Ayuna dan Ayana terlahir menjadi anak kembar di desa kala itu. Wajah yang mirip namun tidak dengan karakter keduanya. Ayana tumbuh menjadi pribadi yang lebih keras bahkan ia tega dengan saudara kembarnya.
Keduanya tumbuh hingga remaja dengan kasih sayang yang berbeda sebab Ayana begitu pandai memutar balikkan fakta demi mendapatkan semua yang ia mau. Berbeda dengan Ayuna yang selalu mengalah pada sang kakak, Ayana.
Kemiripan mereka bahkan membuat seorang pria dari kota bernama Rangga harus jatuh hati pada keduanya tanpa ia tahu siapa yang sebenarnya ia inginkan. Kemiripan yang sangat sulit untuk ia bedakan membuat pria tersebut sering salah menganggap sosok Ayuna.
Tanpa di sadari, Ayuna dan Ayana juga jatuh hati pada pria yang sama. Sekali lagi, Ayuna harus mendapat tekanan dari sang ayah yang jauh mendukung Ayana untuk bersama dengan Rangga. Dengan segala kelicikannya, Ayana terus memperjuangkan Rangga.
Sanggupkah cinta Rangga dan Ayuna bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Ayah Kritis
“Maaf, aku salah ruangan,” dengan gugup Ayuna bergerak memutar tubuh merasa ia sepertinya salah ruangan. Melihat pria yang sangat tidak ia sukai sejak awal bertemu dengannya tentu saja bukan sebuah kebaikan.
Wanita yang memutar tubuhnya itu membuat sudut bibir Rangga tersenyum samar. Akhirnya waktu yang ia tunggu-tunggu tiba juga. Dengan santainya ia berucap.
“Ini ruangan yang benar, Yuna. Masuklah. Kau akan bekerja bukan?” sahutnya membuat langkah Ayuna terhenti saat itu juga.
Mungkin saja pria itu adalah klien bisnis Bu Putri pikir Ayuna. Sebab jelas yang ia tahu Bu Putri adalah pemilik satu-satunya ruang kerja tersebut.
Lagi pula untuk apa juga ia menghindar, toh tujuannya ke sini bukan untuk pria itu melainkan untuk bekerja.
Rangga tampak acuh dengan Ayuna yang melangkah masuk kembali. Wanita itu sedikit bingung dengan Rangga yang duduk di kursi kerja Bu Putri.
Ia berdiri menunggu sang atasan memberikan perintah. Hingga berapa lama Ayuna berdiri, orang yang di tunggu tak kunjung hadir. Sungguh menyebalkan ketika Rangga justru menggeleng terkekeh melihat Ayuna yang hanya diam.
“Anda bertamu terlalu lancang saya rasa.” ketus Ayuna berucap melihat Rangga dengan santai duduk saja.
Acuh rangga memilih sibuk saja dengan kerjaan yang ia bawa dari kantornya. Pria itu seolah menganggap Ayuna seperti patung saja. Melihat sikap Rangga acuh, Ayuna ingin duduk di sofa, lagi-lagi suara Rangga membuatnya terkejut.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?" Seketika bokong itu urung mendarat di kursi. Ayuna menoleh dan menatap kesal pada pria tampan itu.
"Ini, buatkan aku minuman ini." ujar Rangga menyodorkan sebungkus minuman pada Ayuna dimana wanita itu memutar malas bola matanya.
Ia duduk dan tak menuruti perintah dari Rangga. Hingga sebuah pesan masuk pada ponselnya.
"Nona Ayuna, segera ke rumah sakit. Ayah anda kritis." bukan kepala Ayuna begitu syok mendengarnya. Bukankah semula sang ayah baik-baik saja saat ia tinggalkan.
Sungguh Ayuna tak sadar segera berlari keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun pada Rangga.
"Ayuna! Hei, Ayuna!" teriaknya juga bingung melihat sikap wanita itu yang berlari segera keluar dengan tanpa permisi yang jelas wajahnya jelas Rangga lihat tengah ketakutan luar biasa.
Mendapati kabar sang ayah kritis tentu saja membuat Ayuna begitu sedih saat ini. Dengan air mata yang terus berjatuhan wanita itu berdiri mencari angkutan umum namun begitu sulit ia dapatkan. Memesan online tangannya kesulitan karena gemetar hingga suara dari Rangga membuatnya menoleh.
"Ayo masuklah ke mobilku." pintah pria itu yang membuat Ayuna tak mendapatkan pilihan lain selain patuh.
Buru-buru ia bergegas mengikuti perintah dari Rangga dan mengatakan tujuannya. Di sini Rangga pun bisa tahu apa yang menyebabkan Ayuna pergi buru-buru. Sepanjang jalan wanita itu terus menangis mengusap air mata membayangkan semua hal buruk yang terjadi pada sang ayah.
"Cepat, tolong lajukan mobilnya lebih lagi." pintahnya memohon dengan tangis yang tak bisa di bendung.
Rangga tak berkomentar apa pun selain menuruti perkataannya. Hingga ketika mereka tiba di parkiran rumah sakti, segera wanita itu berlari secepat mungkin menuju ruangan sang ayah. Dimana di sana ada salah seorang perawat yang berdiri menunggu Ayuna.
"Nona Ayuna, anda dari tadi saya panggil mengapa tidak menoleh?" tanyanya yang saat itu juga membuat kening Ayuna mengernyit heran.
smoga slalu up