Menceritakan tentang Asagiri Kyouma, maniak playstasion yang terjebak di dalam dunia PES dan memulai karier menjadi Become a Legend
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuki Samui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The blue boy
Pertandingan berakhir. Aku bersiap-siap mandi setelah pertandingan yang bikin aku senam jantung. Niko sendiri pergi menerima penyerahan man of the match sekaligus wawancara pers.
Di dalam ruang ganti, semua masih berbicara satu sama lain dan semua berubah ketika aku, Asagiri Kyouma seorang dewasa yang terjebak di tubuh bocah 16 tahun masuk ke ruang ganti.
"Hebat sekali tadi itu, Asagiri. Aku kagum padamu" puji Yamamoto
"Pemain seratus tahun sekali. Itu tadi hebat sekali." berbinar Inoue
"Aku juga berterima kasih untuk gol terakhir. Kalian juga harus berterima kasih pada Niko. Dia yang buat permainan kita membaik" ucapku merendah
Aku pun membuka bajuku dan bersiap masuk ke kamar mandi bersama pemain lain. Aku tentu tidak akan menjelaskan detail kejadian yang ada di dalam kamar mandi. Itu memalukan sekali.
Aku meletakkan gel sampo setitik di telapak tangan dan membersihkan rambutku yang warnanya seperti minuman grimace shake.
Apakah di kamar mandi boleh berisik? Seumur hidupku tidak ada peraturan semacam itu tapi suara kamar mandi dapat menimbulkan pikiran yang bermacam-macam bagi orang yang di luar kamar mandi.
Bayangkan saja kau berkunjung ke rumah temanmu dan kakaknya sedang mandi. Ketika percikan airnya membasahi tubuh dan buat suara di lantai kan membuatmu berpikir macam-macam.
Aku hanya memberi contoh bukan serius kalian harus mencoba hal yang sudah kusebutkan barusan.
Aku bicarakan hal ini karena ini yang dilakukan rekan setimku di dalam kamar mandi. Banyak yang dibicarakan oleh mereka dan itu lumayan berisik. Atau mungkin perasaanku saja karena kan seharusnya aku hampir di akhir 20-an.
Dan percakapan mereka yang paling kusorot adalah percakapan antara Nakajima dan Inoue. Aku tidak tahu kenapa tapi percakapan mereka sukses melengkungkan senyumku walaupun kecil.
"Hey,Nakajima. Jangan jatuhkan sabunmu" ucap Inoue
"Kau pikir aku cowok seperti apa sih? Kau terlalu banyak nonton film barat." balas Nakajima
"Habis kau sepertinya akan menjatuhkan sabunmu"
"Diam kau"
Ketika aku selesai mandi dan memakai jaket, terlihat Niko datang dengan man of the match yang dia bawa.
"Sepertinya lama sekali. Emang kau sedang buat apa saja disana?" tanyaku pada Niko
"Ya reporternya terlalu mengajukan banyak pertanyaan dan itu sangat rumit. Padahal aku sendiri hanya bek biasa di tim asalku." jawabnya
"Sekali kelas tetaplah kelas. Ya mungkin ini pertandingan pemula kelihatannya. Tapi selalu tunjukkan betapa bahagia kita bermain sepakbola."
"Kau benar. Aku sangat bahagia dipanggil timnas walaupun panggilannya adalah timnas U17."
"Lawan kita berikutnya adalah Meksiko. Aku harap kau memegang perkataanmu. Nikmati saja sepakbola, jadi tetap serius siapapun lawan kita"
Ketika semua sudah ke hotel mereka masing-masing. Aku yang menginap di stadion pun mencoba sendiri kardio malam, melakukan beberapa tembakan ke gawang dalam berbagai posisi dan jarak dan juga jenis penjagaan.
Bahkan mesin penembak bola ku keluarkan agar aku bisa mengimprovisasi olah bolaku agar semakin membaik.
Mesin bola pun menembakkan bola. Di tembakan pertama, bolanya melesat lumayan cepat. Aku malah refleks menghentikan bola dengan bokongku.
Setelah beberapa kali babak belur sakit terkena tembakan mesin itu, akhirnya aku bisa olah bola dengan stopping sempurna.
Setelah mempelajari momentum dan kesiapan akhirnya aku bisa mengolah setiap bola yang melesat ke arahku.
Keringat membanjiri badanku. Karena merasa sudah latihan terlalu lama, aku putuskan hentikan latihan sejenak.
Aku melepaskan jaketku dan terlihat badanku terlalu mengkilap walaupun sudah latihan di malam hari. Malam disini lumayan panas. Sepertinya ini memang efek pemanasan global di negara ini.
"Nampaknya aku harus tidur" ucapku pada diri sendiri
Aku pun langsung pergi ke kamar mandi dan mandi sekali lagi. Untung saja airnya dingin jadi otot dan pikiranku sedikit lebih rileks.