Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Malam itu, di dalam kamar utama rumah utama keluarga Balindra yang senyap, waktu seolah berhenti bagi Aurelia. Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan, napas keduanya perlahan-lahan kembali teratur setelah badai gairah yang melanda mereda. Grayson menarik tubuh Aurelia lebih dekat ke dalam dekapan dadanya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di lekuk lehernya yang bidang. Jemari kokoh sang suami dengan sabar menyisir helai rambut hitam panjang Aurelia, memberikan kelembutan yang sangat kontras dengan sisi beringas yang ia tunjukkan beberapa saat lalu.

Aurelia memejamkan matanya, merasakan degup jantung Grayson yang berketukan di balik kulit dada pria itu. Rasa lelah, malu, dan canggung masih bercampur aduk di benaknya. Namun, ada satu perasaan baru yang mulai menyusup secara perlahan ke dalam relung hatinya—sebuah rasa aman yang aneh, tumbuh di tempat yang seharusnya menjadi penjara paling menakutkan baginya.

"Tidurlah, *Wife*," bisik Grayson serak, mengecup puncak kepala Aurelia dengan penuh kepemilikan. "Besok kau tidak perlu terburu-buru bangun. Hari ini cukup melelahkan untukmu."

Aurelia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan kantuk yang teramat sangat mengambil alih kesadarannya, hingga akhirnya ia terlelap dalam pelukan hangat pria yang telah mengubah jalan hidupnya selamanya.

 

Hari-hari berikutnya di rumah utama keluarga Balindra berjalan dalam sebuah ritme yang kaku namun terstruktur. Tinggal di kediaman besar yang hanya diisi oleh segelintir pelayan setia di bawah pengawasan Pak Darma membuat Aurelia merasa hidup di dalam dimensi yang terisolasi dari dunia luar. Setiap pagi, Grayson memastikan ia sarapan dengan cukup sebelum mengantarnya langsung ke gerbang SMA Tunas Bangsa dengan mobil *sport* hitam kesayangannya—sebuah gestur posesif yang secara sengaja dipamerkan kepada seluruh warga sekolah agar tidak ada lagi yang berani mendekati sang nyonya muda.

Di sekolah, Aluna dan Aruna menjadi satu-satunya tempat sandaran bagi Aurelia untuk bernapas lega. Kedua sahabat setianya itu selalu memastikan Aurelia baik-baik saja, meskipun mereka tidak pernah lagi membahas urusan ranjang atau detail pernikahan rahasia itu terlalu dalam, menghargai batasan dan tekanan psikologis yang sedang ditanggung oleh Aurelia.

Hubungan Aurelia dan Grayson sendiri, di balik pintu tertutup rumah utama, mengalami pergeseran yang unik. Grayson tidak pernah lagi menggunakan kekerasan fisik atau amukan beringas seperti hari pertama di vila pinggiran kota. Sebaliknya, pria itu memperlakukan Aurelia bagaikan permata paling berharga—penuh perhatian dalam diam, namun tetap dibalut dengan kontrol mutlak dan batasan-batasan ketat yang tidak boleh dilanggar. Setiap malam, ritual sentuhan-sentuhan intim yang memuja tubuh Aurelia selalu berulang; sebuah candu bagi Grayson dan siksaan manis yang perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan terakhir sang gadis.

Hingga pada suatu sore di akhir pekan, cuaca di Kota Samarinda mendung menggantung, membawa angin sepoi-sepoi yang menyejukkan halaman luas rumah utama.

Aurelia sedang duduk di perpustakaan pribadi Grayson di lantai dua—sebuah ruangan luas dengan deretan rak buku klasik dari kayu mahoni yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit. Gadis itu tengah membuka-buka buku catatan pelajarannya ketika pintu kayu berderit pelan terbuka.

Grayson melangkah masuk mengenakan kemeja putih berlengan yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon bisnis dengan salah satu rekan manajerial perusahaannya. Begitu melihat Aurelia duduk manis di dekat jendela besar, sorot mata *amber* yang tajam itu melunak seketika.

"Belum selesai dengan tugas sekolahmu, *Wife*?" tanya Grayson dengan suara baritonnya yang tenang, berjalan mendekati meja baca dan menarik kursi di sebelah Aurelia.

Aurelia mendongak, menutup buku catatannya pelan. "Sedikit lagi. Minggu depan ada Ujian Tengah Semester, aku harus mempersiapkannya dengan baik."

Grayson mengangguk pelan. Jemari tangannya terulur, merapikan beberapa helai rambut Aurelia yang jatuh menutupi kening, menyisipkannya dengan lembut ke belakang telinga sang gadis. Sentuhan sederhana itu membuat aliran darah Aurelia berdesir hangat.

"Jangan terlalu memforsir dirimu," ucap Grayson lembut. "Apapun nilai yang kamu dapatkan, itu tidak akan mengubah posisimu di sini. Kamu sudah menjadi milikku, dan tidak ada yang bisa mengubah itu."

Aurelia menggigit bibir bawahnya, menatap manik mata sang suami yang memancarkan ketulusan bercampur obsesi. "Grayson... apa kamu tidak lelah terus-menerus mengawasiku seketat ini? Rasanya seperti hidup dalam sangkar emas yang tidak punya pintu keluar."

Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Grayson terhenti sejenak. Rahang pria itu sedikit mengeras, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ia meraih tangan mungil Aurelia, membawanya ke dalam genggaman telapak tangannya yang hangat.

"Aku tidak merasa terbebani, Aurelia," jawab Grayson rendah, suaranya terdengar begitu berat dan menghanyutkan. "Dunia luar... dunia di luar gerbang rumah ini penuh dengan kepalsuan, pengkhianatan, dan orang-orang yang siap menghancurkan apa pun yang mereka inginkan. Seperti orang tuaku dulu... mereka meninggalkan tempat ini demi kebahagiaan egois mereka sendiri, membiarkanku tumbuh di antara dinding-dinding dingin tanpa ada tempat untuk pulang."

Aurelia terpaku. Ia kembali teringat cerita Bi Lastri tentang masa kecil Grayson yang kesepian.

Grayson menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia, seolah ingin menenggelamkan jiwa gadis itu ke dalam kedalaman perasaannya. "Tapi sejak kamu datang ke dalam hidupku... rumah ini akhirnya bernapas, Aurelia. Kamu adalah satu-satunya alasan mengapa aku merasa hidup. Jadi, jangan pernah minta aku untuk melonggarkan penjagaan ini, karena membiarkanmu lepas dari pandanganku sama saja dengan membiarkan hidupku mati untuk kedua kalinya."

Kata-kata itu meluncur begitu tulus, penuh luka masa lalu dan kepemilikan yang mendalam, membuat pertahanan emosional Aurelia runtuh seketika. Rasa iba, rasa sayang, dan beban takdir melebur menjadi satu di dalam dadanya. Tanpa sadar, Aurelia mengulurkan tangan bebasnya, menyentuh rahang tegas Grayson dengan lembut, mengusap pipi pria itu perlahan.

"Aku tidak akan pergi, Grayson..." bisik Aurelia parau, memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Aku di sini. Bersamamu."

Mendengar pengakuan itu, seulas senyuman kemenangan yang sangat indah terbit di bibir Grayson. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan; ia menarik tubuh Aurelia mendekat, mengangkatnya dari kursi, dan mendudukkan sang gadis langsung di atas pangkuannya.

"Terima kasih, *Wife*," bisik Grayson tepat di bibir Aurelia, sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh rasa terima kasih, kepemilikan, dan gairah hangat yang perlahan membakar sore hari itu di dalam dekapan sang suami iblis yang telah menyerahkan seluruh jiwanya pada satu-satunya gadis di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!