ini tampak Langit yang kembali ingin berdekatan dengan Jingga karena kini ia sedang duduk di sebelah Jingga, tetapi mereka sama-sama diam tidak ada obrola sama sekali
Jingga yang masih merasa agak kesal karena permintaan maafnya tempo hari sampai ia bela-belain tidak malu untuk datang ke rumah Langit tetapi tanggapan Langit sangat mengesalkan hatinya, walau begitu Jingga masih merasa beruntung karena mama Langit sangat ramah dan bisa menerima kehadiran Jingga dengan terbuka.
Dan Langit yang masih sedikit gengsi untuk menyapa dahulu tetapi ingin selalu berdekatan dengan Jingga, membuat para sahabatnya merasa ada yang aneh dengan sikap Langit tersebut.
"Vid, aku tanya sama kamu sebagai seorang yang selalu mendekati benar kalau membaca perasaan orang, sebenarnya apa yang terjadi sama Langit sih? Perasaan sejak ada Oren sikap dia berubah gimana gitu? Apa tebakan aku gak salah ya kalau itu anak sedang ada perasaan suka sama cewek?" tanya Marco kepada David dengan pelan, agar yang lain tidak mendengar.
"Mulut kamu yang suka nyerocos kurang kontrol itu harus bisa di rem mulai sekarang, biar saja Langit mendapatkan kebahagiaan yang di harapkannya." Alih-alih menjawab pertanyaan Marco, David justru malah menasehati Marco agar menjaga perkataannya yang suka ceplas-ceplos.
"Berarti bener dong tebakan aku dari awal?" tebak Marco.
"Kalau iya kenapa? Mau ngeledek Langit karena suka sama Jingga, aku kunci itu mulut kalau sampai itu terjadi!" ancam David kepada Marco.
"Ya elah Vid, kejam banget kata-katanya sama aku." sahut Marco sedikit sewot.
"Salah sendiri punya mulut suka susak nyaringnya." sahut David cepat.
"Iyaa, aku belajar menyaring kata deh, kalau bisa. Eh tapi btw ya Vid, aku sih setuju saja kalau Langit sama Oren, biarpun saat ke sekolah berlagak cupu gitu, ternyata pas di luar sekolah gila, aku kalau gak ingat Langit sudah aku godain tuh, apalagi pas kamu melototin aku supaya gak ganggu mereka, buset seprotektif itu sama broder Langit kamu Vid." Marco mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentang Jingga.
"Langit itu sepanjang yang aku tahu selama perjalanan pertemanan kita, dia selalu pemilih dalam segala hal, dia pintar menahan diri dan tidak asal-asalan menentukan apa yang dia suka, begitu juga masalah cewek, coba kamu ingat berapa saja cewek yang berusaha mendekatinya, tapi selalu berakhir kecewa, bahkan Langit tidak tergiur hanya dengan popularitas seorang gadis, tuh Clara saja dari awal kelas sepuluh sering di cuekin Langit, dia saja yang tak tahu malu masih berusaha merebut hatinya Langit. Dan kamu masih mau terus buat naklukin Clara? pikir seribu kali lagi kalau kamu nurut aku." saran David kepada Marco setelah menceritakan bagaimana sikap Langit selama ini.
"Brarti Oren memang istimewa banget buat Langit ya. Ya sudah Vid, aku ikut nasehat kamu saja, aku mundur dari perburuan mendapatkan perhatiannya Clara, lalu sebaiknya siapa yang aku kejar Vid?" Marco meminta pendapat David.
"Itu sih terserah kamu Ko, tapi kalau kamu menunjuk seseorang dan meminta pendapatku lagi, aku akan berkata jujur lagi kalau gadis itu akan cocok atau tidak sama kamu atau hanya mau manfaatin kamu." kata David
"Oke Vid, aku akan dengar nasehat kamu, nah! Kalau menurut kamu di kelas ini ada gak yang bisa cocok sama aku?" tanya Marco lagi.
"Ada." jawab David singkat.
"Siapa?" tanya Marco antusias.
"Citra and the gank. Pilih salah satu dari mereka, tapi jangan Citra." saran David kepada Marco.
"Citra kenapa gak boleh? Gak baik juga kaya Clara?" tanya Marco penasaran.
"Sembarangan kalau ngomong, Dia punyaku." jujur David membuat Marco terlonjak kaget, dan David buru-buru menutup mulut Marco sebelum suaranya mengagetkan satu kelas yang sedang fokus mengerjakan tugas yang di berikan guru karena guru pelajaran waktu ini sedang ada keperluan mendesak yang sangat urgent.
David memberikan isyarat jari di depan bibirnya sebelum melepas tangannya dari mulut Marco, dan Marco menganggukkan kepalanya, setelah itu Marco menatap David seakan bertanya sejak kepan mereka jadian, tetapi David hanya cuek dengan tatapan ingin tahu Marco.
"Kerjain tugas dulu, kapan hari aku ceritakan." kata David membuat Marco melengos kecewa dan segera melaksanakan saran David untuk mengerjakan tugas.
Terlihat Langit dan Jingga pun tampak tenang mengerjakan tugas yang di berikan tanpa ada percakapan sama sekali, sementara Clara terlihat gelisah melihat Langit yang terang-terangan ingin selalu dekat dengan Jingga, hatinya geram dan semakin benci dengan kehadiran Jingga di kelas mereka itu.
...****************...
Terima kasih sudah membaca, maaf ya pembaca tercinta semua, othor absennya terlalu lama, semoga kalian masih tetap menunggu kelanjutan cerita ini yaa...🥰
Aduh, kasian Mas Tirta, kena bogeman dari Langit, hanya karna cemburu butanya🤭