Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Tak Sadarkan Diri
Malam sudah semakin larut ketika Rashid akhirnya tiba di rumah. Mobil yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang, tetapi pria itu tidak langsung turun. Ia masih duduk di kursi belakang dengan kepala bersandar pada jok, sementara aroma alkohol yang menyengat memenuhi ruang sempit di dalam kendaraan.
Sepanjang perjalanan pulang, Rashid terus meminta sopirnya menambah kecepatan, lalu mengubah pikirannya sendiri beberapa menit kemudian. Ia juga beberapa kali menggumamkan kalimat yang tidak jelas, membuat sopir taksi itu menghela napas tanpa berani menanggapi.
Pesta perayaan Santoso Group yang semula ia harapkan menjadi kesempatan untuk menyelamatkan perusahaannya justru berubah menjadi malam yang ingin segera ia lupakan. Bukan hanya karena ia gagal mendapatkan investor baru, tapi juga karena pertengkarannya dengan Marissa telah menjadi tontonan puluhan orang.
Harga dirinya terasa tercabik-cabik dan yang paling membuatnya tidak tahan adalah kenyataan bahwa Kinara, mantan istrinya adalah putri bungsu Harland. Fakta itu membuatnya merasa bodoh.
“Kita sudah sampai, Pak.” Sang sopir kembali bersuara kala Rashid tak kunjung turun.
Rashid mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Dengan langkah sempoyongan, ia turun sambil berpegangan pada sisi kendaraan.
Sopir taksi itu segera menghampiri dengan khawatir. “Pak, biar saya bantu masuk.”
“Tidak perlu!” bentak Rashid sambil menepis tangan pria tua itu dengan kasar. “Aku masih bisa berjalan sendiri.”
Meski berkata demikian, langkahnya justru terhuyung ketika membuka gerbang. Sopir taksi itu terpaksa mengikuti dari belakang, berjaga-jaga apabila pria itu kehilangan keseimbangan.
Begitu pintu rumah terbuka, seorang asisten rumah tangga yang belum pulang langsung menghampirinya.
“Selamat malam, Pak. Ibu Marissa sudah menunggu sejak tadi, sepertinya Bu Marissa sangat terguncang.”
Rashid mengangkat wajahnya. Matanya tampak memerah, sementara dasinya sudah longgar dan beberapa kancing kemejanya terbuka. “Marissa? Mau apalagi dia? Ha? Apa masih belum cukup membuatku malu?”
Asisten rumah tangga yang belum lama ini ia pekerjakan itu terdiam di tempatnya. Menunduk dalam sambil menutup hidungnya sendiri.
Rashid tertawa pendek tanpa alasan yang jelas. “Suruh dia tidur. Aku tidak ingin diganggu dan kau pulanglah.” Ia kemudian berjalan melewati pelayan itu, tetapi baru beberapa langkah, pria tersebut berhenti dan menggelengkan kepala.
“Perempuan itu benar-benar membuatku gila.”
Asisten rumah tangga yang mendengarnya hanya bisa menunduk, melirik Rashid yang berjalan dengan sempoyongan sambil terus meracau.
Rashid kembali melangkah, lalu menggumamkan sesuatu yang membuatnya berhenti untuk kedua kalinya. “Kinara juga begitu. Kenapa … kenapa mereka terus membuatku pusing!”
Rashid menyandarkan bahunya pada dinding, kemudian tertawa hambar. “Semua gara-gara dia.”
Marissa yang sedang duduk di sofa ruang tengah langsung menoleh ketika mendengar suara langkah kaki.
Sejak pulang dari pesta, ia belum benar-benar bisa menenangkan dirinya. Pipinya masih terasa tidak nyaman, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan penghinaan yang dirasakannya ketika Rashid menamparnya di depan puluhan orang.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana semua mata tertuju kepadanya, bagaimana beberapa perempuan berbisik sambil melirik ke arahnya serta tatapan para tamu yang semula bersikap ramah mendadak menjaga jarak setelah pertengkaran itu terjadi dan bagaimana Rashid sama sekali tidak memedulikan perasaannya.
Marissa telah menunggu pria itu pulang karena ingin meminta penjelasan. Ia ingin tahu mengapa Rashid begitu mudah kehilangan kendali. Namun, ketika melihat kondisi suaminya, Marissa langsung menyadari bahwa pembicaraan mereka tidak akan berjalan mudah.
“Rashid? Kau mabuk?!” Marissa sontak menutup hidungnya sendiri. Perutnya tiba-tiba terasa mual mencium aroma alkohol yang begitu kuat.
Pria itu menoleh dengan mata setengah terpejam. “Oh, kau di sini.”
Marissa berdiri, menatap penampilan Rashid yang tampak kacau. “Dari mana saja kau? Astaga, kau sangat bau alkohol. Berapa banyak yang kau minum? Kau membuatku mual!”
Rashid tertawa kecil sambil berjalan mendekati sofa, matanya tampak sayu saat menatap perempuan itu. “Mual? Kau juga membuatku mual. Kau … kau wanita jalang yang tak tahu diri!” racaunya setengah sadar.
Mata Marissa berkilat marah, tetapi tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Ia hanya berdiri mematung di sana, melihat Rashid yang kini tampak menyedihkan.
“Kau … dan wanita itu sama saja. Kalian sama sekali tidak bisa menghargai aku!” maki Rashid. Suaranya terdengar parau.
Rashid masih menatap Marissa beberapa saat sebelum akhirnya jatuh terduduk di sofa.
Bruk!
Marissa menghela napas berat, ia sudah cukup lelah menghadapi sikap Rashid malam ini dan melihat pria itu pulang dalam keadaan seperti sambil meracau tak jelas i membuat kemarahannya kembali memuncak.
“Rashid, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan kepadaku tadi?” tanya Marissa menuntut. Tak peduli apakah pria itu masih bisa diajak bicara serius atau tidak.
“Apa lagi? Apa? Kenapa kau memanggilku? Ha?” racau Rashid tak jelas.
Marissa terdiam sesaat, berusaha menahan emosinya. “Kau menamparku di depan semua orang. Kau mempermalukanku di hadapan para pengusaha dan tamu undangan. Kau tahu bagaimana rasanya ketika semua orang menatapku seolah-olah aku perempuan yang tidak tahu diri?”
Rashid mengusap wajahnya dengan kasar. “Sudahlah, Marissa. Aku sedang pusing.”
“Justru aku yang seharusnya pusing menghadapi semua ini!” bentak Marissa tak tahan lagi. Suaranya mulai meninggi, rahangnya terkatup rapat, matanya yang sembab menatapnya nyalang. “Kenapa kau seperti ini, Rashid? Mengapa kau berubah kasar padaku? Dulu kau tidak seperti ini.”
Rashid tidak menjawab, ia justru menyandarkan kepalanya ke sofa dan memejamkan mata.
Marissa menunggu beberapa saat, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu atau setidaknya memberinya penjelasan. Namun, pria itu malah menggumamkan nama yang membuat tubuhnya seketika menegang.
“Kinara. Jangan pergi. Aku menyesal.”
Marissa termangu, menatap Rashid tanpa berkedip. Ia harap sudah salah mendengar nama, tetapi pria itu terus menyebut nama yang sama.
“Kinara, tunggu!” racaunya lagi sambil menggerakkan tangannya pelan, seperti sedang berusaha meraih sesuatu yang tidak berada di dekatnya. “Jangan pergi dariku. Aku mencintaimu.”
Dada Marissa mendadak terasa sesak, seolah ada ribuan duri yang menghantamnya.
“Setelah semua hal yang kulakukan untukmu. Kau masih saja memikirkannya? Apa sebenarnya keistimewaan Kinara sampai kau tidak bisa melupakannya?”
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.
gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
cm gitu tok gk seru banget.