Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - CEO Resmi
Langkah kaki Sam terdengar bergema lembut di atas lantai marmer hitam berlipat emas di lantai 45 Gedung Norman Corp. Untuk pertama kalinya, Samsudin melangkah bukan dengan sepatu boots karet penuh lumpur, melainkan dengan sepatu kulit buatan Italia yang mengilap sempurna.
Hari ini, di dalam ruang rapat tertutup yang dijaga ketat oleh tim keamanan internal, Sam secara resmi diperkenalkan di hadapan para jajaran direksi eksekutif sebagai Chief Executive Officer (CEO) baru Norman Corp. Kendati demikian, sesuai dengan permintaan tegas dari Sam, identitas visualnya tetap dibuat sangat misterius. Hanya badan eksekutif tingkat atas yang berhak melihat wajah sang ahli waris utama, sementara para karyawan tingkat menengah hingga bawah dibiarkan tidak tahu siapa sosok CEO baru yang selama ini rumornya begitu santer terdengar.
Di dalam ruang kerja seluas lapangan basket yang menghadap langsung ke pemandangan pencakar langit kota, Sam duduk di balik meja kayu mahoni raksasa. Mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap, bahu tegap sang mantan pawang buaya tampak memancarkan aura kepemimpinan yang sangat alami.
Sret... Sret...
Pena emas di tangan Sam menari-nari melintasi lembaran berkas pengesahan proyek bernilai miliaran rupiah. Di sampingnya, Hendra berdiri setia menyodorkan dokumen demi dokumen dengan senyum tipis kepuasan.
"Kinerja yang sangat luar biasa, Mas Sam," puji Hendra seraya merapikan dokumen yang telah ditandatangani. "Semua jajaran direksi sangat terkesan dengan ketegasan Mas Sam mengambil keputusan rapat tadi."
Sam menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menghembuskan napas panjang, lalu melonggarkan sedikit simpul dasinya. Pria tegap itu menatap ke luar jendela kaca besar.
"Pekerjaan kantor ini memang menantang, Mas Hendra..." ungkap Sam dengan suara pelan. "Tapi jujur saja... masih jauh lebih rumit mengurus perasaan saya ke Mbak Tia dibanding mengurus saham triliunan ini."
Hendra menahan tawa pelannya, menyilangkan tangan di depan dada. "Soal pembicaraan kita semalam ya, Mas Sam? Bagaimana? Sudah ada rencana menyampaikan perasaan Mas Sam ke Mbak Tia?"
Sam memegangi pelipisnya, mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi. "Aduh, Mas Hendra... Katanya menyampaikan cinta itu gampang, tapi begitu dibayangkan, rasanya leher saya seperti mau dicekik buaya muara. Saya ini cuma pawang buaya, Mas! Kalau Mbak Tia kaget, terus nolak saya, terus minta putus kontrak dan pergi dari kontrakan... gimana? Saya tidak mau hubungan kita jadi canggung atau retak."
Hendra melangkah mendekat, menatap sang CEO muda dengan pandangan bijak seorang mentor.
"Mas Sam..." ujar Hendra lembut. "Dalam bisnis maupun hubungan, ketakutan terbesar selalu datang dari spekulasi kita sendiri. Mbak Tia itu wanita yang tulus. Dia sudah rela berutang demi mempertahankan harga dirinya dan keluarganya. Pria yang berdiri pasang badan untuknya di saat sulit seperti Mas Sam ini adalah sosok yang sangat dia butuhkan. Saran saya... cobalah sejujurnya. Jujur soal perasaan Mas Sam, dan perlahan jujur soal siapa Mas Sam sebenarnya. Dengan begitu, semua masalah dan kebohongan kecil ini selesai."
Sam terdiam, meresapi setiap kata dari Hendra. Tatapan mata tajam sang pawang buaya memancarkan keraguan sekaligus keberanian yang mulai terkumpul di dalam dadanya. 'Benar kata Mas Hendra... aku harus berani,' batin Sam membulatkan tekad.
Sore harinya, tepat pukul lima sore, Sam melangkah masuk ke dalam gang sempit menuju rumah kontrakan mereka. Ia sudah mengganti setelan jas mewahnya dengan kaus oblong abu-abu dan jins pudar di dalam mobil sebelum turun di ujung jalan. Tas ransel lusuhnya kembali membopong pakaian kerjanya.
Begitu jemari Sam baru saja menyentuh gagang pintu kayu kontrakan...
Sret!
Pintu terbuka lebar dari dalam sebelum Sam sempat mengetuknya.
Tia berdiri di ambang pintu. Namun, belum sempat Sam mengucapkan salam, Tia tiba-tiba memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher tegap Sam! Wanita itu memeluk Sam dengan begitu erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami kredit.
Sam membeku seketika di tempat. Napasnya tertahan di tenggorokan, matanya membelalak lebar. Jantung sang miliarder rahasia berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh brutal.
"M-Mbak Tia?!" bisik Sam gagu, tangannya menggantung kaku di udara, tak berani menyentuh pinggang Tia. "A-ada apa ini?!"
Tia melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya masih memegangi kedua lengan kekar Sam. Mata Tia yang sedikit berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata Sam dengan pandangan penuh haru, simpati, dan rasa bersalah yang amat dalam.
"Mas Sam..." suara Tia bergetar lirih. "Aku... aku sudah tahu semuanya."
Seketika itu juga, seluruh aliran darah di tubuh Sam serasa berhenti mengalir! Wajah tampan sang CEO baru seketika memucat pasik bagaikan mayat hidup!
'Mati aku!' batin Sam menjerit histeris. 'Mbak Tia sudah tahu kalau aku pewaris Norman Corp?! Dia tahu aku bohong selama ini?! Hendra yang bocorkan atau ada wartawan yang melihat aku keluar dari mobil mewah?!'
Keringat dingin mendadak membasahi pelipis Sam. Bibirnya gemetaran hendak menyusun kata-kata maaf dan alibi. "M-Mbak Tia... dengarkan aku dulu... aku bisa jelaskan—"
"Mas Sam tidak perlu jelaskan apa-apa lagi!" potong Tia dengan senyum penuh keharuan, mengusap lengan Sam lembut. "Aku sudah tahu kenapa Mas Sam kemarin menolak bayaran lima ratus ribu dan menolak mengakhiri pernikahan kita... Aku sudah tahu kalau Mas Sam itu... pengangguran juga seperti aku!"
Krik... krik... krik...
Suara imajiner jangkrik serasa bergema di dalam kepala Sam. Kening Sam berkerut dalam-dalam, matanya berkedip dua kali secara lambat. "Hah?! Peng... pengangguran?!"
"Iya, Mas Sam!" cetus Tia dengan mata berbinar-binar penuh kepastian, merasa analisis teka-tekinya seratus persen akurat. "Tadi sore aku datang ke kebun binatang mau kasih kejutan! Tapi Mas Mamat bilang kalau Mas Sam sudah resign dari minggu lalu! Posisi Mas Sam bahkan sudah digantikan sama dua anak magang baru!"
Tia memegangi tangan Sam erat-erat, matanya menatap Sam dengan kepasrahan yang begitu manis. "Kenapa Mas Sam tidak mengaku saja dari kemarin kalau Mas Sam kena PHK atau dipecat juga? Kenapa harus pura-pura tegar dan pergi pagi-pagi buta seolah-olah masih kerja?! Mas Sam tidak usah malu sama aku! Kita kan sekarang senasib!"
Sam berdiri mematung bagaikan patung garam di ambang pintu. Mulutnya menganga kaku. Otak bijak pimpinan perusahaan bernilai triliunan rupiah itu mendadak mengalami system crash total!
Bukannya terbongkar sebagai miliarder, ia malah dituduh sebagai sesama pengangguran yang tidak punya masa depan!
"M-Mbak... aku... itu..." gagap Sam, lidahnya mendadak kelu luar biasa.
Di satu sisi, Sam ingin meluruskan kesalahpahaman konyol ini. Namun di sisi lain, melihat bagaimana matanya Tia berbinar-binar penuh rasa empati, kasih sayang, dan kehangatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Sam mendadak menjadi sangat kaku dan mati kutu. Ditambah lagi, kenangan akan perasaannya sendiri, bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada wanita di hadapannya ini, membuat seluruh syaraf di tubuh Sam lumpuh total.
"Tapi kenapa Mas Sam resign dari kebun binatang?" tanyakan Tia lembut, memiringkan kepalanya dengan pandangan penuh selidik yang perhatian. "Apa Mas Sam di-PHK juga gara-gara krisis? Atau ada masalah sama atasan Mas Sam?"
Sam menelan salivanya yang terasa sekeras batu. Ditatap sedekat itu oleh wanita yang sangat dicintainya, dengan genggaman tangan yang begitu hangat, ketegasan sang penakluk buaya menguap tanpa sisa.
Karena bingung setengah mati harus menjawab apa dan tak sanggup menyusun alibi baru di bawah tekanan pesona istrinya, Sam akhirnya menganggukkan kepalanya secara pasrah dan kaku.
"I-iya, Mbak Tia..." cicit Sam dengan suara memelas yang terpaksa mengiyakan. "Aku... aku kena PHK juga..."
Tia tersenyum sangat manis, mengusap bahu tegap Sam penuh kehangatan. "Tuh kan, benar tebakanku! Sudah, Mas Sam tidak usah sedih lagi. Mulai besok, kita perjuangkan hidup ini berdua sebagai tim! Kita cari kerja bareng-bareng, atau kita bisa bikin usaha bareng!"
Sam hanya bisa mengangguk-angguk pasrah bagaikan boneka pajangan.
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄