Alea dan Alia adalah anak yang terlahir kembar identik, keduanya terpisah sejak mereka masih berusia 6 bulan karena perceraian kedua orang tuannya. Alea hidup beruntung dengan bergelimang harta sedangkan Alia harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Alia yang tumbuh dewasa harus menjadi korban pembalasan dendam yang ditujukan untuk Alea.
Akankah Alia bisa melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tetik saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang bulan
Dengan romantisnya Dafa menggendong wanita yang dia kira adalah istrinya itu menuju kamar mereka, pancaran kebahagian juga terpancar dari mata Alea yang tak ingin luput memandangi wajah tampan itu.
Diatas ranjangnya yang empuk Dafa terus menyerang bibir Alea dengan ciumannya yan rakus karena Dafa sangat merindukan istrinya. Nafasnya semakin memburu menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
Saat hendak melepaskan dress yang dikenakan oleh Alea, namun tiba-tiba Alea mencegahnya, yang tentunya membuat Dafa protes.
"Maaf, aku sedang datang bulan," ucap Alea yang sebenarnya sedang berbohong.
"Kita bisa melakukannya nanti saat kamu sudah sembuh," ucap Dafa sambil mengecup kening Alea.
"Tentu," ucap Alea sambil tersenyum.
"Dafa tidak boleh sampai melihat beberapa tato di punggungku, lebih baik aku segera menghapusnya kalo tidak semuanya akan segera terbongkar," batin Alea sambil memeluk Dafa.
"Istirahatlah sayang," ucap Dafa sambil mengeratkan pelukannya.
Pagi itu Alea membuka matanya meraba ranjang disebelahnya ternyata Dafa telah bangun terlebih dahulu darinya, Alea segera pergi untuk mandi dan merapikan penampilannya.
"Aku kira kau sudah berangkat ke kantor," ucap Alea kepada Dafa yang masuk ke dalam kamar.
"Temui Ayahmu dibawah, dia mencari mu," ucap Dafa kepada Alea, karena sebelum hilang Alia berpura-pura menjadi Alea untuk menenangkan Pak Darma yang sedang sakit.
"Ayah? kalau Alia kembaranku tentunya Ayahnya juga sama denganku, Apa maksud perkataan Dafa?" ucap Alea yang di penuhi rasa kebingungan dan bingung bagaimana harus bersikap.
Alea mengikuti langkah Dafa untuk menemui Pak Darma di ruang tamu, Alea tetap berusaha untuk terlihat tenang agar Dafa tidak curiga kepadanya, walau ada seribu pertanyaan yang hinggap di benak Alea.
"Benar ternyata Ayahku yang datang tapi dia datang bersama Alia palsu. Aku harus tenang tidak boleh panik, aku harus bisa mengikuti alur cerita ini dengan baik walau aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi" batin Alea saat menatap Ayahnya dan Raya dari kejauhan.
"Alea, Ayah merindukanmu," ucap Pak Darma yang menghambur memeluk Alea.
Alea diam seribu bahasa mendengar ucapan Ayahnya yang memanggilnya dengan nama Alea, tentunya dia sangat merasa kebingungan dengan semua kejadian ini.
Alih-Alih ingin menyembunyikan kebingungan nya, Alea memilih berpura-pura pergi ke dapur dengan Alasan ingin membantu Siska menyiapkan sarapan untuk mereka yang berada disitu tak terkecuali Pak Darma dan juga Raya. Dafa menyusul dan mengikutinya karena melihat raut wajah istri palsunya itu yang terlihat tidak nyaman.
"Sayang aku tau pasti kau tidak nyaman dengan semua ini," ucap Dafa yang menyusul Alea ke dapur.
Alea hanya menjawab ucapan Dafa dengan senyum tipis dan terus mengelap piring-piring di depannya, walau sebenarnya dia tidak pernah melakukan pekerjaan itu.
"Jujur aku sangat bingung, baru semalam Dafa bilang aku adalah Alia. Sekarang Ayah datang kemari dan bilang aku adalah Alea, Apa sebenarnya Dafa sedang mengerjai ku karena masih ingin balas dendam kepadaku?" batin Alea yang sedang berperang dengan pikirannya.
"Aku akan berusaha menemukan Alea, agar kamu tidak terus berpura-pura menjadi Alea," ucap Dafa yang seolah memberikan titik terang dari semua pertanyaan dan kebingungan Alea.
"Aku tidak apa-apa, aku senang bisa berpura-pura menjadi Alea," ucap Alea dengan senyum sumringahnya karena sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan lembut Dafa mengelus pipi istrinya itu sambil beranjak berlalu menemui Pak Darma yang berada diruang Tamu.
"Ada untungnya juga ada Alia palsu disini, dengan begitu Ayah tidak akan mencari-cari keberadaan Alia yang Asli dan posisiku akan tetap aman disini, dan untuk Dafa jika dia berhasil menemukan Alia yang asli aku akan membuatnya menganggapnya sebagai Alea," batin Alea tersenyum jahat sambil menatap Dafa yang sedang menikmati sarapan pagi itu.
"Maafkan aku Alia sampai Sekarang aku belum bisa mengatakan bahwa Pak Darma adalah Ayahmu, karena semua ini terlalu rumit sebelum Alea ditemukan," batin Dafa di sela-sela aktivitas sarapannya.
"Nak, pulanglah bersama Ayah," ucap Pak Darma yang telah selesai makan.
"Kami sudah menikah, Om jadi biarkan kami tinggal bersama," Jawab Dafa yang membuat Pak Darma dan Raya tersentak kaget.
"Jadi benar semua yang Om pernah tanyakan waktu itu?" ucap Pak Darma lagi.
"Maafkan aku Om harus berbohong menikah dengan putrimu Alea, padahal aku menikahi dengan putrimu Alia," batin Dafa yang tidak ingin tinggal terpisah dari istrinya palsu itu karena Sandiwara yang dia buat.
"Iya Om kami menikah secara siri, tapi setelah semua proyek besar yang Dafa kerjakan di kantor selesai, Dafa akan segera meresmikannya," jelas Dafa yang mencoba mengulur waktu untuk mencari keberadaan Alea untuk bisa mengungkap semuanya, karena tidak ingin menikah Alia dengan menggunakan dokumen Alea.
"Baik, Ayah merestui hubungan kalian, mulai sekarang jangan panggil Om lagi," ucap Pak Darma sambil tersenyum sumringah.
"Baik Ayah," ucap Dafa merasa canggung.
"Hari yang begitu sempurna," batin Alea penuh kemenangan.
"Ternyata pernikahan yang aku dengar waktu itu benar adanya bukan hanya bercanda," batin Raya patah hati.
...****************...