Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Pesan dari Alam Mimpi
Lampu belakang mobil Rayven menyala merah pekat di hadapan pelataran parkir biro. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam menyisir beberapa sudut jalanan ibu kota dan menyambangi kantor pusat armada taksi tanpa hasil langsung, Rayven terpaksa mengantarkan Rhea dan Zora kembali ke biro.
Rayven menurunkan kaca mobilnya, menatap Rhea dan Zora yang berdiri di luar.
"Saya harus kembali ke kantor sekarang. Ada salinan berkas perkara lain yang harus saya selesaikan malam ini," ujar Rayven.
"Tetapi rekan saya yang di kepolisian sudah berjanji akan mengirimkan rekaman cctv itu ke email biro kalian begitu sudah keluar," lanjut Rayven lagi.
Rhea mengangguk paham. "Tidak apa-apa, Rayven. Terima kasih banyak sudah mengantarkan dan membantu mengurus izin rekaman cctv. Kamu hati-hati di jalan ya."
"Telepon saya kalau ada perkembangan atau kalian butuh bantuan," tambah Rayven.
Sebelum menaikkan kaca mobilnya Rayven menatap Rhea beberapa detik sebelum akhirnya melaju menghilang di pekatnya lalu lintas senja.
Rhea dan Zora melangkah masuk ke dalam kantor biro mereka. Jam dinding di atas ruangan tamu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Tanpa membuang waktu, Zora langsung menyalakan komputer utamanya. Sering notifikasi email masuk berdenting nyaring tak lama setelah layar monitor menyala.
"Rhe, email dari temannya Rayven udah masuk nih," seru Zora antusias
Jemarinya dengan lincah membuka lampiran berkas video berukuran besar tersebut.
Rhea meletakkan tasnya dan membungkuk di samping kursi Zora, menatap layar monitor dengan dekat. Di layar, terputar rekaman kamera pengawas cctv bersudut tinggi yang memperlihatkan simpang tiga di dekat kantor kurir tadi pagi.
Selama hampir satu jam, keduanya menatap layar monitor tanpa berkedip. Zora memperlambat kecepatan video, memutar ulang rekaman pagi, saat seorang wanita tua lusuh tampak melangkah pelan memegangi dadanya di tepi jalan.
"Itu! Itu Bu Mita, Rhe," tunjuk Zora.
Di dalam rekaman video yang agak kabur itu, tampak Bu Mira menyetop sebuah taksi berwarna biru yang melintas. Beliau masuk ke pintu belakang.
Namun, begitu taksi itu mulai bergerak maju, sudut camera cctv terhalang oleh sebuah truk kontainer besar yang mendadak melintas pelan di lajur tengah.
Saat truk itu berlalu, taksi biru itu sudah menghilang berbelok ke arah jalan raya utama. Plat nomor maupun nomor lambung taksi sama sekali tidak tertangkap kamera karena tertutup badan truk.
"Aduh! Sial banget sih, malah terhalang truk lagi. Kalau begini caranya, kita benar-benar buta arah, Rhe. Kita gak tahu taksi itu bawa Bu Mira kemana?" keluh Zora frustasi dengan helaan napas berat.
Rhea mengusap wajahnya yang terasa lelah. Jam dinding kini sudah berdetik menunjukkan pukul tujuh malam. Kegelapan malam telah sepenuhnya membungkus kota.
"Kita nggak bisa buat apa-apa lagi malam ini, Zor. Mata lu udah merah begitu. Lebih baik kita pulang dulu, besok pagi kita coba lacak lagi lewat rute belokan jalan utama itu," ujar Rhea pelan.
Zora mengangguk pasrah. Setelah mematikan komputer dan mengunci seluruh pintu serta jendela biro, keduanya berjalan bersama menuju persimpangan jalan.
Di sana, Zora memanggil taksi daring untuk pulang ke rumahnya, sementara Rhea memilih berjalan kaki.
"Gue duluan ya, Rhe. Lu hati-hati jalannya," pamit Zora dari balik jendela mobil.
"Iya, Zor. Kamu juga hati-hati," balas Rhea sambil melambaikan tangannya.
Sepeninggal Zora, Rhea merapatkan jaket tipisnya. Suasana lorong perumahan yang dilewatinya terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Tuk... Tuk... Tuk..
Langkah kaki Rhea terhenti seketika.
Ekor matanya menangkap sesuatu. Ada perasaan aneh yang mendadak mencengkeram tengkuknya, seperti ada sepasang mata yang sedang menatap matanya tajam dari kegelapan di belakang, Rhea menahan napasnya mencoba mendengarkan suara di sekitarnya. Namun, yang terdengar hanyalah derik jangkrik dan tiupan angin.
Rhea perlahan memutar tubuhnya, menoleh ke arah lorong yang baru saja ia lewati. Kosong, tidak ada siapapun di sana.
"Cuma perasaanku saja mungkin karena terlalu lelah," batin Rhea menenangkan.
Walau firasat buruk di dadanya tidak sepenuhnya sirna. Ia mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya tiba di depan pintu kontrakan sederhananya.
Setelah masuk dan mengunci pintu rapat-rapat, Rhea segera membersihkan diri di kamar mandi. Segarnya air dingin sedikit mengurangi rasa lelah. Tanpa menyalakan televisi atau membaca berkas lagi, Rhea langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Rasa kantuk yang amat berat dengan cepat menarik kesadarannya jatuh ke dalam kegelapan malam.
Pemandangan di sekeliling Rhea mendadak berubah drastis.
Rhea sedang mendapati dirinya sedang berdiri di tengah perempatan jalan raya yang sangat asing. Namun, anehnya jalan raya yang luas itu sangat sepi, tanpa ada satupun lalu lalang kendaraan atau manusia lain, kecuali satu sosok.
Di ujung persimpangan jalan, berjalan seorang nenek tua mengenakan pakaian kusam dengan langkah kaki yang terseret pelan.
"Nek! Nenek," panggil Rhea setengah berteriak.
Sosok nenek tua itu tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan lurus menuju tengah perempatan jalan dengan tubuh yang agak membungkuk.
"Nek! Tunggu nek," Rhea berlari kecil mengejar sosok itu dari belakang.
Tepat ketika Rhea hanya berjarak dua meter di belakang sosok nenek itu...
BRAKKK!!!
Sebuah mobil sedan melaju sangat kencang entah dari mana, menghantam tubuh tua nenek itu dengan hantaman keras yang mengerikan di tengah perempatan.
Muncratan darah segar berwarna merah mendadak menciprat keras, mengenai seluruh permukaan wajah dan kemeja Rhea.
Namun, detik berikutnya tubuh nenek yang bersimbah darah di atas aspal itu mendadak menghilang begitu saja dari pandangan Rhea.
Rhea berdiri mematung di tengah jalan, napasnya tersengal-sengal karena syok. Di tengah keheningan mencekam itu, sebuah bisikan ghaib berdengung nyaring ditelinganya.
"Tolong sampaikan surat itu kepada anakku."
"A.. apa?" bisik Rhea ketakutan.
Rhea terlonjak kaget, matanya terbuka lebar. Tubuhnya menegang kaku di atas kasur. Ia berpikir dirinya sudah terbangun di dalam kamarnya yang remang-remang. Namun, ketika Rhea perlahan memalingkan wajahnya dan memandang ke sebelah kanan tempat tidurnya. Sosok nenek tua itu sudah berdiri tepat di samping kasurnya.
"AAAAGGGHH!"
Rhea terlonjak kaget seraya berteriak histeris, terduduk secara mendadak di atas kasurnya.
Tangannya yang gemetaran refleks mengusap wajah dan matanya yang terasa perih.
Rhea mematung di tempatnya berdiri, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dahinya berkerut dalam dengan kebingungan dan rasa merinding luar biasa yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Perasaanku... aku baru saja memejamkan mata dan tidur beberapa jam... kenapa tahu-tahu udah pagi aja?" batin Rhea terheran-heran.
Sementara rasa merinding bekas bisikan dan tatapan sosok nenek tua di samping kasurnya masih terasa begitu nyata menempel di kulitnya.