Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — JEJAK KAKI DI SAWAH
Pukul empat pagi, aku terbangun oleh suara langkah kaki di luar gubuk.
Awalnya, kukira hanya suara seseorang yang melintas di pematang. Namun, setelah mendengarkan beberapa saat, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Langkah itu terdengar pelan dan berat. Bukan derap kaki petani yang terburu-buru menuju sawah sebelum matahari terbit. Ada bunyi gesekan teratur setiap kali kaki menapak lumpur, seolah orang itu mengenakan alas kaki yang keras.
Aku membuka mata sepenuhnya.
Atap gubuk masih meneteskan air sisa hujan semalam. Udara dingin merayap melalui celah dinding bambu, sementara cahaya bulan yang tersisa hanya mampu menerangi sebagian lantai tanah.
Di sampingku, Segara masih berbaring dengan pakaian petani yang kusam. Baju putihnya telah berubah kelabu akibat debu lumbung. Di dekat tangannya tergeletak buku catatan kulit kambing yang kami temukan sehari sebelumnya.
Aku menahan napas.
Langkah itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
“Gusti,” bisikku sambil menyentuh bahunya. “Bangun. Ada orang di luar.”
Segara langsung membuka mata.
Tidak ada pertanyaan panjang. Ia bangkit, meraih obor bambu di sudut ruangan, lalu mendekati pintu dengan gerakan hati-hati. Wajahnya masih tampak lelah, tetapi tatapannya telah berubah. Dalam sekejap, sosok petani yang tertidur setelah seharian bekerja menghilang. Yang tersisa adalah seorang kaisar yang terbiasa membaca bahaya sebelum orang lain menyadarinya.
“Jangan keluar,” katanya pelan.
Aku menatap punggungnya.
“Kalau orang itu sedang melakukan sesuatu terhadap sawah, kita tidak boleh membiarkannya pergi begitu saja.”
Segara menoleh. Sorot matanya memperingatkanku agar tidak membantah.
Namun, aku sudah meraih obor kecil yang biasa digunakan Mbok untuk menyalakan tungku.
“Aku tidak akan mendekat tanpa alasan,” kataku. “Aku hanya ingin melihat dari pematang.”
Ia tampak tidak menyukai jawabanku. Meski begitu, setelah mendengar langkah di luar menjauh ke arah utara, Segara akhirnya membuka pintu.
“Berada di belakangku. Jangan bertindak sendiri.”
Aku mengangguk.
Lalu kami keluar ke udara pagi yang menggigit.
***
Embun masih menempel pada rerumputan. Lumpur dingin menyusup di sela-sela jari kakiku, membuatku spontan mengangkat tumit beberapa kali. Segara berjalan tanpa alas kaki, sama sepertiku. Tidak ada jubah kebesaran, tidak ada pengawal yang berbaris di belakangnya. Hanya pakaian petani yang kotor dan obor kecil yang apinya bergoyang tertiup angin.
Dari kejauhan, cahaya samar terlihat di dekat pos jaga lumbung.
Aku mengarahkan pandangan ke petak sawah pertama.
Petak yang kami bersihkan sehari sebelumnya masih tampak hitam oleh campuran lumpur dan arang. Tidak ada tanaman mencurigakan yang tersisa di sana. Benih-benih yang kami curigai telah dicabut dan dipisahkan agar tidak tercampur dengan benih yang masih layak ditanam.
Namun, ketika pandanganku beralih ke petak kedua, langkahku terhenti.
“Ada sesuatu di sana.”
Segara mengikuti arah tatapanku.
Di permukaan lumpur yang gelap, terlihat beberapa cekungan memanjang. Jejak kaki itu bermula dari pematang utara, masuk ke tengah petak, kemudian berputar sebelum kembali menuju arah yang sama.
Aku berjongkok di tepi sawah.
Jejaknya berbeda dari jejak para petani. Bentuk ujungnya runcing, sementara bagian tumitnya meninggalkan tekanan yang cukup dalam. Ada pula bekas garis pada sisi luar yang tidak biasa kutemukan pada sandal bambu.
“Sepatu,” gumamku.
Segara mendekat dan mengamati bekas tapak itu tanpa langsung menyentuhnya.
“Sepatu dengan sol keras.”
“Sepertinya bukan milik warga desa.”
“Jangan terburu-buru menyimpulkan.”
Aku mengangkat wajah. “Kalau melihat bentuknya, bukankah ini mirip sepatu yang dipakai pejabat istana?”
Segara tidak segera menjawab.
Ia memperhatikan jejak itu satu per satu, seolah sedang menyusun kembali perjalanan orang yang meninggalkannya. Setelah beberapa saat, ia menunjuk bagian tengah petak.
“Lihat arah pijakannya. Orang ini tidak sekadar melintas.”
Aku kembali menatap lumpur.
Jejak-jejak itu memang tidak membentuk garis lurus. Ada beberapa tapak yang saling berdekatan, sebagian mengarah ke kiri dan sebagian lagi ke kanan. Seolah orang tersebut berhenti, berbalik, lalu bergerak mengitari satu titik.
Aku mengikuti arah yang ditunjuk Segara.
Di tengah lingkaran jejak itu, terdapat gundukan kecil berwarna hitam.
Aku meraih sebatang ranting di dekat pematang dan menggeser sedikit lumpur di sekelilingnya. Sesuatu yang keras menyembul dari bawah permukaan.
Benih.
Bentuknya hampir sama dengan benih palsu yang kami temukan sebelumnya.
Aku tidak langsung menyentuhnya dengan tangan kosong. Sebagai gantinya, kugunakan ranting untuk mengangkatnya ke permukaan.
“Gusti, ini benih yang sama.”
Segara berjongkok di sampingku. Dengan sepotong kain yang diambil dari sakunya, ia membungkus benih tersebut sebelum mengangkatnya.
Permukaannya masih basah. Ketika sedikit lumpur terlepas, terlihat warna hitam yang tidak wajar.
“Orang ini datang untuk menabur benih lagi,” kataku.
“Bisa jadi.” Segara memasukkan benih itu ke dalam lipatan kain. “Tetapi kita belum tahu apakah ia orang yang sama dengan pelaku sebelumnya.”
Aku mengangguk pelan.
Itulah masalahnya. Kami memiliki bukti bahwa seseorang kembali menaburkan benih mencurigakan di sawah, tetapi belum mempunyai bukti yang cukup untuk menghubungkannya dengan orang tertentu.
Aku menatap jejak sepatu yang menuju pematang utara.
“Kalau begitu, kita ikuti jalurnya.”
Segara berdiri dan memandang ke arah gubuk.
“Pertama, kita bangunkan kepala desa. Aku tidak ingin ada orang menginjak jejak ini sebelum kita mencatatnya.”
***
Kepala desa datang beberapa menit kemudian dengan wajah kusut dan sandal bambu yang masih basah. Ia membawa lentera kecil, sementara seorang penjaga mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“Ampun, Gusti. Ada apa sampai memanggil saya sepagi ini?”
“Periksa petak kedua,” jawab Segara.
Kepala desa menuruti perintah itu. Namun, begitu melihat jejak sepatu di lumpur, wajahnya berubah.
Ia mendekat dengan hati-hati, kemudian berlutut di tepi pematang.
“Jejak siapa ini, Gusti?”
“Itu yang sedang kami cari tahu,” kataku. “Apakah ada warga desa yang memakai sepatu seperti ini?”
Kepala desa menggeleng cepat.
“Setahu saya, tidak ada, Gusti Permaisuri. Kebanyakan warga hanya memakai sandal bambu. Sebagian bahkan bekerja tanpa alas kaki.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Sepatu kulit seperti ini biasanya dipakai pejabat yang datang dari ibu kota. Namun, saya tidak berani mengatakan bahwa pemiliknya pasti orang istana.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Jawaban itu terdengar masuk akal. Kepala desa tidak mencoba mengelak, tetapi juga tidak berani menuduh siapa pun.
Segara berdiri tegak.
“Apakah ada orang yang melintas dari arah Jembatan Batu semalam?”
Kepala desa berpikir beberapa saat.
“Penjaga malam seharusnya mencatat orang yang keluar masuk, Gusti. Saya akan memeriksa catatannya.”
“Lakukan. Jangan menyebarkan kabar ini kepada seluruh warga sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
“Baik, Gusti.”
Segara lalu memerintahkan penjaga untuk menjaga petak kedua. Tidak seorang pun boleh memasuki area tersebut tanpa izinnya.
Setelah itu, kami mulai mengikuti jejak menuju pematang utara.
Aku sempat menoleh ke arah gubuk. Di balik pintunya, buku catatan kulit kambing dan surat perintah palsu masih tersimpan dalam kotak cendana. Aku ingin segera membandingkan semua bukti itu, tetapi jejak di hadapan kami bisa menghilang jika terlalu lama dibiarkan.
Untuk sementara, itulah satu-satunya petunjuk yang kami miliki.
***
Perjalanan menuju Jembatan Batu tidak terlalu jauh, tetapi jalan berlumpur membuat kami harus melangkah perlahan. Segara berada beberapa langkah di depan, sesekali berhenti untuk memastikan arah jejak.
Aku mengikuti dari belakang sambil mencatat bentuk tapak dan jarak antarlangkah pada buku kecil yang kubawa.
Kebiasaanku sebagai mahasiswa sejarah ternyata masih berguna. Dalam penelitian, benda yang tampak sepele bisa menjadi penting apabila dicatat dengan teliti. Namun, kali ini aku bukan sedang memeriksa artefak di museum.
Ada orang yang sengaja menaruh sesuatu berbahaya di sawah penduduk.
Dan kami belum tahu seberapa jauh rencananya berjalan.
Ketika tiba di Jembatan Batu, jejak itu menghilang.
Permukaan jembatan terbuat dari batu kali yang licin. Tidak ada lumpur yang cukup tebal untuk menyimpan bentuk sepatu dengan jelas.
Aku berdiri di ujung jembatan sambil memandang ke seberang.
“Kalau kita kehilangan jejak di sini, bagaimana kita tahu orang itu pergi ke mana?”
Segara tidak menjawab. Ia justru berjongkok dan memeriksa sisi jembatan.
Di sela dua batu, terdapat gumpalan lumpur yang tampak lebih baru daripada tanah di sekitarnya. Ia mengamatinya sebentar, lalu mengangkat wajah ke arah jalan kecil di sebelah timur.
“Orang yang melewati jembatan harus turun di salah satu sisi. Kita periksa tanah di sana.”
Kami menelusuri tepi jembatan.
Benar saja, beberapa langkah dari ujung batu, tanah kembali berubah menjadi lumpur. Di sana terdapat bekas tapak sepatu yang bentuknya serupa dengan jejak di sawah.
Jejak itu mengarah ke rumpun bambu di perbatasan.
Aku menelan ludah.
“Sepertinya orang itu tidak ingin melewati jalan utama.”
“Karena jalan utama lebih mudah diawasi,” jawab Segara. “Atau karena ia memang hendak menuju tempat tertentu di sana.”
Aku tidak tahu jawaban mana yang lebih buruk.
Kami memasuki hutan bambu kecil itu dengan kewaspadaan penuh. Rumpun-rumpun bambu tumbuh rapat, menyisakan jalan sempit yang hanya cukup dilewati satu orang. Cahaya pagi belum menembus seluruh bagian hutan, sehingga beberapa sudut masih tampak gelap.
Tidak lama kemudian, aku mencium bau asap.
Segara mengangkat tangan, memberi isyarat agar aku berhenti.
Di depan kami terdapat bekas api unggun kecil. Abu di tengahnya belum sepenuhnya dingin, dan ketika Segara mendekat, tampak asap tipis yang masih keluar dari sela kayu hangus.
“Orang itu mungkin baru pergi beberapa jam lalu,” bisikku.
“Mungkin,” jawabnya. “Tetapi api yang masih menyisakan asap tidak cukup untuk menentukan kapan tepatnya seseorang meninggalkan tempat ini.”
Aku mengangguk. Segara selalu mengingatkanku agar tidak menjadikan dugaan sebagai kesimpulan.
Di dekat bekas api unggun, terdapat selembar kertas minyak yang terlipat. Aku mengambil ranting dan membukanya perlahan.
Di dalamnya tersisa beberapa butir benih berwarna hitam.
Bentuknya sama dengan benih palsu yang kami temukan di sawah.
Aku tidak berani menyentuhnya.
“Gusti, ada sisa benih di sini.”
Segara mengambil kain pembungkus dari sakunya dan memindahkan kertas itu dengan hati-hati. Ia lalu memeriksa sekeliling tempat tersebut.
Tak jauh dari abu, aku melihat benda kecil yang sebagian tertutup daun kering.
Sebuah botol kaca.
Aku berjongkok, lalu membersihkan daun di sekitarnya menggunakan ranting. Botol itu berukuran kecil, dengan tutup kayu yang sudah terlepas. Di bagian dalamnya terdapat sisa serbuk hitam yang menempel pada dinding kaca.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku mengenali bentuk botol itu.
Bukan karena pernah melihatnya di istana, melainkan karena benda serupa pernah menjadi bagian dari kejadian yang mengubah hidupku.
Botol yang dahulu dikaitkan dengan kematian tubuh asli Kahiyang.
“Gusti,” panggilku pelan.
Segara mendekat. Aku tidak mengangkat botol itu, hanya menunjuk benda yang tergeletak di antara daun kering.
“Bentuknya mirip botol serbuk teratai hitam yang ditemukan setelah kejadian di Taman Mawar Putih.”
Wajah Segara mengeras.
Ia menggunakan sepotong kain untuk mengambil botol tersebut, lalu memeriksanya di bawah cahaya yang masuk melalui sela bambu.
“Apakah kau yakin?”
“Aku yakin bentuknya serupa. Tapi aku tidak bisa memastikan isinya hanya dari penampilan dan baunya.”
Segara menatapku sejenak, lalu kembali memeriksa botol itu.
“Bagus. Jangan menyentuh serbuknya.”
Ia membungkus botol tersebut dengan kain terpisah dari benih. Setelah itu, ia memeriksa tanah di sekitar bekas api unggun, tetapi tidak menemukan benda lain yang cukup jelas untuk dijadikan petunjuk.
Aku memandangi botol yang kini berada di tangannya.
Selama ini, aku berusaha meyakinkan diri bahwa kejadian yang menimpaku di Taman Mawar Putih mungkin hanya bagian dari masa lalu tubuh yang kutempati. Aku tidak tahu siapa yang membuat Kahiyang asli meminum serbuk itu, apalagi apa motifnya.
Namun, sekarang botol serupa ditemukan di tempat seseorang menyiapkan benih palsu.
Kedua kejadian itu mungkin berhubungan.
Atau seseorang sengaja ingin kami berpikir demikian.
“Gusti, bagaimana kalau botol ini memang dibawa dari istana?” tanyaku.
“Kalau benar, kita perlu mencari tahu siapa yang memiliki akses terhadapnya.”
“Dan sepatu kulit itu?”
“Petunjuk, bukan bukti identitas.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
Aku ingin menemukan seseorang yang bisa kami tuduh, seseorang yang akhirnya dapat menjelaskan mengapa sawah penduduk dirusak dan mengapa benih berbahaya terus muncul. Namun, semakin banyak bukti yang kami temukan, semakin jelas bahwa kami belum mengetahui keseluruhan cerita.
Segara memasukkan botol itu ke dalam pembungkusnya.
“Kita bawa semua ini kembali. Tidak ada yang boleh dibuang atau dicampur.”
***
Menjelang tengah hari, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari jalan setapak.
“Gusti Permaisuri! Gusti Kaisar!”
Aku menoleh dan melihat Mbok datang membawa rantang makanan. Napasnya terengah-engah. Wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan kejengkelan yang sudah sangat kukenal.
Begitu sampai, ia memandangku dari kepala hingga kaki.
“Ya ampun, Gusti. Dari pagi belum pulang, sekarang malah bersembunyi di hutan bambu. Kaki Gusti penuh lumpur. Kalau nanti demam, siapa yang repot?”
Aku hampir tertawa mendengar omelannya.
“Mbok, kami sedang menyelidiki sesuatu.”
“Penyelidikan boleh, Gusti. Tetapi perut juga harus diisi. Orang tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan berdiri di hutan seharian.”
Ia membuka rantang dan mengeluarkan nasi, tempe, serta sambal terasi yang dibungkus daun. Ada pula air minum dari rumah.
Aku baru menyadari betapa laparnya diriku setelah mencium aroma makanan itu.
Kami duduk di atas batu datar yang agak jauh dari bekas api unggun. Mbok terus mengomel kecil sambil membagikan makanan, tetapi tangannya bergerak hati-hati agar tidak menyentuh kain pembungkus bukti.
Segara makan tanpa banyak bicara. Sesekali ia memandang jalan setapak di antara bambu, seolah masih mengawasi kemungkinan adanya orang yang kembali.
Aku pun tidak sepenuhnya tenang.
Bahkan saat mengunyah, pikiranku terus kembali pada botol kaca itu.
Setelah makan, aku membuka buku catatan dan menggambar bentuk jejak sepatu berdasarkan pengamatan tadi. Aku mencatat arah masuk dan keluarnya, posisi bekas api unggun, serta letak botol dan kertas minyak.
Gambarku tentu tidak sempurna, tetapi setidaknya kami memiliki catatan sebelum hujan atau langkah orang lain menghapus jejak tersebut.
“Gusti,” kataku kepada Segara setelah selesai menulis, “kita punya benih baru, sisa benih dalam kertas minyak, dan botol yang bentuknya mirip dengan botol dari Taman Mawar Putih. Apakah semuanya cukup untuk membuktikan bahwa pelaku penaburan benih adalah orang yang meracuni tubuh Kahiyang sebelumnya?”
Segara meletakkan makanannya.
“Belum.”
Aku menatapnya.
“Ketiganya ditemukan di tempat yang sama, tetapi itu tidak otomatis membuktikan bahwa orang yang menabur benih adalah orang yang sama dengan orang yang menyiapkan racun untukmu dahulu. Kita juga belum memastikan apa yang sebenarnya tersisa di dalam botol itu.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, cukup untuk membuatku tidak mengabaikan hubungan di antara keduanya.”
Aku memandang catatan di tanganku.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di perbatasan, aku merasa penyelidikan ini bukan sekadar perkara benih palsu dan hasil panen yang rusak.
Ada sesuatu yang menghubungkan kejadian di istana dengan penderitaan penduduk desa. Dan seseorang tampaknya cukup berani untuk bergerak di antara keduanya tanpa takut meninggalkan jejak.
Pertanyaannya, apakah ia ceroboh?
Atau justru sengaja meninggalkan petunjuk agar kami mengikuti arah yang telah disiapkannya?
***
Kami kembali ke gubuk menjelang sore.
Perjalanan terasa lebih panjang karena kaki kami semakin berat oleh lumpur yang mengering. Ketika tiba, Mbok segera menyuruh kami duduk dan mengambil air untuk membersihkan kaki.
“Kalau begini terus, tikar di dalam akan ikut menjadi sawah,” gerutunya.
Aku tersenyum kecil, tetapi tidak membantah.
Setelah membersihkan diri, kami meletakkan barang-barang temuan di atas kain bersih. Benih baru dibungkus terpisah. Kertas minyak disimpan dalam wadah lain, sementara botol kaca diletakkan di sudut yang aman agar tidak tersenggol.
Buku catatan kulit kambing dan surat perintah palsu yang ditemukan sehari sebelumnya masih berada di dalam kotak cendana. Segara memeriksa kembali semua barang itu, memastikan tidak ada yang hilang.
Aku membuka halaman yang memuat gambar jejak sepatu.
“Besok kita perlu menemui tabib perbatasan,” kataku. “Dia mungkin pernah melihat serbuk seperti ini atau mengetahui siapa yang membawa botol semacam itu.”
Segara mengangguk pelan.
“Dia juga orang yang menolak menjawab pertanyaan kita sebelumnya.”
“Justru itu yang membuatku ingin menemuinya lagi.”
Segara mengangkat pandangan.
“Jangan menganggap penolakannya sebagai bukti bahwa ia terlibat. Bisa saja ia takut, tidak tahu apa-apa, atau memiliki alasan lain untuk diam.”
“Aku tahu.”
Aku memang tidak ingin menuduh siapa pun tanpa dasar. Namun, jika tabib itu mengetahui sesuatu, kami tidak boleh membiarkan kesempatan tersebut lewat begitu saja.
Segara menutup buku catatan.
“Besok kita pergi ke rumahnya. Kita tanyakan apa yang ia ketahui tentang benih dan serbuk itu. Jika dia tetap menolak bicara, kita cari tahu alasannya.”
Aku mengangguk.
Di luar, matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan. Suara warga yang pulang dari sawah terdengar samar, bercampur dengan bunyi serangga yang mulai memenuhi udara senja.
Untuk sesaat, gubuk itu terasa seperti tempat berlindung yang sederhana. Namun, barang-barang di hadapan kami mengingatkan bahwa kami belum benar-benar aman.
***
Malam turun.
Aku duduk di atas tikar pandan, memandangi gambar jejak sepatu yang kubuat. Segara berada di sisi lain, membaca kembali catatan tentang lumbung dan surat perintah palsu.
Jarak di antara kami tidak lebih dari satu jengkal. Meski demikian, pikiranku masih terlalu penuh untuk memikirkan kedekatan itu.
Suara sistem tiba-tiba terdengar di kepalaku.
[DING!]
**[MISI BAB 29 SELESAI]**
**[JEJAK KAKI DI SAWAH: TERUNGKAP SEBAGIAN]**
**[PETUNJUK BARU: SEPATU BERSOL KERAS, BENIH PALSU YANG DITABUR ULANG, DAN BOTOL KACA SERUPA DENGAN BOTOL DARI TAMAN MAWAR PUTIH.]**
**[HADIAH: CATATAN PETUNJUK TAMBAHAN TERSIMPAN.]**
Aku mengernyit.
“Terungkap sebagian?” gumamku.
Segara menoleh. “Apa?”
“Tidak apa-apa, Gusti. Aku hanya sedang menyusun apa yang kita temukan hari ini.”
Aku tidak mungkin menjelaskan bahwa ada sistem tak terlihat yang menganggap penyelidikan ini sebagai misi. Setidaknya, belum sekarang.
Aku kembali memandang botol kaca di sudut ruangan.
Botol itu kosong. Tidak ada nama, tanda, atau tulisan yang bisa menunjukkan siapa pemiliknya. Bentuknya memang mirip dengan botol dari Taman Mawar Putih, tetapi kemiripan bukanlah jawaban.
Aku mengembuskan napas panjang.
“Gusti, kalau ternyata kejadian di sawah ini memang berkaitan dengan masa lalu tubuh yang kutempati, apakah kita akan menemukan jawabannya di perbatasan?”
Segara tidak langsung menjawab. Ia menatap barang-barang bukti di hadapan kami sebelum akhirnya berkata, “Kita akan menemukan apa yang bisa dibuktikan.
Selebihnya, kita tidak boleh memaksakan jawaban hanya karena kita ingin segera mendapatkannya.”
Aku menunduk.
Jawaban itu tidak memberi kepastian, tetapi setidaknya membuatku sadar bahwa kami harus berjalan selangkah demi selangkah.
Segara kemudian memadamkan lampu minyak.
“Tidurlah. Besok kita menemui tabib.”
Aku berbaring sambil menarik selimut tipis hingga ke bahu. Atap gubuk kembali meneteskan air di sudut ruangan. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik dan gemerisik dedaunan.
Aku memejamkan mata, tetapi pikiranku belum juga tenang.
Jejak sepatu itu membawa kami ke hutan bambu.
Di sana, kami menemukan sisa benih palsu dan botol kaca yang mengingatkanku pada kematian tubuh asli Kahiyang.
Belum ada nama pelaku. Belum ada pengakuan. Bahkan hubungan antara semua petunjuk itu pun belum terbukti.
Namun, satu hal mulai terasa jelas bagiku: seseorang telah berusaha merusak sawah penduduk, dan jejaknya mengarah ke tempat yang tidak seharusnya menyimpan rahasia tentang kematian seorang calon permaisuri.
Di sampingku, Segara masih terjaga.
Aku tahu dari napasnya yang belum teratur bahwa ia pun belum tidur.
“Gusti?” panggilku lirih.
“Apa lagi?”
“Besok, jangan biarkan tabib itu pergi sebelum kita mendapat jawaban.”
Hening sejenak.
“Kita akan mendengarkan apa yang dia katakan terlebih dahulu, Kahiyang,” jawabnya. “Bukan memaksanya memberikan jawaban yang belum tentu dia miliki.”
Aku tersenyum tipis dalam gelap.
“Baik, Gusti.”
Malam itu, kami kembali berbaring di gubuk bocor dengan jarak satu jengkal di antara kami. Di dekat kaki kami, bukti-bukti tersimpan dalam bungkus terpisah, menunggu diperiksa lebih lanjut.
Besok, kami akan menemui tabib perbatasan—orang yang pernah menolak bicara.
Dan entah mengapa, aku merasa keheningannya mungkin menyimpan petunjuk yang jauh lebih berbahaya daripada jejak sepatu di sawah.