Menjadi satu-satunya saksi mata sebuah pelecehan seksual di kampusnya membuat Nada shock berat.
Nada Arina putri, Mahasiswi berprestrasi yang sayangnya selalu jadi sasaran bullying teman-temannya tanpa alasan jelas setiap harinya, kini makin menutup diri setelah menyaksikan adegan perbuatan un moral itu depan matanya sendiri.
Kesalamatan dan nyawanyapun terancam sejak detik itu. Hingga ia sama sekali tak berani buka suara. Mengungkap kebenaran.
Namun demi memperjuangkan satu nama, yang mendadak terseret dalam lingkaran kasus ini secara paksa, membuat desakan untuk buka suara dalam hati Nada makin besar. Ia berusaha keras untuk bisa menyuarakan kebenaran dari kasus pelecehan ini. Dan di sinilah benih-benih cinta itu muncul.
Akankah Nada mampu melakukan semua itu??
Atau justru ia akan menjadi korban selanjutnya dari predaror bejat itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canopus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Pukul 08.00 AM
Pagi ini Nada masih tidak bisa percaya dengan apa yang dia temukan dan didengarnya semalam sekalipun itu sudah hal yang pasti. Dan gadis itu tak mungkin salah dengar ataupun halu, karena melihat dengan mata kepalanya, dan ruang dengar sendiri mendengarnya dengan jelas.
Namun dia tetap harus memastikannya sekali lagi di kampus untuk final proof sepulangnya nanti.
"Assalamualakium, morning Nada!" sapa Mada begitu menemukan Nada yang sama-sama baru saja keluar dari kamar.
"Waalaikumsalam. Morning Sir," saut Nada seraya mengangguk sopan.
Diam, mereka berdua berjalan bersama menuju lift untuk turun ke lantai bawah, ke tempat breakfast.
"Lho.. Zulva sama Namira mana, nggak ikut sarapan?" tanya Mada begitu berada dalam lift, dam seoalha baru menyadari absenya dua mahasiswinya tersebut
"Udah turun dari jam 7 tadi Pak. Mereka duluan karena mau jalan-jalan bentar dulu katanya sambil berangkat ke tempat kompetisi,"
"Mereka bilang, udah izin ke Bapak?"
"Ooo... Saya belum cek apa-apa dari pagi. Hp saya of, lagi di charge tadi,"
Percakapan itu terhenti begitu pintu lift terbuka. Mereka berdua langsung masuk ke hall cukup besar untuk jamuan makan. Rupanya bukan mereka sendiri yang baru datang, ada beberapa team yang lolos ke babak semi final yang juga baru muncul di sana.
"Kamu dan yang lainnya semalem bisa tidur nyenyak, kan? Jalan-jalan semalem nggak menggangu jam tidur dan istirahat kalian, kan ya?"
"Nggak Pak. Kalau capek sih, udah pasti,"
"Namira dan Zulva yang heboh ajak hangout langsung tepar dan tidur pules begitu nyentuh bantal. Jam istirahat kita aman semua kok," imbuh Nada.
"Baguslah kalau gitu. Berarti kalian siap tempur hari ini."
Santap pagi berlasung dengan di selingi chit-chat ringan keduanya. Mulai dari cerita soal lawan-lawan Mada Muda kemarin sampai membahas strategi untuk mengahadi team-team lawan mereka nanti. Dan begitu berakhir mereka segera bergegas ke tempat kompetisi.
Semi final serta final round hari ini akan di laksanakan di dua tempat terpisah. Untuk semi final akan diadakan di ruangan yang berada di lantai dua seperti prelim kemarin. Sementara final round diadakan di lantai empat, di hall utama gedung ini lebih tepatnya.
Tak berbeda dengan prelim, Mada Muda kembali jadi team negatif dan yang menjadi lawannya kali ini adalah team dari Australia lagi. Kalau kemarin bisa dikatakan team pelapis, kali ini adalah team inti yang mewakili Negri Kangguru ini.
Setelah first speaker dari masing-masing team beraksi saling melontarkan background dan definisi mosi, terus berlanjut dengan adu argumentasi antara second speaker kedua team, kali ini giliran Nada untuk menumpahkan seluruh rebatle yang sudah ada dan tersusun rapi dalam ruang imaginya untuk makin menyempurnakan argumentasi Zulva sebelumnya tadi.
"As my first speaker has explaned before," tutur Nada di akhir rebatle-nya.
"Bullying that not only happent in school life, but it'a might happent in every section. Bullying just not only about problem person to person, a group with group. That may hapent without reason because there is something wrong in some person."
"I think, the subject of bullying may have mental isu who not solved and they take some one as their emotional target." ucap Nada mengambil jeda.
"It's so be dangerouse. Because this is like devil circel, and will be never end. Some may bully the other because they got some experience how the cruel of bully. They do bullying because they want to take revenge, and it's will be countinue like that if there is no law who care about this isue or the most simple thing and the neares if there no suported by good parenting. It's a some bisg sucsestor for solved this."
"That is all. I rest my case, thanks you," ucap Nada mengakhiri rebatlenya, ia menundukkan kepalanya sebagai penghormatan ke para hadirin sebelum meninggalkan tengah panggung.