Indonesia
NovelToon NovelToon
Semesta Revan

Semesta Revan

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Cintapertama / Misteri
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Revan seorang lelaki tampan kaya raya namun tumbuh dari keluarga yang dingin, sejak kecil dia dituntut untuk menjadi anak yang sempurna oleh ibunya yang sangat dominan, Revan tumbuh menjadi pria matang, mampu memimpin perusahaan dan siap untuk mewarisi perusahaan keluarga seperti yang selalu dituntut oleh ibunya.

Namun, semuanya jadi tak mudah tatkala tiba-tiba ayahnya menghilang, semua rahasia kedua orang tuanya terkuak, affair, korupsi dan semua kejahatan terbongkar.

Perusahaan yang seharusnya siap menjadi miliknya, harus terguncang hingga mungkin terancam bangkrut.

Di tengah badai keluarga dan keuangan, Revan masih harus berjuang menemukan cintanya yang tak pernah mampu dia gapai.

Apakah semesta Revan akan runtuh atau menjadi semesta yang indah dan sempurna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 28

“Aku sudah menemaninya untuk melihat ballroom-ballroom itu.” Mima dan Revan bertemu diam-diam, mereka berbicara di suatu taman, tapi di dalam mobil, selain kantornya Revan, Mima dan Revan memang sering bertemu di taman itu.

“Dia suka yang mana?” Revan bertanya.

“Katanya terserah kau saja, diva suka ketiganya,” Mima menjawab.

“Ibuku pasti pilih hotel itu, tapi dengan kapasitas yang lebih besar.” Revan tersenyum saat berkata seperti itu.

“Diva itu, punya kepribadian yang unik ya.” Mima berkata lagi, dia meminum kopi yang dibelikan Revan.

“Unik? Seperit apa?” Revan penasaran.

“Dia tidak seperti nona muda pada kebanyakan yang pernah aku temui, yang sok cantik dan sok kaya itu, yang beberepa orang kau tolak, ingat?”

“Ya, tentu saja, memang Diva berbeda seperti apa?”

“Dia bukan seorang nona muda yang sombong, tidak juga sok cantik dan sedikit … tidak peduli pada citra diri.”

“Oh, soal makan ya? Dia memang lucu.” Revan tertawa, Mima melihat Revan dan tersenyum lega.

“Kau kenapa tersenyum?” Revan bertanya.

“Ada seorang wanita yang membuatmu tertawa karena kelakuannya, itu sebuah pencapaian yang bagus untuk Diva, sepertinya kau akhirnya menemukan tambatan hati.” Mima tersenyum lagi.

Revan menatap Mima dan akhirnya memasang wajah dingin, mungkin malu karena ketahuan suka pada Diva.

“Kau belum menjawab, unik bagian mananya?” Revan tadi hanya berasumsi mengenai cara makan Diva yang tak peduli citra diri, tapi Mima belum menjawab.

“Aku pikir dia seseorang yang tumbuh dari keluarga yang baik, tapi tidak juga, mirip sepertimu.”

“Mirip sepertiku?”

“Ya, orang tuanya memaksa dia untuk selalu tampil cantik dan membiarkannya kelaparan, maka jika dia punya kesempatan untuk keluar dari rumah dan makan enak, dia akan gunakan kesempatan itu untuk makan sepuasnya, tak heran, rasa lapar selalu membuat kita tersiksa.” Mima memang tak pernah merasa kelaparan, tapi Andi, adik angkatnya itu, yang dia temukan di taman, terlihat jelas bagaimana rasa lapar mengikis habis tubuhnya hingga kurus kering ketika terlihat pertama kali, bahkan disangka setan kecil.

“Apa ibuku pernah membuatmu kelaparan?” Tiba-tiba Revan bertanya.

“Tidak, dia selalu baik jika soal uang dan makanan, asal patuh saja, maksudku, Andi, kau tahu bagaimana aku menemukannya dan entah bagaimana betapa kau membencinya. Tapi satu yang pasti, dia begitu kelaparan begitu aku temukan, bahkan aku memberikannya makanan malam itu. Lapar memang bisa membuat orang lupa tentang rasa malu, tak peduli, jika kau adalah gadis kaya raya sekalipun.

Yang aku bingung adalah, kenapa kau … walau ini bukan urusanku, tapi sepertinya tidak ada ketulusan dalam hubunganmu dan Diva.”

“Ini tuduhan, bukan pertanyaan dan kau bukan Polisi hingga aku berkewajiban menjawabnya.”

“Dia gadis baik, maksudku, sebelum denganmu dia bahkan dipukuli oleh mantan tunangan yang dijodohkan juga, jika kau sangat ingin menikahinya, maka cintailah dia, aku akan sangat bahagia jika melihat kau mampu membangun keluarga yang sehat. Menjaga dan melindungi dia saat makan malam dengan Tante Miranda itu, adalah langkah awal yang baik Revan, cintailah dia perlahan, lahirkan anak dan bahagialah. Sudah cukup semua perjuangan ini, jangan berlebihan ….”

“Kau bicara seolah tak paham bahwa aku tak mampu mencintai siapapun! Kau bicara seolah kau adalah orang asing, kau adalah wanita paling brengsek yang aku kenal! Keluarlah, urusan kita hari ini sudah selesai!” Revan membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan Mima keluar dengan wajah sedih.

Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, bunyi decit remnya bahkan terdengar jelas, Mima menatap mobil itu dengan tatapan sedih, dia lalu berjalan ke arah mobilnya dan mengendari mobil untuk pulang ke apartemen miliknya, dia ingin bertemu Andi dan Siska, tempatnya mencurahkan pelipur lara atas semua masalah ini.

Meski bukan mobil mewah, tapi hidup Mima sudah menjadi jauh lebih baik, dia bekerja dengan posisi yang tinggi dan menjadi orang kepercayaan Miranda, meski hanya mengurus hal pribadinya, bukan mengurus perusahaan di luar jobdesknya, tetap saja, karena itu, hidup Mima sejahtera. Orang tuanya bahkan masih diberikan uang tiap bulan oleh perusahaan Miranda sebagai tunjangan hari tua, meski tak ada aturan untuk melakukannya, tapi Miranda telah memerintahkan itu, hingga Budi dan ibunya Mima meninggal, semua kebutuhan mereka ditanggung.

Guru menyebutkan nama-nama murid yang akan menjadi panitia untuk acara ulang tahun sekolah, Mima, Siska dan Revan serta beberapa teman lain menjadi panitia yang harus ikut meeting setelah pulang sekolah.

Saat pulang sekolah mereka berkumpul di aula untuk rapat panitia, semua panitia diberikan buku catatan kosong untuk menulis detail acara, Revan akan menjadi ketua panitia, Mima menjadi wakil ketua dan Siska seksi acara, mereka berdua tampaknya akan menjadi tim yang harus selalu sering bertemu.

Mima ingin sekali menolak tugas ini, tapi katanya akan menjadi penilaian lebih jika mereka berhasil membuat acara sukse, semacam upah karena mengerjakan tugas di luar sekolah. Ternyata memang murid-murid terbaik yang dipilih untuk menjadi panitia, jika menghadiahi mereka uang, tentu itu takkan membuat mereka senang, mengingat rata-rata dari mereka adalah anak-anak orang kaya raya, walau ada yang mendapatkan beasiswa, tapi bukan juga berasal dari keluarga yang miskin, tapi hanya keluarga biasa saja.

Maka sudah tradisi di sekolah itu, kalau ada acara, anak-anak dengan nilai terbaiklah yang akan menjadi panitia dan upahnya adalah nilai yang akan menambah nilai rata-rata pada rapot mereka nanti.

Walau terasa tak adil karena murid lain tak mendapatkan kesempatan yang sama, tapi tetap saja, sekolah menganggap cara ini adalah cara terbaik menyeleksi orang terbaik untuk mengerjakan hal yang penting seperti acara ulang tahun sekolah, maka semua siswa diharapkan mengejar nilai mereka untuk akhirnya bisa ikut menjadi panitia dan kelak mendapatkan tambahan nilai yang bisa membuat orang tua kaya raya mereka bangga dan akhirnya memamerkan nilai itu di hadapan koleganya.

“Kalau begitu, kita akan riset beberapa tema hari ini ya Mima, saya butuh Mima dan Siska sebagai panitia acara.

Kita akan meeting di rumahku saja, ada beberapa koran dan majalah yang bisa kita baca untuk dijadikan referensi.” Revan yang pertama kalinya menjadi panitia acara itu memerintah, kalau dipikir-pikir aneh juga, kelas 3 SMP ini Revan baru jadi panitia, apakah selama ini nilainya bukan yang terbaik?

Mima hanya mengangguk saja, sementara Siska terlihat senang, karena bisa main dengan sahabatnya sampai malam di rumah Revan, dia juga sedang sangat senang bercanda dengan Andi, katanya Andi sangat lucu dan polos, bisa dikerjai.

 Semua panitia akhirnya pulang mengerjakan tugas yang Revan berikan di rumah, sementara 3 orang itu pulang dalam satu mobil, mobil Revan.

Mima buru-buru memilih duduk di samping supir, sementara Siska duduk di samping Revan.

“Ma, ngapain sih di depan, padahal di sini bisa loh bertiga!” Siska kesal.

“Aku di sini saja, takut tuan Revan kesempitan.” Mima tidak biasanya mencemooh.

Siska diam dan tersenyum dengan diam-diam, puas karena temannya akhirnya bisa juga menghina orang lain.

Sementara Revan hanya menatap ke luar, ya, dia harus selalu menelan pil pahit, kalau perempuan itu akhirnya sangat membencinya, itu juga karena perbuatannya sendiri, dia sadari hal itu.

Begitu sampai rumah Revan, Mima masuk ke rumah, Siska menunggu di bangku taman halaman depan, Mima hanya berganti pakaian, Revan juga, dia keluar membawa banyak koran dan majalah dari ruang kerja ibunya, di sanalah terdapat koran dan juga majalah edisi terlama dan terbaru, Revan juga meminjam laptop yang dia sering pinjam untuk keperluan sekolah, Miranda memang mengizinkan anaknya mengakses internet di laptop tapi tidak memberikan full akses, pada zaman itu filter internet belum sebaik sekaran dan data juga belum sebanyak sekarang, maka banyak hal Miranda hindari agar anaknya tidak terpapar hal buruk dari internet, makanya meski punya dia tetap saja membatasi anaknya.

“Sis, ganti bajuku yuk, panas ini, nanti kamu keringetan.” Mima menawarkan.

“Nggak usah, nanti temanku repot.”

“Udah ayo buruan, takutnya lama.” Mima menarik Siska, meninggalkan Revan yang sibuk memilah-milah majalah.

“Lu kenapa sih?” Siska bertanya, Mima menyodorkan atasan yang lebih nyaman dibanding kemeja sekolah.

“Kenapa apa?” Mima bertanya.

“Udah celana nggak usah, kaos aja. Ini soal Revan, kenapa sih elu menolak makanan dari dia, ketus juga sama dia?” Siska menolak celana panjang yang Mima berikan.

“Hmm, gue yakin dia yang sembunyiin seragam gue, makanya akhirnya kejadian itu terjadi.” Mima berkata dengan sedih, ingat lagi kejadian itu.

“Hah? Kok bisa yakin? Dia udah ngaku?” Siska bertanya.

“Kan elu yang bilang, Revan itu selesai olahraga duluan dan selesai ganti baju duluan juga, itu artinya dia yang ke loker duluan, jadi siapa lagi kalau bukan dia? Elu kan yang kasih tahu gue, kalau saat kita akan ke ruang BK itu, kita berdua lihat kalau Revan udah rapi di kelas, udah ganti seragam.”

“Mim! Itu kan cuma kecurigaan aja, jadi belum tentu dia! Duh gue jadi takut kalau gue fitnah orang!” Siska terlihat panik.

“Tenang aja, walau dia nggak ngaku, tapi semua perlakuan baiknya dia itu, adalah rasa bersalah karena dia sembunyikan seragam gue itu, maka akhirnya gue dilecehkan sama Darmawan, sebelum kejadian itu, dia mana pernah berlaku baik sama gue, tapi pas abis kejadian, dia merasa bersalah dan menjadi baik, udah pasti sih dia pelakunya.” Mima bersikeras.

“Oh, iya juga sih, tapi masa sih? Setahu gue Revan memang orang yang menyebalkan, sombong dan angkuh, tapi … setahu gue dia bukan berandalan.”

“Sis, untuk apa yang dia inginkan sudah pasti dia akan lakukan apapun agar bisa mendapatkannya, kurasa itu semua sudah tabiat keluarga mereka.” Mima mengatkannya dengan pelan, tanpa dia sadari, Revan ada di luar kamar, dia ke dapur hendak meminta dibuatkan es teh manis dan camilan untuk mereka belajar, setelah dari dapur, dia hendak memanggil dua temannya agar tak terlalu lama, takut dua perempuan itu malah asik ngobrol di kamar Mima, tapi dia malah dengar hal yang cukup … membuatnya sedih karena perkataan Mima cukup tajam.

1
Tini Nurhenti
up yg byk thor,
Wahyu ningsing
ayoo lanjuut lagi thorr...ditunggu dg amat sangat
Tini Nurhenti
alurnyaa maju mundur ea thor,💪💪💪👍
Tini Nurhenti
baru up lgi thor ,💪💪💪 45 yh thor.
disda
kadang baca novel ga liat siapa authornya.. tp dr gaya bahasa aku nebaknya authornya karuhun..pas liat eh emg iya.. emglah author yg satu ni ga ada lawan.. keren abis
maya ummu ihsan
kyk telur ayam kampung yg di umbar ya Thor warna kuningnya oranye
NUR SETYOWANTI
ceritanya selalu penuh tekateki
Naviandha Icha
semangat thor
Naviandha Icha
owh ternyata atijah, mana udh nuduh miranda. maaf ya miranda🤣
Naviandha Icha
jangan² yg nyebarin berita gk bener itu si miranda biar dia bisa jadi "pahlawan"
Naviandha Icha
revan tak punya adab🤣
Malaikat
nungguin up date an
Tini Nurhenti
dkit bgt up nya kk
Hana Nisa Nisa
up ya kak
Candra Fitriana
kebanyakan wanita itu gampang luluh sama makanan,,apa revan sering kasih martabak ke mima ya biar dia luluh hehe canda kak 🤭
Wahyu ningsing
up..upp
Tini Nurhenti
ea kk idem, npa bisa jdi 2" e ninggal ea /Grimace/
Candra Fitriana
revan mah gak peka
Candra Fitriana
loh sek,,sudah meninggal ta ortunya mima,,kemarin seingatku ibuknya apa ayahnya gitu yg sakit,,apa aku yg kelupaan??hehe maap kak
Candra Fitriana: Iya bener kak,,hehe,nah setelah kaka bilang gini baru ngeh maksudnya itu kelak,,ditunggu part selanjutnya😁
total 2 replies
Hana Nisa Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!