Indonesia
NovelToon NovelToon
Ikhlas

Ikhlas

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Merpati_Manis

Mencintai seseorang dalam diam dan terus memupuk harapan, membuat Rubi Kanaya kalang kabut sendiri ketika mengetahui kenyataan jika Gus Fattah ternyata sudah dijodohkan dengan gadis lain.

"Maaf, jika Rubi telah lancang menaruh harapan pada putra Umi. Rubi sadar, siapa Rubi," kata Rubi sangat pelan yang terdengar seperti sebuah bisikan.

"InsyaAllah, Rubi sudah ikhlas karena memang ini takdir hidup yang harus Rubi jalani," lanjutnya seraya menunduk dalam.

"Ikhlas? Benarkah?" Suara seseorang yang bertanya seraya menatapnya, membuat Rubi semakin menundukkan kepala.


🌹🌹🌹


Aku hadir kembali, Best... 😍
Jangan lupa subscribe dan kasih rate bintang lima pada ceritaku ini, ya 🥰🙏
Vote dan hadiahnya yang banyak, aku tunggu 🤗😘
Mode malak, dimulai 😁🤭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Perempuan

Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa, satu tahun telah terlewat dari masa bulan madu yang dijalani oleh pasangan Rubi dan Gus Fattah. Namun, hingga detik ini, keajaiban yang diharapkan belum kunjung datang. Rubi belum juga mengandung dan itu membuat istri Gus Fattah, kembali murung.

Rubi jadi lebih banyak diam dan menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar. Tentu setelah dia menjalankan kewajiban mengurus suami dan mengaji. Dia seperti menghindar dari bertemu dengan sang ibu mertua, maupun Ning Kuni.

Istri Gus Fattah itu tahu, apa yang dia lakukan ini tidaklah benar. Sebab, baik sang umi ataupun kakak iparnya tak pernah menyinggung soal momongan. Hanya saja, Rubi sendirilah yang merasa insecure dengan dirinya sendiri.

Apalagi ketika Rubi mengetahui bahwa sang kakak ipar mendapatkan amanah kembali. Rubi merasa semakin rendah diri. Dia merasa menjadi wanita yang tak sempurna dan tak berarti.

Terkadang, ingin Rubi mengeluh. Kenapa Tuhan tidak kunjung memberinya amanah momongan? Adakah Rubi memiliki kesalahan di masa lalu hingga Tuhan harus menghukumnya dengan sulitnya dia mengandung?

Terus saja memikirkan hal itu, membuat Rubi menjadi sulit tidur. Kesehatannya pun mulai menurun. Rubi terkadang merasa stres dan tertekan sendiri.

Bersyukur, hal itu tak berlarut-larut, dan akal sehatnya segera kembali. Tidak! Dia tidak boleh menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan takdir Tuhan. Setelah itu, Rubi mulai menyibukkan diri di koperasi, dan berdagang agar pikirannya sedikit teralihkan.

"Ning Rubi. Maaf, umi nyai manggil Ning Rubi. Sepertinya, Ning Kuni mau melahirkan." Seorang santri yang biasa membantu Rubi di koperasi, mengabarkan ketika istri Gus Fattah itu sedang khusyuk dengan laporan keuangan di hadapan.

"Apa? Mau melahirkan? Iya, aku ke sana sekarang. Tolong, kamu lanjutkan ini, ya, Rum.", Rubi segera beranjak dan tak lupa meminta tolong pada gadis yang usianya tak jauh di bawahnya, sebelum dia meninggalkan koperasi.

"Baik, Ning," balas Arum lalu segera mengambil alih posisi Rubi, setelah menantu sang kyai itu berlalu dari hadapan.

Rubi berlari kecil menuju kediaman Ning Kuni. Tentu saja Rubi ikut khawatir karena sepengetahuannya, hari perkiraan lahirnya sang keponakan masih dua minggu lagi. Apalagi saat ini suami Ning Kuni sedang tidak berada di tempat karena mengikuti seminar pendidikan di kota propinsi.

Sepanjang menuju kediaman Ning Kuni, Rubi mencoba menghubungi sang suami. Namun, ponsel suaminya tidak aktif. Sudah menjadi kebiasaan Gus Fattah jika sedang mengisi pengajian, ponselnya akan dinonaktifkan.

"Mi. Gimana, Mi?" tanya Rubi ketika baru masuk ke rumah Ning Kuni dan mendapati sang umi sedang membantu putri sulungnya itu untuk keluar. Di belakang Nyai Aisyah, ada seorang santri putri yang membawakan tas untuk persiapan persalinan.

"Oh, ya, Nok. Kamu di rumah saja, ya. Kamu temani Naura, kalau dia pulang sekolah. Nanti kalau suami kamu sudah pulang, kalian langsung menyusul ke rumah sakit," pesan Nyai Aisyah.

"Baik, Mi." Rubi lalu membantu memapah sang kakak ipar di sisi kiri.

"Barang bawaannya sudah semua, Kak?" tanya Rubi, memastikan.

"Sudah, Dik. Kemarin sudah kakak cek lagi isi tasnya." Ning Kuni menjawab sambil meringis, menahan sakit. Sesekali dia menghentikan langkah, ketika kontraksi itu datang.

"Sakit banget, ya, Kak?" tanya Rubi, penuh rasa penasaran.

"Bukan lagi, Dik. Tapi ini nikmat banget." Ning Kuni mencoba untuk tersenyum. Dia tidak mau sang adik ipar merasa takut untuk melahirkan.

"InsyaAllah, kamu akan segera bisa merasakan apa yang kakak rasakan saat ini, Dik," imbuh Ning Kuni yang diaminkan oleh Rubi dengan sepenuh hati.

"Mobilnya sudah di depan. Kang Bahar yang nyetir." Abah yai yang baru saja datang, mengabarkan.

"Rubi ikut ke rumah sakit?" tanya sang abah kemudian, setelah melihat menantu bungsunya sudah berada di sana.

"Ndak, Bah. Umi suruh di rumah, menemani Naura." Nyai Aisyah menyahut dan Kyai Hambali mengangguk, setuju.

Setelah Ning Kuni dibawa ke rumah sakit, Rubi bergegas masuk ke dalam rumah sang kakak ipar. Istri Gus Fattah itu kemudian membuka tudung saji, memastikan apakah ada makanan untuk keponakannya nanti. Melihat sudah ada lauk kesukaan Naura, Rubi tersenyum lalu memutuskan untuk mengambil air wudhu. Ya, dia akan mengaji sambil menunggu Naura pulang sekolah.

Bakda dhuhur, Rubi bersama sang suami, dan Naura menyusul ke rumah sakit. Setibanya di sana, nampak kedua orang tua Gus Fattah menunggu di depan ruang persalinan dengan wajah tegang. Meski kedua orang tua paruh baya tersebut sudah melantunkan do'a dan segala pengharapan, tetap saja ketegangan menghampiri.

"Bah, Mi. Apa Kak Kuni sudah lama di dalam?" tanya Gus Fattah, mewakili keingintahuan Rubi.

"Lumayan, Gus. Tadi begitu sampai sini dicek dan kata dokter, ternyata bayinya sungsang," jawab sang umi.

"Kok bisa, Mi. Kata Kak Kuni hasil pemeriksaan terakhir beberapa hari yang lalu, posisinya normal, kan?" Rubi mengerutkan dahi.

"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Nok, meski menurut medis jika usia kehamilan sudah mencapai bulan, posisi bayi sudah tidak dapat berubah."

Rubi mengangguk, mengerti.

Perhatian mereka teralihkan kala mendengar suara tangis bayi yang melengking dari dalam sana. Dalam sekejap, ketegangan sirna dari wajah mereka. Berganti dengan senyuman yang penuh kebahagiaan.

Rasa syukur tak henti terucap dari bibir mereka. Satu lagi, hadir anggota keluarga baru. Anak yang diharapkan kelak akan menjadi penerus para sesepuhnya. Menjadi pejuang dakwah yang menegakkan agama Allah.

Kyai Hambali kemudian masuk ke ruangan tersebut untuk mengadzani sang cucu laki-laki. Sebab, ayah dari si bayi sedang keluar kota. Meski setelah diadzani sang abah, suami Ning Kuni tetap mengadzani sang putra melalui sambungan video call. Tidak afdhol katanya jika ayah tiga anak itu tidak memperdengarkan kalimat thoyyibah di telinga sang putra, sebelum putranya yang baru lahir itu mendengar suara-suara lain.

Setelah menunggu beberapa saat, Ning Kuni kemudian dipindahkan ke ruang perawatan. Wajah ibu tiga anak itu terlihat sangat lelah, tetapi senyuman terus terulas di bibirnya. Kebahagiaan juga terpancar jelas dari sorot matanya.

"Makasih, ya, Dik udah jagain Naura," kata Ning Kuni menyambut kedatangan Rubi yang baru masuk ke ruang rawat, bersama Naura. Di belakangnya, mengekor Gus Fattah yang nampak sedang menerima panggilan telepon.

"Sama-sama, Kak. Rubi seneng, kok, bisa jagain keponakan Rubi yang paling cantik ini." Istri Gus Fattah itu tersenyum lalu mencubit gemas pipi sang keponakan yang saat ini duduk di ranjang pasien, bersebelahan dengan uminya.

"Sayang. Kamu mau di sini dulu atau ikut aku pulang? Di rumah ada tamu, Yang. Kata kang santri, tamunya enggak mau pulang sebelum bertemu denganku." Gus Fattah yang baru saja menutup ponselnya, mendekati sang istri yang masih berdiri di samping ranjang pasien.

"Rubi di sini aja, ya, Kak. Pengin gendong adiknya Naura." Rubi yang sudah tidak sabar untuk dapat memiliki momongan, tentu sangat ingin menggendong bayi merah yang saat ini berada di pangkuan Nyai Aisyah.

"Tamu siapa, sih, Dik? Memangnya, enggak bisa di-handle sama kang santri?" tanya Ning Kuni kemudian, penasaran.

"Kurang tahu juga, sih, Kak, siapa tamunya? Kata Kang Nurdin barusan, tamunya perempuan dari kota, mirip artis gitu."

"Tamu perempuan? Kalau gitu, Rubi ikut pulang Kak Fattah."

Keputusan Rubi yang tiba-tiba, membuat semua orang tersenyum. Begitu pula dengan Gus Fattah. Netra pria kharismatik itu, seketika berbinar terang.

"Aku suka dengan Kanayaku yang cemburu seperti ini," bisik Gus Fattah di telinga sang istri lalu segera membawa istrinya keluar dari sana.

bersambung ... 🌹🌹🌹

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh bintang limanya, Kka 🙏🙏
total 1 replies
D_Mayanti
Luar biasa
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh apresiasi dan hadirnya, Kak 🥰
total 1 replies
Cah Dangsambuh
yaaaa dah btek makasih kak dah di kasih suguhan yg bikin bapwr tapi juga bertaburan ilmu miga jadi ladang pahala buat kakak
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh udah hadir di ceritaku ini, Kak. mksh juga atas apresiasinya 🥰👇
total 1 replies
Cah Dangsambuh
aku nyesek haru sedih tapi ga tbisa menjabarkan tentang semua itu
Merpati_Manis (Hind Hastry): nano² barti, Kak
total 1 replies
Cah Dangsambuh
yang akan ku tanyakanbpada bu risma,,,anda perempuan bukan ya juga bu mala serta rani kok bisa asal njeplak gitu lambemu kalo kalian yg merasakan suaminya di goda perempuan lain gimana uuuh pingin tak kruwes kalian bertiga
Merpati_Manis (Hind Hastry): dikruwes terus dilothek sambel setan level tertinggi 🤲😁
total 1 replies
Cah Dangsambuh
ini ni juga perlu buang ke hutan amazon biar jadi santapan anakonda,,,
Cah Dangsambuh
ini bener2 keren
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh... moga selalu syuka dengan kehaluanku. Yuk, mampir juga di Will You Marry Me 😁🙏
total 1 replies
Cah Dangsambuh
kok bi ibu duduknya di taman surga tapi mulut dan telinganya berkelana di neraka ya
Cah Dangsambuh
aku makmum sama komenya kak ita rahmawati memang di sni banyak sekali ilmu yg bisa kita petik
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh apresiasinya, Kak.
pengingat untuk diriku sendiri juga, Kak 😊🙏
total 1 replies
Cah Dangsambuh
tapi kok bisa ya ruang makan di sulap kolam renang la nanti kalo ada santri mo ke dapur atau uminya mo ngambil minum arep ngumpet nyandi gus mosok iyo ngesor mejo🤣🤣🤣🤣
Merpati_Manis (Hind Hastry): wkwk... ndlosor, Kak
total 1 replies
Cah Dangsambuh
hayo men temen kita kondangan
Cah Dangsambuh
wah gus fatah ngulang lagi kitab yang di baca sama aku sekarang juga walaupun kesanya telat tapi aku yakin belajar ga ada kata telat,,kitab uqut dhulijain karangan syeh muhamad bin umar nawawi dari banten
Merpati_Manis (Hind Hastry): benar, Kak. gak ada kata telat untuk belajar. mksh hadirnya di cerita ini 🥰🙏
total 1 replies
Cah Dangsambuh
ahirnya
Cah Dangsambuh
aku nyesek rubi.kalau aku jadi kamu pasti ga sanggup maka alhamdulillah merasakam jatuh cinta pertama gayung bersambut dan sekarang udah menua bersama alhamdulillah
Cah Dangsambuh: amiiiin doa terbaik tuk kakak
total 2 replies
Cah Dangsambuh
sudah saling mengagumi dalam diam insya allah jodoh walaupun jalanya ga mulus
Cah Dangsambuh
gus hamam kelar lanjut gus fattah,,,,keren
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh, Kak 🥰🙏
total 1 replies
Djenab Purwaningsih
Luar biasa
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh apresiasinya, Kak 🥰🙏
total 1 replies
Irni Yusnita
bagus banget ceritanya 👍
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh apresiasinya, Kak 🥰🙏
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah... makasih ceritanya menarik.
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh hadirnya, Kak 🥰🙏
mampir juga di novel terbaruku, yah..
Dikira Santri Ternyata Putra Sang Kyai
total 1 replies
Bilal Muammar
dah tak save ya kak nomernya....makasih....
Merpati_Manis (Hind Hastry): masak, Kak? cb calling, bisa masuk, gak?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!