Maya , wanita yatim piatu yang berjuang mencari keadilan atas kematian adiknya. wanita yang tangguh berdiri seorang diri melawan ketidak Adilan dan kekejaman. Hingga suatu saat seorang wanita renta membuat dirinya memiliki kekuatan untuk mengungkap kebenaran dan ketidak Adilan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Levha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kaca
Pagi tiba dengan cepatnya, maya sedang duduk bersama anisa dan juga panji menikmati sarapan. Setelah sarapan, maya berpamitan kepada anisa dan juga panji lalu segera menaiki taxi online yang telah menunggunya.
Wanita cantik itu tak lupa memberikan senyuman manisnya kepada sang kekasih sebelum taxi online tersebut berlalu.
POV MAYA
Aku duduk sambil menatap keluar kaca jendela melihat keramaian lalu lintas di pagi ini, aku meminta supir taxi agar berhenti tepat di perempatan didepan kami, aku melangkah keluar menuju ke sisi jalan tempat pedagang bunga berada. Bunga marigold menjadi pilihanku. Ku beli se pot bunga berwarna jingga tersebut lalu bergegas memasuki taxi online yang telah menungguku. Kendaraan roda empat itu kembali melaju membawaku ke tempat yang aku tuju.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, aku tiba di depan sebuah gerbang tinggi berwarna emas. Aku berdiri menatap takjub dengan bangunan mewah bak istana di depan mata ku ini. Sebuah rumah berlantai empat yang megah bak istana dengan cat putih berpadukan warna gold yang indah, pekarangan rumah tersebut sangat luas dan asri. Pepohonan tersusun rapi di sekeliling bangunan itu menyerupai pagar. Beberapa orang sedang sibuk menyapu halaman dan merapikan rumput-rumputan yang mulai meninggi.
" Maaf mbak, cari siapa ya...? " suara seorang pria mengagetkan ku. Sontak aku menatap ke asal suara tersebut. Seorang pria paruh baya yang terlihat rapi dengan setelan baju satpamnya.
" Saya Maya pak, dokter adnan menyuruh saya datang kemari. " ucap ku sambil tersenyum tipis kepada pria tersebut.
" oh... iya mari silahkan masuk mbak, tadi sebelum berangkat kerja pak adnan sudah ngasih tau kalau mbak mau datang." ucap satpam tersebut sambil membuka pintu kecil disamping gerbang dan mempersilahkan aku untuk masuk.
" Mari saya antar ke dalam mbak. " ucap satpam tersebut sambil mempersilahkan aku untuk menuju kedalam bangunan mewah tersebut. Aku berjalan mengekori satpam tersebut dari belakang melewati sebuah taman yang indah dengan air mancur berukuran sedang di tengah-tengah taman tersebut, beraneka ragam bunga-bunga menghiasi taman tersebut. Kini tibalah kami didepan pintu rumah mewah tersebut. Satpam tersebut memencet bel rumah sekali, lalu dari arah dalam rumah tersebut seorang pembantu lengkap dengan baju seragam nya membukakan pintu untuk kami.
" Mbak ini, tamunya dokter adnan dan nyonya. " ucap satpam tersebut kepada seorang wanita muda berseragam pelayanan tersebut.
" mari... silahkan masuk mbak. " ucap pelayan tersebut dengan sopan, aku pun segera mengikuti pelayan tersebut sambil menatap sekeliling ruangan mewah tersebut. Sungguh sangat mewah dan wangi. Aku dibuat takjub oleh perabotan super mewah di dalam rumah ini.
" Silahkan duduk dulu mbak, saya akan memangil nyonya. " ucap pelayan tersebut. Aku pun duduk di sofa empuk berwarna hitam tersebut sambil terus menatap kagum ke seluruh pojok ruangan bernuansa putih yang dipadukan dengan warna gold menambah kesan elegan pada bangunan megah itu. Bunga yang ku bawa masih setia dalam pelukan ku.
Mata ku menatap ke arah tangga saat terdengar langkah kaki seseorang menuruni tangga tersebut. Seorang wanita paruh baya terlihat cantik dengan balutan dress berwarna putih selutut miliknya. Kulitnya yang putih bersih dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah menambah keanggunan dirinya. Wanita itu berjalan menuruni anak tangga sambil tersenyum kearah ku. Aku berdiri sambil menunduk dan tersenyum tipis menatap wanita cantik itu. Wanita paruh baya menghampiri ku lalu memeluk tubuhku. Aku terkesiap mendapat perlakuan yang hangat dari tuan rumah.
" maya kan....? " ucap wanita paruh baya itu sambil melepaskan dekapannya. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala ku.
" ayo duduk nak. " ucapnya sambil menarik pelan tangan ku untuk duduk bersama dengannya di sofa empuk tersebut.
" cantik banget, adnan benar-benar gak salah pilih. " ucap wanita paruh baya itu.
" hah...? " ucap ku bingung.
" emmm... maksud mami, adnan gak salah pilih pengasuh untuk ku. " ucap wanita paruh baya itu sambil menggenggam tanganku. Aku hanya mengangguk. Sungguh aneh, wanita disamping ku ini masih terlihat sehat. Menurut ku beliau sama sekali tak memerlukan pengasuh.
" Tugasmu disini hanya temani mami, kita bisa ngobrol dan juga belanja bersama. " ucap wanita paruh baya tersebut. Rupanya beliau hanya membutuhkan teman ngobrol pikirku dalam hati.
" baik nyonya... " ucap ku sambil mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
" no... no... no... jangan pangil nyonya, kamu harus memanggilku dengan sebutan mami, sama seperti anak-anakku yang lain. " ucap wanita tersebut.
" tapi saya cuma seorang pengasuh nyonya. " ucap ku merasa tak enak hati.
" Gak ada tapi-tapian.... " ucap nya. aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
" wah... bunga nya cantik banget. " ucapnya sambil menatap bunga yang ku bawa.
" oh... iya tadi dalam perjalanan ke sini aku melihat ada yang jual bunga ini jadi aku sengaja beli satu untuk mami, semoga mami suka. " ucap ku
" Tentu saja aku suka, ayo kita letakkin di taman bersama bunga-bunga yang lainnya. " ucapnya sambil menarik pelan tanganku dan berjalan ke arah samping kiri rumah mewah tersebut.
" Tolong bawakan cangkir teh dan juga cemilan untuk kami di taman. " ucap wanita paruh baya itu saat melewati beberapa orang pembantu rumah tangga yang berdiri sambil menunduk hormat. Wanita paruh baya itu terus menggenggam tanganku dan membawaku melewati ruang makan yang megah. Sentuhan hangat jemarinya seketika mengingatkan ku pada sosok ibu. Aku tersenyum tipis dengan mata yang berkaca menatap genggaman tangan wanita cantik itu.
Kini kami telah tiba di sebuah taman yang luas, disana beraneka ragam tanama hias dan juga berbagai jenis bunga menghiasi taman yang luasnya hampir setengah dari luas rumah tersebut.
Kami terus berjalan melewati bunga-bunga yang indah tersebut hingga tiba di depan sebuah pintu rumah kaca berukuran sedang. wanita paruh baya itupun membawaku masuk kedalam rumah kaca tersebut. Beberapa bunga langka nan cantik tersusun rapi di dalam sana, aku sangat takjub menatap bunga-bunga tersebut, mereka terlihat sangat indah dan terawat.
" ayo duduk sayang... " ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum padaku.
" Terima kasih nyonya... " ucapku sopan sambil tersenyum kearahnya. kami duduk. bersama di depan meja bundar berwarna putih yang hanya memiliki dua kursi.
" ck.... nyonya lagi, kan tadi sudah ku bilang panggil aku dengan sebutan mami. " ucapnya dengan wajah cemberut.
" eh... iya... maaf mami. " ucap ku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal sama sekali.
aku menatap takjub ke sekeliling tempat tersebut, rumah kaca itu terlihat mewah dan rapi, tak ada sedikit pun tanah yang berceceran di sekitar pot-pot bunga berwarna gold tersebut.
" mereka sangat cantik kan.... " ucap wanita tersebut sambil menatapku.
" ia mam, sangat indah. " ucapku sambil tersenyum tipis.
" saat adnan dan kakaknya tumbuh dewasa, aku mulai merasa kesepian. Ayah mereka yang selalu sibuk dengan bisnisnya dan juga anak-anakku yang mulai sibuk dengan karir mereka masing-masing kadang membuatku bosan sendiri di rumah sebesar ini.Akhirnya aku mulai menanam bunga-bunga ini. Dengan begitu, rasa bosan ku menjadi terobati. Tutur wanita paruh baya tersebut.