Nathaalie terancam banyak bahaya karena persaingan Bisnis Keluarganya.
Hidupnya berubah dalam satu malam. Ia mengalami kecelakaanya parah yang membuat Pacarnya hilang seperti ditelan Bumi, begitu juga keberadaan ayah dan ibunya ikut menghilang.
Nathaalie menjadi dekat dengan Dokter Rick yang menanganinya selama pemulihan. Selain seorang ahli Psikiater, pria ini juga pemilik rumah sakit tempat Nathalie di rawat.
Namun untuk pertama kalinya sikap Edward mulai berubah. Si Mantan tunangan terus berusaha menggoyahkan hatinya.
Disaat Hati Nathaalie mulai Goyah, Nathaalie bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.
Apakah Nathaalie menemukan pacarnya?
atau membuka cinta baru?
Setulus apa orang-orang di sekitarnya?
Dan bisakah Nathalie hidup sesuai dengan harapan sedari awal?!
Nantikan ceritanya !
Jangan lupa Like, Vote, untuk karya ini. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon As Cempreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Membunuh James?
Omar masuk ke rumah petak saat pria tua berbadan gempal yang duduk begitu fokus membuat sketsa wajah seorang wanita yang mirip Nathalie. "Kai, belum pergi?"
Pria tua berjanggut tidak rapi menoleh ke samping dengan tatapan sangar. "Belum, aku pikir perlu cepat menemukan wanita ini. Kau apa ada kemajuan setelah seharian dia di kedai?"
Tidak sia-sia Kai berusaha menyusupkan Omar di pesta Keluarga Gu membuat putri dari Herman Edricqo akhirnya terpancing untuk mencari keberadaan Omar. Sebenarnya, ini mundur dari rencana, tiga bulan sangat lama. Namun saat tadi menjumpai Nathalie di kedai, dia senang bukan main sampai berpura-pura menjadi pembeli lalu keluar lagi.
"Dia mengaku tidak punya tempat tinggal dan memintaku memberi tumpangan. Namun, sejam lalu seorang pria .... yang dipanggil dokter oleh Nathalie, mengajaknya pulang. Tapi ... wanita itu bilang akan datang lagi." Omar berkata datar sambil duduk di kursi kayu untuk melepaskan kedua sepatunya.
"Bawa dia kemari .... "Kai mengukir senyum dengan licik.
"Meskipun, dia tinggal di sini? Lalu bagaimana denganmu? Di sini hanya ada dua kamar."
"Buat dia hamil." Kai dengan tatapan tajam dan dingin dan Omar tak berubah ekspresi sedikitpun mendengarkan ini.
"Bagus, sepertinya ini mudah bagimu?" Kata Kai lagi melanjutkan menggoreskan ujung pensil. "Tenang, aku akan pergi dua bulan. Dan kau sebaiknya membawanya ke mari. Kamu .... Jangan mengecewakan ayahmu ini, ya?"
Omar mengangguk dengan wajah datar. Matanya terus tertuju pada guratan wajah pria yang mirip dengannya. "Tapi-"
"Kau cuma perlu menggunakan Nathalie, di luar itu tidak penting, semua orang di sekitarnya takkan bisa menyulitkanmu, kau tahu alasannya? Ya, kamu sudah memilki senjata utamanya 'Nathalie' " Kai tahu sebuah keraguan terbaca dari mata Omar.
"Bagaimana jika kehamilan itu berhasil?"
Kai menyeringai dengan tatapan penuh kemenangan. "Banyak. Anak itu akan menjadi bom." Tawa Kai seketika menggelegar. "Kita tidak susah-susah menyingkirkan mereka semua. Sebelum mereka tahu, 90 persen misi kita harus terpenuhi. Dengan begitu kebangkrutan usaha kita akan terbalaskan."
Omar menatap dengan tidak setuju. "Bahkan sekalipun anak itu adalah calon cucumu?"
"Ketahuilah, Omar itu tidak penting. Kau tidak perlu menggunakan hati di sini. Kita bukan orang yang memiliki hati, ingat itu Omar."
*
Omar mengelap gelas di depan. Pembicaraan semalam terasa membakar pikirannya. Pandangan Omar bergeser menjauh ke pintu kedai. Sesosok wanita cantik berambut ombak tergerai dengan bando, kaos model sabrina yang ketat dan jeans ketat dengan sepatu hak putih. Body indah itu menjadi pusat perhatian para pelanggannya.
Menaruh gelas, Omar membungkuk sambil menarik apron dari laci bawah. Bau wangi anggur dari tubuh wanita itu menguar di antara bau kopi dan susu. Nathalie sudah berdiri di sampingnya. Pria itu berdiri dan berkata dengan nada dingin,"semua orang tahu bentuk mu bagus," sambil melirik dada yang tidak besar tetapi indah.
"Omar .... " Nathalie terkesiap saat dua tangan kokoh itu mengalungkan tali apron ke lehernya sehingga bagian dadanya terselimuti kain merah. Tangan omar turun, kini mengambil tali di bagian pinggangnya dengan membawa ke belakang. "Eh!"
Pandangan Nath kabur saat Omar memutar tubuhnya sehingga kini memunggungi lelaki itu. Nathalie dapat merasakan napas di atas telinganya saat James menarik tali apron dan membuat simpul dengan gerakan kasar sampai dada Nathalie tersentak.
"Tapi jangan membuat kekacauan di sini," kata Omar dengan penuh penekanan lalu menjauh dari Nathalie.
"Maaf, tapi aku takkan mengganggu. Sumpah aku justru mau bantu-bantu sebagai terima kasihku malam Itu!" Natalie menyusul Omar dan ikut menata gelas di rak. Matanya sulit sekali untuk beralih dari mata James. Ya ampun dia terus meleleh hanya karena melihatnya.
Omar melewati Nathalie, menghindar karena lirikan pengunjung yang cemburu. Dia tak mengira wanita itu seagresif ini seperti tak punya malu dan justru membuat geli.
Sebuah rombongan datang mengalihkan perhatian semua orang, tak terkecuali Omar yang baru keluar dari ruangan penyimpanan. Dia melirik ke samping pada Nathalie yang berjongkok sebelum rombongan itu memasuki pintu, bahkan wanita itu bergeser dan berjongkok hingga lewat di sampingnya dan masuk ke ruang penyimpanan.
Omar ke kasir dan mulai mencatat pesanan seorang pengawal dari rombongan itu. Dia melirik ke pria ekslusif yang baru duduk dan diyakini itu bos mereka.
Karena dua pegawainya belum datang, James mengantarkan satu kopi ke depan pria itu. Dia berbalik dan dua pria berbadan besar menghalanginya.
"Duduk," kata salah satu di antara mereka.
Omar duduk dan mengenali wajah di depannya, seperti apa yang pernah ditunjukkan Kai, bahwa ini mantan tunangan Nathalie. Jadi, ini target utama?
"Omar Kai? Kelihatannya kau mengenalku." Edward dengan tatapan dingin dan penuh sindiran. "Bagaimana bisa lelaki tak bermutu seperti mu selalu mengusikku. Kau perlu sadar diri .... Pada akhirnya, Nathalie takkan bisa terlepas dariku. Mari kita buat mudah di sini. Jauhi Nathalie kalau kamu tidak mau aku membuka kedokmu dari awal."
Omar tak berubah ekspresi. "Kedok? Aku bahkan tidak tahu kedok apa yang kau maksud? Mengapa kau tidak suruh wanita itu keluar dari sana." Dia memutar bola mata malas sambil menunjuk ruang penyimpanan. Lantas berdiri mendorong pria berbadan besar di depannya.
Kembali sibuk dengan mengelap sendok, Omar tidak peduli dengan keempat pengawal yang masuk ke pintu yang tadi ditunjuk. Bahkan pria bernama Edward ikut menyusul ke ruang penyimpanan.
"Edward, aku tidak mau pulang!" teriak Nathalie dengan tangan memelintir meja di belakangnya. Dia sudah tidak bisa mundur lagi, wajah dingin dengan aura menyeramkan di depannya itu takkan bisa mempengaruhi tekadnya untuk tetap bersama James.
"Kalau kamu ingin bekerja ...." Edward mengigit pipi bagian dalam, sangat tidak terima Nathalie mengenakan celemek seperti pelayan hanya karena pria asia itu lagi.
"Urus perusahaan mu sendiri," ucap Edward dengan penuh penekanan. "Kau itu tak bisa untuk seenaknya melempar tanggung jawabmu kepadaku, sedangkan kau di sini bermain-main seperti anak kecil."
"Aku tidak peduli pada perusahaan ayah, biar ayah pulang saja." Nathalie menekan kata-kata dengan pandangan judes.
Edward tertawa geli. "Selama kamu tidak datang ke kantor, akan kusuruh satu-persatu pegawai di kantor ayahmu untuk mendatangimu ke sini, ya! Aku angkat tangan, tidak mau mengurusnya lagi, urus saja sendiri."
Nathalie berkedip bingung. Jadi, Edward tidak mau mengurus perusahaan ayah yang di sini? "Oke, aku akan ke kantor," katanya dengan lesu. Mungkin juga bisa menggunakan itu untuk menjauh dari Edward.
"Bagus," kata Edward semakin dingin. Demi apapun dia sangat merindukan Nathalie dan ingin menghancurkan kedai ini, tetapi bisa apa dirinya? Dia tak berdaya dan tidak mau membuat mantan tunangannya semakin membencinya.
Edward berbalik dengan kecewa diikuti sekertaris Chen. Dia melirik ke arah Omar yang meliriknya tanpa ekspresi. Kopi bahkan tak disentuhnya, Edward pergi begitu saja dengan hati terluka.
*
Sementara itu di Kuba, Herman Edricqo dan istrinya tengah duduk di pinggir pantai dengan majalah bisnis di tangan masing-masing.
"Apa kamu tidak kangen Nathalie si, Sayang?" Mirabela beralih dari majalah dengan hati gelisah. Ditaruh majalah secara asal ke meja, yang kemudian itu terjatuh di pasir putih. Dia pindah duduk di pangkuan suaminya. "Aku sudah tidak tahan lagi, Sayang! Ayo, pulang."
"Tunggu, proyek kita selesaikan dulu." Herman menarik bahu mungil itu sampai tidur di atasnya. "Aku akan beritahu ini, sepertinya Edward mencurigai pria yang mirip James. Kalau benar James bisa sampai Eropa, artinya Kai sudah mengatur rencana dan kita semakin tidak boleh pulang."
"Aduhhh! Kenapa kau tidak kau tawarkan saja kerjasama dengan Kai agar tidak lagi membenci kita?" Mirabela semakin tidak tenang. "Kita sudah dari awal menolak James dengan tidak pernah menemuinya. Tapi seseorang menggunakannya untu mendekati Nathalie! Aku menyesal kenapa tak merestui James daei awal."
"Ush, apa kamu bilang? Hey sayang, menantu kita itu hanya Edward!!Tidak ada yang lebih cocok untuknya selain cucu keluarga Stuart." Herman membelai rambut Mirabela berusaha memberi pengertian.
"Setidaknya, ijinkan aku menelpon putriku?"
"Silahkan, bila kamu menginginkan dia tidak kunjung dewasa. Bahkan hanya untuk mengurus butik kecil, dia tidak bisa? Mau jadi apa coba, apa dia benar-benar putri kita? Nathalie paling tak bisa diandalkan di dalam keluarga Sanwa dan kerjanya cuma main. Kita tinggu saja, kalau perlu kita rubah rencana sambil mencari tahu siapa dalang dibalik kecelakaan Nathalie."
"Ya, Sayang." Mirabela mendengus pasrah. Walau tak terima, tetapi perkataan suaminya ada benarnya.
*
Di kantor Edward dengan jengah duduk di samping Ricky yang katanya sudah lima belas menit menunggu.
"Benar, dia di sana." Edward melempar kepala ke sofa sambil mengendurkan dasi.
"Sebaiknya, kita bunuh saja lelaki itu." Ricky dengan berubah-ubah posisi dengan tidak tenang bahkan kini melepas jasnya karena sama kesalnya seperti Edward pada pria yang mirip James. Rocky tidak yakin Omar itu James, sedangkan Edward sebaliknya, begitu yakin.
"Bagus juga idemu," kata Edward sambil memejamkan mata. Dia tak mengira lelaki sederhana yang pernah ditemuinya di depan mall akan menjadi batu sandungannya. Edward pikir saat itu bahkan Nathalie tidak mau meliriknya karena baju James lusuh dan sepatu yang sedikit berubang saat itu.
next kakak
penasaran tauuuu
ap mereka sdh tiada?
aku blm dpt niii,,, bingung dan penasaran... hummm😏