Aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, aku belum tahu apa itu cinta. Tetapi saat ini aku sedang mencoba membuka hati untuk seorang pria yang kutemui tanpa sengaja.
Namun setelah hatiku sepenuhnya terbuka untuknya, aku malah menemukan fakta mengejutkan darinya, ternyata dia adalah anak indigo yang sering dianggap memiliki gangguan jiwa oleh banyak orang karena dia sering berbicara sendiri.
Meski begitu ....
Ku masih ingin mengenal cintanya lebih dalam lagi, aku ingin memahaminya di saat semua orang menjauhinya dan menganggapnya gila.
Bagiku, dia tidak gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri_pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Masih Diincar
Setibanya di ruang UGD, Ardhan langsung merangkul adiknya dan mencium pucuk kepala sang adik.
"Ara di mana?" tanya Arandha sambil menatap kakaknya.
"Kamu masih ada di rumah sakit, Dek." Ardhan menjawab sambil tersenyum dan menatap haru wajah adiknya.
"Kepala Ara pusing, Kak?" adu Arandha pada kakaknya.
"Anda baru saja melewati masa kritis jadi emang masih pusing, nanti lama-kelamaan nggak kok." Dokter yang menjawab pertanyaan Arandha.
"Dok, apakah dia masih harus ada di UGD?" tanya Ardhan sambil menatap dokter.
"Besok sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat inap, Pak," jawab pria berjas putih itu sambil tersenyum.
"Baiklah, Dok. Makasih ya."
***
Keesokan harinya, Arandha sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan saat ini dia sedang makan bubur, disuapi oleh kakaknya.
"Enak buburnya?" tanya Ardhan sambil tersenyum pada adiknya.
"Hambar gini kok enak," jawab Arandha sambil memakan bubur yang masih ada di dalam mulutnya.
"Namanya juga bubur pasti hambar lah?"
"Ara mau bicara sama Kak Ardhan."
"Bicara apa? Tinggal bicara saja kok."
"Tentang Kak Ghani," ucap Arandha sambil menatap sang kakak dengan tatapan penuh harap, dia sangat mengharap sang kakak bisa peka dengan keadaannya.
"Ghani? Ada apa dengan dia?" tanya Ardhan sambil menaikkan sebelah alisnya.
Arandha terdiam, tadinya dia ingin memberi tahu namun keberaniannya hilang secara tiba-tiba.
"Apakah aku harus beri tahu sekarang?" tanya Arandha pada dirinya sendiri, di dalam hati dia berdiskusi dengan dirinya sendiri sebelum memberi jawaban.
"Ada apa dengan Ghani, Ra?" Pertanyaan ulang dari Ardhan membuat Arandha langsung menatapnya. Tatapannya seolah ingin mengatakan sesuatu tapi hatinya masih ragu.
"Ara?"
"Eh, iya, Kak. Jadi gini, Kak Ghan—" Ucapan Arandha terpotong ketika ponsel Ardhan berdering membuat Ardhan memberi kode tangan untuk Arandha diam atau menunggu sebentar.
Ardhan kini merogoh saku celananya untuk meraih benda pipih berwarna silver di bagian belakangnya itu.
"Halo?" ucap Ardhan seraya berdiri dan pergi keluar.
Arandha menghela nafas gusar ketika lagi-lagi dia tidak jadi mengatakan kebenaran tentang Ghani pada sang kakak.
"Mungkin memang aku harus merahasiakan hal ini untuk selamanya," ucap Arandha sambil kembali merebahkan tubuh ke kasur setelah sebelumnya duduk untuk makan.
Tak beberapa lama kemudian, Ardhan masuk bersama dengan Damian.
"Dek, Kakak harus ke Polres sebentar karena ada urusan, Kakak janji akan cepat pulang," ucap Ardhan seraya berjalan ke arah brankar Arandha dan kemudian mencium pucuk kepala Arandha.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa kok," jawab Arandha sambil tersenyum pada kakaknya.
"Saya harap kamu nggak macam-macam lagi," ucap Ardhan seraya menatap Damian yang sedang menaruh buah-buahan bawaannya ke atas meja.
"Baik, Pak."
Setelah itu Ardhan langsung pergi dari sana untuk menunaikan tugas negaranya. Damian menghela nafasnya dan kemudian duduk di kursi samping brankar.
"Bagaimana kondisimu, Ra?" tanya Damian pada Arandha.
"Kenapa ada Damian di dalam mimpi menyeramkanku waktu itu ya?" tanya Arandha di dalam hatinya ketika dia mengingat sesuatu.
"Kamu mikirin apa? Kok diem?"
"Oh, nggak. Hanya mikir mimpi aja."
"Mimpi apa?"
Arandha terdiam sejenak dan kemudian menjawab, "Jadi beberapa waktu yang lalu aku mimpi buruk dan ada kamu di dalamnya."
Damian sedikit tersenyum dan kemudian dia berkata, "Oh, ternyata kamu tahu ...?"
"Tahu apa?"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa kok."
"Kamu tahu dari mana aku dirawat di sini?" Pertanyaan Arandha membuat Damian terdiam sesaat mencari alasan yang tepat dan logis.
Setelah mendapat alasan, Damian segera berkata, "Sebenarnya sih nggak sengaja, jadi kemarin aku lihat pak Ardhan ada di rumah sakit ini jadi mungkin kamu sakit, ternyata emang benar kalau kamu sakit."
"Oh, begitu ...."
"Kamu mau makan buah nggak? Aku bawain buah-buahan nih?" tawar Damian sambil tersenyum.
"Boleh deh, aku mau apelnya aja dulu," jawab Arandha sambil tersenyum.
"Aku kupas bentar ya," kata Ardhan yang kemudian bergegas pergi untuk mengambil buah dan mengupasnya.
"Makasih ya udah dibawain buah-buahan."
"Sama-sama."
Beberapa saat kemudian, Damian kembali ke kursi setelah mengupas dan memotong satu buah apel merah.
"Mau aku suapin?" tawar Damian sambil duduk ke kursi.
"Enggak usah deh. Aku makan sendiri aja ya?" tolak Arandha dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu," jawab Ardhan seraya memberikan piring berisi beberapa potongan apel merah pada Arandha.
Arandha beranjak duduk dan kemudian menerima piring tersebut dan langsung memakan buah yang ada di dalamnya.
"Ara?" Panggilan Damian membuat Arandha yang sedang makan buah langsung menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Arandha sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Em ... kenapa kamu nggak jujur soal Ghani?"
Arandha terdiam dan raut wajahnya berubah menjadi murung setelah Damian mengingatkannya dengan Ghani.
"Ada alasan yang nggak bisa aku kasih tahu ke kamu."
"Jelasin aja, Ra. Siapa tahu aku bisa bantu kamu."
"Enggak semua hal harus aku jelasin, Mas," jawab Arandha dengan tatapannya yang masih sendu.
"Baiklah kalau nggak mau jawab, nggak apa-apa kok, tapi kapanpun kamu butuh teman curhat. Aku siap mendengar semua ceritamu," kata Damian sambil tersenyum.
"Terima kasih," ucap Arandha sambil tersenyum tipis menyembunyikan rahasianya.
"Aku sebenarnya sudah tahu semuanya tentang kamu, Ra. Tapi aku nggak mau ngomong sebelum kamu jujur sendiri karena aku takut kamu marah dan anggap aku sok tahu lagi," kata Damian di dalam hatinya.
***
Di lain tempat, seorang pria yang tidak lain adalah Mr. Mafish sedang duduk di sofa ruang tamu rumah mewahnya.
"Mana janji kalian, hah?!" bentak Mr. Mafish pada ketiga anak buahnya.
"Maaf, Tuan. Gadis itu sangat sulit untuk didapatkan karena ada pelindungnya," jawab salah satu dari ketiga anak buahnya yang masih menundukkan kepala.
"Siapa pelindungnya?" tanya Mr. Mafish sambil melepas kacamata hitam yang dia kenakan.
"Seorang pria, tapi kami nggak tahu siapa namanya, Pak James sudah pernah menjebaknya tapi sepertinya pria itu masih mau melindungi gadis itu, Tuan," jawab anak buahnya lagi.
"Bodoh!" murka Mr. Mafish sambil memukul meja menggunakan tangan kanannya.
"Pokoknya saya nggak mau tahu, gadis itu harus kalian dapatkan bagaimanapun caranya, saya nggak mau tahu!" bentak Mr. Mafish sambil berdiri dari duduknya.
"Sayang!" Panggilan seorang wanita muda yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah membuat Mr. Mafish langsung menoleh.
"Keluar kalian!" titah Mr. Mafish pada tiga anak buahnya.
Ketiga anak buahnya itu kemudian segera pergi keluar dari sana.
"Kapan kamu kembali Clara?" tanya Mr. Mafish pada kekasihnya itu.
"Tadi pagi, aku nggak kuat pisah lama-lama sama kamu," jawab Clara sambil tersenyum dan mencium pipi Mr. Mafish.
"Aku juga nggak kuat, aku rindu," ucap Mr. Mafish sambil kembali duduk ke sofa bersama dengan kekasih mudanya.
"Foto siapa ini?" tanya Clara sambil mengambil foto seorang gadis dari atas meja.
"Kamu selingkuh ya sama gadis muda ini?" lanjut Clara yang menuduh Mr. Mafish.
"Enggak! Dia itu gadis yang sedang aku incar, dia harus tiada dan menyusul orangtuanya ke alam bakar," jawab Mr. Mafish sambil memasang tatapan tajam ke arah foto itu.
"Sepertinya aku mengenal gadis ini?" ucap Clara sambil menatap fokus foto itu.
"Apa?" Kaget Mr. Mafish.
lanjut update kak
tetap semangat update ya kak💪
tetap semangat update ya kak💪
semangat update kak💪
Ada tegangnya, ada bapernya.
Ada seramnya, ada romantisnya.
Ada juga komedinya loh dari si imut Sherri😊