Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dan tamu
Sinar matahari petang semakin meredup, menyisakan gurat jingga kecokelatan di ufuk barat yang perlahan ditelan kegelapan malam. Angin sore berembus makin dingin membelah kawasan perkebunan jati yang sunyi. Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan dari balik semak-semak, mengiringi deru pelan mesin sepeda motor bebek tua milik Devan yang kembali melaju menyusuri jalanan aspal berlubang menuju Dukuh Parang.
Di atas boncengan belakang, Devi duduk membisu. Kedua tangannya tak lagi sekadar memegang kain kemeja denim Devan dengan canggung, melainkan meremasnya agak erat. Kepalanya bersandar samar di punggung tegap pria itu. Informasi raksasa yang baru saja dibongkar oleh Devan di bawah naungan pohon jati tadi masih berputar-putar liar di dalam kepalanya.
("Kolonel ... Direktur Intelijen ... Pemilik holdings ...")
Devi mencuri pandang melalui kaca spion retak di stang motor. Bayangan wajah Devan dari samping terlihat begitu tenang. Garis rahangnya yang tegas, bekas luka di pelipis, hingga tato naga di lehernya kini tak lagi memancarkan ketakutan di mata Devi. Tato yang semula dikira sebagai lambang kejahatan jalanan itu rupanya hanyalah kulit luar yang dipakai oleh seorang prajurit tangguh demi menjalankan tugas negara.
"Kenapa melamun melulu?" suara Devan memecah keheningan, terdengar renyah mengalahkan deru mesin motor yang bising. "Masih syok ya?"
Devi tersentak, refleks menegakkan posisi duduknya. "S-siapa yang melamun? Aku cuma ... cuma bingung saja."
"Bingung kenapa, Nyonya?" Devan terkekeh pelan dari balik helmnya.
"Jangan panggil Nyonya!" cetus Devi cepat, walau kali ini pipinya mendadak terasa hangat. "Aku bingung nanti sampai rumah harus bilang apa sama Bapak dan Ibu. Kalau Kak Raka tahu kamu ini perwira tentara dan orang kaya ... bisa-bisa dia tidak percaya."
Devan melirik spion lagi, mengulas senyum tipis yang sarat makna. "Jangan bilang apa-apa dulu, Devi. Biarkan identitas saya tetap tertutup rapi untuk sementara waktu. Misi penyamaran saya membongkar jaringan mafia tanah di kecamatan ini belum selesai sepenuhnya. Kalau sampai ada orang luar desa yang tahu siapa saya sebenarnya, situasi bisa jadi makin berbahaya."
Devi mengangguk pelan, memahami risiko besar yang dipikul oleh pria di depannya ini. "Terus ... di depan warga desa, kamu tetap berpura-pura jadi preman?"
"Bukan berpura-pura jadi preman," ralat Devan santai. "Tapi tetap jadi Devan yang kemarin. Suami bertato yang tengil, suka menyapu halaman, dan hobi minum teh manis buatan Ibu."
Jawaban Devan yang diselingi nada jenaka itu tanpa sadar mengukir senyuman kecil di bibir Devi. Rasa cemas dan ketakutan yang menghimpit dadanya sejak semalam perlahan-lahan menguap, berganti dengan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sepeda motor tua itu akhirnya berbelok memasuki gang sempit berdinding pagar tanaman teh-tehan. Di ujung gang, rumah sederhana milik Pak Suryo tampak terang benderang oleh pendar lampu bohlam kuning di teras.
Namun, ada yang berbeda dari suasana malam ini. Di pelataran rumah yang biasanya sepi, tampak dua unit sepeda motor terparkir acak. Di atas teras, Pak Suryo dan Bu Sumi tidak duduk sendirian. Tampak Pak RT, pria paruh baya berkumis tebal yang semalam memimpin penggerebekan di gubuk sawah, duduk di kursi rotan bersama seorang pria gempal berjaket kulit sintetis bernama Sukri, salah satu tetua desa yang terkenal berlidah tajam.
Raka berdiri di tangga teras dengan kedua tangan terlipat di dada, raut wajahnya tampak sangat tegang dan tidak bersahabat menatap kedua tamu tak diundang tersebut.
Begitu deru mesin motor Devan berhenti di halaman, seluruh pasang mata di teras serentak berpaling.
Pak RT berdehem keras seraya membetulkan peci hitamnya, sementara Sukri menyilangkan kakinya dengan gaya merendahkan, menatap Devan dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.
Devi turun dari boncengan motor dengan gerakan perlahan. Devan menyusul, mematikan kontak kunci motor lalu melangkah mendampingi Devi menuju teras.
Pria itu sengaja sedikit membungkukkan bahunya dan memasang kembali 'topeng' santainya, mengenakan kemeja denim gantung dan memasang raut muka datar khas pria jalanan.
"Assalamu'alaikum," sapa Devan sopan, mengangguk kecil pada Pak Suryo dan Bu Sumi.
"Wa'alaikumsalam ..." sahut Pak Suryo pelan. Pria tua itu menatap Devan dan Devi dengan pandangan khawatir. "Kalian baru pulang? Kok petang begini?"
"Iya, Pak. Tadi mengantar Devi selesaikan urusan di gudang pabrik dulu," jawab Devan luwes.
Pak RT mengisap rokok kreteknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asapnya ke udara dengan gaya tinggi hati. "Nah, tepat sekali kalian berdua sudah pulang! Jadi kita tidak perlu buang-buang waktu lagi!"
Raka melangkah maju satu tapak, matanya menatap tajam ke arah Pak RT. "Pak RT mau bicara apa lagi sih?! Semalam kan keinginan Pak RT dan warga sudah dituruti! Devi dan Devan sudah dinikahkan siri! Mau cari masalah apa lagi malam-malam begini?!"
"Huuussh! Raka! Jaga mulutmu!" tegur Sukri kasar seraya menggebrak meja kayu teras.
"Kami ini datang sebagai perwakilan pengurus desa! Kami ke sini membawa amanat dari warga Dukuh Parang!"
Bu Sumi yang duduk di samping suaminya mengelus dada, matanya sembap. "Amanat apa lagi, Kang Sukri? Jangan bikin keluarga kami makin menderita ..."
Pak RT mematikan puntung rokoknya di asbak seng, lalu menatap Pak Suryo dengan raut wajah sok berwibawa namun dingin.
"Begini, Pak Suryo," kata Pak RT memulai ceritanya. "Tadi siang, warga desa mengadakan pertemuan di pos ronda. Warga merasa keberatan dan tidak tenang dengan keberadaan orang asing bertato di desa kita ini. Kita semua tidak tahu dia siapa, asal-usulnya dari mana, jangan-jangan dia ini DPO kepolisian atau mantan napi kasus pembunuhan!"
Devi yang berdiri di samping Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa jengkel dan amarah mendadak membakar dadanya mendengar tuduhan kejam tersebut. Baru saja ia menyaksikan betapa terhormatnya Devan di pabrik tadi, dan kini warga desanya sendiri dengan picik menghina suaminya bagaikan sampah!
"Suami saya bukan kriminal, Pak RT!" seru Devi tegas, suaranya melengking menembus keheningan teras.
Seluruh orang di teras tertegun kaget. Raka, Pak Suryo, bahkan Bu Sumi melotot menatap Devi. Gadis yang biasanya penakut, pemalu, dan selalu menunduk itu kini berdiri tegap, matanya memancarkan keberanian yang sangat nyata membela pria di sampingnya.
Devan sendiri melirik Devi dengan kerutan di dahi, rasa takjub dan hangat menjalar di hatinya melihat ketegasan istrinya.
Pak RT tersentak, wajah kumis tebalnya merona merah karena merasa dilawan oleh seorang gadis muda. "Loh! Kamu malah membela preman ini, Devi?! Kamu ini sudah dicuci otak ya?!"
"Cukup, Pak RT!" potong Devan dengan nada suara yang sangat tenang namun membawa beban intimidasi yang luar biasa pekat. Devan melangkah satu tapak ke depan, berdiri tepat di tengah-tengah antara Pak RT dan keluarga Pak Suryo.
Devan menatap Pak RT dan Sukri bergantian. Tidak ada lagi raut tengil di wajahnya. Matanya yang tajam bak elang menusuk langsung ke dalam manik mata Pak RT, membuat pria berkumis itu secara refleks menelan ludahnya dengan susah payah.
"Jadi ... apa poin utama kedatangan Bapak-bapak yang terhormat ini ke sini?" tanya Devan rendah dan berwibawa.
Sukri berdehem gagu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di bawah tatapan dingin Devan. "K-kami ... pengurus desa memutuskan! Kalau kamu mau tetap tinggal di Dukuh Parang ini bersama Devi, kamu harus menyerahkan bukti identitas resmi KTP dan surat kelakuan baik dari kepolisian besok pagi ke kantor desa! Kalau tidak bisa menunjukkan ... kamu harus angkat kaki dari desa ini detik itu juga!"
"Dan satu lagi!" tambah Pak RT cepat. "Karena kamu sudah resmi jadi warga sini lewat pernikahan siri, kamu harus bayar uang iuran kas lingkungan dan denda adat penggerebekan semalam sebesar lima juta rupiah!"
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja