Seorang gadis yang hidup sendirian dipertemukan dengan seorang pria yang baik hati dan memberinya penuh cinta juga perhatian, namun hubungan yang dijalani tidaklah berjalan mudah karena ternyata Kai Crawford memiliki trauma dalam sebuah hubungan... Apakah mereka dapat meraih kisah membahagiakan mereka sendiri? Dapatkah Raine menaklukkan Kai dan membuatnya lepas dari bayangan masa lalu yang menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ancaman Flynn
Sementara Ryder dan Jesse disibukkan dengan berbagai alat, makanan, bumbu yang akan mereka butuhkan untuk melengkapi kegiatan piknik hari ini karena teman-temannya yang lain sedang sibuk mengurus urusan mereka.
Flynn dan Devon memasukkan kedua kakinya ke kolam, ada percakapan yang terjadi hingga kedua insan itu tampak sangat serius dan tidak bisa diinterupsi. Para orang tua dan teman-temannya juga mencoba memberi mereka privasi meski di balik waktu yang mereka punya ada Jesse yang tidak berhenti menggerutu kesal.
"Aku tahu maksudmu baik, maafkan aku karena telah mengatakan banyak hal buruk padamu"
"Jadi?"
"Jadi mari kita berjuang untuk sembuh tanpa seseorang atau pun orang baru. Aku tidak mau melukai siapa pun jika cara itu gagal"
Huh, untuk pertama kalinya seorang Devon Belmore ditolak oleh seorang wanita, ternyata rumor seorang putri Moore yang tidak tersentuh itu nyata adanya, bahkan seorang Devon Belmore sekali pun tidak bisa menaklukan nya.
~*~
Rinai hujan yang turun membubarkan momen menyenangkan tersebut, semua orang berlarian menuju rumah sambil membawa barang-barang yang dapat mereka bawa ke rumah, hanya kursi dan meja saja yang sengaja mereka tinggalkan di sana.
Mereka melanjutkan acara kumpul-kumpul ini dengan menonton film bersama sambil menikmati camilan, tapi karena rumah Kai tidak seluas milik ayahnya, jadi Raine, Casey, Flynn, dan Ryder duduk di karpet. Sementara para orang tua dan kakak-kakaknya duduk di sofa.
Suara tawa yang riang dan lelucon konyol terus mengocok perut mereka, meski sudah tidak kuat untuk tertawa lagi, tapi rasanya begitu sulit untuk berhenti. Jesse dan Casey sampai menangis saking tidak kuat menahannya. Kai mengamati semua orang yang ada di rumahnya sekarang, rasanya begitu hangat dan menyenangkan.
Dulu rumah ini hanya dia gunakan untuk menenangkan diri kala dirinya jenuh dengan rutinitas yang terkesan monoton dan membosankan, dia juga akan berada di sini jika teringat tentang Brooks dan menangis di sudut kamarnya tanpa diketahui oleh siapa pun.
Sekarang hal seperti itu tidak akan terjadi lagi karena sudah ada Raine di sisinya, dia juga senang Hayden sudah berusaha menjadi lebih hangat dan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Darla, aku dengar kau sedang mengikuti program hamil" celetuk Claude—— ayah dari Jesse yang berhasil membuat semua orang diam.
Darla dan Hayden saling tatap, ini mungkin akan menjadi berita besar jika pihak media mengetahuinya, tapi berita yang tidak berdasar juga dapat memberikan petaka bagi mareka.
"Kami sudah terlalu tua untuk memiliki anak lagi" jawab Darla.
Sesungguhnya dia juga ingin punya anak dari Hayden, dia juga kan sebenarnya pernah mengandung anak Hayden saat masih berpacaran, tapi karena terlalu sibuk dan kelelahan akhirnya nyawa sang bayi pun melayang sebelum sempat dilahirkan. Darla sangat terpukul awalnya, tapi dengan cepat dia bangkit dan melupakan semua kejadian itu.
Darla telah memutuskan akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada anak sambungnya, tanpa berniat menyisakan nya barang sedikit pun.
Meski masih tinggal di rumah yang berbeda, Darla sering memperhatikan Kai dan Ryder di sekolah—— kebetulan sekolah Kai dan Ryder berada di yayasan yang sama, dia juga akan menginap jika ada waktu senggang.
"Tapi kalau aku punya adik bayi pasti seru" celetuk Casey.
"Kita tunggu adik bayi dari Kai dan Raine saja" jawab Darla.
"Benar juga"
"Minta saja pada pengantin baru" timpal Jesse.
"Wah, aku jadi tidak sabar, kapan kalian akan punya bayi?"
Kali ini Raine dan Kai yang saling tatap—— Raine mendongak karena posisi dia berada di bawah dan duduk bersandar di kaki suaminya. Jangankan punya bayi, baru ciuman saja Kai sudah mundur dan tidak berani menuntaskannya. Siapa yang tahu kalau wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya ini masih gadis? Raine dan Kai terdiam, tidak tahu harus bagaimana mereka menjawabnya. Dia juga ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya lalu membangun keluarga kecil yang bahagia, dia ingin menciptakan keluarga yang harmonis dan sempurna untuk anaknya kelak.
"Kai?" Dia menoleh saat Hayden memanggilnya.
Jemarinya yang sejak tadi anteng memainkan surai Raine terhenti. Memiliki anak itu sudah pasti keinginan bagi setiap orang yang sudah menikah, tidak terkecuali Kai, tapi dia masih ragu dan belum bisa mempercayai Raine sepenuhnya. Raine adalah seorang pebisnis, meski usahanya belum terlalu besar, tapi dia selalu sibuk mengurus toko kue nya. Jika mereka punya anak suatu hari nanti, apa dia rela meninggalkan pekerjaannya demi bisa mengurus anak atau malah sibuk dengan pekerjaannya dan membiarkan anaknya terlantar? Kai tidak mau apa terjadi padanya dulu, terjadi lagi pada anaknya kelak.
"Kalian harusnya pintar membagi waktu, jangan sama-sama sibuk"
"Raine pintar membagi waktu kok. Dia bahkan menutup tokonya setiap akhir pekan agar bisa bermain denganku" timpal Casey yang membuat Kai menatapnya.
Raine bukan tipe orang yang gila harta, yang rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan kekayaan. Dulu dia harus bekerja keras mencari uang karna harus bertahan hidupnya, tapi sekarang dirinya telah menjadi istri dari seorang dokter. Dia punya uang belanja bulanan dan uang jajan meski tidak bekerja, bahkan jika toko kue nya itu tutup dalam waktu yang lama pun, dia masih bisa makan dan tidur dengan tenang, tidak seperti dulu.
~*~
Pertanyaan tadi sore terus terngiang di telinga Kai. Benar kata Darla, sebuah pernikahan akan sangat membahagiakan dan lengkap jika ada seorang anak.
Kai memeluk bantal nya seraya berpikir, netra nya tertuju pada Raine yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan kimono. Haruskah dia membahas ini?
"Kenapa melamun?"
"Mm... tidak" jawabnya ragu, dia merebahkan tubuhnya dengan posisi yang membelakangi Raine.
"Masih kepikiran tentang percakapan tadi sore, ya?"
Kai buru-buru bangkit, mungkin seharusnya hal ini dibahas supaya dia tidak menerka-nerka dan berprasangka pada istrinya. Toh, sepertinya bukan hanya dirinya saja yang kepikiran, tapi Raine juga.
"Bagaimana... menurutmu?"
"Bagaimana apanya?"
"Tentang punya anak"
"Saya akan menunggu sampai Anda siap"
"Memangnya kau sudah siap?"
Ah, benar. Bukan Raine yang belum siap memiliki anak, melainkan dirinya. Dia yang menggunakan Raine sebagai dalih dari permasalahan ini, dari awal Raine sepertinya tidak keberatan, tapi dirinya lah yang terus-menerus menjaga jarak dan membuat batas.
"Tapi melahirkan itu sakit"
"Itu kan sudah risiko sebagai seorang ibu, tapi kebahagiaannya tidak akan bisa dibandingkan dengan suara tangisnya ketika dia terlahir ke dunia"
"Bagaimana dengan toko kue mu? Kau mungkin akan kerepotan mengurusnya jika harus sambil bekerja"
"Tidak masalah jika toko kue nya harus tutup untuk selamanya. Mencari uang dan membiayai keluarga kan tugas Anda sebagai seorang suami sekaligus ayah"
Demi Dewi Fortuna, takdir mana lagi yang kau ragukan? Raine adalah wanita langka yang pernah dia temui, begitu mudahnya dia menjawab semua pertanyaan Kai tanpa ada keraguan sedikit pun.
Jika Raine yang dulu mungkin akan mementingkan pekerjaan dan uang karena dia hanya punya dirinya sendiri yang menjadi prioritas, tapi sekarang berbeda. Dia akan menjadikan suami dan keluarganya sebagai prioritas baru. Dia akan menjaga apa yang hilang dulu dan tidak mau yang dia alami terjadi lagi.
Raine meraih tangan suaminya membuat Kai menatapnya, berat memang mengambil keputusan seperti ini karena masalah masa lalunya masih belum bisa diselesaikan sepenuhnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, kita bisa melakukan semuanya secara perlahan" ucap Raine sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum.
"Kau pasti kecewa memiliki suami seperti aku. Dasar pengecut!"
Raine menggeleng " seperti yang Anda katakan, kita semua butuh waktu untuk pulih"
Walaupun luka itu akan tetap ada dan membekas, dia yakin akan ada saatnya luka itu mengering dan tidak lagi terasa sakit. Yah, suatu hari nanti, pasti. Ketika mereka berhasil berdamai dengan masa lalu, maka semuanya akan terasa lebih baik dan menjadi lebih indah.
~*~
Esok harinya Kai seperti biasa menjalani aktivitas rutinnya, perkataan Raine semalam sedikit memberinya rasa percaya. Dia yakin semuanya pasti akan bisa berjalan dengan lebih mudah setelah segala kesulitan berlalu.
"Halo, Kai!"
Flynn sedang duduk di kursi kerjanya ketika Kai tiba di ruang kerjanya, wajahnya tampak serius dan menyeramkan untuk dilihat.
"Wow, tumben sekali. Ada angin apa kau datang kemari?"
Ini sebuah kejutan baginya. Gadis yang biasanya enggan pergi ke rumah sakit dan malas kuliah itu sekarang berada di ruangannya, biasanya dia lebih mementingkan game, makan dan waktu untuk bersenang-senang.
"Ada sesuatu yang sangat penting untuk dibahas"
"Apa?"
Wajah Flynn ketika serius sangat mirip dengan Leonardo atau kakeknya. Jika Kai tidak menyembunyikan emosinya saat ini, jujur saja dia merasa gentar sekarang. Flynn ini tampilannya sangat mirip dengan seorang tentara atau mungkin FBI. Meskipun postur tubuhnya lebih kecil dari Raine, tapi dia memiliki otot yang kekar, tubuh yang tegap, dan nada bicara yang tegas. Benar-benar mencerminkan penerus Moore.
Kai duduk di kursi kosong yang menghadap nya, gadis ini biasanya selalu bermain-main dan hanya sibuk dengan buku novelnya, tapi sekali nya masuk mode serius malah mirip sekali dengan singa betina.
"Tentang kecelakaan yang menimpa Raine"
DEG!
Kai menelan saliva nya, dia pikir ibunya sudah cukup pintar untuk menyusun rencana ini agar tidak ada orang yang mengetahui perbuatannya, tapi yang dia hadapi sekarang adalah keluarga Moore. Walaupun Leonardo bukan seorang pengusaha dan tidak memiliki minat untuk bergabung dengan perusahaan keluarganya, tetap saja ada darah Moore yang mengalir di dalam tubuh Flynn. Bakat dan intuisi nya seperti sudah terlatih secara alami.
"Lebih baik kita lupakan saja" kata Kai mencoba tetap tenang.
"Itu karena kau sudah tahu bahwa pelakunya adalah ibumu, kan?
Diantara empat sekawan itu, ada Kai dan Devon yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Kai berhasil meraih gelar dokternya di usia 19 tahun dan menjadi dokter bedah di usia 22 tahun. Sama halnya dengan Devon yang berhasil menjadi ahli psikologi di usia 19 tahun dan menjadi dosen muda di usia 23 tahun.
"Ayolah, kau cukup cerdas untuk mengetahui apa yang terjadi, lagi pula siapa juga yang tidak mengenal seorang Kai Crawford, kan?"
Awalnya Flynn menduga orang yang melakukan hal seperti ini adalah Ryder, pemuda itu meski bodoh di bidang akademik, tapi cukup cerdas dalam melakukan beberapa trik kotor—— Flynn tidak terlalu menyukainya, tapi ternyata pelakunya malah ibunya sendiri. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Kai..."
Flynn memainkan pena yang ada di meja kerja Kai dengan raut wajah yang sulit dipahami, dari nada bicaranya pun Kai tidak yakin apakah dia gadis kecil yang selama ini dia kenal atau bukan.
Dia merasa sedang di interogasi di ruang kerjanya sendiri. Jujur saja, dia sangat cemas saat ini mendengar semua yang dikatakan Flynn, gadis ini bisa saja mengamuk dan hilang akal karena ibunya telah berani mengusik temannya yang paling berharga.
Beberapa tahun yang lalu, ketika dirinya berpisah dengan Raine, dia tampak frustasi dan mencari Raine ke seluruh tempat seperti orang gila, Kai menyaksikan bagaimana masa-masa sulit itu berlangsung.
"Aku akan merebut Raine darimu jika kau membuatnya terluka lagi"
Kai menghela napas berat setelah Flynn pergi dari ruangannya, semuanya jadi berjalan lebih sulit dari yang dibayangkan.
Flynn juga keluar dari rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk, dia tidak tahu apakah sekarang dirinya sedang marah, sedih, atau bahagia. Tidak hanya Raine seorang yang berharga di hidupnya, tapi Kai juga. Pria itu telah memerankan peran seorang kakak dengan sangat baik di hidupnya.
Bukan maksud dirinya bersikap egois, tapi bukankah setiap orang berhak merasakan cinta dan bahagia? Dia juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, bahagia karena dicintai oleh orang yang kita cintai.
Langkah kakinya pun terhenti tepat di depan mobilnya, dia bersandar dan mengeluarkan air matanya yang sudah berdesakan ingin keluar sejak tadi. Rasanya jahat sekali, memanfaatkan kesulitan orang lain demi keuntungan sendiri.
Raine semangat ya, namanya hidup pasti banyak cobaan. kalau banyak cucian ya laundry. 🙏