Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Badot Keluar Sangkar

Chandra mengedipkan mata berulang kali, menyapu sisa kantuk yang masih menyangkut di sudut mata. Begitu pandangannya fokus, dahinya langsung berkerut dalam.

Halaman luas Sekte Alam Surgawi yang tadinya rapi dengan tataan batu bata, kini berantakan seperti bekas dihantam meteor. Puing kayu berserakan di mana-mana diiringi kepulan asap tipis. Tepat di tengah lapangan, Yueji berdiri kaku di dalam lingkaran jaring cahaya emas bergaris segitiga dan bulan sabit.

"Ehhh... kalian lagi ngapain istriku?!" seru Chandra sambil menunjuk panik.

Suara cempreng Chandra membelah keheningan. Melihat pemuda itu berdiri santai di sana, puluhan murid dan sesepuh sekte refleks melangkah mundur dua tindak.

Mendengar suara suaminya, Yueji menghembuskan napas panjang. Kepanikan mendadak menyengat dadanya. Chandra tidak boleh melihat wujud monsternya. Dengan paksaan tenaga dalam hingga urat lehernya menegang, Yueji menarik kembali sembilan ekor raksasanya.

Taring tajam di mulutnya menyusut cepat dan moncong rubahnya memendek, mengembalikan paras cantiknya. Namun, memaksa tubuhnya kembali ke wujud manusia secara mendadak membuat Yueji gemetaran hebat dengan napas tersengal-sengal.

Di sisi lain lapangan, Romo dan Dandi berdiri gelagapan. Keringat dingin menetes di dahi sang Leluhur sekte. Dandi bahkan sudah bergeser setengah langkah ke belakang, bersiap kabur.

Dila yang bersembunyi di balik punggung Romo mendadak berbisik. "Romo... lihat mukanya. Tuan Chandra sama sekali tidak sadar kalau dirinya itu dewa!"

Mata tua Romo seketika berbinar. Pemuda ini adalah dewa yang tertidur—sosok yang bahkan tidak paham betapa mengerikannya isi tubuhnya sendiri. Kalau Chandra merasa dirinya manusia biasa, artinya ia masih bisa digertak dengan otot.

Demi menjaga gengsi sekte di hadapan para murid, Romo membusungkan dada dan menegakkan wibawa palsunya. Ia memberi isyarat ke lima murid senior berbadan tegap di dekatnya.

"Pegang dia!" perintah Romo.

"Eh? Ada apa ini?!" Chandra terperanjat saat lima pria berotot menerjang dan mencengkeram kedua lengannya. "Lepasin! Mas, ini salah paham! Saya cuma mau ajak istri saya pulang!"

Chandra meronta asal-asalan, persis gerakan orang awam yang tidak pernah belajar bela diri sehari pun.

Sementara itu, Yueji terkulai lemah di atas tanah. Tenaga spiritualnya habis total akibat transformasi mendadak tadi. Ia hanya bisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.

"Lepasin aku!" teriak Chandra lagi sambil menghentakkan kaki.

Namun, tumit sandalnya meleset menapak rumput basah. Chandra tergelincir hebat, tubuhnya melayang sekilas sebelum jatuh terjerembap. Kepalanya menghantam sudut lantai pelataran dari beton kasar.

Darah merah segar mendadak mengalir dari pelipis Chandra, membasahi beton yang dingin.

"Sayang!" jerit Yueji histeris. Ia berusaha merangkak bangkit, tetapi persendiannya terlalu lemah.

Melihat darah tuanya menetes ke tanah, seekor burung elang kecil di dahan pohon tertinggi mendadak mengepakkan sayap. Garuda dalam tubuh burung itu merasakan bahaya yang mengancam sang Tuan.

Elang kecil itu melesat menembus kegelapan. Begitu melewati batas awan, tubuhnya meletupkan cahaya keemasan. Dalam hitungan detik, ukurannya mengembang cepat. Kepakan sayapnya memanjang hingga puluhan meter, berubah utuh menjadi wujud Garuda yang menutupi pancaran sinar matahari di atas sekte.

Romo mendongak dengan langkah terseret mundur. Mumpung ada kesempatan, ia berteriak menutupi rasa takutnya, "Maafkan kami, Chandra! Ini semua demi keamanan umat manusia!"

Langit berubah gelap seketika. Siluet raksasa berbulu emas murni berdiri megah di angkasa, membuat udara di sekitar lapangan terasa pekat dan menyesakkan dada.

Dari atas awan, suara ghaib bergema langsung di dalam kepala Yueji, 'Rubah! Bisa-bisanya kamu kalah sama kecoak-kecoak tanah begini?'

Yueji mengepalkan tangan ke tanah basah, menatap tajam ke langit. "Diam kamu! Selamatkan suamiku sekarang!"

'Baiklah!'

Raksasa berbulu emas itu menarik sayapnya rapat-rapat. Tubuhnya memadat menjadi gumpalan cahaya emas yang menembus awan, terjun bebas tepat ke tengah lapangan sekte.

Dentuman dahsyat menggetarkan bumi. Gelombang energi keemasan menyapu seluruh area sekte. Murid-murid biasa langsung pingsan berbusa di tempat, sementara murid senior di tingkat menengah seketika menderita luka dalam hebat.

Romo, Dandi, dan Dila terlempar beberapa meter ke belakang, batuk darah menahan sisa ledakan.

Di tengah kepulan debu, darah merah di pelipis Chandra mendadak berpendar terang. Darah itu tidak mengering, melainkan bergerak sendiri menyerap kembali ke dalam kulit tanpa menyisakan bekas sedikit pun. Luka di kepalanya menutup rapat seketika.

Chandra berkedip pelan. Ia meluruskan punggung, lalu bangkit berdiri santai sambil memegang tengkuknya.

"Aduh... ada apa sih ini? Kok mendadak gempa?" gumam Chandra polos sambil memutar kepala.

Garuda raksasa yang baru mendarat gagah seketika melotot melihat sang Tuan bangkit begitu saja. Tak ingin membongkar identitasnya di depan sang Dewa yang masih 'tertidur', Garuda itu buru-buru menyusut kembali menjadi wujud burung elang kecil yang agak gemuk.

"Eaaakkk!" jerit elang itu pelan, mencoba bertingkah imut.

Burung itu meluncur turun dan hinggap di pergelangan tangan kiri Chandra.

Mata Chandra berbinar. "Badot?! Lho, kamu kok tahu aku di sini? Keren banget kamu!" Chandra tertawa sambil mengelus kepala burung kesayangannya.

Namun, tawanya terhenti saat melihat Yueji terduduk lemah di tanah.

"Sayang!"

Chandra berlari menghampiri Yueji sambil membawa Badot. Ia berlutut di samping istrinya dengan raut khawatir. "Kamu tidak apa-apa, Sayang? Ada yang sakit?"

Yueji menatap wajah suaminya yang sudah bersih mulus. Senyum manis mengembang di bibirnya. "Aku tidak apa-apa, Sayangku..."

Chandra menoleh ke sekeliling. Halaman sekte sudah seperti area bekas perang, dengan puluhan orang tergeletak dan tiga orang berdiri gemetaran di ujung sana. "Ini sebenarnya ada apa sih, Sayang? Kok tempat orang jadi berantakan begini?"

Yueji meraba pipi Chandra lembut. "Kamu tunggu di sini sebentar ya, Sayang."

"Eh? Mau ke mana?"

Yueji tidak menjawab. Ia berdiri pelan. Tatapan matanya berubah tajam memancarkan wibawa dingin. Dengan langkah anggun, Yueji berjalan mendekati Romo yang terduduk lemas.

Romo mendongak, tubuh tuanya bergetar hebat saat bayangan Yueji menutupi pandangannya.

Tanpa banyak cakap, Yueji menjambak erat janggut putih panjang milik Romo, menariknya ke atas hingga kepala tua itu terdongak pasrah.

"Tua bangka..." bisik Yueji dengan suara dingin. "Sekali lagi kau main curang atau menyentuh suamiku... sekte busukmu ini akan kuratakan dengan tanah. Paham?"

"Ba-Baik, Nyonya! Kami berjanji... tidak akan pernah lagi!" jerit Romo terbata-bata sambil meringis menahan sakit pada janggutnya.

Yueji menghempaskan janggut itu kasar, lalu berbalik santai. Raut kejam di wajahnya mendadak berganti senyuman hangat begitu ia kembali ke arah Chandra.

"Ayo Sayang, kita pulang," ajak Yueji lembut sambil merangkul lengan suaminya.

Chandra mengangguk riang, sama sekali tidak menyadari ancaman mematikan yang baru saja dilontarkan istrinya.

"Ayo! Come on Badot, habis ini kita makan ikan enak di rumah!" seru Chandra pada burung di tangannya.

"Eaaakkk!" sahut sang Garuda menyanggupi riang, merapatkan diri di lengan sang Dewa saat mereka melangkah pergi meninggalkan Sekte Alam Surgawi yang hancur berantakan.

1
Lagu Teu Baleg
semangat Thor ya
Alinsyah 70: oke siap 👍
total 1 replies
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!