Indonesia
NovelToon NovelToon
Disastrous Impact

Disastrous Impact

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Mengubah Takdir / Perperangan / Elf / Penyeberangan Dunia Lain / Chicklit
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marthavia

Hari dimana Umat Manusia berada diambang kehancuran akhirnya tiba. Dunia diserang oleh makhluk-makhluk mengerikan yang dikenal sebagai “Pembawa Malapetaka dan Sovereign.”

Di tengah keputusasaan, muncul 8 pahlawan yang dipercaya sebagai harapan terakhir umat manusia. Salah satunya adalah Via, seorang gadis muda yang harus memikul tanggung jawab besar demi menyelamatkan dunia.

Namun dibalik takdirnya sebagai penyelamat, tersimpan sebuah pertanyaan besar :
apakah Via benar-benar akan menjadi harapan bagi umat manusia... atau justru berubah menjadi ancaman terbesar bagi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 : Hari Itu.

Setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Mira, aku menjadi sangat syok. Pikiranku saat itu sudah bercampur aduk karena peristiwa ini.

“Bagaimana mungkin tubuhku bisa pulih, padahal Tombak-ku juga sudah berbentuk crystal lagi.” -Ucapku dalam hati.

Lalu aku melihat kearah Hua dan Elysia dengan tatapan putus asa. Kemudian Hua memutuskan untuk berjalan kearahku dan memelukku.

“Maaf Via, aku benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku juga tidak berbohong soal aku yang tidak merawat dirimu tadi.” -Yu Huan

Aku-pun meneteskan air mata dan menangis tanpa suara di pelukan Yu Huan. Setelah beberapa menit menangis, aku langsung melepaskan pelukan itu dan mengatakan kepadanya kalau aku akan pergi ke Laboratorium sekarang juga untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku.

Sesaat sebelum pergi, aku menoleh kearah Mira dan melihat dirinya sedang menangis sembari membangunkan Kurza.

“Hua, apa kamu ingin ikut sekalian untuk pulang?” -Aku

Yu Huan menolak dan beralasan kalau dirinya harus membantu para korban yang berada di Australia.

“Apakah yang lain ingin ikut pulang juga?” -Teriakku

Mereka semua hanya diam dan aku menganggap kalau itu penolakan. Lalu aku langsung membuka portal menuju ke Singapura dan pergi tanpa mengucapkan apapun.

Sesampainya didepan Laboratorium, aku langsung masuk tanpa melihat sekitarku. Didalam aku langsung bertemu dengan Tuan Enzo yang sedang berbicara dengan seorang lelaki.

“Bukankah kamu harusnya ada di Australia?” -Ucapnya dengan kaget.

“Ada urusan yang gawat, jadi aku harus pulang lebih cepat.” -Aku

Aku-pun pergi ke ruangan dimana subjek tes dilakukan. Sebelum pergi, aku menoleh ke belakang dan berkata kepada Tuan Enzo.

“Kalau soal Pembawa Malapetaka Ke 5 tenanglah. Dia sudah dibunuh oleh Kurza beberapa menit yang lalu.” -Aku

Kemudian aku segera pergi menuju ke sana. Sesampainya di sana aku melihat ada Nona Mizuki yang sedang merapikan beberapa dokumen.

“Via!? Kok bisa kamu disini? Apa yang terjadi?” -Mizuki

“Sebenarnya....” -Aku

Aku-pun menceritakan semua yang telah terjadi di Australia. Aku menceritakan hal itu sembari menangis, lantaran apa yang baru saja terjadi sangatlah tidak masuk akal.

“Nona Mizuki, tolong periksa tubuhku. Aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi kepada tubuhku.” -Aku

“Baiklah...” -Ucapnya dengan nada sedikit ragu.

Aku-pun melepaskan pakaianku dan sesaat sebelum aku masuk ke tabung itu, aku melihat beberapa peneliti pria memasuki ruangan ini. Entah mengapa tatapan mereka seakan-akan menunjukkan rasa senang.

Lalu aku berbicara kepada Nona Mizuki terlebih dahulu untuk menjaga Clara sedikit lebih lama lagi. Kemudian aku langsung masuk kedalam tabung itu dan memakai alat pernafasan didalam tabung itu, lalu akhirnya kesadaranku menghilang.

...Dua Hari Setelahnya....

Saat ini aku masih berada didalam tabung itu. Selama berada di tabung, sudah banyak hal yang terjadi tanpa sepengetahuanku.

“Huh... huh.... huh....”

Malam itu Mizuki berlari kencang seakan-akan sedang menghindari sesuatu. Peristiwa itu terjadi di sebuah jalanan yang sepi.

“Oi... Mizuki, Jangan lari dong.” -Teriak seorang lelaki.

Mizuki terus berlari kencang dan semakin kencang.

“Aku tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati!!” -Mizuki

Kemudian dari arah depan Mizuki muncul sebuah cahaya terang.

“Tuan, wanita itu ada disini!” -Teriak seorang lelaki.

Kemudian Mizuki mengeluarkan sebuah Pistol dan hendak menembak kearah pria itu. Akan tetapi Mizuki tertembak terlebih dahulu olehnya.

Mizuki tertembak tepat di pundak kanannya dan ia langsung berlutut. Lalu suara langkah kaki terdengar dari belakang Mizuki. Sosok seorang pria berjalan perlahan dan muncul dihadapan Mizuki.

“Kau pikir dirimu dapat lolos?” -Enzo

Mizuki hanya bisa berlutut lemas dan pasrah dengan apa yang akan menimpanya.

“Kenapa?! Kenapa kau melakukan hal seperti ini, Enzo?” -Teriak Mizuki.

“Tentu saja demi bisnis. Kau pikir aku rela mengeluarkan uang triliunan hanya untuk menciptakan seorang pahlawan tanpa adanya timbal balik?” -Enzo

Kemudian Enzo mengulurkan tangannya kearah Mizuki.

“Ini kesempatan terakhirmu. Jika kau ingin hidup, maka raihlah tanganku.” -Enzo

Mizuki sedikit ragu, namun ia akhirnya mengangkat tangannya dan hendak meraih tangan Enzo. Sesaat sebelum meraih tangannya, Mizuki langsung tersenyum dan langsung menyerang Enzo menggunakan Pisau yang telah ia sembunyikan di kaos kakinya.

*Bang*

Suara tembakan terdengar dan Mizuki langsung tersungkur. Mizuki tertembak tepat di kepalanya dan ia langsung tidak bergerak.

“Ternyata itu pilihanmu ya. Sayang sekali, temanku.” -Enzo

Kemudian Enzo dan bawahannya pergi meninggalkan jasad Mizuki yang tergeletak di tempat itu.

Sesaat sebelum Mizuki menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat meneteskan air mata.

“Anak-anak, maafkan aku ya. Via... Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkanmu.” -Mizuki

Keesokan harinya anak-anak yang lainnya mengetahui berita tentang Mizuki yang mati dibunuh oleh seseorang. Lalu mereka semua pulang ke Singapura dan menghadiri pemakaman Mizuki.

Mereka semua menangis, bahkan Satou sangat dendam dengan orang yang membunuh Mizuki. Saat itu aku masih berada didalam tabung untuk menjalani pemeriksaan, dan aku tidak mengetahui hal ini.

Lalu mereka semua dipindahkan oleh Tuan Enzo untuk bertugas ke beberapa negara. Clara juga diajak tinggal bersama dengan Mira, lantaran Mira sudah tidak mempercayaiku untuk merawat Clara. Elysia dan Adam dikirim ke China. Mira, Kurza, dan Clara dikirim ke Rusia. Yu Huan dikirim ke Batam, Satou dan Eleona dikirim ke India.

...3 Hari Kemudian...

Kini aku-pun terbangun di sebuah kasur. Aku melihat tubuhku sedang diselimuti dan tidak mengenakan busana sedikitpun. Aku-pun bangun dan bersandar di kasur itu sembari memegangi kepalaku.

“Apa yang telah terjadi...?” -Aku

Kemudian aku mencoba mengingat hal yang telah terjadi. Aku-pun ingat kalau aku meminta Nona Mizuki untuk memeriksa tubuhku karena telah terjadi hal aneh terhadapku. Lalu aku memperhatikan sekitarku dan hanya ada air putih dan beberapa pakaian yang ada di meja.

Lalu saat aku hendak membuka selimut ini dan pergi mengambil pakaian itu, aku merasa ada yang mengalir di perutku.

“....!!”

Benar... Hal ini terjadi lagi kepadaku. Aku tidak tau siapa yang melakukannya, dan juga kenapa orang itu sangat tega melakukan hal ini.

Aku langsung membersihkan cairan itu dan pergi memakai bajuku. Setelah itu aku pergi dari ruangan ini dan mulai mencari keberadaan Nona Mizuki. Selama beberapa menit aku berjalan di lorong dan akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita.

“Anu, apakah kamu tau dimana Nona Mizuki berada?” -Aku

“Kamu Via ya...?” -Tanya wanita itu.

“Benar, ada apa memangnya?” -Aku

“Pantas saja kamu tidak tahu. Tenang dan dengarkan aku ya. Mizuki telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu.” -Ucapnya sembari memegang pundakku.

Aku sangat terkejut dan terdiam di tempat itu.

“Aa-apa..? Kamu pasti bercanda kan?” -Ucapku dengan terbata-bata.

“Ikutlah denganku.” -Ucapnya

Kemudian ia mengajakku untuk pergi ke sebuah tempat bersamanya. Aku-pun mengikutinya karena ingin tau apa yang telah terjadi. Kamu berdua menaiki mobil dan menuju ke tempat yang ingin ia tunjukkan kepadaku.

Kami kini tiba di sebuah pemakaman yang tidak jauh dari Laboratorium. Kemudian ia menyuruhku turun dan mengikutinya.

“Kita mau kemana?” -Aku

Wanita itu hanya terdiam dan terus berjalan. Tidak lama kemudian ia berhenti didepan sebuah makam. Aku melihat kearah makam itu dan mengetahui kalau yang ia katakan bukanlah kebohongan.

Lalu hujan deras-pun menguyur tempat ini. Wanita itu meninggalkanku sendirian untuk sementara waktu karena ia tau apa yang harus dirinya lakukan. Aku terdiam menatap makam Nona Mizuki yang ada di depanku.

“Lagi-lagi... Lagi-lagi orang yang kusayangi pergi meninggalkanku.” -Ucapku dalam hati

Kemudian aku menangis dan memukuli tanah yang ada di tempat itu. Didalam derasnya hujan itu aku menjadi sangat sedih, lantaran orang yang kuanggap sebagai orang tua keduaku kini telah meninggalkanku.

Setelah satu jam berdiam disana, aku-pun menyadari kalau kini hari telah menjelang sore. Aku-pun pergi menuju ke tempat wanita tadi berada dan meminta maaf kepadanya karena telah membuatnya menunggu lama.

“Apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu?” -Wanita itu

“Tidak dulu, aku ingin langsung pulang.” -Aku

Selama di perjalanan, wanita itu menceritakan bagaimana pedulinya Mizuki terhadap kami semua. Aku merasa senang saat mendengar kalau Nona Mizuki sampai nekat melakukan apapun demi kami semua bahagia.

“Oh iya, kamu kenal anak kecil bernama Clara? Seingatku dulu dia pernah kutitipkan kepada Nona Mizuki.” -Aku

“Ohh anak perempuan itu ya. Dia dibawa pergi oleh Mira dan Kurza menuju ke Rusia beberapa hari yang lalu.” -Ucapnya

“Loh, jadi anak-anak yang lainnya sudah pulang?” -Aku

“Yap... Tapi setelah pemakaman Mizuki, mereka semua dikirim untuk pergi ke berbagai Negara oleh Tuan Enzo.”

“Begitu ya... Pantas saja aku tidak melihat mereka.” -Aku

Setelah beberapa waktu, Kami akhirnya tiba di Laboratorium. Wanita itu langsung pergi menuju ke dalam Laboratorium, sedangkan aku memutuskan untuk pergi ke taman terlebih dahulu. Aku-pun berjalan menuju ke tempat dimana Aku, Nona Mizuki, dan anak-anak yang lainnya pernah tertidur bersama. Dibawah Pohon itu kami semua tertidur, sampai akhirnya hujan turun dan harus membuat kami pergi.

Setelah beberapa menit di bawah pohon itu, aku-pun pergi menuju ke makam Nia yang tidak jauh dari sini. Saat sedang berjalan menuju ke sana, aku melihat ada seorang wanita yang sedang berjongkok di depan makam Nia.

“Anu... Apa yang sedang kami lakukan?” -Aku

“Maaf, aku sedang mendoakan orang yang dimakamkan disini.” -Ucapnya sembari menoleh kearahku.

Masing-masing dari kami menjadi sangat terkejut saat saling memandang satu sama lain.

“Ma-mamah....?” -Ucapku sembari meneteskan air mata.

“Via...?” -Ucapnya

Aku langsung memeluknya dan menangis dengan kencang. Aku memeluknya dengan keras dan berkeinginan tidak ingin melepaskannya.

“Mamahh.... Mamah...” -Ucapku sembari menangis.

Kami berdua menangis bersama di tempat itu dikarenakan rasa rindu yang sangat mendalam. Beberapa waktu kemudian kami berdua memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang kuhampiri tadi. Aku menceritakan berbagai hal kepada Mamah, begitu juga sebaliknya.

Lalu aku bertanya soal kondisi papahku, namun mamah menjawab kalau ia telah tiada karena suatu penyakit. Aku merasa sedih mendengar hal itu, dan aku memilih melupakannya supaya tidak semakin sedih.

“Oh iya, tujuan mamah kesini adalah untuk membawamu pulang kembali.” -Mamah

“Benarkah!?” -Aku

“Iyah... Mamah akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa membawamu pulang kembali.” -Mamah

Aku menjadi sangat senang saat itu, lantaran aku memiliki kesempatan untuk bisa kembali lagi ke rumah yang telah lama kutinggalkan. Aku sangat tidak sabar bisa hidup lagi bersama dengan orang tuaku.

Lalu aku menceritakan kepada mamahku tentang Clara. Aku menceritakan betapa imutnya Clara dan pintarnya dia, aku juga tidak lupa menceritakan bagaimana aku bertemu dengan Clara. Tentu saja aku tidak menceritakan soal aku yang membunuh beberapa anak kecil itu.

“Ngomong-ngomong, kenapa tubuhmu menjadi seperti dewasa? Bukankah kamu masih berumur 12 tahun?” -Mamah

“Oh... Ini efek samping dari beberapa tes yang aku lakukan. Sebagai gantinya aku mendapatkan kekuatan fisik yang hebat loh.” -Ucapku sembari mengangkat lenganku.

“Begitu ya. Ya yang terpenting saat ini kamu baik-baik saja.” -Mamah

“Mamah mau mengelilingi tempat ini tidak?” -Aku

“Boleh deh, mamah juga ingin tau seluk beluk tempat ini.” -Mamah

Kami berdua berjalan mengelilingi Taman dan Laboratorium pada malam itu sembari mengobrol. Lalu tidak lama kemudian kami tiba di samping Laboratorium dan bertemu dengan Tuan Enzo.

Mamah yang melihat Tuan Enzo langsung berjalan menuju kearahnya. Mamah langsung mengobrol dengan Tuan Enzo, akan tetapi Tuan Enzo seperti merasa kesal terhadapnya.

“Tidak bisa.” -Enzo

“Harganya berapa? Aku akan membayarnya!” -Teriak Mamah.

“Dengarkan aku ******! Aku tidak akan pernah menjual kembali barang yang telah ku beli. Tidak peduli seberapa banyak kau akan membayar!” -Enzo

Aku terkejut mendengar hal itu, dan juga aku tidak mengerti mereka sedang membahas apa. Kemudian mamah mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada Tuan Enzo. Raut muka Tuan Enzo langsung berubah saat itu juga.

“Bajingan... Darimana kau mendapatkannya?” -Enzo

“Wanita bernama Mizuki telah mengatakan semuanya kepadaku. Jika kau tidak ingin hal ini ku sebarkan, maka setujuilah permintaanku.” -Mamah

“Anu... Kalian berdua sedang membicarakan apa?” -Aku

Kemudian mamah menghadap kearahku dan tersenyum.

“Tunggulah sebentar lagi, mamah sedang bernegosiasi dengan Pria ini.” -Mamah

*Bang*

Suara tembakan terdengar sangat kencang tepat di depanku, dan saat itu juga wajahku langsung di penuhi oleh darah.

“Ehh....?” -Ucapku dalam hati.

Aku melihat mamahku terjatuh tepat di hadapanku. Aku-pun menoleh kearah Tuan Enzo, dan ia menodongkan pistol kearah Mamah. Aku langsung berlutut dan melihat kearah mamah.

“Ma-mamah.....?” -Aku

Aku sangat putus asa saat itu. Pikiranku sangat campur aduk, aku juga tidak tahu harus bagaimana.

“Tch... Mengotori bajuku saja. Via, cepatlah masuk kedalam dan bersihkan dirimu! Kamu akan mendapatkan misi setelah ini.” -Enzo

Pandanganku saat ini hanyalah kearah jasad mamahku. Lalu tiba-tiba pandanganku berubah dan aku melihat sebuah tempat yang gelap.

Saat aku sedang putus asa, aku mendengar sebuah langkah kaki dari arah depanku. Aku menoleh kearah depan dan melihat sesosok wanita mengunakan jubah yang tengah berjalan menuju ke arahku. Seketika saat itu juga aku merasa sangat ketakutan. Sosok tersebut semakin dekat denganku, dan nafasku juga semakin terengah-engah.

Sesampainya di depanku, aku langsung menundukkan kepala karena aku merasa sangat takut. Lalu ia berlutut dan melihat wajahku. Saat itu aku melihat wajah sosok itu seakan-akan sedang menangis.

“Wahai pelayanku.... Para manusia itu telah berbuat buruk kepadamu ya.” -Ucapnya

Kemudian sosok wanita itu mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna merah menyala.

“Balaslah perbuatan mereka. Aku akan merestui tindakanmu itu.” -Ucapnya

Kemudian ia menempelkan kristal berwarna merah itu ke dadaku, dan kristal itu langsung masuk kedalam tubuhku. Kemudian beberapa pecahan kristal berwarna kuning muncul tepat didepan kami.

“Ohh sayang.... Baiklah, aku akan memperbaikimu ya.” -Ucap sosok tersebut.

Pecahan kristal itu langsung berubah bentuk menjadi Tombak milikku. Kemudian aku merasa sangat marah, benci, dan ingin balas dendam terhadap manusia. Kemudian aku memegang kelopak mataku dan pandanganku seketika kembali ke dunia nyata.

Lalu aku berteriak dengan sangat kencang. Enzo yang mendengar teriakanku langsung tewas saat itu juga. Sangking kencangnya, teriakanku sampai terdengar ke seluruh Negara dan membuat seluruh listrik padam.

Kemudian aku memanggil Tombak-ku dan langsung mengeluarkan sebuah serangan.

“RENGOKU...!”

Semburan api yang sangat amat besar keluar dari ujung Tombak-ku. Aku mengarahkan serangan itu ke segala arah, dan membakar Negara itu dalam sekejap. Saat itu aku merasa sangat sangat marah terhadap Manusia.

......Disisi Lain......

Yu Huan yang sedang berada di Pulau Batam melihat Singapura yang terbakar oleh api. Ia juga melihat sebuah api yang berbentuk seperti pilar sedang mengarah keatas langit.

Saat ia sedang terdiam melihat hal itu, tiba-tiba dirinya teringat sesuatu.

“Via...!” -Yu Huan

Lalu ia segera menaiki kapal kecil dan pergi menuju ke Singapura. Sesampainya di sana, ia langsung menuju ke pinggir Laboratorium yang dekat dengan laut. Lalu ia langsung mencariku kemana-mana di dalam kobaran api yang panas itu. Namun ia hanya menemukan jasad orang-orang yang sedang terbakar.

Kemudian Yu Huan pergi ke ruang penelitian, namun ia tidak menemukanku di sana. Setelah itu terdengar sebuah ledakan dan suara teriakan yang sangat keras dari arah tengah Kota. Yu Huan langsung berlari menuju ke suara itu dengan cepat.

Sesampainya ia di sana, dirinya melihat sesosok wanita berambut putih, memegang tombak, menggunakan sebuah baju berwarna putih, merah, dan hitam.

“Vi-via...?” -Yu Huan

Aku-pun menoleh kearahnya dengan tatapan yang tajam.

“Ap-apa yang sebenarnya telah terjadi...?” -Yu Huan

1
jawa jawa7
flashback tentang leviel sama ana kah?
jawa jawa7
anjr.. gacor coy 2 chapter ini.. debes
jawa jawa7
Gacor kang... ronde 2 udh mo mulai
jawa jawa7
kapan perang antar iblis ama manusia
jawa jawa7
sebentar amat, chapter yg ini
jawa jawa7
mulai memanas anjrrr
jawa jawa7
update.. episode kali ini terlalu tenang
jawa jawa7
updateeeeee
jawa jawa7
seru nih, dtunggu next updateny /Smile/
jawa jawa7
Updateny jan lama"
jawa jawa7
kaa Update dong...
jawa jawa7
kpan ributny?
jawa jawa7
update lg !!
jawa jawa7
Kentang !!
jawa jawa7
Dtunggu next updateny ya kaa
jawa jawa7
UPDATE COK !!
jawa jawa7
geludny manaaaa
jawa jawa7
bagus!
jawa jawa7
jadi si via dkk itu apa ?
jawa jawa7
sedih:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!