Novel dengan bahasa yang enak dibaca, menceritakan tentang tokoh "aku" dengan kisah kisah kenangan yang kita sebut rindu.
Novel ini sangat pas bagi para remaja, tapi juga tidak membangun kejenuhan bagi mereka kaum tua.
Filosofi Rindu Gugat, silahkan untuk disimak dan jangn lupa kasih nilai tekan semua bintang dan bagikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ki Jenggo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Reog dan Avatar Wisnu
"Avatar Wisnu? " tanya Anika dan Ima hampir bersamaan.
"Aku melihatnya demikian," kataku sambil mengangguk.
"Acara Wisnu itu kan banyak, Lantas siapa yang Kakak lihat dalam pementasan Reog tadi?" tanya Pras.
Aku tersenyum.
"Siapa yang berani memakai mahkota merak pada masa agama Hindu?" tanyaku.
"Wisnu, " jawab mereka serempak.
"Reog itu muncul saat agama Hindu apa agama Islam?" tanyaku.
Keempat sahabat itu hanya berpandangan tanpa menjawab pertanyaan.
"Hindu itu mengenal kasta atau tidak. Kalau mengenal kasta tentu berpakaian juga ada aturannya. Masa orang biasa akan berpakaian kayak raja, siapa yang berani. Orang biasa bila meniru pakaian Dewa apakah ada yang berani, bila masyarakat Hindu menghargai kasta, " kataku.
Pras kemudian memandangi dan berkata, Kalau itu aku sepakat. Kenapa sejak dulu aku tidak berfikir tentang itu, ya?"
"Benar, tapi siapa dan avatar Wisnu yang mana?" tanya Anika.
"Sebentar jangan ambisi dulu, saya akan bertanya, dan perlu kalian jawab," kataku.
"Apa, Kak? " tanya Ima dan Anika serempak.
"Para bidadari ini ambisi amat," kata Hengki.
"Anda setuju, nggak dengan kisah petualangan itu pada masa lalu ada?" tanyaku.
"Anggap saja setuju," jawab Pras.
"Oke, itu kita sepakat, ya," kataku.
AAku kemudian berkata pada mereka, bahwa pada masa pewayangan Jawa ada cerita dua tokoh pewayangan bersahabat karib. Keduanya juga di anggap sebagai avatar Wisnu. Mereka adalah Kresna atau Narayana dan Harjuna atau Janaka. Karena saking akrabnya, mereka di ceritakan kelana dan mengembara mencari ilmu kemana saja selalu bersama sama.
"Dahulu pada masa saya masih kecil, di ceritakan oleh bapak bahwa, Harjuna dan Kresna atau Prabu Kresna itu ibarat, suruh lumah lawan kurebe kalau dilihat itu beda warna dan bentuknya. Tapi bila dirasakan itu sama rasanya, " terangku.
"Sebentar lumah lawan kurebe, itu apa artinya?" tanya Pras.
"Daun suruh, itu depan dan belakang beda warna dan bentuk. Tapi kalau di gigit, rasanya sama, " terangku.
"O, begitu," jawab Anika.
Aku mengangguk sambil mengambil sebatang rokok dan aku sulut dalam hisapan di bibirku.
Kemudian aku bertanya pada mereka, "apakah anda juga pernah mendengar budaya gemblak di Ponorogo? " tanyaku.
"Pernah, bahkan Pak Lik saya juga pernah jadi gemblak, " tanya Ima.
"Gemblak adalah sebuah kebudayaan yang tidak bisa di lepaskan dengan Warok Ponorogo. Warok tak bisa diingkari bahwa pernah ada dan berkembang di kota kita tercinta ini. Kenapa para Warok memelihara Gemblak?" tanyaku.
"Kalau cerita orang sih, mereka para Warok kalau bercinta dengan perempuan ilmunya akan luntur," jawab Pras.
"Boleh, tapi sekarang aku akan menggathukkan kisah Warok dengan kekerabatan dari Harjuna dan Kresna bagaikan kebersamaan Warok dan gemblak. Sehingga aku menemukan sebuah pendapat, Laki laki bersama perempuan akan lahir generasi dan Laki laki bertemu laki laki akan lahir strategi, " kataku.
"Ini filsuf banget, " kata Ima.
Kami tertawa bersama.
"Kakak, apakah maksud kakak Kresna dan Harjuna adalah Warok dan gemblak? " tanya Anika.
Aku menggelengkan kepala. Sebab aku tidak memahaminya.
"Nah, lantas apa hubungan avatar Wisnu yang Harjuna dan Kresna itu dengan Reyog?" tanya Hengki.
"Saya tidak menghubungkan Kresna dan Harjuna dengan Reyog tapi dengan Warok. Dan saya berandai andai, Warok yang memang memiliki banyak kekuatan dan daya kesaktian, mungkin memiliki simbul Kresna dan gemblak yang muda bisa jadi simbul Harjuna. Kalau pengandaian saya benar, bisa jadi Warok gemblak adalah Kresna Harjuna, " kataku.
Mereka semua diam, Aku juga hanya tersenyum.
"Reog, saya sebut sebagai avatar Wisnu. Coba lihat sejenak Apakah Reog itu Macan? Wajahnya bagai macan tapi berambut bagai Singa. Badannya adalah manusia, berkaki manusia bertangan manusia. Dan identitas Wisnu dengan Mahkota Merak, " terangku.
Aku menyaksikan reaksi mereka satu persatu. Aku melihat mereka, tanpa bicara dan diam. sepertinya mereka berkeinginan untuk mendengar apa yang akan aku katakan.
"Nara Simha atau yang di sebut Nara singa, adalah bentuk yang ada di reog," ujarku.
"Siapa dan bagaimana Nara Simha, tersebut?" tanya Anika.
"Konon ada sebuah kisah dalam Kitab Purana, yang ada pada masa Raja Asura, dalam akhir jaman kebenaran (satyayuga) seorang Raja bernama Hirayakasipu dia sangat membenci pada semua yang berbau wisnu. Maka dia tidak suka bila ada rakyatnya yang memuja Wisnu. Dia akan tega membunuh pada semua rakyat yang memuja Wisnu," terangku.
"Kenapa dia menjadi pembenci Wisnu?" tanya Ima.
"Dalam kisah di Kitab Purana tersebut, Hirayakasipu sangat benci pada Wisnu karena adiknya Hirayaksa di bunuh oleh salah satu pemuja dan avatar Wisnu, yang bernama Waraha," kataku.
Aku melanjutkan, Dari kejadian tersebut, Raja Hirayakasipu sangat dendam pada avatar Wisnu. Sehingga dengan memaksa dirinya untuk melakukan sebuah tapa brata, agar bisa menjadi manusia yang sakti.
Dalam tapa brata, ia memusatkan semua pemikiran dan batinnya untuk memuja Brahma. Pagi siang dan malam dia memuja Dewa Brahma. Pada cerita tersebut Dewa Brahma berkenan muncul, dan menyuruh Hirayakasipu untuk menyampaikan permohonan atas tapa brata dalam pemujaanya.
Hirayakasipu kemudian meminta hidup abadi dan tak bisa di bunuh. Dewa Brahma tidak berkenan, apa yang di minta oleh Hirayakasipu. Dewa Brahma meminta pada Hirayakasipu, untuk meminta permohonan lain.
Aku berhenti sejenak, untuk mengunyah jajanan yang disajikan oleh Anika.
"Menarik sekali ceritanya, lantas apa yang di minta kemudian oleh Raja Hirayakasipu?" tanya Ima.
Aku tersenyum, :Hirayakasipu meminta kesaktian," ujarku.
"Apa kesaktiannya yang di minta? " tanya Pras.
Aku menyambut kata Pras, Bahwa Hirayakasipu meminta pada Dewa Brahma. Dirinya jadi sakti yang tidak bisa dibunuh pada waktu siang atau malam, di luar atau di dalam rumah, tidak bisa di lukai dan di bunuh oleh pusaka apapun, tidak bisa di bunuh oleh manusia, hewan ataupun Dewa. Tidak bisa di bunuh di darat, di air, di api, di udara.
"Permintaan itu tentu tidak di kabulkan oleh Brahma, kan. Karena seperti abadi," kata Hengki.
Aku menggelengkan kepala.
"Lantas?" tanya Anika.
"Permintaan Hirayakasipu di kabulkan oleh Brahma," Jawabku.
"Jadi sakti, nih, si Raja Hirayakasipu," tanya Pras.
Aku pun menjelaskan karena kesaktian yang semacam itu maka Dia sangat semena mena terhadap pemuja Wisnu. Tapi keluarga dari Raja Hirayakasipu menjadi pemuja Wisnu.
"Wah dia bermusuhan dengan keluarganya, " sambut Anika.
Aku mengangguk, pada kisah selanjutnya Saat Raja Hirayakasipu meninggalkan rumah untuk memohon berkah. Ada para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra menyerang istana rumahnya.
Saat ada penyerangan dari Dewa itulah, Lilawati yang merupakan istri dari Raja Hirayakasipu, yang tak berdosa itu diselamatkan oleh Batara Narada.
"Kemudia istri Hirayakasipu, Lilawati yang sedang hamil, melahirkan anaknya. Anak itu kemudian di beri nama Prahlada," kisahku.
"Wah, seru ceritanya, " kata Ima.
Aku mengangguk dan bercerita, bahwa Prahlada dididik oleh Batara Narada.
mari terus saling mendukung untuk seterusnya 😚🤭🙏
pelan pelan aku baca lagi nanti untuk mengerti dan pahami. 👍
bantu support karyaku juga yuk🐳
mari terus saling mendukung untuk kedepannya