Derana adalah seorang perempuan yang tidak pernah jatuh cinta pada lelaki pertama, ayahnya. Namun sosok itu digantikan lelaki kedua bernama Restu. Bahu Restu selalu siap menjadi tempat keluh kesahnya, namun ternyata semesta berkata lain, lelaki itu hanya mencintai Dera sementara.
Perceraian ibu dan ayah memaksa Dera pergi menjauh. Hidup dengan suasana baru, tanpa lelaki satupun. Kedua perempuan itu selalu membawa lukanya kemanapun.
Namun semesta punya caranya tersendiri untuk menghibur kedua perempuan yang ditinggalkan lelakinya itu. Arghi lelaki sempurna yang mencintai Dera dengan sepenuh hatipun datang dan menghiburnya meski hanya melalui pesan. Benua yang memisahkan raga tapi tidak memisahkan cinta mereka.
Kepergian ayah untuk selamanya membuat Dera dan ibu kembali ke kota kenangan, di sana Dera bertemu Restu yang kembali menyatakan perasaannya. Apakah Dera sudah benar-benar melupakan Restu? atau hanya menjadikan Arghi sebagai pelampiasan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pameswari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arghi
Beberapa minggu telah berlalu, tepatnya 6 minggu. Dera menjalani harinya dengan penuh kejutan disetiap pagi. Mulai dari sekotak jarum pentul hingga sebungkus bubur ayam kesukaannya yang selalu ada di pintu depan menyambut paginya yang indah. Semua kejutan itu datang dari lelaki yang tidak pernah putus asa.
Dera sudah pernah bilang padanya bahwa ia merasa tidak enak dengan semua kejutan itu dan Arghi hanya memohon supaya ia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya perjanjian berakhir dengan kejutan yang ingin Arghi berikan tidak memiliki harga yang cukup tinggi, tidak ada kejutan dihari selasa dan kamis juga kejutan akan berakhir di minggu keenam. Tepat minggu ini kejutan pagi itu akan berakhir.
Perjanjian yang sangat unik, Arghi menyetujuinya karena merasa bahwa apa yang Dera katakan adalah benar, kalau kejutan itu diberikan setiap hari mungkin akan ada kejenuhan, kebosanan dan juga kehabisan ide untuk memberikan kejutan lagi, meskipun sebenarnya Arghi tidak akan pernah merasa kehabisan ide untuk membuat Dera tersenyum. Walaupun sebenarnya Dera tidak lagi terkejut saat melihat kotak di depan pintu nya diminggu kedua.
"Minggu ini kejutannya berakhir Ra," ucap Arghi dengan wajah yang terlihat sedih.
"Syukurlah."
"Kenapa Ra? Kamu kok gak sedih sih?"
"Ya kan kamu tahu kenapa."
"Ya gimana Ra, aku selalu merasa ketagihan melihat senyummu di pagi hari Ra."
"Padahal aku gak senyum lagi di minggu ketiga."
"Tetap aja, aku suka liat kamu selalu keluar di jam tujuh pagi dan gak pernah melesat sekali pun, bahkan dihari selasa dan kamis."
"Itu karena aku harus menyiram bunga ibuku."
"Dan bunga pemberian ku kan Ra?"
Dera hanya mengangguk pelan dan tersenyum malu dengan pandangan orang lain yang memperhatikan mereka berbicara di dalam angkot.
Arghi selalu ingin mengajak Dera untuk pergi bersamanya menggunakan sepeda motor, tapi Dera tidak pernah menerima ajakannya itu, ia lebih nyaman pergi ke kampus dengan naik angkutan umum.
Untuk memastikan Dera dalam keadaan yang baik, Arghi selalu menghampiri Dera di rumahnya saat pagi, dan meninggalkan motornya di rumah Dera, supaya bisa ikut naik angkutan umum bersama perempuan yang ia cintai itu.
Awalnya memang Arghi merasa bahwa Dera hanya seperti perempuan lainnya yang bisa ia dapatkan hanya dengan memberikan bunga dan menanyakan kabar setiap malam, tapi ternyata Dera adalah perempuan yang berbeda. Ia memiliki satu buah tahi lalat yang sama persis dengan almarhumah kakaknya dibawah dagu.
Dari hal sederhana itu, Arghi melihat Dera seperti ia sedang memperhatikan kakaknya yang sudah tiga tahun lalu pergi meninggalkannya.
Arghi memiliki ayah dan bunda yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan hari libur juga tidak membuat Arghi bisa bertemu dengan orang tuanya. Sejak kecil ia banyak menghabiskan waktu dengan kakaknya yang terpaut lima tahun lebih tua darinya dan selalu melindunginya saat Arghi dibully oleh orang yang lebih tua darinya. Entah apa yang membuatnya dirundung, tetapi Arghi memang tidak memiliki banyak teman saat sekolah.
Selain tahi lalat, Dera juga memiliki sifat peduli dengan orang-orang disekitarnya terutama pada mereka yang berada di garis kekurangan. Sama persis dengan kakaknya yang memiliki yayasan untuk membantu pendidikan anak-anak yang tinggal di bawah kolong jembatan.
Saat menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan, Dera memperagakannya dengan gerakan tubuh yang sama persis dengan kakak Arghi lakukan. Saat melihat sosok kakaknya hadir dalam tubuh Dera, Arghi melupakan niatnya untuk menjadikan Dera seperti perempuan lainnya yang ia permainkan.
Kemiripan tahi lalat dan sikap Dera lah yang membuat Arghi memutuskan untuk selalu memberikan kejutan setiap pagi kepadanya. Arghi merasa bersalah saat kakaknya memintanya untuk memberikan kejutan kepada anak-anak asuh kakaknya, ia tidak menurutinya dan hanya sibuk berpacaran dan permintaan itu menjadi permintaan terakhir kakaknya sebelum pergi meninggalkannya sendiri.
Pacar yang ia berikan waktu penuh hingga mengabaikan permintaan kakaknya itupun pergi meninggalkannya dengan lelaki lain yang terlihat lebih mapan darinya.
Masa lalu yang cukup jelas mengapa Arghi suka mempermainkan perempuan dan mengistimewakan Dera begitu dalam.
Sosok kakaknya seperti hadir dalam raga Dera yang tegar dan mengubah pandangannya mengenai perempuan yang meninggalkannya.
"Ra, udah move on dari Restu?" tanya Arghi membuat Dera membulatkan matanya.
"Pertanyaan apa ini? Tiba-tiba banget."
"Jawab aja Ra."
"Belum," Jawab Dera singkat.
"Kenapa? Kan aku selalu nemenin kamu tiap hari?"
"Aku gak pernah minta kamu ngelakuin ini semua kan ghi? Kenapa kamu minta yang aneh-aneh dari aku?"
"Aku gak minta Ra, cuma tanya."
Dera turun dari angkutan itu tanpa memperdulikan omongan Arghi.
"Dera," Panggil Arghi yang ikut menyusul di belakang Dera.
Arghi memegang tangan Dera memintanya menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Arghi, aku belum bisa lupain Restu sepenuhnya, tapi bukan berarti aku mau mainin kamu, aku juga usahain perasaanku samamu, tapi memang belum. Kalau kamu capek yaudah berhenti, gak perlu usaha sejauh ini lagi."
Arghi melepaskan kepergian Dera mulai hari itu. Arghi mulai merasakan kejenuhan dengan apa yang ia jalani dengan Dera. Ia tahu semua keinginan Dera dan semua masa lalunya, tapi enam minggu tampaknya terlalu sulit dilanjutkan. Mungkin benar apa yang dikatakan Dera, apa yang terlalu dikejar di awal akan terasa lelah di pertengahan jalan. Makanya perlu perlahan supaya tetap bertahan hingga tiba di ujung jalan.
"Woy bro, lo kenapa lesu gitu? Dan tumben-tumbenan nongkrong di sini, gak ke rumah Dera?" ucap Hanif sambil menepuk bahu Arghi.
"Capek gue Nif."
"Halah baru juga sebulan, cemen lu."
"Enam minggu lebih tepatnya."
"Eh iya? Tumben banget lama? Biasanya dua minggu udah jadian," ejek Hanif.
"Apaan sih lu, bukannya ngasih solusi malah ngeledekin gue."
"Emang kenapa dia belum mau nerima elo?"
"Belom move on."
"Seganteng apa sih Restu? Kok lama banget nih cewek lepas dari dia."
"Kalau soal ganteng, gue jauh di depan Yamaha, tapi soal kenangan mungkin gue belum ada apa-apa nya."
"Kenangan anjing maksud lo? Selingkuh dia itu, balikan lagi sama mantannya yang ternyata adalah sahabatnya sendiri."
"Ya tetep aja gak ada yang bisa ngatur cinta bro."
"Iya juga sih."
Tongkrongan itupun senyap meski sudah didatangi pelawaknya. Arghi adalah sosok periang yang suka mengibur teman tongkrongannya. Padahal selama beberapa minggu ini ia sangat jarang datang ke basecamp karena kebucinannya pada Dera. Namun meskipun begitu, temannya paham betul dengan apa yang dilakukan Arghi, karena Arghi memang sedang menemukan sesuatu yang berbeda dari Dera.
Memang benar apa yang dikatakan Arghi, bahwa cinta memang tumbuh sendirinya dan akan mati pada waktunya. Tidak ada yang bisa mengendalikan dan mengaturnya.
semangat........mksh