Dikhianati, oleh mantan suaminya dengan sahabat baiknya, lalu dicerai paksa tanpa diberi harta Gono gini membuat Maura Larasati sangat hancur.
Ditengah rasa terpuruk juga sakit hati, Maura berniat menjebak seorang pria hidung belang yang bisa membantunya balas dendam.
Tapi ternyata, dia malah tanpa sengaja melakukan ONS itu dengan Mantan kakak Iparnya. Arkana Angkasa, CEO Angkasa Groups yang selama ini dikabarkan menderita Impo*en, karena tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.
Lalu akhirnya, siapa diantara mereka berdua yang merasa dijebak dan yang terjebak karena kesalahan itu?
Penasaran cus baca ya reader🥰
Tolong tinggalkan like komen dan tap love setelah membaca sebagai penyemangat otor supaya terus up.
Happy reading 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bukan Sekarang? Lalu Kapan Saatnya.
" Issh," desis Maura karena merasa geli bercampur merinding akibat apa yang baru saja dilakukan Arkana.
Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya yang saat itu masih berada didada prai itu.
Arkana langsung tersenyum smrik melihat reaksi yang diberikan oleh tubuh Maura karena godaan ringannya barusan.
' Benar benar perempuan yang sangat menarik, aku cuma menyentuhnya sedikit tapi reaksi alami tubuhnya sudah seperti letupan kembang api', batin pria itu.
Punya pemikiran itu Arkana mulai tidak sabar ingin melakukan lebih pada perempuan itu.
Begitupun yang dipikirkan oleh Maura, dia sudah berpikir kalau pria itu pasti akan mengajaknya untuk bercinta dan kalau iya, tentu saja dengan senang hati dia akan melakukannya.
Tapi ternyata tidak seperti itu, karena tiba tiba saja pria itu menggulingkan tubuhnya kesamping.
Membuat Maura terkejut dan hampir saja mengeluarkan suara protesnya, tapi segera ditelannya lagi karena ingat gengsinya.
"Kalau kau sudah bangun aku yang akan tidur sekarang," ucap pria itu tiba tiba dengan menarik tubuh Maura untuk masuk kedalam pelukannya, tanpa perduli kalau sekarang Maura yang berganti tidak bisa tidur lagi. Bagaimana dia bisa tidur lagi kalau tadi waktu tidur sempat mimpi hal erotis bersama pria itu, lalu begitu bangun disuguhkan pemandangan yang tak kalah menggoda dari mimpinya tadi.
Tapi saat dia sudah berniat akan melakukannya, tiba tiba pria yang sudah berstatus suaminya itu membatalkannya.
Kenapa? Ingin sekali Maura mengatakan itu, tapi lagi lagi gengsi dan kesal yang memuncak, membuatnya memilih diam dan bersikap kaku dalam pelukan Arkana.
" Ayo tidur, jadwal pesawat kita pukul 09.00 pagi kalau kau tidak tidur sekarang kita bisa ketinggalan pesawat untuk pulang," ucap Arkana tanpa rasa bersalah, meski dia tau kalau sekarang Perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu sedang kesal padanya. Dan sebagai pria dewasa tentu saja dia juga tau alasan, kenapa Maura sampai bersikap begitu padanya.
" Mas Arka tidur aja duluan aku sudah nggak ngantuk."
Dia berusaha menyingkirkan tangan kekar Arkana yang melilit erat di pinggangnya dari sisi samping, karena dia berniat untuk turun dari ranjang, menjauh dari pria itu.
Tapi bukannya terlepas pelukan pria itu malah semakin erat, membuat Maura merasa semakin kesal pada pria itu.
Dia kembali berusaha mendorong tubuh berotot Arkan tapi tetap gagal , sampai sempat beberapa kali melakukannya tapi tetap juga gagal, membuat kesabaran Maura habis.
Sadar kalau pria itu sedang sengaja mempermainkannya dengan melakukan itu Maura tidak habis akal.
Kalau pria itu tidak mau melepaskannya, juga tidak ingin bercinta dengannya, tapi terus memancingnya dengan sengaja. Maka biar dia yang melakukannya lebih dulu, pikir Maura.
Dengan penuh kekesalan dia berniat ingin balik mengerjai Arkana, seperti yang sejak tadi dilakukan oleh pria itu padanya.
" Ya udah kalau gitu kita tidur aja sekarang tapi, aku nggak biasa tidur pakai baju kaya gini, gerah."
Setelah mengatakan itu, Maura mulai membuka satu persatu kancing piyama yang dipakainya saat itu.Tidak semua karena ada tangan Arkana diperutnya, jadi dia hanya membuka sampai batas dimana tangan pria itu berada, hingga membuatnya dalam kondisi setengah polos.
Setelah bagian atas tubuhnya tidak lagi tertutup seperti sebelumnya, Maura segera memutar tubuhnya, supaya bisa menghadap kearah Arkana yang ternyata sudah membuka matanya, tapi masih tetap diam tak bergeming dengan apa yang dilakukan oleh Maura saat itu.
" Sekarang baru betul, benarkan Mas Arka?" ucapnya dengan tersenyum menggoda kearah pria itu dengan sengaja.
" Kau yakin akan tidur seperti ini?"tanya Arkana dengan tatapan menelisik ketubuh Maura yang polos.
" Iya," angguknya dengan membalas pelukan pria itu. Bukan hanya memeluk seperti yang Arkana lakukan padanya sekarang, tapi dengan sengaja dia menggoda pria itu.
Awalnya hanya berupa gerakan tangan yang seolah tidak disengaja dibalik punggung pria itu, lalu perlahan semakin kentara, karena melihat gestur tubuh Arkana yang mulai menegang akibat godaan sentuhannya itu.
" Maura," panggil pria itu, dengan maksud menyuruh Maura menghentikan godaan absurt yang sedang dilakukannya itu.
" Hemmm."
" Hentikan, jangan memancingku seperti ini," perintahnya karena mulai sangat terganggu, bukan terganggu tapi tergoda lebih tepatnya.
Gerakan jemari lentik Perempuan itu dibagian belakang tubuhnya, mulai membuat bagian tubuhnya bereaksi bangun, meski masih bisa ditahannya kalau Maura menghentikan apa yang dilakukannya itu sekarang.
Tapi dia tidak bisa menjamin akan bisa terus menahannya, kalau perempuan itu terus melakukan apa yang sekarang dilakukannya ini.
Arkana tidak yakin bisa terus menahan diri untuk tidak langsung menyerang perempuan itu, yang sedang sengaja menggodanya karena kesal padanya.
" Kenapa? Aku kan cuma membalas pelukan mas Arka. Mas nggak suka aku peluk ya, egois itu namanya, Mas Arka aja meluk aku tapi waktu aku peluk balik Mas malah.."
" Jangan bicara lagi, kau sedang berusaha membangunkan macam tidur sekarang," hardik Arkana kesal dan kembali berusaha menyentakkan pelukan Maura.
Dengan maksud ingin menyingkir dari samping perempuan itu, karena bagian penting tubuhnya mulai mendesak semakin bangun, dibalik Boxer yang dikenakannya, sekarang.
Tapi bukannya membuat Maura menyingkir atau dia berhasil menyingkir, posisi mereka saat itu malah semakin menjadi riskan.
Bagaimana tidak riskan, begitu dia menyentak untuk menjauh dari Maura, tanpa diduganya perempuan itu langsung meraih tubuhnya. Sebelum dia sempat menghindar, Maura sudah berhasil berada diatas tubuhnya dan tanpa mengatakan apapun, perempuan itu langsung memagut bibirnya dengan berani .
Arkana cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Maura saat itu, tapi seperti yang sudah dikatakannya pada perempuan itu sebelumnya' Jangan mencoba membangunkan macam tidur.'
Tapi ternyata Maura yang sudah dikuasai rasa kesal dan marah pada Arkana yang terus saja bersikap tarik ulur padanya, tidak perduli dengan itu. Dan memilih membalas pria itu, tanpa tau alasan kenapa Arkana masih terus berusaha menahan diri sejak tadi.
Arkana sudah sangat tertarik dengan Maura dan hampir terus, memikirkan ingin memaksa perempuan itu bercinta dengannya lagi, seperti saat malam kejadian itu.
Tapi dia masih terus menahannya sampai detik ini,alasannya karena dia tidak tega pada perempuan itu.
Maura baru saja mengalami banyak hal buruk dalam hidupnya, pernikahan kontrak yang dilakukannya dengan perempuan itu adalah bentuk tanggung jawabannya karena kejadian malam itu.
Sementara untuk urusan ranjang awalnya dia tidak berniat melakukannya, tapi ternyata sangat sulit merealisasikannya.
Meski begitu Arkana masih berusaha belum ingin melakukannya, paling tidak sampai perempuan itu merasa nyaman dengannya. Dia berniat hanya akan melakukan kontak fisik seperlunya untuk sementara, tapi kalau Maura yang lebih dulu menggodanya seperti sekarang, dia rasa pikiran itu tidak bisa diberlakukan lagi dan pertahanannya pasti runtuh juga.