Menjadi sebuah obat penyembuh sebuah trauma itu adalah hal yang sangat dinginkan banyak orang.
Dia Andana, seorang perempuan yang memiliki sifat introvert dan memiliki kisah percintaan dimasalalu yang sangat kelam hingga membuat dirinya trauma untuk kembali menerima hati lain yang ingin mencoba mengantikan masa lalunya. Bahkan seorang aktor asal negara Thailand yang menjadi idolanya saja, sangat sulit untuk menerobos masuk kedalam hatinya. Meskipun Andana sangat mengidolakan Prachaya dan Prachaya juga sangat tertarik padanya, namun Andana tidak bisa dengan mudah membuka hati untuk menerima kenyataan bahwa Prachaya tulus padanya.
Dia Prachaya, aktor ternama di negara Thailand. Jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Andana yang datang pada event ulang tahun dirinya.
Namun tidak mudah bagi Prachaya untuk mendapatkan Andana.
Lalu bagaimana cara Prachaya suapaya bisa mendapatkan Andana? Dan apakah Andana bisa melupakan trauma masa lalunya kemudian kembali membuka hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CubbyQuirks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BINGUNG
“Tapi, Mams–”
“Gita?
Prachaya masih mencoba untuk meyakinkan Gita agar Gita mau beristirahat. Wajah Gita sudah mulai memucat, sudah terlihat jelas bahwa ia sudah lelah. Jika ia tetap bersikeras berada di rumah sakit, ia pasti juga akan ikut sakit karena kelelahan.
Gita yang mendapatkan perlakuan itu, hanya bisa terdiam dengan mata memelas agar diizinkan untuk ikut menjaga Andana. Matanya yang sudah sembab itu semakin terlihat lelah, membuat Tay dan Prachaya tidak mengizinkan Gita untuk menjaga Andana.
“Lebih baik pulang ya, Ta. Kamu itu sudah lelah, nanti jika kamu memaksakan diri untuk menjaga An disini, yang ada kamu juga akan ikut dirawat disini. Apa kamu mau?” bujuk Tay.
Gita diam, ia menahan tangisnya dengan tatapan memelasnya memandang kedua idolanya itu.
Tay yang melihat itu langsung menggandeng tangan Gita untuk segera keluar dan kembali ke penginapannya.
Gita tidak menolak, namun ia masih menoleh menatap Andana yang terbaring lemah di atas brankar itu hingga pintu kamar Andana kembali tertutup.
Sepanjang perjalanan pulang, Gita juga memilih untuk diam. Dia sebenarnya masih bingung mengapa semuanya menjadi runyam seperti ini.
“Gita,
Tay mencoba untuk memecah keheningan dan lamunan Gita.
Namun Gita masih tetap larut dalam pikirannya sendiri. Membuat Tay bingung harus bagaimana.
“Gita, hey. Are you okay?” tanya Tay lagi sambil menyentuh tangan Gita.
Gita sedikit terkerjab dan kemudian menoleh ke arah Tay yang sesekali menoleh kepadanya dan ke jalanan yang lumayan ramai itu.
“Kenapa Phi?” tanya Gita dengan mata sembabnya.
“Kamu masih memikirkan Andana, ya?” tanya Tay.
Gita tidak menjawab, namun ia hanya mengangguk pelan sambil mengalihkan pandangannya pada kendaraan yang berada di depannya.
“Gita, semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Kamu lihatkan? Ada P’Lin juga tadi, dia juga mengetahui bagaimana kondisi Andana sekarang. Jadi dia juga akan ikut merawat dan menjaga Andana.”
Tay mencoba menenangkan Gita kembali.
Dan Gita pun hanya diam, ia mencoba tersenyum meskipun tidak bisa ia sembunyikan kesedihan dan ketakutan itu masih jelas tergambar dari wajahnya yang pucat dan lelah itu.
“Maaf ya Phi,” ucap Gita dengan suara paraunya.
“Hmm? Untuk apa?” tanya Tay.
“Maaf karena P’Tay harus ikut terseret dalam masalah ini. Dan P’Tay ikut repot seperti ini,” tambah Gita mencoba menerangkan.
Tay menghela nafasnya. Dan menghentikan mobilnya tepat didepan pintu lobby penginapan Gita.
“Phi bahkan tidak merasa keberatan sama sekali, Ta. Yang ada Phi merasa senang bisa membantu kalian. Kalian datang dari jauh kesini hanya untuk melihat P’Aya. Jadi secara tidak langsung itu juga menjadi tanggung jawab kami.
“Jangan terlalu banyak memikirkannya, Ta. Lebih baik kamu sekarang istirahat, agar besok kamu bisa merasa lebih baik. Besok pagi Phi akan jemput kamu biar kamu bisa ke rumah sakit untuk melihat keadaan Andana, okay?
Tay menatap Gita dengan tersenyum lembut. Memegang tangan Gita yang dingin itu.
Sedangkan Gita hanya diam, ia mencoba kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih untuk bantuannya hari ini Phi. Seharian Phi sudah mengajakku berkeliling dan sekarang Phi juga harus ikut repot karena masalah ini. Jujur aku tidak enak hati,” ucap Gita yang masih menyandarkan tubuhnya pada sandaran mobil milik Tay itu.
“Jangan dipikirkan Ta. Masuklah, istirahat. Besok kita bicara lagi oke,” kata Tay lagi.
Gita tersenyum dan mengangguk. Ia pun turun dari mobil milik Ta dan berjalan memasuki penginapan itu dan menghilang di balik lift yang sudah membawanya naik keatas.
Setelah melihat Gita masuk kedalam, Tay pun kembali melajukan mobilnya. Ia ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat bagaimana Prachaya dan P’Lin akan mencari jalan keluar masalah ini.
***
“P’Lin, bisakah aku disini untuk menjaga Andana? Bisakah aku tidak mengikuti kegiatan apapun hingga Andana pulih?” pinta Prachaya saat Gita sudah keluar dari kamar itu.
“Aya, kamu sudah mengundur beberapa pekerjaanmu belakangan ini. Besok adalah jadwal kamu untuk pemotretan brand luar negeri. Tidak bisa di batalkan lagi, Aya. Bukan aku tidak mengizinkannya. Tapi pemotretan besok tidak bisa diundur lagi.
“Kamu sudah berapa hari ini mengundur semua schedule mu, Aya. Phi tidak ingin kamu mendapatkan masalah. Jadi besok pagi kamu ikuti pemotretan itu, okay. Dan satu wawancara dengan perusahaan kosmetik brand dari tempat kamu pemotretan itu. Sisanya akan Phi yang urus. Bagaimana?”
Lin mencoba untuk membuat Prachaya berfikir lagi. Ia memang sudah terlalu mengabaikan pekerjaannya. Tapi Lin juga memahaminya, mengapa ia sampai seperti ini. Namun tanggung jawab pekerjaan adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Prachaya duduk lesu di kursi samping ranjang Andana. Ia menatap Andana yang masih tertidur lelap disana. Prachaya mencoba mencari jalan keluar untuk semuanya.
Namun ia juga memikirkan pekerjaannya yang terbengkalai beberapa hari ini.
“Apakah aku belakangan ini benar-benar berubah, Phi?” kata Prachaya yang menatap kearah jendela kamar itu.
“Aya, bukankah sejak awal Phi sudah memperingatkanmu tentang hal ini?” ucap Lin yang memahami perasaan Prachaya.
“Maafkan aku Phi. Aku terlalu terobsesi,” sesal Prachaya.
“Karena obsesiku itu juga membuat orang yang ku sayang juga ikut menderita,” tambah Prachaya lagi.
“Aya, tidak seharusnya kamu mengatakan hal seperti ini. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Siapa yang bisa menolak sebuah perasaan. Ini hanyalah masalah waktu. Yakinlah kamu pasti akan bisa melewati ini semuanya.
“Kejarlah apa yang perasaanmu inginkan saat ini, berjuanglah! Phi tidak akan melarangmu. Namun kamu juga harus bisa membuat semuanya seimbang. Jangan abaikan salah satunya.
“Kamu paham dengan apa yang Phi ucapkan, kan?
Lin mencoba memberikan lagi penjelasan pada Prachaya. Perasaan yang pertama kali ia rasakan ini memang sedikit membuatnya tak terarah. Nyaris membuat ia menghilangkan karakter dirinya yang sudah ia bangun selama ini.
“Aku mengerti Phi. Maafkan aku, Phi pasti kesusahan beberapa hari ini karena aku,” sesal Prachaya.
“Itu tidak jadi masalah, Aya. Phi mengerti,” ucap Lin sambil mengusap lembut pundak Prachaya.
Prachaya kembali memandangi Andana, ia kembali memegang tangan Andana yang terkulai lemas itu. Mengusap lembut wajahnya dan membenarkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya itu.
“Dia benar-benar cantik ya, Aya? Lihatlah, ketika ia tertidur seperti ini saja, tidak mengurangi manisnya wajah ini. Apakah ia benar-benar pengagummu?” ucap Lin sambil menatap Andana dengan senyuman.
“Aku pun masih tidak percaya Phi, bahwa dia adalah salah satu penggemarku. Rasanya sangat mustahil orang sepertinya bisa mengagumiku yang tidak seberapa tampan ini,” jawab Prachaya yang masih menatap Andana.
“Heui, siapa bilang kamu tidak tampan. Kamu memiliki jutaan penggemar di berbagai dunia. Bahkan kamu sudah berkali-kali memenangkan penghargaan sebagai aktor muda yang berbakat dan juga rupawan. Dari mana kamu bisa mengatakan bahwa kamu tidak tampan,” ucap Lin dengan nada tidak setuju.
Dan itu tentu saja membuat Prachaya terkekeh sebentar.
“Phi sangat ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Apakah Phi bisa berkomunikasi dengannya nanti ya?” tanya Lin.
“Bahasa inggrisnya tidak terlalu baik Phi, ketika ia berbicara dengan bahasa inggris, aku selalu saja menahan tawa karena cara dia mengucapkan kata-kata dalam bahasa inggris itu sangat lucu. Itu juga salah satu alasan mengapa aku tidak bisa membiarkannya meninggalkan aku.
“Ketika event ulang tahun yang kita buat kemarin, dia sudah benar-benar mengalihkan perhatianku. Untukku, dia adalah kado terindah yang diberikan Tuhan padaku selama ini.
“Itu sebabnya, aku tidak ingin kehilangan dia.
Prachaya kembali menceritakan perasaannya tanpa ia sadari. Membuat Lin mengulum senyum sambil menatap artis kesayangannya itu.