Seorang gadis bernama Sasya yang parasnya menawan mampu membuat pria mana pun menggilainya.
Di suatu ketika dunia menghancurkan kebahagian Sasya, kedua orangtua Sasya meninggal karena mengalami kecelakaan mobil. Hidup sebatangkara tanpa kasih sayang kedua orangtua tidaklah mudah, tetapi Sasya beruntung mempunyai dua sahabat yang sayang padanya.
Sasya telah menamatkan kuliahnya dan mulai bekerja. Sasya bertabrakan di koridor Rumah Sakit dengan seorang pria muda arrogant, saat itu pun peralatan medis yang Sasya bawa terjatuh semua dari genggaman tangan, tanpa belas kasihan pria tersebut tidak sama sekali menolongnya. Kepribadian yang cuek dan dingin Sasya semakin di gilai dengan pria. Profesinya sebagai perawat harus menanggung resiko ketika para kaum hallo dek sedang menggoda.
Mempunyai teman rasa kakak semasa kecil sangat seru bukan?
Tetapi teman kecil Sasya menghilang tanpa kabar di saat Sasya berumur 6 tahun.
Follow ig: @_pink.colour03
Untuk lihat cast di novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pink colour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sticky Note
Menggelengkan kepala. "Kagak njir, gw enggak ada cewek." Seraya meneguk segelas kopi.
"Come on, move on bro. Michale itu sampah buat lo," ucap Vito.
"Lo mungkin enggak pernah cerita ke-kita kalau lo sebenarnya udah HS¹ sama Michale, makannya masih terngiang-ngiang, rindu jatah mantan," ledek Kevin menaikan satu alisnya seraya meneguk bir di hadapan-nya. Adit memesan beberapa alkohol untuk mereka yang sudah berada di tengah meja.
"Wah, Kevin, Kevin, lo kalau ngomong suka benar," sambung Rama seraya tertawa renyah seraya menggenjreng asal senar gitar.
"Setan lo berdua gw sundut rokok, ya." ancam Dito. "Lo coba lihat Luke, modelan anak-anak polos mana mungkin dia HS ngerusak cewek-nya, dia kan enggak sangbrut kayak lo pada." Dito membela Brydean seraya menuangkan whisky ke dalam gelas kecil atau bisa di sebut sloki.
"Gw enggak munafik bro, tapi mantan gw yang ngajak." Rama membela diri. "Gw yakin lo semua enggak munafik kalau cewek lo yang nawarin, apalagi masih belum tersentuh." Menyeringai menatap ke-enam teman-nya.
"Kita udah jaga nafsu, eh cewek kita yang mancing nafsu, untung enggak bablas tekdung," sambung Adit menghembuskan asap rokok.
"Kalau bablas, lo langsung jadi papah muda Dit. Keren kayaknya, terus lo di coret dari ahli waris." ledek Rama seraya tertawa terbahak-bahak yang di sengaja itu pada Adit.
"Asu lo, Ram." Menoyor kepala Rama yang berada di samping-nya.
"Btw, lord kita Luke adik-nya gede nih, masa di anggurin. Gw sewain cewek virgin buat lo HS malam ini." tawar Danny. Brydean terlihat menyeringai.
"Luke doang? Kita mau lah, Dan," ucap Kevin dengan memasang raut wajah memelas.
"Bro ganti topik, mulai panas topiknya. Gw jadi sangbrut²," ucap Rama mengusap tengkuk-nya.
"Parah Ram, tadi lo sambil imajinasi-in mantan lo yang goyangnya di ranjang aduhai. Pantas, kan mantan lo itu kan bekas pakai orang makan-nya pro." Dito tertawa renyah.
Rama ikut tertawa renyah. "Iya anjir, gw kira dia masih perawan, ternyata--"
"Los dol," ucap kompak mereka ber-tujuh di iringi tertawa renyahnya. Mereka bebas berbicara tanpa memikirkan orang lain di cafe karena Danny menyewa cafe tersebut, tetapi Adit yang membayar makanan juga minuman-nya.
"Bro, jadi ceritanya gw punya sekretaris tapi baperan," ucap Brydean mengalihkan topik.
"Naomi baperan emang?" Rama terheran dengan raut wajah serius.
"Luke, kenalin gw sama Naomi dong," sambung Kevin seraya menaikan satu alis.
"Bowleh, lima puluh, cuaks." ledek Vito. Kevin langsung ingin menyundut lengan Vito dengan rokok-nya.
Menggelengkan kepala. "Bukan Naomi, Naomi pindah tugas di Surabaya." Membuka bungkus rokok-nya yang ternyata habis dan mengkode pada Vito untuk memberi sebatang rokok.
"Ya tuhan gw LDR sama Naomi." melas Kevin. Vito melihat miris Kevin yang sedang halu.
"Terus sekretaris lo, sekarang siapa? Boleh kali buat gw," ucap Adit.
Brydean menunjukkan foto. "Ini sekretaris baru gw."
Merebut ponsel Brydean. "Enggak ngotak lo, spek bidadari lagi. Wait tapi enggak asing kayak modeling internasional yang lagi vakum," ucap Danny.
"Memang iya dia Sasya, gw jadiin sekretaris biar dia vakum dari jual ke indahan lekuk tubuhnya." Membakar rokok-nya. "Hebat kan gw." Menyeringai.
Mengerutkan dahi. "Dapet dari mana lo? Gw besok ke kantor lo buat nemuin Sasya," ucap Kevin tersenyum sumringah.
"Dih, lo tadi halu sama Naomi, sekarang mau genit ke Sasya?" ketus Dito yang hendak mengambil gitar Rama untuk memukul Kevin. Tampak Kevin pun sontak kaget dan ketakutan. Karena Dito hanya menggeretak mem-bercandakan saja.
"Speechless gw, tapi gw juga nanti kapan-kapan mau kekantor lo buat bisnis. Ini beda Luke, bisnis." Vito dengan raut wajah meyakinkan dengan menekankan ucapan-nya.
"Bisnis berkedok lo." ketus Kevin menatap dengan tatapan tajam.
"Kenapa pada rebutan cewek woy? Gw pawangnya, inget yang udah punya cewek di larang gatel." Brydean memisahkan mereka yang mulai gaduh.
"Tolong hargai gw, Rama dan Luke yang masih jomblo buat di kasih kesempatan nge-gatel sama Sasya," ucap Kevin memohon.
"Lanjutin Luke cerita lo, mereka yang lain anggap aja setan," sambung Danny yang sedikit kesal.
Meneguk segelas kopi-nya kembali. "Menurut lo Dan, gw kadang suka kekang dia tapi sejauh tiga bulan terakhir ini masih bisa ditoleransi sama dia, tapi untuk hari ini dia benar-benar kacau pergi cabut dari kantor," ucap Brydean debgan wajah serius-nya menatap Danny.
"Bentar, maksud ngekang lo gimana?" Danny yang bingung.
"Lo tau lah, gw bos, gw punya peraturan," jawab Brydean dengan teman yang lain-nya masih bising rebutan Sasya.
"Sasya kadang suka melanggar peraturan." Mengusap rokok, tiba-tiba teman yang sedang ribut pun mulai menyimak percakapan Brydean dengan Danny.
"Maklum, Sasya ngga ada basic jadi sekretaris jadi dia belum paham," sambung Adit. Mereka semua mendadak sedang dalam mode serius.
"Nikahin aja Luke kalau dia enggak nurut, gw yakin belum kesentuh cowok lain," Vito seraya cengengesan.
"Lo kayak enggak tau aja cewek gimana, bro. Mereka makhluk yang sulit di mengerti." Menggelengkan kepala. "Kalau lo kekang terus dia juga jadi risih akhirnya ngambek, enggak peka sih lo," ucap Kevin meneguk segelas whisky.
"Masalahnya dia mau balik ke event modeling-nya terus gw enggak izinin akhirnya dia cabut dari kantor." Menghembuskan napas panjang seraya memainkan pemantik.
"Asli sih, gw aja yang jadi CEO nya deh. Biar Sasya falling love sama gw. Gw jamin enggak bakal ada drama ngambek." Dito yang ke-pede-an seraya menaikan satu alis.
"Saran gw Luke, biarin aja dia sendiri dulu. Dia belum bisa menyesuaikan diri-nya sekarang, masih on progress," ucap Vito menepuk bahu Brydean.
...⚘⚘⚘...
Di sisi lain...
Selepas pulang dari kantor Alma ke cafe yang sudah biasa ia kunjungi dengan Sasya, selepas mereka membuat janji temu. "Alma." sapa Sasya menghampiri saat Alma sedang mencarinya.
"Hi, Sya." mereka pun berpelukan. "Gw tau pasti lo mau cerita tentang Brydean ya?" tebak Alma.
Sasya pun menarik tangan Alma dan terduduk di kursi cafe. "Gw mau resign aja, Al," ucap Sasya dengan raut wajah capek-nya memandangi Alma.
"Wait, lo pesen minuman kayak biasa kan?" tanya Alma karena pelayan menghampiri mereka. Sasya menjawab dengan anggukan.
Menggenggam tangan Alma. "Untuk saat ini gw cuman punya lo doang, Quira, Nita sama Noami jauh. Gw butuh seseorang yang benar-benar dengar cerita gw, di hadapan gw."
"Hmm, sini." Alma reflek memeluk Sasya. "Lo wanita kuat kok, kan ada gw di sini, lo bisa cerita apa aja yang lo mau." mengusap lembut rambut Sasya.
Sasya melepas pelukan-nya. "Al, jujur sama gw, lo sebenarnya nyaman enggak sama direktur eksekutif baru?" tanya-nya penasaran.
"Jujur, sama pak Nico lebih santai, tapi kan keadaan udah beda jadi kita harus bisa menyesuaikan," ucap bijak Alma. "Gw saranin lo jangan resign, karena menurut gw lo bawa dampak positif buat semua staff di kantor dan yang pasti pak Brydean juga jadi banyak berubah dari sebelum-nya."
"Emang sebelumnya Brydean kenapa?" heran Sasya.
"Dulu pas sebelum Naomi jadi sekretaris, pak Brydean arrogant, dingin, engga peduli sekitar, ketat dengan aturan-nya yang di buat sendiri, kadang gw suka lihat Naomi di marahin kalau salah sedikit." Menatap penuh Sasya.
Mengerutkan dahi. "Sekarang beda-nya apa Al? Kayak sama aja."
"Sekarang sifatnya lebih baik dari sebelumnya." menarik senyum di wajah-nya.
"Gw benci sama dia Al, gw selalu harus nurut apa kata dia. Pokoknya di kekang." Menghembuskan napas panjang seraya menyilangkan tangan di dada.
"Ya udah kalau lo capek, lo bisa resign, Sya. Keputusan ada di tangan lo, gw selalu dukung apa yang terbaik." Menarik senyum di wajah-nya.
"Terimakasih, Al." Sasya langsung memeluk Alma dengan erat.
...⚘⚘⚘...
Pukul 00.00 WIB
Terdengar suara bell rumah yang di tekan berkali-kali dengan terus menerus sampai-sampai terbangun dari tidurku. Aku bergegas menuruni tangga dan membuka pintu. Lihatlah siapa yang sedang bersandar tidak berdaya di depan pintu. Itu adalah Brydean. "Heran kok dia punya kunci gerbang rumah gw, secara kan pak Badri itu izin keluar dari jam delapan malam," gumam Sasya dengan raut wajah kebingungan.
Tiba-tiba mbok Ani datang menghampiri. "Teman nona sakit, ya." cemas mbok Ani melihat Brydean tergeletak begitu saja di depan pintu. "Tadi mbok bukain gerbang karena teman nona tekan bell gerbang, kata-nya ia ingin bertemu, nona." jelas mbok Ani.
Menganggukkan kepala. "Oalah gitu, ya udah mbok makasih, ya." Menarik senyum di wajah. "Boleh tolong saya angkat dia ke kamar tamu?" Sebisa mungkin mereka mengangkat Brydean dan berakhir memanggil satpam komplek untuk membantu.
"Terimakasih mbok, maaf menggangu waktu istirahatnya." mengusap bahu-nya.
"Iya nona tidak apa, mbok permisi, ya." mbok Ani pergi meninggalkan mereka.
Aduh sakit badan gw, ngangkat manusia yang berat dosa. Aku sambil melakukan peregangan. "Ckkk, dia ngapain sih kerumah gw. Bikin gw susah aja lo, mana bau alkohol lagi," gumam kesal-ku. "Gw tinggalin atau enggak ya? Nanti kalau misalnya ternyata dia sakit gimana? Ah bingung dasar nyusahin gw lo." Aku pun mengambil laptop di kamar, lalu bergegas kekamar tamu lagi. Netflix menemani kegabutan-ku.
"Sasya..." Seseorang memanggil dan membangunkan tidurku, ternyata aku ketiduran di sofa saat streaming drama. Aku membuka mataku seseorang duduk di lantai menghadap tepat ke wajahku. Sontak terkejut saat Brydean tepat di hadapan wajahku.
"Sasya badan gw panas, coba pegang dahi gw." Brydean sontak meraih lenganku untuk meraba dahi-nya.
Aku berdecak kesal. "Kan kemarin saya bilang pak, minum obat-nya, ngeyel sih jadi drop lagi kan." kesal-ku. "Ya udah bangun, jangan duduk di lantai dingin." Aku memapah Brydean ke tempat tidur. "Gw ambil termometer dulu, sekalian mau bilang bunda." cemas-nya.
"Jangan njir, bunda nanti mikir anak-nya penyakitan." Brydean menaikan nada bicara-nya satu oktaf seraya menarik tangan Sasya yang hendak beranjak pergi.
"Lah, kenyataan-nya memang anak-nya sakit kenapa harus lo marah sih?" Rasa ingin menangis di bentak Brydean langsung masuk ke hati.
Brydean sadar raut wajah Sasya berubah. "Maksud gw tuh, gw akhir-akhir ini sering sakit biasanya gw enggak pernah sakit." menghampiri Sasya dengan nada bicara-nya yang lembut saling berhadapan menatap-nya penuh.
Menghembuskan napas panjang. "Ya udah, gw enggak bilang ke bunda. Sebenarnya penyakit itu datang karena diri sendiri, makan-nya kalau di bilangin suruh minum obat nurut bisa?" Dengan tatapan mengunci.
"Fine, gw akan nurut, nah sekarang lo rawat gw." Menarik senyum manis-nya di wajah tampan.
Asli, gw baru lihat dia senyum lebar kayak gitu, senyum-nya manis banget bikin suasana tenang dan ceria. "Sebentar, ya." Beranjak pergi dari kamar tamu.
Setelah semua tindakan sudahku beri. "Sekarang istirahat yang cukup juga rutin minum obat, nanti saya bantu pantau kok." Menaiki selimut Brydean. Aku pergi mengambil sebuah baju di meja sofa kamar. "Tapi ganti baju dulu ya, soalnya baju-nya bau alkohol," Men-jembrengkan baju distro oversize berwarna putih.
"Emang cukup Ca?" Seraya memegang baju tersebut.
Mendudukkan badanku di tepi ranjang samping Brydean. "Cukup kok pak, ini baju oversize saya." mencocokkan baju tersebut ke badan Brydean. "Soalnya ini dulu pernah di pakai sekali, cuman kebesaran," jelas Sasya.
"Baju lo atau baju pacar lo?" ucap datar Brydean menegaskan kembali.
"Baju saya." tegasku seraya membantu Brydean mendudukkan badan. "Pusing enggak?" cemasku. (Karena terkadang ketika bangun dari berbaring yang cukup lama, pasti akan terasa pusing, jadi harus di tanyakan pada pasien mengalami pusing atau tidak).
Brydean menggelengkan kepala langsung membuka baju-nya, aku sudah bersiap untuk memakaikan baju gantinya. "Bentar ca, gw mau mandi dulu, ya," ucap Brydean menahan tangan Sasya, mengurungkan niat saat Sasya ingin memakaikan baju ganti.
"Jangan dulu, enggak boleh !!!" larangku.
"Ca kita harus kekantor, lihat udah jam delapan." Arah bola mata Brydean melihat jam dinding yang berada di kamar tersebut.
Se-ngambis apa sih lo sama kerja Brydean, sampai lo belum pulih aja harus kerja. "Apa sih? Lo lagi sakit, diam aja di sini istirahat. Gw aja yang kekantor." nada suaraku naik satu oktaf.
"Gw udah sehat Ca, sumpah." Brydean menatap Sasya memohon berusaha untuk meyakinkan.
Bola matanya indah banget, sejuk di pandang. "Oke, tapi jangan lupa diminum obat, ya." Menarik senyum di wajahku.
"Thank's." tersenyum, lalu membangunkan diri. "Gw mau ambil baju ganti dulu di mobil." Membangunkan diri.
"Biar gw aja yang ambil !!!" larangku. "Mana kunci mobil-nya?" tanganku sudah mengadah dengan kepala mendongak melihat betapa tinggi-nya Brydean di hadapan sedangkan aku hanya terduduk. "Jadi lo sekarang mandi, gw yang ambil, nanti gw taruh di atas tempat tidur terus gw juga mau siap-siap." sedikit dosa mata sih, sixpack dia di depan wajah gw, mau enggak ngelihat tapi di depan mata gw. Menelan lidah kasar.
"Kunci mobil ada di dalam, semalam gw tinggal enggak di cabut, pakaian ganti-nya ada di bagasi." Brydean mengusap lembut rambut Sasya dan berlalu dari hadapan-nya seraya tersenyum.
Aku terdiam saat apa yang Brydean lakukan padaku, seketika jantungku berdetak begitu kencang. Inget enggak boleh baper, Brydean itu cowok redflag. Melihat Brydean ingin memasuki kamar mandi Sasya pun bergegas mengambil pakaian ganti di mobil.
Selepas Sasya selesai bersiap ia langsung kembali ke kamar tamu. Seperti biasa tidak lupa untuk mengetuk pintunya terlebih dahulu, lalu masuk. Aku melihat Brydean pun sudah siap dengan jasnya yang sedang membelakangiku. "Pak, saya bantu pakaikan dasi." Berjalan menghampiri-nya.
Brydean membalikkan badan. "Gw hari ini enggak pake kemeja, Ca." ternyata Brydean memakai baju distro Sasya yang berwarna putih, sangat match dengan setelan jas dan celana formal berwarna navy. "Gw bolehkan pinjem baju lo?" tanya-nya seraya mengusap baju yang tengah di pakai.
"Iya, pakai aja, pak." Aku menarik senyuman.
"Ca, Ipad di kantor atau di bawa kerumah?" tanya Brydean seraya membawa kemeja yang tidak terpakai tersebut. Kami bersama keluar dari kamar tamu.
Aku mengeluarkan Ipad dari dalam tas. "Saya bawa pulang ke rumah." Aku pun langsung membuka schedule Brydean hari ini.
"Obat gw yang tadi jangan lupa di bawa," ucap-nya seraya berjalan keluar rumah.
Seketika aku langsung inget perjuangan shubuh-shubuh ngambil obat di apartment Brydean. "Ohhh iya lupa, sebentar." Berlari menuju kamar tamu. Setelah obat terbawa aku bergegas untuk menuju garasi, tentu melewati Brydean yang memarkirkan mobil-nya tepat di halaman depan rumahku, lebih tepat lagi tidak jauh dari pintu utama. Terlihat ia tengah menyemprotkan perfume dengan wangi semerbak kalem bikin candu sampai dari jarak jauh pun sudah tercium aroma khas perfume Brydean.
"Ca, lo mau kemana? Kan bareng gw," panggil Brydean yang melihat Sasya hendak menuju garasi.
Aku menghampiri Brydean. "Saya yang mengemudi, ya, pak."
"Jangan, gw aja !!!" jawab datar Brydean.
...⚘⚘⚘...
Sesampai-nya lobby kantor Sasya memeriksa kembali schedule Brydean hari ini. "Ca, gw ada perjalanan bisnis besok?" ucap Brydean seraya mereka berjalan.
"Kalau enggak salah lusa pak, eh tapi sebentar." Sasya terhenti dari membuntuti Brydean untuk mengecek schedule.
Brydean tersadar Sasya tidak membuntutinya dan ia pun langsung menghampiri Sasya. "Ketemu enggak?" Melihat Sasya sedang meng-scroll schedule.
Sasya pun menemukan schedule tersebut. "Ketemu, pak." Sasya pun langsung menunjukkan-nya pada Brydean. "Berarti nanti sepulang kerja saya kerumah bapak untuk packing." Menatap Brydean seraya tersenyum.
"Ca, lo belum sarapan kan, gw izinin keluar sekarang buat sarapan, sekalian tolong beliin gw pomade." Brydean mengeluarkan black card dan menarik tangan Sasya agar langsung di genggam-nya.
"Enggak usah pak, saya masih bisa beliin bapak pomade kok," Sasya mengembalikan black card Brydean.
Brydean menolak black card-nya. "Pilih untuk enggak sarapan atau sarapan tapi pakai card saya?" tegas Brydean. "Sana cepat saya tunggu !!!" ucap datar-nya.
Sasya hanya bisa pasrah dan menghembuskan napas panjang. "Baiklah." Berhubung gw sangat lapar jadi mau gimana lagi selain pasrah.
...⚘⚘⚘...
Selesai sudah pekerjaan hari ini yang cukup melelahkan. Sasya sedang cepat membereskan barang-barang yang berserakan di meja kerja. "Gw harus cepat nih, pasti sepuluh menit lagi Brydean keluar dari ruangan terus gw nanti di ajak langsung kerumah-nya, gw harus pulang duluan." Menulis catatan di sticky note.
...⚘⚘⚘...
Sasya membaringkan badannya seraya melakukan peregangan di atas ranjangnya. "Wah, gila sih ini, gw balik kayak di kejar-kejar debt collector." menghembuskan napas panjang. "Bersih-bersih setelah itu sholat terus langsung ke rumah Brydean, kira-kira gw di omelin enggak, ya?" bingung Sasya seraya membangunkan diri berjalan menuju kamar mandi.
...⚘⚘⚘...
Lihatlah aku jauh dari kata modis dan elegant hanya memakai setelan piyama pendek. Aku menekan bell rumah Brydean, seseorang pelayan di rumah Brydean membukakan pintu. "Hi bi, Brydean ada?"
"Ada nona, tuan sepertinya di gaming room," jawab ramah pelayan tersebut seraya tersenyum.
Aku menarik senyum di wajah. "Terimakasih."
"Sama-sama nona, saya permisi." Pelayan tersebut membungkuk dan berlalu pergi.
Dengan perasaan gemetar dan jatung berdetak kencang, berjalan mencari Brydean seraya menelan ludah kasar. Khawatir Brydean akan mengamuk perihal tadi sore.
Note:
¹HS: having s*x
²sangbrut : s*nge brutal
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍
📖 Selamat Membaca 📖