Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAH KARENA HAMIL

MENIKAH KARENA HAMIL

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:394.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irhen Dirga

Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Banyak Pikiran

Beberapa hari telah berlalu, namun Nesa tak juga kunjung sadarkan diri, ia sudah berada di ruangan biasa, karena kondisinya menunjukkan hal yang baik, tapi tak juga sadarkan diri.

Selama Nesa di rumah sakit, Devan terus menemani istrinya.

Hakim dan Santi akan menjaga Nesa di pagi hari, sedangkan Devan akan menjaga istrinya dari dimalam hari.

Devan kini sedang mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Ia menandatangani semua dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, ia juga akan mengamati personalia perusahaan yang berjalan.

Suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" Devan berseru dari dalam ruangannya.

Sesaat kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan Lestari yang kini berdiri didepan pintu dengan wajah sedih. Devan membulatkan matanya penuh, aneh saja melihat Lestari, dan ia merasa seperti kedapatan selingkuh.

"Lestari?" Devan beranjak dari duduknya dan menghampiri Lestari yang kini menghambur memeluknya.

"Aku kangen banget sama kamu, Dev," lirih Lestari, membuat Devan tak membalas pelukan kekasihnya. Saat ini, Lestari sedang marah, namun ia tak bisa menampakkan itu, ia takut Devan berbalik marah padanya.

"Kenapa kamu kemari?" tanya Devan, membuat Lestari melepaskan pelukannya.

Lestari mendongak menatap wajah Devan. Mereka sama tinggi, namun Lestari sedang menunduk tadi sehingga ia mendongak dan menatap wajah kekasihnya.

"Kamu tanya mengapa aku kemari?" Lestari menautkan alisnya. "Salah aku kemari? Pertemuan terakhir kita kan di Depok. Kamu tanya mengapa?"

"Lestari, kamu harus mengerti, aku sedang—"

"Berduka? Bukankah itu sudah berlalu? Aku tahu, kamu sedih karena anakmu meninggal, namun ingat lah, semua itu sudah takdir."

"Apa yang terjadi pada Nesa dan kedua anakku itu karena diriku, Les, aku mohon mengerti lah." Devan bermohon.

"Bukan karenamu, Dev, tapi semua sudah takdir."

"Aku tahu, aku nggak menginginkan pernikahan ini, namun bukankah sebagai suami dan ayah, aku harus menjaga mereka? Dan, bertanggung jawab atas mereka?

"Apa ini? Kamu kenapa bicaranya seperti ini? Apa kamu nggak menginginkanku lagi? Aku kemari karena merindukanmu, hampir seminggu kita nggak ketemu, aku memberikan kesempatan bagi Nesa dan putramu yang masih hidup, agar mereka disampingmu. Aku kemari bukan ingin mendengar penyesalanmu," kata Lestari.

"Les, aku—"

"Kamu nggak lagi berusaha menghindariku, 'kan?"

"Aku nggak konsen akhir-akhir ini, biarkan aku bertanggung jawab atas Nesa dan putraku yang kini sedang melawan sakit mereka. Jadi ada baiknya, kita nggak usah ketemu dulu, Les, aku nggak mau menorehkan luka pada keluargaku jika mereka melihat kita bersama seperti ini. Cukup melukai mereka dengan memberikan sakit ini pada Nesa dan kedua anakku." Devan menundukkan kepala, ia tak bisa melihat mata Lestari, ia pasti tak akan tega melihat mata itu.

Devan tak tahu, perasaannya saat ini, karena rasa bersalah atau memang ingin melakukannya sebagai suami.

"Apa maksudmu? Kamu nggak mau ketemu denganku lagi?"

"Iya, Les. Aku akan menemuimu setelah semua masalah selesai."

Lestari menitikkan air mata, meski Devan mengatakan hanya sementara waktu sampai Nesa dan putranya sembuh, namun rasanya seperti di campakkan.

"Dev, jangan berusaha mencampakkanku, aku ini kekasihmu, aku lebih dulu mengenalmu dibandingkan wanita itu. Yang harusnya kamu jagai adalah aku, aku yang paling terluka atas semua ini. Jangan mencoba melupakanku, Dev," kata Lestari. "Aku sudah mengikhlaskanmu menikah, dan menerima kesalahanmu karena menghamili wanita lain, dan aku menerima semua itu dengan air mata, dan ini balasannya?"

"Bukan maksudku mengatakan itu, Les, aku harus bertanggung jawab pada Nesa dan putraku."

Lestari menghela napas panjang, ia mencoba berpikir, ia tak mau sampai tak bertemu dengan Devan, seminggu saja sudah menyiksanya, apalagi lebih dari seminggu.

"Kamu ingin bertanggung jawab pada mereka dan mengabaikan aku?"

Devan menggelengkan kepala.

"Kamu masih mencintaiku, 'kan?" tanya Lestari.

Devan menganggukkan kepala.

"Lalu aku akan membiarkan kamu bertanggung jawab atas wanita itu dan putramu hanya sampai mereka sembuh, setelah itu nikahi aku."

"Aku—" Devan hendak mengatakan sesuatu, namun pintu ruangannya terbuka, membuatnya dan Lestari menoleh dan melihat Juno.

"Gua ganggu?" tanya Juno.

Devan mengelus dadanya, untung saja Juno datang, jadi ia tak perlu menjawab hal yang bertentangan dengan isi kepalanya saat ini. Sungguh, yang dikepalanya saat ini hanya ada putranya yang masih hidup juga istrinya yang masih koma.

"Lo nggak ganggu, ayo masuk, apa yang lo bawa?" tanya Devan, seraya menoleh sesaat menatap Lestari.

"Gua bawa yang lo minta, cafe Nesa udah selesai. Gua juga udah memperkerjakan 7 orang. 3 barista dan 4 lainnya pelayan," jawab Juno, lalu memberikan dokumen pada Devan.

"Wah. Kerja lo bagus juga," kata Devan.

"Iya donk, gua kan kuliah di agro bisnis," kekeh Juno.

"Ya udah. Besok cafe Nesa bisa di buka."

"Bukan cafe Nesa, Bro, tapi cafe kembar, itu yang Nesa minta ke gua buat ngasih nama cafenya adalah Cafe Kembar," sergah Juno.

"Nama yang bagus, ya udah." Devan menganggukkan kepala.

"Ya udah. Gua pergi dulu," kata Juno, berusaha tak terpancing dengan kehadiran Lestari di kantor. "Oh iya." Juno berbalik. "Seharusnya lo nggak di sini, Les, lo harus nyadar dan kalian itu sesama perempuan. Oke."

Lestari memanyungkan bibirnya, sebelum ia melawan, Juno sudah pergi.

"Wanita itu ada cafe?" tanya Lestari.

"Iya. Aku juga nggak tahu, ternyata dia lagi ngurus ini udah lama," jawab Devan.

"Kenapa kamu yang urusin cafenya?" Lestari bersedekap.

"Karena nggak ada yang urusin, Les, jadi aku bertanggung jawab untuk mengurusnya sampai Nesa sembuh," jawab Devan, membuat Lestari memanyungkan bibirnya.

"Apa-apaan sih, kok kamu sekarang menyibukkan diri sih?"

"Les, aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi, yang terpenting dari semua ini, aku sudah menjelaskannya ke kamu," kata Devan hendak ke meja kerjanya, namun Lestari menarik lengannya.

"Aku masih bicara. Ada apa sih denganmu? Kenapa jadi seperti ini hubungan kita? Kamu nggak akan datang menemuiku kalau bukan aku yang duluan kemari. Apa kamu lupa janjimu? Jangan mentang-mentang kamu mau bertanggung jawab atas dirinya, jadi melupakanku."

"Les, aku sudah katakan, kita nggak usah ketemu dulu, itu lebih baik daripada kita harus bertemu namun akhirnya kita harus berdebat. Tolong banget, jangan gangguin aku dulu. Aku benar-benar banyak pikiran."

"Dev, aku kemari bukan mau gangguin kamu, aku kemari untuk menerima penjelasan dan aku kangen sama kamu. Tujuanku kemari awalnya itu."

Devan menghela napas panjang. "Baiklah. Kamu bisa pergi. Aku banyak kerjaan, akan aku telpon kamu lagi."

"Tapi—"

"Les, aku mohon."

"Kamu mengusirku?" tanya Lestari.

"Bukan mengusir. Jika kamu mau tetap di sini, lebih baik diam dan nggak banyak bicara, kerjaanku jadi numpuk di sana," kata Devan, membuat Lestari menganggukkan kepala.

"Baiklah. Aku akan tetap di sini dan menunggumu." Lestari berbaring diatas sofa.

1
Shifa Burhan
thor jika ada wanita lain yang baik dan perhatian pada suami mu dan dia enteng nya mendekati suami dan mengatakan suka dan cinta pada suami, bagaimana tanggapan mu thor

pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil

tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno

kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
rya
karya imajinasi yg menghibur, jadi selalu nunggu up nya
rya
nunggu bucinya Devan sama nesa dan baby boy...
rya
semangat selalu Kaka, semoga lancar dan di beri kesehatan...
Irnawati wati
maaf thoor tdk usah di beri gambar visual, yang penting alur cerita nya masuk sesuai dengan judulnya. okee thorr semangat berkarya terima kasih
Christiani Natalia Yani
lanjut dong Thor jangan d gantung🙏
Dessy Flashin
ayo donk kk please lanjutin ceritanya jgn menggantung gini, ditungguin trus update nya ya kk 🙏🙏🙏 semangat kk 💪💪👍👌
Dessy Flashin
iiiissshhhhh Gedeg sm Devan, udah Thor klo emg besar hrs pisah sm Devan nnti klo udah pisah buat Nesa sm Juno ajalah, biar tau tuh si Devan sok kegantengan, dikira Nesa gk ada orang yg mau apa
Dessy Flashin
hadeeuuhhh ini kyk sinetron di ikan terbang nih, bikin keseeeeeeelllll....
rusidah siti
semangat buat nulisnya
kris tianti
lanjut dunk
Rosdiana Diana
lanjuttt
wili o
up
_kooky00
😭😭😭😭😭😭😭,,tau tk
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
Zhafirafira 225
fighting author
Ema Sofia
Keturunan turkey tapi mirip cina, canda turkey 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤔🤔🤔🤔🤭🤭🤔🤔
Suti Habdayani
ini di lanjutin gk ya ceritanya
샤샤
hai kak author, semangat selalu ya kak
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
샤샤
hai author, semangat selalu buat novel nya
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
Irhen Dirga: Wah terima kasih banyak❤
total 3 replies
샤샤
hai aurhor, semangat selalu yaa
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!