Indonesia
NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:865
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Catatan Kaki yang Diabaikan

Markas terasa lebih sunyi dari biasa malam itu, meski hampir semua orang berkumpul di ruang utama. Kabar dari patroli menyebar cepat begitu Arden, Corym, Petra, dan Yuna kembali, dan tidak ada yang benar-benar bersemangat membicarakannya lebih jauh. Lentera di meja panjang menyala lebih redup dari biasa, entah karena minyaknya memang menipis atau karena tidak ada yang sempat mengganti sumbunya. Ilsa duduk di sudut membersihkan belatinya tanpa benar-benar membutuhkannya bersih, gerakannya berulang dan mekanis, lebih untuk menyibukkan tangan daripada merawat senjata. Ness menghitung ulang angka yang sama di bukunya tiga kali, dan Halden hanya berdiri dekat perapian, menatap api tanpa berkata apa-apa.

Doran duduk di lantai bersama Ashe, mengelus bulu familiarnya perlahan, sesekali melirik ke arah pintu seolah menunggu sesuatu yang belum tentu datang. Tomas bersandar di dekat jendela, memandang keluar ke jalanan kota yang mulai sepi.

Brann memecah keheningan dengan membuka Kodeks Verlanth di meja panjang, halaman-halamannya masih tersusun rapi sejak malam di reruntuhan Greywood.

"Kalau perkataan tawanan itu benar," katanya, "kita perlu membaca ulang buku ini lebih teliti. Bukan cuma tiga teori asal Menara. Ada bagian-bagian yang kita lewatkan waktu itu, terlalu sibuk merayakan penemuan besar."

Arden duduk di ujung meja, tangannya terlipat, tapi matanya mengikuti setiap gerakan jari Brann membalik halaman.

"Kalimat 'Penjaga benar' terus mengganggu," gumam Corym, menyandarkan diri ke dinding. "Siapa pun 'Penjaga' yang dimaksud, ia jelas bukan sekadar julukan kosong bagi mereka."

"Malrik Vaenn," kata Petra pelan. "Kalau memang dia pemimpin Ordo seperti yang diduga Brann, mungkin itu gelarnya."

"Kalau begitu ada orang lain di atas Malrik," kata Ness, tidak mengangkat kepala dari bukunya, jarinya terus menelusuri angka-angka di halamannya sendiri. "Kita belum pernah benar-benar melihat wajahnya. Cuma nama yang disebut-sebut, diulang dari mulut ke mulut tanpa siapa pun yang benar-benar bertemu langsung dengannya."

"Terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit kepastian," gumam Halden dari dekat perapian, suaranya berat seperti biasa. "Itu yang membuat lawan seperti ini berbahaya. Mereka bergerak di ruang yang tidak bisa kita petakan."

Yuna duduk paling jauh dari meja, jubahnya masih berdebu dari patroli, matanya menatap kosong ke arah lantai. Sejak insiden di gudang tadi malam, ia lebih banyak diam dari biasa, jawaban singkat, tatapan yang sering melayang jauh. Tidak ada yang memaksanya bicara, tapi beberapa pasang mata sesekali melirik ke arahnya dengan kekhawatiran yang tidak terucap.

Brann membalik halaman demi halaman, membaca cepat, sesekali berhenti untuk membaca ulang bagian yang tampak relevan, lalu melanjutkan lagi ketika tidak menemukan apa pun. Cahaya lentera membuat bayangan hurufnya bergerak-gerak di wajahnya yang lelah, matanya sudah mulai merah karena terlalu lama membaca dalam cahaya remang. Sesekali ia menggosok matanya dengan buku jari, memaksa diri tetap fokus meski tubuhnya jelas menuntut istirahat.

"Sebagian besar bagian ini soal sejarah pendirian Aldenmere, bukan Menara itu sendiri," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. "Penulis kodeks ini sepertinya suka melompat topik tanpa peringatan."

Ness mengangkat kepala dari bukunya. "Kalau begitu kenapa masih dibaca?"

"Karena kadang informasi penting disembunyikan di tengah hal yang membosankan," jawab Brann, tanpa mengangkat mata dari halaman. "Orang yang tidak ingin sesuatu ditemukan biasanya tidak menyembunyikannya di tempat yang jelas."

Tomas melangkah mendekat dari jendela, berdiri di belakang Brann, ikut memandang halaman yang sedang dibaca meski tidak sepenuhnya paham istilah-istilah lama yang digunakan penulisnya. "Kau bisa membaca semua ini semalaman?"

"Kalau perlu," jawab Brann, tanpa mengangkat kepala. "Lebih baik mataku lelah daripada kita kehilangan petunjuk penting karena aku terlalu malas membaca dua ratus halaman."

Ia terus membalik halaman, sampai jarinya berhenti di bagian bawah salah satu lembar, sebuah catatan kaki kecil tercetak dalam huruf yang jauh lebih kecil dari teks utama, mudah terlewat kalau tidak diperhatikan dengan sengaja.

"Ini menarik," katanya, mengerutkan alis.

"Apa?" tanya Corym, mendekat.

Brann membacanya keras-keras, suaranya datar seperti membaca catatan administratif biasa. "'Beberapa sarjana skeptis meyakini keberadaan sebuah Menara yang mendahului seluruh Menara lain, disebut dalam catatan lisan sebagai Menara Pertama. Klaim ini tidak pernah didukung bukti fisik apa pun dan umumnya dianggap mitos akademis oleh Dewan Sarjana Benua.'" Ia mengangkat bahu kecil. "Cuma itu. Satu kalimat, lalu penulisnya lanjut membahas struktur pajak kota lama."

"Menara Pertama," ulang Petra, mengulurkan tangan untuk melihat halaman itu sendiri, meski hurufnya terlalu kecil untuk ia baca jelas dari sudut duduknya. "Terdengar seperti dongeng anak-anak."

"Mungkin memang begitu," kata Brann, sudah bersiap membalik halaman berikutnya, tidak menaruh perhatian lebih dari sekadar rasa ingin tahu sesaat. "Dewan Sarjana menolak banyak hal yang belum bisa mereka buktikan. Bukan berarti semuanya salah, cuma belum ada yang cukup peduli untuk membuktikannya."

Arden tidak bergerak. Sesuatu di dalam dadanya berdenyut pelan, seperti bel yang dibunyikan jauh di kejauhan, cukup samar untuk diragukan, cukup jelas untuk tidak bisa diabaikan sepenuhnya. Nama itu terasa familiar dari suatu tempat yang tidak bisa ia ingat jelas, seperti kata yang pernah didengarnya bertahun-tahun lalu, dalam suara yang sudah lama tidak ia dengar.

Jari-jarinya mengetuk pelan di atas meja, ritme yang tidak ia sadari sendiri, sampai Corym meliriknya dan ketukan itu berhenti.

Ia meraih liontinnya sendiri di balik kerah baju, ibu jarinya mengusap permukaannya tanpa sadar, gerakan yang sudah jadi kebiasaan lama sejak insiden 13 tahun silam.

"Kau baik-baik saja?" tanya Corym, memperhatikan gerakan itu.

"Ya," jawab Arden, terlalu cepat. Ia menurunkan tangannya kembali ke pangkuan, menyelipkannya di bawah meja agar tidak terlihat gemetar halus yang baru saja muncul. "Cuma lelah."

Corym menatapnya sesaat lebih lama dari yang perlu, tapi tidak mendesak lebih jauh, kembali fokus pada Brann yang sudah melanjutkan membaca halaman berikutnya.

Brann tidak menyadari perubahan kecil di wajah Arden, terlalu tenggelam dalam mencari petunjuk lain yang lebih relevan dengan Ordo Menara Sunyi dan Lantai Tersegel. Ia melewatkan catatan kaki itu begitu saja, satu kalimat di antara ratusan lainnya, tidak lebih penting dari catatan tentang pajak atau sejarah pendirian kota.

Tapi bagi Arden, kalimat itu terus bergema, menolak untuk pergi, menempel di suatu tempat yang lebih dalam dari ingatan sadarnya. Ia mencoba mengingat, memaksa dirinya menelusuri kembali setiap percakapan lama, setiap wajah dari masa lalunya yang mungkin pernah menyebut nama itu, tapi yang datang hanya kabut, dan di baliknya, samar-samar, sesuatu yang terasa seperti suara seseorang tertawa pelan di malam berbintang.

Ia menatap api perapian, mencoba menelusuri kembali dari mana rasa familiar itu berasal, tapi setiap kali ia hampir menyentuh sesuatu, ingatan itu menghilang lagi ke dalam kabut, seperti mimpi yang lupa begitu mata terbuka.

Malam terus berjalan, Brann membaca beberapa bagian lagi tanpa menemukan apa pun yang lebih berarti dari catatan kaki itu. Satu per satu anggota mulai beranjak untuk beristirahat, lelah dari patroli dan berat percakapan malam ini. Petra menguap lebar, memutuskan naik ke kamarnya lebih dulu. Doran menggendong Ashe yang sudah tertidur pulas ke sudut yang biasa mereka tempati.

Ness menutup bukunya, menggosok matanya yang lelah. "Aku akan cek dapur, lihat apa masih ada sisa makanan untuk besok pagi."

Ia berjalan menuju dapur, tapi berhenti sebelum mencapai pintunya, matanya menyapu ruangan kosong itu dengan raut yang berubah sedikit bingung, seolah baru menyadari sesuatu yang seharusnya ada di sana sejak sore tadi tidak pernah muncul.

Suara ketukan pintu yang keras dan tergesa memecah keheningan yang mulai turun di markas.

Semua orang menoleh serentak.

Ilsa yang paling dekat dengan pintu bergerak cepat membukanya, tangannya sudah mendekat ke gagang belati di pinggangnya secara refleks. Seorang penjaga kota berdiri di ambang, napasnya tersengal, wajahnya tegang di bawah cahaya obor yang dibawanya, keringat menetes di pelipisnya meski malam sudah dingin.

"Maaf mengganggu malam-malam begini," katanya cepat, terengah di antara kata-katanya sendiri, "tapi kami menerima laporan. Salah satu anggota kalian pergi ke pasar sore tadi untuk berbelanja perbekalan dan belum kembali sampai sekarang. Pedagang terakhir yang melihatnya bilang dia menuju gang belakang pasar, dan sejak itu tidak ada yang melihatnya lagi."

Ruangan itu membeku sesaat, hanya suara api perapian yang masih berderak pelan mengisi jeda yang terasa terlalu panjang.

Arden berdiri cepat, kursi di belakangnya berderit keras di lantai kayu, jatuh hampir terbalik sebelum Corym menahannya dengan kaki.

"Siapa?" tanyanya, suaranya tegang menahan sesuatu yang belum siap ia dengar, matanya cepat menyapu ruangan, menghitung wajah-wajah yang hadir satu per satu.

Ilsa sudah bergerak ke arah tangga, memanggil nama-nama ke lantai atas, suaranya keras memecah ketenangan markas yang baru saja terasa begitu jauh. Ness berdiri kaku di ambang dapur, tangannya masih menggantung di udara, matanya menatap kosong ke arah meja dapur yang seharusnya sudah dipenuhi persiapan makan malam sejak sore tadi, tapi kini sunyi dan gelap.

Penjaga kota itu masih berdiri di ambang pintu, ragu, seolah tidak yakin bagaimana harus melanjutkan kalimatnya sendiri di tengah kepanikan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

"Kami sudah memeriksa gang belakang pasar," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan, seperti tahu apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan cukup menenangkan siapa pun di ruangan itu. "Tidak ada tanda perkelahian. Tidak ada darah. Hanya menghilang begitu saja."

Halden sudah bergerak mengambil pedangnya dari sandaran dekat perapian, gerakannya tenang tapi cepat, kebiasaan lama seorang veteran yang tidak pernah benar-benar berhenti siaga. Corym menyusul, memanggil nama Tomas untuk segera bersiap melacak jejak begitu mereka tiba di lokasi.

Arden berdiri mematung sesaat, dadanya naik turun cepat, pikirannya berpacu mencoba menghitung siapa saja yang sedang tidak berada di ruangan ini malam ini, wajah demi wajah, sampai satu ketidakhadiran mulai terasa terlalu jelas untuk terus diabaikan.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!