Elia putri Duke Haliden menikah dengan putra selir kaisar yang berstatus Duke, Julius Harbert.
Pernikahan yang tidak didasari cinta tidak akan bertahan selamanya, itulah yang Elia percaya. Julius selalu melihatnya sebagai gangguan di matanya.
Selama tiga tahun pernikahan Elia siang malam memikirkan bagaimana caranya lepas dari rumah Harbert yang tidak pernah menghargainya.
Kematian.
Hanya ada satu ide yang terlintas di benaknya.
"Seperti apa yang kamu inginkan, Duke! Kematianku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Pesta
Beruntungnya, Owen masuk tepat waktu. Dia membawa sebuah botol kaca berwarna bening berisi sebuah cairan berwarna ungu muda. Itu adalah obat penawar Violacea. Bunga Viola aroma yang sangat harum, efeknya sangat kuat jika itu dijadikan racun. Rasa menetralkannya adalah dengan menghilangkan aroma harumnya tersebut. Satu-satung bunga yang memiliki aroma lebih harus selain Viola adalah bungan Hydrangea. Meskipun tidak seungu Viola, Hydrangea sangat ampuh mengalahkan aroma Viola yang beracun.
Namun pembuatannya cukup memakan waktu karena Hydrangea harus diekstrak untuk mendapatkan sari airnya. Kemudian sari ini akan dicampurkan dengan Viola yang telah ditumbuk. Harus menunggu beberapa saat agar sari Hydrangea mengikat Viola kemudian menetralkan aromanya. Jadilah penawar Violacea.
Setelah memberikan penawar kepada Ines, Julius tetap berada di sampingnya. Menolak untuk meninggalkannya. Owen keluar dari ruangan namun tetap berjaga di luar. Berdiri tegak dengan isi kepala yang penuh dengan ingatan Julius yang sedang menangis sambil memeluk tubuh Ines yang tak sadarkan diri. Dia hampir menjatuhkan botol obat di tangannya saat melihatnya. Jika saja Julius tidak segera mengenali kehadirannya dan secepat kilat menyambar obat di tangannya, Owen pasti lebih memilih Julius dibandingkan botol tersebut.
Sungguh memilukan. Selama dia menjadi ajudan Julius, sejak dia masih sangat muda hingga sekarang, Owen tidak pernah melihatnya menangis. Bahkan dalam keadaan paling menyakitkan seperti dianiaya oleh keluarganya, Julius setegar karang. Berdiri tegak tanpa mengeluhkan apapun. Lalu apa yang dia lihat barusan. Owen berdiri lingling dengan isi kepala yang penuh.
Fajar menyingsing.
Julius secara berkala melihat kondisi Ines. Demamnya sudah turun, wajahnya juga sudah kembali ke warna semula. Rona merah di pipinya perlahan kembali. Dia tidak tidur sama sekali. Menjaga Ines seorang diri. Tidak pernah melepaskan tangannya bahkan pandangannya.
"Owen!" Panggil Julius.
"Saya Yang Mulia." Pintu berderit dan sosok Owen muncul.
"Kirim orang ke rumah Lord Theodore, sampaikan jika Lady Ines tiba-tiba sakit saat pesta berlangsung. Jadi dia beristirahat sementara waktu di istana. Jangan lupa sampaikan mereka tidak perlu khawatir." Titah Julius.
"Baik Yang Mulia." Jawab Owen seraya menunduk.
"Bagaimana dengan Yosef Hayes?" Julius bangkit setelah merapikan selimut Ines. Kemudian menatap Owen dengan tajam.
"Saya sudah menanam orang di sekitarnya Yang Mulia."
"Pastikan kamu tidak kehilangan jejaknya. Setelah ini aku perlu membuat perhitungan padanya."
Owen mengangguk kemudian meninggalkan Julius. Perintah adalah mutlak. Dibandingkan dengan mengirim orang lain. Owen memilih untuk pergi ke rumah Lord Theodore sendiri.
Saat sinar matahari mulai tinggi ada beberapa pelayan datang. Mereka dikirim langsung oleh Giselle setelah mendengar kabar dari Wilhem. Bahkan dia memberi pesan khusus pada Julius.
Maka disinilah Julius, di meja makan bersama dengan Wilhem dan Giselle. Julius datang sangat terlambat. Jadi waktu sarapan terlewatkan. Giselle menggantinya dengan makan siang.
Acara makan sederhana yang dipenuhi dengan obrolan. Penuh keseriusan. Mereka lebih banyak membicarakan tentang Ines Margareth. Sengaja menutupi Yosef Hayes padahal sebenarnya semua tahu penyebab keadaan ini adalah dia.
Julius menjelaskan semua yang terjadi. Ditutup dengan beberapa pendapatnya. Mengolah katanya agar tidak menghakimi. Berpandangan terbuka namun tajam. Mengkritik bahkan menyalahkan. Akhirnya nama Yosef Hayes muncul. Julius tidak bisa menahan lagi amarahnya.
Giselle yang diam-diam mendengarkan sesekali mengangguk. Menimpali dengan beberapa kalimat. Dia tahu bahwa situasi ini sangat rumit. Inoa memiliki hukum yang ketat terkait penggunaan obat-obatan terlarang. Apalagi ini adalah racun Violacea.
Dalam hukum Abuse di Inoa, menyelundupkan obat-obatan yanh tida diakui oleh negara akan memdapatkan hukum yang berat. Salah satunya adalah hukuman seumur hidup atau pengusiran dari Inoa.
Jika terbukti, nasib Yosef sedang dipertaruhkan.
Berbeda dengan respon Giselle yang cenderung diam, Wilhem merespon dengan banyak kalimat menenangkan. Menengahi. Banyak memberikan jawaban yang bijaksana.
Amarah Julius yang meluap-lupa berhasil ditekan oleh Wilhem. Mereka butuh bukti yang kuat untuk menuntut perbuatan Yosef Hayes. Jangan sampai mereka salah langkah. Bagaimanapun ada kekuatan besar dibelakang Yosef. Tidak mungkin dia sendirian berani melakukan hal kotor seperti ini.
"Ratifikasi perjanjian kita kapan bisa dilaksanakan?" Tiba-tiba Julius mengubah topik pembicaraan karena dia tidak bisa terus membahas Yosef. Banyak hal yang telah dia pikirkan semalam. Melihat kondisi Ines yang seperti itu dia tidak bisa menjadi waras.
"Proses penandatangan menuju ratifikasi kurang lebih sepuluh hari sejak dokumen resmi selesai dibuat pangeran. Apakah anda terburu-buru?" Jelas Wilhem.
Julius mengangguk. "Saya harus segera kembali ke Delian."
"Secepat itu?" Giselle kini ikut menimpali.
"Saya harus bergerak cepat. Saya tidak bisa membiarkan nyawa Ines terancam."
"Maaf?" Giselle tidak mengerti maksud Julius. Apa hubungannya Ines dengan Julius yang harus segera kembali ke Delian. Dia menatap Julius penuh tanda tanya.
"Saya akan membawa Ines kembali ke Delian."
"Pangeran?" Ucap Wilhem terkejut. Berbarengan dengan Giselle yang tak kalah terkejutnya.
Ada keheningan sejenak. Julius sebenarnya tidak ingin menceritakan kepada siapapun tentang Ines yang sebenarnya. Namun dia harus membawanya kembali ke Delian. Disini pergerakannya terbatas. Kekuasaannya tidak sebesar di Delian. Prioritas utamanya adalah Ines. Hanya untuk Ines.
Tapi karena Ines memiliki kehidupan di Inoa, dia tidak bisa begitu saja membawa Ines ke Delian. Pasti ada orang-orang yang akan mempertanyakan tindakannya ini. Bahkan bisa saja terjadi masalah mengingat keluarganya di Inoa.
Julius menghela nafas kasar.
"Ada banyak hal yang terjadi dan saya tidak tahu harus memulai darimana." Jelas Julius.
Giselle dan Wilhem saling melempar pandang dalam diam.
"Yang Mulia pasti pernah mendengar bahwa saya pernah menikah bukan?"
Mereka serempak mengangguk. Masih mendengarkan Julius dalam diam.
"Istri saya meninggal setelah tiga tahun pernikahan karena sebuah kecelakaan kereta."
"Ya saya pernah mendengarnya." Giselle menjawab. Dia pernah mendengar ini di sebuah pesta. Namun bukan berita yang sangat populer. Maka Giselle meninggalkan ingatan itu dibelakang.
"Wajahnya tidak bisa dikenali karena luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Kami semua mengira itu adalah istri saya, Elia. Namun belakangan saya baru tahu jika ada satu pelayan yang berada di kereta yang sama." Julius kembali mengingat isi surat dari Kreos. Bahkan Julius masih jelas mengingat nama pelayan itu, Aster.
Pelayan yang tidak pernah dia kenal, terkubur sebagai Elia Haliden. Saat jasad terbakar itu dikuburkan bukan dengan nama Harbert, Julius hanya diam saja. Bahkan tidak dikuburkan di tempat para anggota kekaisaran di kuburkan. Julius tak membantah. Wanita itu tetap menyandang namanya Elia Haliden.
Benar apa yang dikatakan Ines semalam, sejak kapan dia menjadi Harbert. Dia hingga mati adalah Elia Haliden.
Julius menyadari kesalahan besarnya. Tapi dia tidak bisa lagi mundur. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan mengulangi kembali kesalahannya.
"Kami semua mengira bahwa istri telah mati dan dikuburkan dengan tenang, namun dia ternyata belum mati."
Udara disekitar mereka membeku. Bagaimana bisa seseorang yang sudah dikuburkan dan dinyatakan mati tapi belum mati. Tidak masuk akal. Sangat mengada-mengada.
"Saya bertemu lagi dengannya, istri saya, Elia Harbert, di Inoa." Julius berusaha membiasakan diri dengan kata Elia Harbert. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
"Apa maksud anda pangeran? Bagaimana orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi?" Giselle sakit kepala. Cerita Julius di luar kepalanya.
"Lalu siapa orang itu?" Tanya Wilhem tajam. Dia berusaha menenangkan dirinya dari hal tidak masuk akal yang Julius katakan.
"Ines Margareth." Jelas, singkat dan padat.
"Ah..." Wilhem mengangguk penuh arti. Sebuah ingatan yang telah lampau kembali mengisi kepalanya.
Dia kembali ke saat dia bertemu dengan Julius pertama kali untuk membahas perjanjian gula dan teh. Saat itu dia tidak sengaja memanggil ahli bahasa dan datanglah Ines yang sedang magang di perpusatakaan Inoa. Jika tidak salah ingat Julius mengatakan jika Ines sangat mirip dengan mendiang istrinya.
Ya. Semuanya menjadi jelas. Potongan-potongan ingatannya menjadi sebuah garis lurus.
Bersambung...