Setelah pertemuan tidak sengajanya dengan sang CEO di sebuah acara membuat Hasya harus terus berpura-pura menjadi orang lain. Karena dia juga butuh kekuatan untuk membaaskan dendam untuk sahabatnya, akhirnya dia memanfaatkan kedekatannya dengan sang CEO.
Namun, tanpa Hasya sadari, Jun sang CEO juga diam-diam melakukan hal yang sama padanya. Karena desakan orang tua untuk segera memiliki pasangan.
Lalu bagaimana jadinya jika mereka salinge mengetahui rahsaia satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaBlue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Suami Pengertian
Setelah pertengkaran yang hebat di kos Yuli. Akhirnya Risma pun ikut pulang bersama Rivan. Bahkan, dia tidak sempat mengemasi pakaiannya. Untungnya, Yui dengan baik hati menawarkan diri untuk mengantar pakaian Risma.
"Pakaian mu biar aku yang antarkan," ucap Yuli padanya sebelum pergi.
Risma hanya diam sepanjang jalan. Kepalanya tidak menoleh pada laki-laki di sampingnya. Hingga sampai di rumah, Risma langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Melihat itu, Rivan hanya bisa menghela nafas. Dia akan belajar sabar menghadapi istrinya. Dia tidak ingin kejadian kabur dari rumah kembali terjadi kedua kalinya.
Rivan turun dari mobil, lalu menyusul Risma ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah, dia melihat Bibi Elia memeluk Risma dengan wajah sedih.
"Astaga, Nyonya. Anda darimana saja, saya mengkhawatirkan, Nyonya" kata Bibi Elia dengan wajah khawatirnya.
"Maaf yah Bi, sudah membuat mu khawatir." Risma tidak tega melihat wajah sedih Bibi Elia. Dia jadi merasa bersalah karena telah membuat wanita paruh baya itu mengkhawatirkannya.
"Jangan pergi-pergi lagi yah, Nyonya. Di luar banyak orang jahat. Kalau ada masalah, lebih baik di bicarakan baik-baik saj. Yah?" Sejenak Risma tertegun. Sepertinya Bibi Elia menyadari perselisihannya dengan Rivan. Meskipun enggan, Risma tetap menganggukkan kepalanya. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa khawatir Bibi Elia
"Baiklah, kalau begitu saya akan menyiapkan makanan enak untuk, Nyonya. Anda bisa menunggu sambil beristirahat." Risma tersenyum. Perlakuan hangat Bibi Elia padanya membuatnya seperti mendapat perhatian dari ibunya.
"Baik, Bi. Aku ke kamar dulu yah," pamit Risma.
"Iya, Nyonya," jawab Bibi dan berlalu menuju dapur, sementara Risma menuju lantai 2. Semua interaksi mereka tidak luput dari pandangan dan pendengaran Rivan.
Di dalam kamar, Risma duduk di kursi balkon yang menghadap langsung ke taman komplek. Taman itu terlihat begitu tenang tanpa ada seorang pun di sana.
"Pasti suasana di sana kalau malam makin tenang lagi," ucapnya tiba-tiba saat membayangkan suasana di taman itu ketika menjelang tengah malam. Pasti akan lebih menenangkan.
"Sangat cocok untuk menenangkan pikiran," tambahnya lagi. Helaan nafasnya terdengar berat. Seakan beban di pundaknya semakin berat.
"Sudah setengah sebelas ternyata. Waktu terasa begitu cepat," lirihnya. Sekali lagi dia memandang ke arah taman sebelum melangkah keluar dari kamar.
Langkahnya berhenti tepat di meja makan. Di atas meja sudah tersaji berbagai makanan. Bibir Risma tersenyum, dia jadi ingat makanannya di kos Yuli.
"Astaga, bekal ku!" Risma menepuk pelan jidatnya.
"Padahal aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati," lirihnya. Wajahnya langsung berubah sedih. Rivan yang baru saja tiba di dapur mengernyit bingung.
"Dia kenapa sedih lagi?" bisiknya pada diri sendiri. Perlahan dia melangkah mendekati wanita itu.
"Ada apa dengan ekspresi sedih itu?" Risma memutar bola matanya malas. Sudah tahu siapa pemilik suara itu.
"Bukan urusan mu," balasnya ketus.
Rivan yang mendapat balasan ketus dari istrinya hanya bisa mengelus dada. Dia sudah berjanji untuk bersabar. Melihat Risma yang hendak menarik kursi, dengan sigap Rivan membantunya. Akan tetap, alih-alih duduk di kursi itu, Risma malah berpindah ke kursi seberang meja.
Lagi-lagi Rivan hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia akan membiarkan apa pun yang istrinya lakukan, asalkan dia nyaman terserah saja.
"Silahkan, Tuan, Nyonya. Anda bisa memanggil saya jika masih kurang," kata Bibi elia yang datang membawa sup ayam.
"Ini sudah lebih dari cukup, Bi. Bibi makanlah juga." Risma membantu Bibi Elia meletakkan mangkok besar itu di tengah hidangan.
"Saya akan makan juga kok, Nyonya. Kalau begitu saya permisi,"pamit Bibi Elia dan meninggalkan pasangan itu.
Keduanya pun makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
"Kapan hari off mu?" tanya Rivan memecah keheningan.
"Hari kamis," jawab Risma singkat.
"Aku ingin mengajak mu menjenguk kakek. Aku harap kau tidak punya kegiatan lain," tambah Rivan.
"Ok," balas Risma lagi-lagi dengan singkat. Terkesan buru-buru, Risma menyelesaikan makanannya dan langsung meninggalkan meja makan. Seakan tidak terganggu, Rivan tetap melanjutkan makannya hingga selesai.
****
Malam harinya, Risma pulang lumayan larut. Malam ini cafe sedang ramai-ramainya. Tak jarang pula dia mendapatkan tip dari pelanggan.
"Walaupun capek setidaknya saku celana penuh. Hahah." Risma menghitung uang tip nya dengan bahagia. Uang itu pun di masukkan ke dalam dompet tabungannya.
"Snack time!" serunya kegirangan. Wanita itu segera keluar kamar menuju ruang tengah. Tangannya menenteng keresek besar yang berisi aneka snack dan minuman kaleng.
Wanita itu kemudian menyalakan TV. Drama favoritnya sudah tayang. Risma pun menonton sambil mengunyah snack nya dengan nikmat. Sesekali wanita itu tertawa ketika muncul adegan komedi.
Pintu rumah terbuka, di susul sosok Rivan yang masuk ke dalam rumah. Langkahnya mulai pelan saat memasuki ruang tengah. Ekspresinya tidak bisa terbaca saat melihat keadaan ruang tengah. Pembungkus snack dan kaleng minuman berserakan di mana-mana.
Pandangannya beralih pada wanita yang masih setia dengan posisinya. Seakan tidak menyadari keberadaannya. Wanita itu tetap asik dengan dunianya.
"Jangan terlalu sering makan, makanan ringan. Tidak baik untuk kesehatan." Risma spontan menoleh. Dia terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang bersuara.
"Sejak kapan kau ada di sana?" sarkas Risma. Jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya.
"Sejak tadi," jawab Rivan. "Intinya jangan terlalu sering makan itu," sambungnya lagi. Risma mendelik tak peduli.
"Jangan pedulikan aku. Urus saja urusan mu," sarkas Risma, mengabaikan perkataan Rivan.
Mendengar itu Rivan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi dia hanya perlu bersabar. "Yasudah, kalau sudah selesai bereskan yah. Takutnya ada semut, kau sendiri loh yang di gigit." Rivan mengusap lembut puncak kepala istrinya. Setelah itu dia pun berjalan menaiki anak tangga.
Seketika Risma mematung saat merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. Dia tidak menduga jika Rivan akan melakukan itu padanya.
Mengapa laki-laki itu mendadak lembut?
Bahkan kalau di pikir-pikir Rivan juga jadi sedikit lebih sabar. Seharusnya kan dia marah-marah saat melihat ruang tengahnya di acak-acak. Atau paling tidak dia membentak dan mengajaknya adu mulut. Tapi laki-laki itu malah menasehatinya dan bahkan mengusap lembut kepalanya. Sungguh tidak seperti biasanya.
"Apa kepalanya sudah terbentur yah? Atau dia sudah mendapat cahaya ilahi?" bisiknya terheran-heran.
"Tapi kalau dia mendadak seperti itu, aku sangat tidak terbiasa," gerutunya sambil mengunyah kripiknya dengan gemas. Dia belum siap dengan perubahan sikap Rivan yang mendadak penyabar dan lembut begitu.
"Kita lihat saja, sampai mana kesabarannya saat menghadapi ku. Akan ku buat dia naik tanduk setiap hari."