Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Man Standing (For Her)

The Last Man Standing (For Her)

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alin Ifa

Dia serius. Dia serius untuk menghancurkan hidupnya, mengebiri masa depannya. Axel tak percaya dia serius.

Mengenal Diana sebagai perempuan yang cemerlang pada sekolah dan kuliah, seharusnya orang itu sudah hidup senang sekarang. Dee seharusnya punya orang yang mencintainya, memiliki anak sepandai dan secemerlang dirinya, tanpa khawatir mereka semua akan mengecewakannya di hari nanti.

Hidup Dee seharusnya sempurna. Dia perempuan yang baik. Sayangnya, cinta mempertemukannya dengan orang yang salah. Dengan orang yang menjerumuskan Dee ke dalam titik terkelam hidupnya.

Kehidupan Axel tak tercampuri semua itu, sampai suatu malam Diana mengetuk pintu rumahnya dengan wajah putus asa, dan langsung memeluknya persis di depan pintu.

"I miss you," katanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin Ifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 | Joy of Life

Pintu studio satu telah dibuka.

Esoknya, hari minggu setelah malam itu di sinilah mereka sekarang. Pukul 10, jam tayang pertama, studio pertama. Officially dating---again.

Semuanya terjadi begitu cepat semalam. Usai mendengarkan Dee bertelepon dengan Citra, Axel belum bisa tidur. Jadi, ia hampiri Dee yang membuat teh di dapur, dan mengatakan semua itu.

Hanya sebaris kalimat. Tidak lebih.

"Gue denger semuanya."

Bagi Axel, kalimat itu sudah mencakup semuanya. Setelahnya, Diana mematung cukup lama, tak bicara. Sampai kemudian Axel mengambil gelas teh Diana yang baru dicelup dan menyelesaikannya---dengan takaran air panas, gula, dan adukan yang Axel hafal di luar kepala.

"Biar gue kasih tahu rahasia kecil, Dee...."

Diana tak bicara. Ia hanya berdiri di sana, sedikit menoleh. Axel sedikit takjub dengan kemampuan Dee mengabaikannya saat mereka membahas masalah perasaan.

"Lo itu bagian terbaik dalam hidup gue. You lifted me. Now, my turn to lift you."

"Sel--"

Nada menyanggah itu tak Axel biarkan lolos dari mulut Diana. "Sebentar, dengerin gue dulu." Ia menatap wanita di sisinya dengan serius. "Gue gak suka lo rendah diri."

"Tapi kamu tahu aku udah nggak sama."

"Gak sama bukan berarti rendah." Axel menoleh, merasakan pandangannya sendu sendiri melirik Diana. Gelas teh manis itu ia geser kepada Dee supaya diterima. "You have me, Diana. Tolong jangan ada yang disembunyikan lagi."

Ia mengubah posisinya jadi bersandar di meja dapur, menatap Diana yang masih menekuni tehnya. Asap hanya terlihat tipis-tipis di sana. Mungkin bagaimana perlahan asap itu menghilang karena termakan dingin di sekitarnya tengah menarik perhatian Diana.

"Lo gak akan pergi, kan?" Bermaksud mengajukan pertanyaan itu pada kelakuan mengupingnya malam ini. Siapa tahu Diana tidak suka dan terpikir untuk pergi pagi harinya? Axel tentu tak akan biarkan itu terjadi.

"Kamu sendiri?"

"Dari dulu gue gak pernah pergi."

Perlahan, Dee mengembuskan napas. "But you deserved better...."

"So do you. Dan gue siap jadi orang itu."

"Kamu nggak paham maksudku."

Gak paham? Axel mengernyit, menatap Diana tak terima. "Apa yang gue nggak paham dari omongan lo ke Citra barusan? Sayang aja gue belum beli cincin, jadi nggak bisa langsung berlutut di depan lo dan bilang will you marry me."

"Sssstttt!"

Axel memandang Dee dengan jahil. Tensi obrolan sengaja diturunkan. Ia bersidekap melirik wanita itu. "Emangnya lo nggak mau sama gue?"

Dee memberenggutkan bibir menanggapinya. "Siapa sih yang nggak mau?"

"Yaudah, hayu jadian."

"Tapi---"

"Sssstttt!" Giliran Axel yang menyuruh Diana diam. "Yang gak suka sama suka aja bisa nikah, masa kita engga?" Mengabaikan lirikan geli dari Dee, ia melanjutkan, "Udah, sadari aja, terima aja... we're meant to be."

We're meant to be.

Axel rasanya ingin berterima kasih pada jiwa romantik dan selengeannya yang keluar ketika berucap demikian. Kini, duduk bersisian dengan Diana di bangku bioskop, Axel menoleh. Film belum dimulai.

"Dee," panggilnya pelan.

"Happy?"

Diana mengangguk, tidak lebih. Namun, senyum manis yang terulas di bibir tipis itu meyakinkan Axel bahwa jawaban Diana jujur.

"Habis ini ke toko perhiasan yuk."

Dee meninju lengannya pelan, terkekeh. "Apaan, sih? Konfir ke keluarga aja belom."

"Tapi gak usah pakai lamaran kali ya? Langsung aja akad."

Kali ini Diana tidak menjawabnya, hanya menggeleng-geleng pelan sambil memfokuskan pandangannya ke layar besar bioskop. Axel tak mengusiknya lagi. Ia turut terfokus ke depan, mulai menikmati film pilihan Diana.

......***......

Beberapa menit sebelum jam makan siang, mereka keluar bioskop. Axel dan Diana sepakat, mereka tidak akan memperlihatkan gestur yang terlalu mesra di depan umum. Hanya berjalan bersisian, tidak berpegangan tangan. Tidak juga saling berucap sayang dan mengganti gaya bahasa mereka menjadi aku kamu.

Semuanya masih sama, tapi kali ini Axel tak perlu lagi mendebat Diana mengenai memilih lelaki yang terbaik untuknya.

Turun dari lantai bioskop, Axel mengajak Diana masuk ke kafe. Kafe yang baru buka, jadi masih sepi. Pramusaji menyodorkan menu pada mereka.

"Arabika sat---"

Pengucapan pesanan itu terhenti ketika Dee mendelik menatapnya. Axel mengulum ucapannya, terdiam.

"Arabika dua, sama roasted chicken-nya dua juga. Air mineralnya yang sedang dua."

Axel melebarkan senyumnya, melipat tangan di atas meja. "Tumben."

"Gak usah tumban-tumben. Emang salah mau nyobain juga?"

Ahahaha.... Axel tak bisa menahan seringai merasa menangnya melihat raut wajah cemberut itu. "Enggak, cuma maksudnya apa nyamain pesenan?"

"Males mikir."

Jawaban yang terkesan konyol itu memancing tawa. Seorang Diana malas berpikir? Rasanya aneh.

Tapi, oh... mengingat dia mencintai Gery tanpa syarat, bukan tidak mungkin Axel harus melatih otaknya kembali untuk berpikir logis.

Inside joke itu meninggalkan mimik rileks pada Axel. Rileks, karena kini mereka tak akan terganggu oleh Gery. Axel hanya harus mengembalikan Dee seperti dulu. Diana yang fokus, semangat, dan mencintainya.

Mereka menunggu. Sedetik setelah pramusaji memberikan pesanan mereka ke meja dapur, Axel menoleh pada Dee, mengangkat-angkat alisnya.

"Apa?"

"Galak amat, sih, Mbak?"

"Lagian, kamu kayak abege bucin aja, sih. Udah pernah jadian sama aku juga."

"Gak suka, ya?"

"Aneh. Kemaren-kemaren perasaan kelakuan kamu masih kayak pria dewasa. Kenapa sekarang childish begini?"

Axel tertawa. "Jangan, ribet nanti kalo gue bersikap sebagaimana mestinya."

Dan, berhasil. Diana membuang muka. Pipinya bersemu merah. Axel tahu Diana paham maksud perkataan jahilnya. "Apa yang lo harapkan dari perasaan yang udah terpendam nyaris sepuluh tahun lamanya, Dee? Pastilah itu yang bakal terjadi. Makanya, kita ke toko perhiasan aja. Minggu depan pulang ke Bandung, langsung akad. Minta restunya via zoom aja."

"Sembarangan banget sih kalau ngomong?" Diana mendengkus. "Ngajak nikah kok kayak ngajak ke pasar malam?"

"Lo masih mikir kita perlu penjajakan? We had enough, Dee. Udah hampir 20 tahun kita kenal."

Selanjutnya, Dianalah yang menyeringai. Ekspresi bodohnya menyiratkan pembenaran terhadap ucapan Axel. "Iya juga, sih ...."

"Nah, tunggu apa lagi?"

"Kamu ngebet banget, ya?"

"Iya!"

Axel tertawa, sementara Diana mengusap wajahnya dengan gusar. "Tapi kamu paham aku butuh waktu, kan?"

Paham. Banget. Tapi pertanyaan itu hanya dijawab Axel dengan anggukan cepat. "Tapi ... kali ini lo nggak bakal salah pilih."

"Oh, yakin banget?" Diana memandangnya menantang. Axel sepertinya tahu ke mana arah pertanyaan itu. "Siapa yang dulu cemburuan? Siapa juga yang mutusin aku waktu itu?"

Benar.... Axel segera mencibir pertanyaan-pertanyaan itu. "Pendendam. Kalau nggak mau putus, bilang aja. Gak usah sok kuat. Kehilangan juga kan lo, hahaha...."

"Sebenarnya, waktu itu aku sedikit bersyukur." Dee terkekeh. "Karena yang minta diperhatiin jadi berkurang."

Axel mendengkus tertawa, lupa kalau waktu itu Diana adalah mahasiswa yang sibuk. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Iya, sih. Cerewet banget ya gue waktu itu?"

"Banget."

"Sekarang?"

"Makin aneh."

"Sial."

Dee tertawa, agak lepas dari biasanya. "Supaya kamu tahu, aku masih suka mimpi buruk dan halusinasi tipis-tipis soal Gery. Yakin nggak papa istrinya mimpiin mantan?"

Mau tak mau, Axel mengulum senyumnya mendengar resolusi hubungan mereka yang tersirat dalam balasan Dee itu. Ia sudah menyiapkan punchline bagi ucapan itu.

"Yang ada di sisi lo sekarang kan tetap gue."

Diana merona lagi, tapi tetap berusaha menatapnya dengan cuek. Axel gemas melihatnya. "Oke, aku tantang kamu untuk membuktikan itu."

"Lo menantang orang yang salah, Dee."

Kemudian, makanan datang. Mereka menjeda obrolan tentang perasaan dan masa depan, lalu sepakat untuk mengobrolkan pekerjaan mereka di Drupadi sepanjang menikmati makan siang.

Tanpa disadari, dari balik dapur ada yang memperhatikan interaksi mereka. Bukan pramusaji tadi, koki, atau pegawai dapur yang lain, melainkan pemiliknya. Inspeksi mendadak hari minggu ini baginya adalah jackpot karena bisa mendengar obrolan Axel dan Diana yang kebetulan mengambil meja dekat kasir--yang letaknya bersisian dengan dapur.

Orang itu terdiam. Ia berjalan ke ruangan sebelah, memeriksa laporan keuangan kasir. Diam-diam masih menyimak Dee yang banyak bertanya soal Drupadi.

Haruskah dia muncul? Bergabung sebagai sesama rekan kerja?

Andah berpikir ulang. Sepertinya tidak.

Tiba-tiba getar panggilan telepon ke ponselnya mengalihkan fokus Andah. Dia menerima panggilan itu tanpa mempedulikan nama kontaknya. "Halo?"

"Ndah, urgent meeting sama BoD sekarang! Angga ngamuk di kantor."

Dan, ditutup. Andah mendengkus memandang layar ponselnya. Sial.

...***...

Masih tidak memutus komunikasinya dengan Farah, Andah turun dari mobil dengan terburu-buru. Satpam yang menyambutnya dan bertanya ada urusan apa ke kantor pun tidak begitu ia hiraukan---hanya dijawab sekenanya.

Andah tahu ia harus menyimpan energinya untuk mendamprat si tengil yang sudah sok berkuasa berhadapan dengan lima BoD di lantai teratas gedung penerbit ini.

Farah menyambutnya di pintu ruang serba guna, tempat Dewangga secara sepihak mengundang BoD Drupadi Books dalam acara serah terima jabatan. Satu BoD terlihat berdebat dengannya, membela Andah.

"He's nuts."

"Ya, aku tahu." Andah mendengkus, berusaha mengumpulkan wibawanya dalam waktu singkat selama menarik napas. Kemudian, ia masuk. Pintu dibiarkan sedikit terbuka agar satpam yang diseretnya kemari bisa langsung membawa Dewangga keluar setelah Andah menyelesaikan speech-nya.

Dewangga dan kelima BoD di dalam menoleh padanya. Pria berambut cepak dan berwajah sombong tetapi tampan itu tersenyum lebar. Senyum yang sinis.

"Ola, Bu Direktur. Siap untuk serah terima jabatan?"

"Bukannya sudah jelas? Saya tidak akan pernah menyerahkan Drupadi kepada Anda, Pak Dewangga."

Membalasnya, Dewangga tertawa geli. "Nah, gini, nih, kalau nggak hadir di meeting dari awal." Pria itu menunjuk Nyonya Ayu Laksmi, BoD yang membela Andah. "Sama kayak si tua itu! Sudah saya tegaskan berkali-kali di sini, Drupadi Books akan berada di bawah naungan Gada Entertainment! Perusahaan media yang sah! Ini ekspansi bisnis, Andah. Kenapa Anda masih nggak setuju? Bayangkan berapa keuntungan yang akan diraup Drupadi kalau buku-buku kalian difilmkan? Coba, pikir ulang usahaku buat bantu Drupadi. Lagipula ini tertulis di surat wasiat ayah kamu. Gada Entertainment merger dengan Drupadi Books---bayangkan itu!"

"Drupadi Books baik-baik saja."

"So, kita bikin dia lebih baik."

"Anda kekurangan orang kreatif di Gada? Lagipula kita nggak jadi menikah. Kenapa Anda masih ingat-ingat surat wasiat itu? Makin kelihatan niatan Anda menikahi saya karena harta...."

Bukannya gentar, Dewangga mengangkat bahu. "Don't get sentimental. Siapa suruh kamu jadi perempuan yang sibuk? Dan, *w*ell ... siapa yang nggak suka harta?"

Andah mendekati pria itu, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian kelima BoD. Farah ada di dekatnya, dalam jarak yang memungkinkan untuk menggampar Dewangga seandainya pria itu berlaku kasar.

"Itu salah satu alasan Drupadi menutup kemungkinan kerja sama dengan Anda, Pak Dewangga." Andah berkata dengan tenang. "Lagipula omongan Papa cuma surat wasiat, dan Drupadi itu milik saya, bukan beliau. Jadi, tetap kewenangan ada pada saya. Mau Anda panggil seratus pengacara pun, saya punya lebih banyak alasan untuk menolak usaha merger ini."

"Bullshit---"

"Sebelum coba menipu orang, tolong pintar sedikit. Mana ada yang mau merger sama perusahaan yang kepalanya saja tidak menghormati perempuan? Attitude is everything. Saya nggak mau bikin Drupadi kehilangan segalanya hanya karena merger dengan media yang owner-nya tidak berattitude seperti Anda."

Baru Dewangga akan menyanggah semua ucapan itu, Andah menambahkan lagi. "Kok Anda bisa dengan bangga mengaku-ngaku sebagai pembeli 60 persen saham Drupadi, sementara modal untuk itu saja Anda dapatkan dari Ferlis? Apa mau Anda, hm? Morotin dua cewek sekaligus?"

Dewangga seolah dibabat habis. Wajah pria itu sudah merah padam dibuat malu dan geram. Andah tak tanggung-tanggung. Ia beberkan fakta temuannya dan Farah sekalian di depan para BoD.

Tak lama setelah Farah membagikan lembaran data perusahaan Angga, dan bukti-bukti rencana miringnya pada Drupadi, Andah, dan Ferlis, sang CEO mengatakan kalimat final pada pria itu.

"Atas penipuan yang kamu lakukan pada saya dan Ferlis, bisa saja saya laporkan kamu ke polisi. But, no ... saya nggak setega itu membuat orang-orang yang tersisa di Gada jadi pengangguran. Jadi, kalau kamu ingin tetap mengadakan kerja sama, silakan ajukan sebagaimana mestinya. Semua butuh proses, apalagi saya harus membangun kepercayaan lagi dengan kamu. Dari awal. It's not that easy, Pak Dewangga."

Hanya beberapa menit membiarkan Dewangga terpaku, Andah menoleh ke arah pintu. Satpam mengintip dari sana dengan malu-malu.

"Usir dia dari sini, Pak!"

.

.

BERSAMBUNG ....

1
Laundry Cilla
wowwww
Laundry Cilla
❤️❤️
Laundry Cilla
sedihh yaa d part ini 🥺🥺
Laundry Cilla
keren ..aku lanjutt..penasarann ini.
lady El
tolong segera akhiri penderitaan Dee kak,,aku nggak tega
Iim
Imaginasi nya author GILAAAAAAAK
top banget
Iim
Sweet bgt bu lin & pak hasbi
Iim
Kerennnnnnn
Ga bisa ditebak ceritanya
Alin Ifa: Terima kasih! <3
total 1 replies
Iim
Novel keren kyk gini ga ada yg nge-like??
Hellowwwwww
Alin Ifa: Ayoo share sebanyak2nya ka 🙇😸 Thank you sudah membaca! Enjoy lebih banyak chapter dari TLMS yaps! :*
total 1 replies
lady El
semangat ka,,
lady El
lagi dong thor,,pngn lihat Dee bahagia,,😁😁
lady El
aduh Dee,,kmu ngapain lg sh?🙄🙄 kasihan Axel
lady El
Andah terlanjur baper,,
lady El
smg Diana c4 sembuh,,
lady El
semoga kamu bahagia Dee,,
lady El
berasa ikut gila ,,🤪
lady El
oh Dee,,,,😢
lady El
Axel Diana,, cinta gila,,
lady El
tragis,,tp jangan bunuh diri donk dee itu perbuatan yg dbenci Tuhan,biarlah malaikat yg menjemput mu dan membawa mu ke syurga,,
😭😭😭😭😭
lady El
adakah kebahagiaan untukmu Dee,,,😢😢
Alin Ifa: Huhuhuuu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!