“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 (18+)
•••
Kala itu Giselle berangkat bersama Yesha, ketika sampai diparkiran keduanya bertemu Karina dan Yoshi yang turun dari dalam mobil yang sama kemudian berjalan beriringan menuju ke arah mereka berada.
"Hai Giselle, Yesha..." Sapa Yoshi.
"Hai juga Yoshi..." Sahut Yesha sedang Giselle tersenyum penuh arti.
"Yoshi, kau baik-baik saja setelah menjemput gadis gila ini?"
Karina berdecak menyikut pinggang Giselle, "Ini masih pagi kalau kau mau ribut denganku."
Yoshi terkekeh, "Aku merasa lebih baik setelah bersamanya. Kalau begitu aku pergi ke kelasku dulu.”
Melirik Karina, "Nanti hubungi aku jika sudah selesai."
Karina mengangguk sumringah, "Baiklah, nanti akan aku hubungi."
Yoshi berlalu meninggalkan mereka, tiga gadis itu saling memicing dan berbagi tatapan curiga untuk satu sama lain.
"Jadi siapa yang akan bercerita lebih dulu?" Tanya Yesha.
•••
Jio sampai di kelas dan menemukan Yoshi melambai padanya, mengisyaratkan agar Jio segera menghampirinya.
"Astaga, kau tak pulang semalam?!"
Suguhan pertanyaan dari Yoshi membuat Jio berdecak kesal mengingat kembali pernyataan ayahnya.
"Bukankah aku yang harusnya bertanya?"
Jio mendengus, "Kau tahu aku bahkan tak bisa memberi alibi saat aku bilang menginap di rumahmu."
Yoshi terbahak, "Maaf soal itu, tapi kita juga tak tahu apa yang akan terjadi, kan? Aku rasa Paman bertanya pada Ayah soal kau menginap atau tidak."
"Ya, itu sudah pasti. Tapi kau pergi kemana sampai tak pulang?"
"Itu..."
Flashback on
Yoshi mengemudikan mobilnya mengikuti rute GPS yang menuju alamat rumah Yesha, gadis itu sudah tertidur lelap di kursi penumpang di belakang, sedang Karina yang duduk di samping Yoshi tampak meracau tak jelas.
"Yoshi-kun.. Kau tahu? Giselle itu benar-benar bodoh. Bisa-bisanya dia menyukai Jio, sampai seperti itu, tapi selalu mengelak..."
Karina tergelak, "Aku saja tak mengerti jalan pikirannya. Nah, kalau Yesha... dia juga bodoh, dia menyukai Kak Yohan tapi Kak Yohan hanya menyukai Giselle...”
“Hah… kisah cintanya rumit."
Setelah ocehan tak jelasnya, Karina terlelap.
Sesampainya di depan rumah Yesha, Yoshi menekan bel sembari menopang tubuh gadis yang terhuyung-huyung tersebut. Tak lama seorang pembantu keluar dari balik gerbang kemudian merangkul Yesha hendak membawanya masuk setelah mengucapkan terima kasih kepada Yoshi.
"Yesha... sadarlah Yohan tidak menyukaimu!" Teriak Karina yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil secara tiba-tiba.
"Aghh... sialan, diam kau..." Sahut Yesha yang berbalik hendak melempar tasnya namun ditahan oleh Yoshi juga sang pembantu.
Yoshi bergegas memasuki mobil dan melajukannya menuju rumah Karina.
"Karina, kenapa kau bicara begitu pada temanmu?"
"Supaya dia sadar jika cintanya tak berbalas." Ucap Karina yang mulai mendapat kesadarannya.
Yoshi terkekeh, "Jangan begitu bagaimana jika hal itu terjadi padamu?"
"Sepertinya itu tidak akan terjadi."
"Kenapa kau begitu percaya diri?"
"Memangnya kau akan menolak aku, jika aku mengatakan aku menyukaimu?"
Yoshi menginjak rem tanpa sadar, ia menoleh pada Karina yang tengah menatapnya menunggu jawaban dari pria dengan ekspresi terkejut itu.
"Kau benar-benar menyukaiku?"
Karina mengangguk polos. Wajahnya bersemu entah karena pengaruh alkohol atau tatapan Yoshi yang mengintimidasi membuat degup jantungnya berpacu.
"Kau tak percaya?"
"Aku tidak–“ Ucapan Yoshi terpotong oleh Karina yang mengecup bibirnya sesaat.
Yoshi lantas menepikan mobilnya segera, dan menatap Karina kembali setelahnya.
"Aku belum selesai bicara, jangan asal memotongnya."
"Maaf..." Cicit Karina.
"Dan satu lagi, harusnya aku yang mengatakannya lebih dulu.”
“Aku menyukaimu." Ucap Yoshi bersama senyum teduhnya yang terbit.
Kelopak mata Karina menutup, terlena menyambut ciuman tiba-tiba dari Yoshi.
Menikmati serbuan bibir dan lidah Yoshi yang bertubi-tubi, cukup lama keduanya berciuman dengan panas hingga akhirnya sebuah desah lolos dari mulut Karina ketika bajunya mulai disingkap Yoshi. Belaian tangan pria itu yang bermain-main dengan tekanan di perut polosnya.
Karina kemudian berpindah duduk ke pangkuan Yoshi, melengkungkan tubuh memberi akses secara tak langsung bagi Yoshi untuk menyelipkan tangannya makin jauh.
Yoshi meraba di balik punggung Karina meraih pengait bra dan melepasnya.
Karina menahan dada Yoshi membuat ciumannya terhenti.
"Orang tuaku sedang dinas di luar negeri dan akan kembali pekan depan, mau bermain di rumah?" Ucapnya memburu.
"Karena sudah begini... boleh aku menginap?"
Netra mereka bersitatap, keduanya pun tertawa.
"Tentu saja..."
Flashback off
"Astaga... aku yang mendekati Jio berbulan-bulan masih sampai ditahap berciuman, tapi kau sudah tidur dengan Yoshi?"
Karina tertawa, "Kenapa? Kau iri?"
Giselle berdecak kemudian tersenyum.
"Tidak tuh, lagipula Jio hanya menundanya. Dia bilang tidak ingin menyakitiku jika melakukannya saat aku dalam keadaan mabuk."
"Ohoo... apa ini namanya mabuk membawa berkah?" Ucap Yesha.
"Sepertinya begitu. Harusnya kau minta jemput pada Kak Yohan, siapa tahu kau juga bisa tidur dengannya." Sahut Karina.
Yesha berdecak, tak terima. "Dasar gila."
Ia melirik Giselle kemudian, "Tapi Giselle, siapa pria-pria berjas hitam yang mau membawamu kemarin?"
"Oh itu, mereka bodyguard yang diutus Waliku."
Karina dan Yesha bingung tak mengerti maksud Giselle.
"Tunggu… Walimu? Apa maksudmu?" Tanya Karina.
"Sebenarnya aku malas menceritakannya pada kalian, tapi dengarkan."
Giselle mulai menceritakan tentang kehidupan yang telah dilaluinya, tentang orang tuanya, tentang walinya dan bagaimana ia berakhir tinggal seorang diri dengan para bodyguard yang memantaunya dari jauh.
•••
Setelah pulang dari kampus, saat ini Giselle sedang menemani Jio latihan di sasana tinju milik Bagas.
"Jio benar-benar berpacaran dengan Giselle?" Bisik Bagas pada Yoshi di sebelahnya.
"Ya, begitu kenyataannya."
Bagas terkagum-kagum.
"Wah, hebat sekali Giselle. Lalu aku dengar kau juga berpacaran dengan temannya Giselle, benar begitu?"
"Itu juga benar." Yoshi tersenyum bangga sedang Bagas mendengus mendengarnya.
"Apa sekarang sedang musim berpacaran? Astaga… padahal aku yang lebih tua tapi kenapa malah kalian yang lebih dulu dapat pasangan?"
Yoshi tertawa geli, "Kak, aku turut prihatin."
"Sialan...” Bagas memukul kepala belakang Yoshi menggunakan lap yang tadi dipakai untuk membersihkan arena.
“Apa kau tidak punya teman yang bisa dikenalkan padaku? Aku sudah lelah ikut kencan buta tapi tidak ada yang cocok."
"Ada, temannya Karina dan Giselle. Tapi sayang, kau bukan tipenya."
Wajah sumringah Bagas seketika muram atas ucapan Yoshi, baru saja diberi harapan namun langsung ditampar oleh kenyataan.
"Kalau begitu tak usah bilang."
Bagas meninggalkan Yoshi untuk menghampiri Jio yang sedang beristirahat dengan Giselle di sampingnya, Yoshi mengekor.
Giselle yang menyadari lantas tersenyum menyapa.
"Aku lihat kau dalam kondisi terbaikmu, gerakanmu makin lincah seiring dengan kecepatan tinjumu.”
“Apa ini pengaruh dari kekasihmu hingga kau makin semangat berlatih?"
"Pertandingan final itu mungkin jadi pertandingan terakhirku di underground, aku ingin berhenti Kak."
Bagas sedih mendengarnya karena ia akan kehilangan petarung andalannya itu namun ia mengangguk paham, baik Bagas maupun Yoshi tahu kedua orang tua Jio menentangnya bermain boxing.
Giselle diam memperhatikan.
"Itu terserah padamu, tapi sasanaku selalu terbuka lebar jika kau ingin tetap berolahraga. Aku beri diskon setengah harga untuk temanku yang berharga." Gurau Bagas.
"Kak, kalau aku bagaimana?" Yoshi menyela.
"Ish… kau bahkan belum berlangganan tapi selalu datang dan berlatih sesukamu. Sudah seperti tunawisma saja, padahal uang sakumu lebih banyak dari punyaku." Gerutu Bagas.
"Kak... Jangan pilih kasih dong."
"Merengek saja pada kekasihmu sana." Ucap Bagas seraya mendorong kepala Yoshi–yang menempel pada lengannya dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.
Bagas pergi menghindari Yoshi yang mengikutinya dan terus menggodanya.
Jio tertawa melihat tingkah keduanya pun Giselle yang kemudian meraih tangannya lembut.
"Kau benar-benar akan berhenti?"
Jio mengangguk pasti, "Aku tak mau membuat Ibu khawatir lagipula Ayah juga menentangnya."
"Kalau begitu aku sangat bersyukur, kau bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku."
Giselle bersandar pada pundak Jio seraya memainkan jemari tangan yang jauh lebih besar dibanding miliknya itu.
"Sebenarnya aku juga takut kau terluka.”
“Kau tahu, saat pertama kali aku mengikutimu ke underground aku melihat pelipis juga sudut bibirmu yang terluka lalu lawanmu penuh lebam dan bersimbah darah.”
“Itu mengerikan, bagaimana jika kau berada diposisi lawanmu? Membayangkannya saja membuatku takut..."
"Itu tidak akan terjadi."
"Dipertandingan final nanti, jangan sampai terluka. Kau harus janji padaku."
"Tidak bisa, itu pertandingan boxing dan harus saling pukul bagaimana bisa tidak terluka?"
Giselle menoleh cepat, "Tidak mau tahu pokoknya jangan sampai ada lebam sedikitpun, kalau tidak aku akan menghukummu."
"Hukuman seperti apa? Ini?" Jio memajukan wajahnya hendak meraih kecupan pada bibir gadis tersebut namun tertahan olehnya.
"Astaga! Bagaimana kalau ada yang lihat?" Giselle memekik.
Jio melihat sekitar, memiringkan kepala heran, jelas-jelas tidak ada orang selain mereka berdua. Tarik ulur gadis ini benar-benar membuatnya gila.
Jio menyeringai, "Sepi, lagipula kau pernah menciumku di depan banyak orang. Kenapa sekarang berlagak malu begitu?"
"Itu berbeda, saat itu aku sedang mencari perhatianmu."
"Jadi, Nona Giselle Uchiyama membuat pengakuan dosa sekarang?"
"Berhenti menggodaku, kau membuatku berdebar karena malu."
Jio tertawa puas melihat rona merah di wajah gadisnya, hal itu membuatnya semakin terlihat cantik.
Jio mengusapnya pelan, "Mau pergi makan sesuatu yang manis? Di sekitar sini ada kedai terkenal yang menyediakan berbagai macam gelato."
Giselle mengangguk antusias akan ajakan Jio.
"Mau…!”
•••Vienbluu (annavienbluu)