Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bu Susi berpesta
Setelah mobil yang membawa Ratih tiba di kantor polisi, Ratih segera dibawa ke ruang interogasi. Di dalam ruangan itu, ia akan diberikan beberapa pertanyaan oleh pihak penyidik.
"Apakah benar Anda yang berada di dalam Video ini?" seorang polisi memperlihatkan potongan Video yang menunjukkan Ratih tengah berkelahi.
"Benar! Saya adalah orang yang berada di dalam video itu." Jawab Ratih dengan tegas.
"Apa motif Anda menghabisi nyawa 4 orang tersebut?" tanya Polisi itu kembali.
Ratih tersenyum simpul, " Aku tidak punya motif apapun menghabisi mereka, saat itu aku hanya tengah membela diriku sendiri. Tentu Anda tahu bukan, siapa mereka sebenarnya?"
"Ya, mereka adalah warga biasa yang tengah melintas, namun entah mengapa Anda menyerangnya secara tiba-tiba," ujar polisi tersebut.
Hahahahahaha
"Apakah Anda tengah melawak? Ucapan Anda sangat lucu di telingaku. Anda penegak hukum, bukan. Kenapa Anda pura-pura tidak tahu siapa mereka semua, di dalam video yang Anda perlihatkan, salah satu diantaranya tengah memegang senjata tajam. Apakah itu juga kebetulan, Pak polisi?" tanya Ratih menekan perkataannya.
"Miris. Seorang petugas berpangkat seperti Anda, tidak mungkin tidak mengenali wajah mereka dan apa pekerjaannya. Jangan Anda membela yang salah, Pak. Mereka yang terbunuh tentu saja pantas mendapatkannya. Sebab mereka berempat adalah kawanan begal yang cukup meresahkan.
Kenapa saya bisa berkelahi dengan mereka, karena mereka ingin merampok saya. Tentu saja saya tidak tinggal diam, saya berusaha mempertahankan apa yang memang menjadi milikku. Dan perlu Anda ketahui bukan saya yang membunuh mereka." Reyna menatap tajam kepada Anggota polisi tersebut, yang entah mengapa tiba-tiba menjadi gelisah.
" Apa maksudmu? Jelas-jelas di dalam Video ini tampak jelas kamu sedang menghajar, para lelaki itu."
Ratih kembali menyunggingkan senyuman sinis ke arah petugas itu, "Anda hanya melihat sebagian video itu saja. Bahkan video yang Anda perlihatkan, sudah banyak berubah bahkan sengaja dipotong. Jika Anda hanya memiliki bukti ini untuk memenjarakanku, maaf! harus membuatmu kecewa. Karena video versi original ada pada saya, saat kejadian itu terjadi kamera pada dashboard mobil saya merekam itu dengan sangat jelas. Bagaimana awal terjadi, dan bagaimana mereka bisa meninggal, ujar Reyna.
Saat tengah di introgasi di salah satu ruangan, Rayden yang ikut menyaksikan jalannya prosedur itu. Tampak heran, karena melihat ketenangan dalam diri Ratih saat menjawab pertanyaan yang diberikan.
"Tok, tok, tok…," Hentikan introgasi ini, wanita ini tidak bersalah, dia hanya korban dalam video itu. Lepaskan dia! Pengacaranya sudah menunjukkan bukti yang konkrit saat peristiwa itu terjadi dan sudah menjamin bahwa kliennya bukan pelaku yang sebenarnya," ujar salah satu petugas yang memiliki pangkat lebih tinggi dari petugas yang menginterogasi Ratih. Sedangkan Ratih, ia tampak tersenyum sinis kepada polisi itu. Seraya beranjak keluar dari ruangan, namun sebelum benar-benar keluar, Ratih berbalik dan menatap Rayden dan petugas yang satu itu.
"Kumpulkan bukti lebih banyak dan konkret lebih dulu. Jika, Anda ingin memenjarakanku. Sebab, tidak semuda itu kamu bisa menangkapku, apalagi aku tidak dalam posisi bersalah seperti ini." Ratih melanjutkan kembali langkahnya menuju pintu keluar.
"Ayo kita pulang Nona, Ratih. Urusan kita disini sudah beres," ujar pengacara Ratih.
"Bagus. Terima Kasih atas bantuannya Pak. Dan boleh aku meminta satu hal lagi kepada Anda?" Ratih menatap pengacara itu.
"Tentu saja boleh, Nona. Hal apa yang kiranya ingin kamu lakukan?" tanya Pengacara itu.
"Tolong bersihkan namaku di area komplek perumahan. Karena, banyak dari mereka menyaksikan saat aku digiring oleh petugas itu ke mobil. Dan pastikan tidak ada satu rekaman yang beredar tentang diriku. Apa Anda mengerti? Reyna menatap serius pengacara itu.
"Itu perkara mudah Queen. Kamu bisa mengandalkanku," ujar Pak pengacara.
"Terimakasih. Tolong antarkan aku pulang ke rumah, aku sudah sangat merindukan kasur empukku." Ratih tampak memejamkan mata karena merasa mengantuk.
"Baik. Istirahatlah Queen." Pengacara itu segera melajukan mobilnya menuju rumah Ratih.
Sementara di rumah Ratih. Bu Susi tengah berpesta ria. Ia merasa senang, karena secara tidak langsung Ratih tersingkir tanpa ada campur tangannya.
"Ayo nikmati pestanya, kita akan berpesta sampai pagi!" teriak Bu Susi seraya bergoyang dengan lincah. Kondisi rumah Ratih saat ini hampir sama dengan diskotik. Kerlap kerlip lampu dalam ruangan mengikuti alunan musik yang diputar dengan kencang.
Sedang Ratih yang hendak terlelap di dalam mobil, merasa terganggu sebab ponselnya sedari tadi tampak berdering.
"Hal apa yang begitu mendesak, sehingga ponsel ini sedari tadi tidak bisa diam!" gerutu Ratih seraya menatap layar ponselnya. Sebuah senyuman sinis tampak tersungging di bibirnya yang indah.
"Rupanya kau tengah merayakan kepergianku, Bu Susi. Apa kau akan sesenang ini saat aku berada di sana? Hmmm... kita lihat saja nanti." Ratih kembali tersenyum, " percepat laju kendaraannya, Pak. Aku sudah tidak sabar bermain dengan tikus-tikus itu!" Ratih kembali memejamkan matanya.
"Baik Queen." pengacara itu menambah laju kendaraannya setelah mendapat perintah.
Tak berselang lama, kendaraan yang membawanya sudah memasuki komplek perumahan Ratih pengacara itu, tampak menghentikan mobilnya dan membangunkan Ratih lebih dulu.
"Queen. Kita hampir sampai, kuharap Anda melihat sendiri apa yang terjadi di halaman rumah Anda." Pengacara itu menunjuk ke rumah Ratih yang tampak begitu ramai oleh orang. Entah apa yang di lakukan orang-orang itu, Ratih tampal begitu geram.
"Kurang ajar! Siapa yang berani mengundang mereka ke rumahku!" Ratih tampak mengepalkan tangannya.
"Lajukan mobil ini, cepat! Aku sudah tidak sabar melihat kelakuan mereka semua." Ratih tampak menatap tajam segerombolan pria yang berada di halaman rumahnya, tengah menikmati miras.
Dengan langkah pasti Ratih turun dari dalam mobil, saat mobil pengacara itu sudah berada di halaman rumahnya.
Prang…," Ratih melempar satu botol Miras ke lantai, membuat botol itu pecah dan sukses mengalihkan perhatian beberapa lelaki di sana.
"Hei... Siapa kau? Kenapa melempar minuman kami?" tanya lelaki berkepala botak itu seraya menunjuk Ratih yang berdiri dengan tenang di depannya.
"Kenapa jika saya melempar botol berisi miras itu? Apa kalian keberatan?" Ratih melangkah maju ke arah lelaki botak itu, "Turunkan telunjuk dari hadapanku, jika tidak! Jangan salahkan aku, bukan hanya telunjukmu yang aku patahkan bahkan tangan dan kakimu pun bisa ikut patah!" Tegas Ratih.
Hahahaha... ," Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertimu? Kamu hanya seorang wanita, kamu tidak bisa melakukan apapun kepada kami, yang bisa kamu lakukan hanya menangis." kembali lelaki botak itu terbahak di hadapan Ratih.
"Oh ya. Jika seperti itu penilaianmu terhadap kaumku, maka aku harap kamu segera merubahnya setelah menerima sesuatu dariku!" Ratih tersenyum sinis dan semakin mendekat kearah lelaki botak itu.
"Bukk, bukk…!" Ratih memberi beberapa pukulan kepada lelaki botak itu.
"Akhhh... Kurang ajar!" erang kesakitan disertai umpatan keluar dari mulut lelaki botak.
"Bagaimana? Apa ini yang disebut wanita lemah. Aku bahkan bisa membuatmu babak belur jika aku mau. Pergi dari sini cepat! Dalam hitungan ketiga jika kalian semua tidak juga pergi, maka kau akan menerima akibatnya!" Ratih menatap satu persatu lelaki yang berada di halaman rumahnya.
Belum sempat Ratih menghitung, lelaki yang berjumlah 6 orang itu sudah lari terbirit-birit menuju pintu gerbang rumah Ratih.
"Bagus! Akhirnya kalian pergi juga." Ratih menarik nafas dan menghembuskannya seraya melangkah masuk kedalam rumah. Saat berada di ruang tamu, aroma Miras tampak menyengat sekali, hingga Ratih harus menutup hidungnya agar tak mencium aroma Miras tersebut.
"Keluar dari rumah saya sekarang juga!" teriak Ratih yang sudah mematikan musik yang tengah mengalun dengan sangat keras.
"Ra-ratih…,
good Author