Algifari seorang laki-laki yang dianggap pembawa sial oleh ibu kandungnya sendiri karena mengganggap penyebab kematian ayahnya dengan terpaksa harus menjadikan dirinya temeng untuk membebaskan ibunya dari rasa malu karena abangnya yang lari dari tanggung jawab untuk menikahi perempuan yang hampir dinodainya yaitu Utari.
Dengan statusnya yang masih sekolah, dapatkah dia mempertahankan pernikahannya. Dan apakah dengan sikap kerendahan hatinya bisa meluluhkan hati ibunya dan kembali menyayanginya?
Dan apakah Utari bisa menerima semua kekurangan Algifari yang notabennya hanya merupakan laki-laki biasa yang hanya memiliki cinta dan juga ketulusan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fika siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab.30
Karena sudah menunggu lama, Utari menjadi risih karena terlentang tanpa memakai apapun.
Dia menarik selimut lalu menutupi badannya yang sudah t*lanj*ang.
Fari masuk kekamar mandi dengan kancing dan baju yang sudah berantakan. Dia seperti orang yang depresi, kacau dan juga galau tanpa mengerti tahu apa yang aka dilakukannya selanjutnya.
Dia kasihan mengingat 2 perempuan yang mungkin sudah terluka hatinya.
Utari, perempuan yang telah sah menjadi istrinya diperlakukan seperti itu pasti akan malu dan merasa sakit hati.
Syarifah, perempuan yang dinantinya yang juga telah menjaga hatinya untuk Fari juga telah kecewa dengan pengakuan Fari.
Lama dia dikamar mandi, dia teringat Utari yang ditinggalkannya tanpa memakai apapun.
Fari masuk kekamar dan melihat Utari yang menunggunya dengan berselimut menutupi tubuh b*gilnya.
Melihat baju yang masih berserakan dimana-mana akibat ulahnya, mau tidak mau Fari harus melanjutkan sesuatu yang telah dimulainya.
"Ai, maaf! Aku ta-
"Gak apa-apa, aku paham kok. Lagian ini mungkin yang pertama untuk aku dan kamu. Jadi, wajar kalau kita masih nervous."Kata Utari memotong pembicaraan Fari.
Dengan setengah hati tidak ingin melukai Utari, dan tidak ingin menyinggung perasaan Utari, Fari memutuskan melanjutkan malam pengantin mereka.
Fari membuka baju dan celananya sampai dia benar-benar polos seperti Utari.
Dia masuk keselimut Utari, tanpa pemanasan dia langsung tancap gas yang membuat Utari merasa kesakitan.
"aauu..." Jerit Utari.
"Maaf! Sakit ai?"
"Sangat! Ucapnya sambil menangis.
Fari berhenti dan mencabut tombak keperkasaannya dari sumur bor Utari. Dia tidak ingin melanjutkan permainannya yang pasti akan lebih menyakiti Utari.
"Gak apa-apa kok Fari. Aku ikhlas."
Melihat ketulusan Utari rasa bersalah Fari bertambah lagi.
Padahal dia sendiri telah tahu kalau perempuan tanpa pemanasan pasti akan merasakan kesakitan yang luar biasa.
Fari menelan ludahnya, dia turun dari badan Utari sejenak berbaring disamping Utari.
"Kamu tidak perlu khawatir dan cemas, aku tidak apa-apa kok. Nanti sakitnya akan hilang dengan sendirinya. Ucap Utari dengan tulus menyemangati suaminya.
Fari membuang semua bayangan-bayangan rasa bersalah kepada Syarifah, dia tidak ingin melakukan kewajibannya dengan menyakiti istrinya, perempuan yang tidak tahu apa-apa tentang masalah yang lagi di alaminya.
Fari akan menikmati malam ini tanpa harus mengingat perempuan yang sudah tidak bisa dimilikinya lagi.
Fari tersenyum ke arah tari yang dibalas senyuman juga oleh istrinya.
Fari memulai lagi dengan mencium dan ******* bib*r istrinya.
Utari mengerang merasa nikmat.
Tangan Fari tidak tinggal diam. Tangannya terus bermain didaerah sensitif Utari yang membuat Utari tidak kuasa untuk tidak m*ndesah.
Utari seperti melayang keudara, dia tak kuasa membuka matanya karena merasa kenikmatan diluar nalarnya.
Fari kembali naik diatas Utari setelah dia juga merasa mulai menikmati malam itu.
Dia terus menghujati Utari ciuman yang semakin membuat Utari menggelinjang seperti orang yang kesurupan.
Dikira sudah saatnya, Fari pun mulai menancapkan tombak keperkasaannya karena sumur bornya Utari.
Dengan perlahan-lahan Fari melakukan olahraga malamnya yang membuat Utari m*ndesah terlalu kuat.
Fari langsung mencium bibir Utari, takut kedengaran mertuanya.
"Pelan-pelan ai! Bisiknya ditelinga Utari.
Utari mengangguk sambil tersenyum malu.
Fari memberikan selimut untuk digigit oleh Utari agar tidak kelepasan lagi.
Fari semakin kencang, semakin kencang dan semakin kencang.
Dan akhirnya " aaaahhhhh " mereka berdua sama-sama pelepasan yang membuat mereka berdua seperti terbang keudara, melayang jauh menikmati indahnya bintang-bintang yang kedap kedip.
Meski sakit yang luar biasa tetapi Utari ikhlas. Apalagi dengan bayaran kenikmatan yang sungguh sangat luar biasa.
Malam pengantin yang selama ini didengarnya sangat nikmat telah dia buktikan itu benar adanya.
"Sakit? Ucap Fari dengan suara terengah-engah.
"Sedikit!
"Maaf yah ai!"
"Hmmm..tidak apa-apa.
Fari menarik selimut untuk menutupi badan mereka berdua.
Fari memeluk Utari dan mengajak tidur karena sudah merasa lelah dengan pertempuran yang menyita tenaga, pikiran dan perasaan mereka berdua.
Utari menggeleng tidak setuju, dia ingin mengobrol dengan Fari, suaminya.
"Setelah ini rencana kita berdua bagaimana fari?"
Fari melihat Utari, dia tidak mengerti kenapa Utari tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Terserah kamu, Fari ikut saja. Tapi yang pertama kamu jangan panggil Fari dong, kan sudah fix nih suami istri.
"Terus aku panggil apa?"
"Sayang, honey, abang atau apalah itu ai."
"hmmm. Abang saja yah."
"ok!"
Fari melihat Utari yang mulai mengantuk, tapi rasa ingin mengulang kembali pertempuran kenikmatan tadi bergejolak dari dalam tubuhnya.
"ai.."
"mmmmmm"
"Mau lagi."
Utari mengedipkan kedua matanya memberi tanda setuju.
Fari langsung keinti memberi kepanasan tanpa api yang membuat Utari lagi-lagi menjerit merasa nikmat, dia tidak tahu cara mengekspresikan rasa yang begitu nikmat yang bersatu padu dihati, pikiran dan kalbunya.
Dia bergetar, bergetar seperti kena sengatan listrik, kesetrum nikmat.
Fari semakin terangsang dengan melihat Utari bergetar, dia memacu lututnya naik turun nak pemacu kuda handal.
Dan "aaahh" mereka berdua sama-sama lemas. Fari memeluk Utari setelah membersihkan bagian sensitifnya dengan tissu.
"Makasih ai, kamu benar-benar mempesona. Rasanya aku mau lagi dan lagi.
"Utari sudah capek bang, kalau mau lanjut lagi nanti yah. Aku mau tidur sejenak.
"hahaha. Aku tidak sekejam itu ai, aku juga sudah capek dan mengantuk. Kita tidur lagi yah!" Ucap Fari sambil ketawa.
Faisal dan Evi merasakan hal yang aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya, sudah hampir jam 10.00 WIB pagi anak dan menantunya tidak kunjung keluar dari kamar.
"Abang tadi ada lihat Fari atau Utari keluar kamar?
"Gak ada ma, kenapa?
"hmmm. Kok tidak ada tanda-tanda kehidupan bang dikamar mereka. Tidur atau kayak mana." Ucap Evi cemas.
"Kalau gak ditidurin yah menidurin. hehehe."
"ihhh Abang, aku lagi serius loh!
"Yang bercanda siapa. Biarkan saja, biarkan mereka menikmati masa-masa pengantin barunya. Macam tak pernah muda saja." Ucap Faisal sambil mengutak-atik handphonenya.
Evi kembali kedapur sambil mengomel tidak karuan.
"Bukan dapat solusi malah tambah masalah." ucapnya bicara sendiri.
Fari terbangun sambil tersenyum melihat Utari tertidur pulas disampingnya. Dia pun terkejut melihat jam telah menunjukkan pukul 10 lewat.
"Ai, ai bangun." Ucapnya denga lembut sambil mengusap kepala Utari.
Utari membuka matanya dengan perlahan-lahan, rasa nyeri dibagian sensitifnya tepatnya di area sumur bornya membuat pergerakannya harus sedikit berhati-hati. Dengan pelan-pelan dia mencoba duduk.
"Aaauuuu.."Ucapnya dengan sedikit menjerit.
"Masih sakit yah Ai?" Ucap Fari dengan wajah iba.
"Sedikit bang! Ucap Utari sedikit berbohong.
Evi yang kebetulan lewat dari kamar anak menantunya terkejut dan cemas mendengar jeritan Utari.
Dia lalu mengetuk pintu kamar dan memanggil Utari.
"Kreeekk.." Evi memegang gagang pintu dan...
#apakah akan ke gap lagi besti? haha
menurut bln seharusnya pakai ( , ) di tengah' kalimat jangan ( . ) trus hanya beberapa kata lagi sudah ada ( . ) nya