Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak yang Tidak Mau Belajar

Reyhan bangun lebih pagi dari biasanya, jauh sebelum alarm ponselnya berbunyi. Ia sudah menyusun rencana untuk Dimas semalam, tapi ada satu hal yang belum dia putuskan: kapan dan bagaimana dia harus mendekat, tanpa membuat Dimas merasa diintai atau dihakimi.

Ia memutuskan tidak akan menunggu jam pelajaran. Kalau Dimas selalu tertidur di kelas dan langsung kabur begitu bel pulang berbunyi, artinya pendekatan lewat ruang kelas tidak akan pernah efektif. Ia harus mendatangi Dimas di "jalurnya" sendiri warung ayahnya, sore hari, setelah sekolah selesai.

Tapi pagi itu, sebelum semua rencana itu dijalankan, dia harus melewati satu jam pelajaran dulu bersama kelas XI-C yang masih riuh seperti biasa.

Dimas, seperti biasa, tertidur di bangku tengah begitu pelajaran dimulai. Kali ini Reyhan tidak membangunkannya dengan teguran keras seperti hari-hari sebelumnya.

Ia hanya berjalan pelan ke arah bangku Dimas, meletakkan selembar kertas kecil di atas mejanya bukan surat peringatan, bukan teguran tertulis, hanya sebuah pertanyaan sederhana yang ditulis tangan

*"Warung Pak Wibowo itu punya kamu, ya? Nanti sore aku mampir boleh?"*

Dimas, yang sebenarnya setengah sadar meski matanya terpejam, membuka mata begitu membaca kertas itu. Ia menoleh ke Reyhan dengan raut wajah campur aduk kaget, curiga, dan sedikit waspada, seperti orang yang baru sadar rahasianya sudah diketahui orang lain.

"Bapak tau dari mana?" bisiknya, cukup pelan supaya tidak ada teman sekelas yang dengar.

"Kebetulan lewat aja kemarin," jawab Reyhan singkat, lalu kembali ke depan kelas seolah tidak terjadi apa-apa.

Sore harinya, setelah bel pulang berbunyi dan sebagian besar murid sudah menghilang dari gerbang sekolah, Reyhan berjalan menuju arah warung Pak Wibowo, tempat yang sudah dia kunjungi diam-diam beberapa hari lalu.

Dari kejauhan, dia melihat Dimas sudah sibuk menata kursi plastik, persis seperti yang dia lihat sebelumnya cekatan, terbiasa, jauh berbeda dari sosok mengantuk di kelas.

Begitu melihat Reyhan mendekat, Dimas sempat kaget, hampir menjatuhkan kursi yang dia bawa. "Pak Reyhan beneran dateng?"

"Kan udah janji," jawab Reyhan sambil tersenyum, lalu ikut membantu menata kursi tanpa diminta.

Seorang pria paruh baya keluar dari dalam warung, mengenakan celemek lusuh yang sudah banyak noda minyak. Itu Pak Wibowo, ayah Dimas.

Ia menatap Reyhan dengan curiga sebentar sebelum Dimas buru-buru menjelaskan, "Ini guru baru di sekolah, Pak. Guru pengganti."

"Oh, guru," ujar Pak Wibowo, nadanya sedikit lega meski masih terdengar lelah. "Maaf ya kalau anak saya suka ngantuk di kelas. Dia bantu-bantu di sini tiap sore sampai malam."

"Nggak apa-apa, Pak. Saya justru mau nanya, boleh saya bantu-bantu juga sore ini?" tanya Reyhan, mengejutkan baik Dimas maupun ayahnya.

Pak Wibowo tertawa kecil, mengira itu basa-basi. Tapi Reyhan benar-benar menggulung lengan bajunya, ikut membantu menyusun meja, mengelap kursi, bahkan membantu Dimas memotong bawang di dapur kecil sempit di belakang warung.

Sambil bekerja, Reyhan mulai mengobrol santai bukan soal pelajaran sekolah, tapi soal warung. "Ramai nggak, biasanya?"

Dimas mengangkat bahu. "Lumayan, Pak. Tapi ya gitu-gitu aja. Nggak pernah rame banget. Kadang malah rugi kalau bahannya kebanyakan disiapin terus nggak abis."

"Coba deh, hari-hari biasa jam berapa paling rame?"

Dimas berpikir sebentar. "Jam makan malam, sih. Sekitar jam tujuh sampai sembilan. Siang gitu sepi, cuma orang lewat doang."

Reyhan mengangguk-angguk, dan tanpa sadar otaknya mulai bekerja seperti dulu waktu dia menyusun rute pengantaran paling efisien mencari pola, mencari celah yang bisa dimanfaatkan. "Kalau gitu, kenapa nggak buka lebih siang aja buat jual sarapan juga? Daerah sini kan deket sekolah, banyak yang lewat pagi-pagi."

Dimas terdiam sebentar, seperti baru kepikiran hal itu untuk pertama kalinya. "Bapak saya sih maunya fokus jualan malam aja, Pak. Katanya udah capek kalau harus buka dari pagi."

"Nggak harus buka penuh dari pagi kok. Coba aja jual gorengan atau nasi bungkus simpel buat sarapan, taruh di depan aja, nggak perlu masak berat. Modal kecil, tapi lumayan buat nambah pemasukan."

Dimas menatap Reyhan dengan tatapan yang berbeda dari biasanya bukan lagi tatapan curiga seperti pagi tadi, tapi tatapan seseorang yang mulai penasaran.

Malam itu, sambil membantu bersih-bersih setelah warung ramai pengunjung makan malam, Reyhan akhirnya menyinggung soal sekolah, dengan cara yang jauh lebih santai dibanding kalau dia bertanya langsung di kelas.

"Capek ya, sekolah pagi terus lanjut bantu jualan sampai malam?"

Dimas mengangguk pelan, menyeka keringat di dahinya. "Capek, Pak. Kadang pengen bolos aja sekalian, tapi Bapak marah kalau saya nggak sekolah."

"Nilai kamu gimana di sekolah?"

"Jelek, Pak. Terutama matematika. Bingung mau belajar kapan, tiap pulang sekolah langsung bantu-bantu di sini sampai malam."

Reyhan berpikir sejenak, lalu mengambil selembar kertas nota bekas dari meja warung. "Coba deh, ini kan kamu tadi jual nasi goreng modal delapan ribu, jual dua belas ribu, kan? Kalau dalam semalam laku tiga puluh porsi, untungnya berapa?"

Dimas menghitung cepat di kepala. "Seratus dua puluh ribu, Pak."

"Nah, itu udah persentase untung. Coba dihitung persennya."

Dimas mengerutkan kening, mencoba menghitung, sedikit kesulitan. Reyhan membimbingnya pelan-pelan, tanpa terasa seperti pelajaran matematika formal lebih seperti obrolan biasa antara dua orang yang sedang menghitung untung warung. Butuh beberapa menit, tapi akhirnya Dimas berhasil menemukan jawabannya sendiri.

"Lima puluh persen, Pak!"

"Nah, itu dia. Itu namanya persentase keuntungan. Besok di kelas, itu yang bakal kita bahas. Kamu udah paham duluan malah."

Dimas tersenyum kecil senyum yang belum pernah Reyhan lihat sepanjang beberapa hari mengajar di kelas XI-C.

Reyhan pulang malam itu dengan langkah lebih ringan dari biasanya. Ia membuka layar holografik sistem sebelum tidur, memeriksa progres misi seperti rutinitas barunya.

> [Progres Misi: 0/5 murid mencapai target kenaikan nilai.]

> [Sisa waktu: 3 hari.]

Angkanya belum berubah, tapi entah kenapa Reyhan tidak lagi merasa cemas seperti sebelumnya.

Dia tahu, perubahan nilai di atas kertas mungkin belum terlihat, tapi sesuatu yang lebih penting sudah mulai bergerak malam ini Dimas, untuk pertama kalinya, terlihat penasaran, bukan sekadar mengantuk dan ingin cepat pulang.

Ia menutup layar holografik itu, lalu menulis satu baris kecil di buku catatannya

*Dimas jangan ajarin di kelas dulu. Ajarin lewat warung.*

Besok, giliran Nadia.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!